“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21
Naya dijatuhi hukuman serta denda yang sesuai dengan hukum yang berlaku. Naya berteriak histeris di pengadilan tersebut lalu mengumpat Alisha yang hadir di sana.
“Aku tidak akan pernah membuat kau hidup tenang, Alisha. Sampai kapanpun, kau akan aku buat menderita dasar perebut suami orang. Kau sangat memalukan, Alisha.” Albiru yang mendengar umpatan itu merasa geram dan hendak berdiri untuk menampar Naya, sangat benci dia dengan wanita yang pernah dia nikahi itu.
Alisha menahan Albiru dan mengusap punggung tangan suaminya, senyuman yang diberikan Alisha cukup membuat Naya kesal lagi, bukan itu reaksi yang Naya inginkan tapi Alisha dengan sabar menahan semua umpatan tersebut.
“Udah, Bi. Semakin kita marah, semakin puas hati dia dan dia gak akan berhenti.” Alisha berusaha menenangkan dan berhasil. Albiru kembali duduk dengan tenang sementara keluarga Naya hanya bisa menunduk malu ketika semua bukti dipertontonkan di pengadilan tersebut.
...***...
Sebulan berlalu, Alisha menatap dua garis merah di testpack miliknya. “Aku hamil.” Dia bergumam lembut dan menitikkan air mata haru.
Tak sabar Alisha untuk menunjukkan hasil tes tersebut pada Albiru nantinya. Selama satu bulan ini kehidupan mereka sudah sangat tenang dan nyaman. Ekonomi keluarga Ibnu juga sudah mulai bangkit dan rumah lama mereka sudah dibeli kembali.
Alisha bersiap untuk menyambut suaminya pulang dari kantor, dia sudah sangat rapi dan cantik setelah berhias. Pelayan juga sudah diminta untuk menyiapkan makanan kesukaan Albiru dan tentunya resep diracik sendiri oleh Alisha.
Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 sore namun belum juga terdengar suara mobil Albiru. Alisha turun ke bawah dengan wajah ceria, baru saja di ujung tangga, suara deru mobil yang dinanti akhirnya tiba, dia sedikit berlari membuka pintu utama dan ingin menyambut Albiru pertama kali di pintu.
Ketika pintu terbuka, lelah seharian yang dirasakan Albiru terbayar sudah saat melihat wajah dan senyuman istrinya. Segera saja dia peluk tubuh indah itu dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Alisha. “Aku rindu kamu sayang, aku sangat lelah.” Albiru mengeluh lemah dan Alisha paham kalau suaminya butuh bermanja ria.
Alisha menepuk pelan punggung suaminya dan mencium pipi Albiru. “Aku siapkan air hangat, kamu mandi dan nanti aku siapkan makanan serta minuman yang segar untuk kamu,” ucap Alisha mendayu.
“Makasih ya sayang, kamu memang sangat mengerti aku.” Albiru mencium pipi Alisha berkali-kali dan mulai menduselkan hidungnya ke pipi mulus itu.
“Bisa gak kalau udah intim begini di kamar aja? Malu tau kalo diliat pelayan.” Alisha menegus aksi suaminya itu dan dengan senyum jahil, Albiru meraih wajah Alisha lalu mencium bibirnya lembut sebelum setengah berlari memasuki kamar.
Alisha hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu. Dia melirik ke arah pelayan yang senyum-senyum padanya lalu Alisha hanya membalas dengan senyuman juga.
Setelah selesai makan malam, Alisha dan Albiru duduk santai sembari menonton televisi di dalam kamar. Albiru merasa lelah dan ingin bersantai bersama istrinya di kamar.
Alisha memberikan sebuah kotak pada Albiru dan menyuruh suaminya itu membuka. Albiru membukanya dan mengambil hasil testpack tersebut, betapa terharu dia melihat hasil itu. “Kamu hamil sayang? Kamu hamil?” tanya Albiru meyakinkan lagi dan Alisha membalas dengan senyuman mengambang terbaiknya.
Albiru memeluk erat istrinya itu, benar-benar lengkap sekarang kebahagiaannya dengan hadir benih kecil di rahim Alisha. “Aku sangat bahagia, Sha. Akhirnya kita sampai di titik ini dan kamu kembali bersamaku. Aku akan menjaga kamu dengan sangat baik, aku gak mau kehilangan kamu barang sedetikpun.” Alisha melepas perlahan pelukan Albiru dan mengusap pipi Albiru yang mulai basah oleh air matanya.
