Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Velvet Cage
Dunia memiliki cara yang aneh untuk mempermainkan mereka yang sudah menyerah. Bagi Liora Elowyn, setelah diusir dari kost dan kehilangan pekerjaan, tidur di emperan toko dengan beralaskan kardus adalah titik terendah yang pernah ia bayangkan. Namun, di saat napasnya terasa seperti api yang membakar tenggorokan karena lapar, sebuah mobil mewah berhenti di depannya.
Itu adalah mobil yang sama dengan yang ia lihat di taman. Eleanor Caelum turun dari sana, menatap Liora dengan tatapan yang tidak mengandung penghinaan sebuah tatapan yang sudah sangat asing bagi Liora.
"Liora?" suara Eleanor lembut, memecah kebisingan kota. "Kenapa kau ada di sini dengan keadaan seperti ini?"
Liora mencoba bangkit, namun tubuhnya yang lemah goyah. Ia tidak punya harga diri lagi untuk disembunyikan. "Saya... saya hanya tidak punya tempat untuk pulang, Nyonya."
Eleanor tidak bertanya lebih lanjut. Ia melihat luka di mata gadis itu, luka yang sama dengan yang ia lihat saat Liora mengembalikan kalungnya. Tanpa ragu, Eleanor membawa Liora pergi. Bukan ke kediaman utama Caelum yang megah namun mencekik tempat Leo tinggal, melainkan ke The White Rose Mansion sebuah mansion bergaya klasik di pinggiran kota yang asri, tempat Eleanor menghabiskan masa tuanya dalam ketenangan.
Di mansion itulah, kehidupan Liora berubah secara drastis, namun tetap terasa seperti mimpi buruk yang indah. Eleanor tidak mempekerjakannya sebagai pelayan biasa. Ia terpesona oleh kecerdasan Liora yang tersembunyi di balik kepolosannya. Liora adalah mahasiswi akuntansi yang brilian, dan Eleanor membutuhkan seseorang yang jujur untuk mengelola yayasan amal dan aset pribadinya.
"Kau akan menjadi asisten pribadiku, Liora. Kau akan mengurus segalanya di sini. Aku tidak butuh robot, aku butuh seseorang yang punya hati," ucap Eleanor suatu sore di beranda mansion yang dipenuhi bunga mawar.
Liora menangis hari itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang melihatnya bukan sebagai sampah, melainkan sebagai manusia. Ia diberikan kamar yang sangat luas, pakaian yang pantas, dan makanan yang layak. Namun, ketakutan masih menghantuinya. Ia tidak tahu bahwa wanita baik hati ini adalah ibu dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Liora kini tampil berbeda. Dengan pakaian berbahan sutra lembut dan rambut yang terawat, kecantikannya yang dulu tertutup debu kemiskinan kini bersinar. Lesung pipinya lebih sering muncul saat ia berbicara dengan Eleanor. Namun, setiap kali ia teringat wajah Leo, dadanya sesak. Ia merasa bahwa kebahagiaan ini hanyalah pinjaman yang bisa ditarik kapan saja.
Sementara itu, beberapa puluh kilometer dari sana, di mansion pribadinya yang bernuansa hitam dan abu-abu, Leo Alexander Caelum duduk di ruang kerjanya. Ruangan itu luas, namun terasa sempit karena ego pria itu yang memenuhi setiap sudutnya.
Leo baru saja menyelesaikan rapat virtual yang melelahkan. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, mendengarkan denting es yang membentur dinding gelas suara yang sama dinginnya dengan hatinya.
"Tuan, Nyonya Eleanor mengirimkan laporan bulanan yayasannya," asisten pribadi Leo masuk dengan ragu.
Leo hanya berdehem. "Letakkan di sana. Apakah Ibu baik-baik saja? Dia terdengar sangat bahagia di telepon belakangan ini."
"Nyonya tampak sangat sehat, Tuan. Kabarnya, beliau baru saja mengangkat seorang asisten baru yang sangat dipercayainya. Nyonya bilang, gadis itu adalah 'malaikat' yang dikirim Tuhan untuknya."
Leo mencibir. Bibirnya membentuk garis lurus yang kejam. "Malaikat? Ibu selalu terlalu mudah percaya pada orang asing. Aku yakin gadis itu hanya pandai menjilat. Siapa namanya?"
"Nyonya hanya memanggilnya 'Lio', Tuan. Beliau sangat menjaga privasi asisten barunya ini."
Leo tidak peduli. Nama 'Lio' adalah nama yang umum. Ia tidak pernah menghubungkannya dengan Liora gadis "sampah" yang ia usir dengan penuh penghinaan. Dalam benak Leo, Liora mungkin sudah membusuk di sudut kota atau kembali ke selokan tempatnya berasal. Ia tidak pernah membayangkan bahwa "sampah" yang ia buang kini sedang duduk di meja makan ibunya, menyantap hidangan mewah yang dibayar dengan uang keluarganya.
"Awasi gadis itu," perintah Leo tanpa menoleh. "Jangan biarkan dia mengambil keuntungan dari kebaikan Ibuku. Jika aku menemukan satu saja kesalahan, aku sendiri yang akan menyeretnya keluar dari mansion itu."
Leo tidak tahu bahwa ia sedang mengincar jantung ibunya sendiri. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang memasang perangkap paling menyakitkan untuknya.
Di White Rose Mansion, Liora sedang merapikan berkas-berkas di perpustakaan Eleanor. Ia melihat sebuah foto kecil di sudut meja kerja Eleanor. Seorang pria kecil yang sedang tersenyum kaku di samping Eleanor muda. Liora menyentuh foto itu, merasa tidak asing dengan tatapan mata anak itu.
"Itu putraku, Leo," suara Eleanor mengejutkannya.
Liora membeku. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. "Leo?"
"Iya, Leo Alexander Caelum. Dia penguasa kota ini sekarang. Dia sangat dingin, sangat keras... tapi dia anak yang baik pada ibunya. Suatu hari nanti, aku akan memperkenalkannya padamu, Liora. Kalian pasti akan cocok."
Dunia Liora runtuh seketika. Gelas air yang ia pegang terlepas dari tangannya, hancur berkeping-keping di atas lantai, persis seperti hatinya saat ini.
"Liora? Ada apa, Nak? Wajahmu pucat sekali," Eleanor mendekat dengan cemas.
Liora tidak bisa menjawab. Oksigen di ruangan itu seolah menghilang. Jadi, selama ini ia bekerja untuk ibu dari pria yang paling ia benci dan ia takuti? Ia bekerja untuk wanita yang melahirkan monster yang telah menginjak-injak harga dirinya?
Liora ingin lari, namun kakinya terasa terpaku. Ia sadar, ia telah masuk ke dalam sarang singa dengan cara yang paling manis. Dan saat Leo datang ke mansion ini nanti dan dia pasti akan datang—Liora tahu bahwa napasnya benar-benar akan dihentikan oleh pria itu.
"Aku... aku tidak apa-apa, Nyonya," bohong Liora, meski suaranya bergetar hebat. "Saya hanya... sedikit pusing."
Di balik jendela, langit mulai menghitam. Badai besar akan datang, dan kali ini, tidak ada halte bus yang bisa melindungi Liora dari amukan Leo Alexander Caelum.
"Liora merasa seperti seekor domba yang baru saja menyadari bahwa padang rumput hijaunya berada di halaman belakang rumah sang serigala."
"Leo tidak butuh pedang untuk membunuh Liora dia hanya butuh tatapan mata untuk membuat Liora merasa bahwa keberadaannya adalah sebuah dosa."
"Kebaikan Eleanor adalah penjara paling kejam, karena ia memaksa Liora untuk mencintai ibu dari pria yang menghancurkan jiwanya."