Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai kembali
Matahari pagi yang selalu dinanti-nantikan saat musim hujan seperti ini akhirnya terlihat juga menyapa setiap ruangan yang menghadap ke arah timur, apalagi ruangan tebuka seperti yang kini Liam tempati seorang diri.
Berbaring di sofa panjang dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Ia mengeliat sesekali sebelum akhirnya membuka mata. Ini adalah tidur ternyenyaknya setelah beberapa bulan menderita.
Dan pagi ini dia awali dengan senyuman tipis di wajah tampannya sehingga lesung pipinya terlihat. Namun, senyuman itu perlahan menghilang ketika menyadari sesuatu.
Arumi
Satu nama yang terlintas di pikirannya, ia beranjak dari sofa panjang tempat semalam ia menikmati waktu berdua dengan calon istrinya. Berlari mengelilingi beberapa ruangan sampai akhirnya tiba di ruang utama.
"Kenapa kak? Ada maling?" tanya Leona yang berpapasan dengan Liam yang tampak kebingungan.
"Kamu hutang penjelasan dengan mas, tapi nanti." Liam terus melanjutkan langkahnya sampai tiba di ambang pintu. Ia mengatur napasnya yang perlahan hilang kendali. Menunduk agar deru jantungnya tidak semakin menggila.
Ia menerima botol minum pemberian seseorang kemudian mendongak. Senyumnya yang sempat hilang kembali terlihat mendapati siapa yang menyodorkan air minum padanya.
"Syukurlah semalam bukan mimpi," lirih Liam masih sibuk mengatur napasnya. Secara tidak langsung dia sudah olahraga pagi.
"Sekarang sudah percayakan bukan mimpi? Jadi mas jalani hidup seperti biasa, aku pun begitu. Kita atur pernikahan kembali dan ...."
Liam dengan cepat mengelengkan kepalanya, dia trauma dengan pesta pernikahan. Mungkin seumur hidupnya dia tidak akan melakukan itu lagi, dia takut hal lama terulang.
"Mas nggak mau menikah denganku?"
"Bukan Sayang." Liam mengeleng. "Kita akan menikah, tapi tanpa pesta mewah di sebuah gedung. Aku mau kita menikah secara sederhana di rumah."
"Maaf karena membuat mas Liam ...."
"Bukan salahmu, tapi salah mas yang membawa bahaya untukmu. Di antara kita berdua terjadi kesalahpahaman dan minimnya komunikasi. Setelah ini mas nggak akan melakukan kesalahan lagi."
"Terimakasih sudah ingin menerimaku kembali Mas, awalnya aku ragu untuk pulang sebab sudah membuat mas dan orang tuaku menderita." Arumi maju satu langkah dan langsung mengalungkan tanganya di leher sang kekasih, memejamkan mata untuk menikmati pelukan hangat pagi itu.
Sebenarnya dalam waktu dekat Arumi tidak ada rencana untuk muncul di hadapan siapapun. Namun, setelah ia bertemu secara tidak sengaja dengan Leona, gadis itu terus mendatanginya dan memohon agar segera pulang.
Arumi, aku mohon datanglah kerumah tepat di hari ulang tahun kak Liam. Dia pasti sangat bahagia jika tahu kamu masih hidup. Aku nggak peduli kamu bisa hidup karena apa, yang pasti kamu punya alasan kuat sehingga bersembunyi selama ini.
Yang aku mau kamu kembali kekehidupan kak Liam dan buat dia bahagia, itu saja permintaanku sebagai teman.
"Terimakasih sudah kembali Aruminya mas," balas Liam yang melingkarkan tangan di pinggang Arumi.
Kebahagian yang sempat hilang itu akhirnya kembali lagi menyinari hidup Liam. Dan orang yang telah membuat kebahagian itu pergi sedang menjalani operasi pencangkokan kulit sebab luka bakar di tubuhnya tidak kunjung mengering.
"Tentang mas Seaven, apa semua orang sudah tahu yang sebenarnya?" Arumi melerai pelukan dan menatap wajah tampan Liam.
Melihat Liam mengeleng, Arumi pun tersenyum. Tangannya menyentuh sudut bibir sang kekasih. "Aku tahu kenyataanya melukai ego mas Liam sebagai seorang lelaki. Maka dari itu biarkan hanya kita yang tahu. Mari jalani hidup kita tanpa mengingat masa lalu kelam itu."
Kali ini Liam menganggukkan kepalanya, benar pria itu merasa malu jika harus mengakui yang sebenarnya. Bahwa kekacauan yang terjadi dalam hidupnya karena Seaven terobsesi padanya.
....
jijik