“Aku juga bahagia bisa ada dititik ini, Bi. Aku sangat senang bisa mendampingi kamu seumur hidup. Aku akan terus bertahan dan berjuang untuk keutuhan rumah tangga kita ini. Aku tidak akan biarkan siapapun lagi merusak kebahagiaan ini.” Albiru juga mengusap pipi lembut istrinya dan mencium bibir Alisha dengan mesra, lalu menyatukan keningnya dengan kening Alisha.
Albiru memberitahu kedua orang tuanya dan kedua orang tua Alisha mengenai kabar bahagia ini melalui panggilan video. Terlihat mereka semua bahagia dengan kabar tersebut, terlebih Ibnu yang begitu senang melihat putrinya bahagia.
...***...
Albiru mendatangi rumah Ibnu dan Dhevi yang tak jauh dari rumahnya. Kebetulan sekarang hari minggu dan Alisha sedang tidak ingin keluar, apalagi sekarang istrinya sedang merasa mual luar biasa. Albiru izin sebentar untuk menemui Ibnu dan Dhevi, tentu saja Alisha mengizinkan.
Albiru melihat kedua orang tua itu sedang bersantai menikmati cahaya pagi ditemani dua cangkir teh hangat di tangan mereka.
Albiru menyalami kedua mertuanya lalu ikut bergabung duduk di sana. “Cerah sekali calon bapak ini ya,” gurau Dhevi pada menantunya yang tentu saja dibalas tawa oleh Albiru.
“Jelas cerah, Bun.”
“Bunda buatkan minuman dulu ya.”
“Gak usah, Bun. Tadi di rumah aku udah minum. Aku ke sini buat ngomongin sesuatu sama Ayah dan Bunda.” Dhevi dan Ibnu mengerutkan kening mendengar perkataan Albiru, takut jika terjadi apa-apa dengan Alisha. Entah kenapa, semenjak penculikan yang dilakukan oleh Naya dan Rafi dulu, membuat mereka selalu was-was.
“Ada apa, Bi? Ada masalah dengan Alisha dan kamu?” tanya Ibnu dengan wajah khawatir.
“Bukan Yah. Aku hanya ingin meminta Ayah sama Bunda tinggal di rumah kami sampai Alisha nanti melahirkan. Soalnya aku harus kerja dan aku gak tenang kalau harus ninggalin Alisha sendirian di rumah. Kondisi Alisha saat ini juga sering lemah, jadi sedikit mengkhawatirkan buat aku. Kami udah ke dokter dan dokter bilang itu hal biasa buat kondisi Alisha saat ini.” Albiru memberikan penjelasan dan tentu saja Ibnu dan Dhevi mengangguk-anggukan kepala karena Dhevi saat hamil Alisha dulu juga begitu.
“Kalau mengenai kondisi awal kehamilan emang begitu kok, Bi. Kamu gak perlu khawatir, Bunda mau aja kok nemenin Alisha, tergantung sama ayah aja.” Dhevi melirik ke arah suaminya dan Ibnu mengangguk setuju.
“Ayah tentu gak akan menolak, apalagi ini menyangkut Alisha. Kita mau tinggal sama kalian selama Alisha hamil dan melahirkan nantinya, ya paling tidak sampai nanti Alisha kuat.” Albiru tersenyum senang karena mereka mau.
“Makasih Yah, Bun. Aku sangat lega, bekerja rasanya juga lebih tenang.”
“Sama-sama Albi. Oh iya, besok aja kami ke sana ya, soalnya Bunda harus menyiapkan beberapa barang dulu untuk tinggal sementara di rumah kamu.”
“Iya Bun. Gak masalah kok, kalau gitu aku pulang dulu, kasian Alisha kelamaan ditinggal.” Albiru berdiri diikuti oleh mertuanya. Ia menyalami mereka lalu pergi dari sana, segera dia menuju toko roti yang diinginkan Alisha sebelum pulang ke rumah.
Albiru menghentikan mobilnya di parkiran toko lalu memasuki toko tersebut. Albi mulai memilih beberapa roti yang disukai istrinya dan mengambil beberapa lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah semua dapat, dia pergi membayar saat sedang antri begitu Albiru merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang.