NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar digerbang Hijau 24

Pagi itu, aroma gurih masakan menyebar ke seluruh penjuru rumah Arjun. Bau rempah-rempah berpadu dengan aroma laut yang samar, menggelitik indra penciuman setiap anggota keluarga. Eko, dengan wajah berseri-seri, membawa pulang beberapa siput dan kerang yang ia temukan di danau kemarin. Valaria, dengan tangan lincah dan insting koki yang mulai terasah, segera mengolahnya bersama akar teratai yang mereka petik.

Di meja makan, hidangan tersaji. Tumisan akar teratai yang renyah dengan sedikit rasa manis, sup kerang yang hangat dengan aroma jahe yang menenangkan, serta siput rebus dengan bumbu pedas yang menggugah selera. Semua mata terpaku pada piring di hadapan mereka, tak sabar ingin mencicipi.

Raka, adik Valaria yang biasanya pemalu, adalah yang pertama mencicipi. Matanya langsung membelalak, ekspresi kaget bercampur senang terpampang jelas di wajahnya. Ia segera menyendok lagi, mulutnya penuh.

“Ini… ini enak sekali!” seru Raka, suaranya sedikit tertahan karena masih mengunyah. “Kalau tidak dijual, aku mau habisi semuanya ini! Rasanya enak banget!”

Ratri, Valaria, dan Tirta, Baskoro, saling pandang. Sebuah ide mulai terbentuk di benak mereka. Valaria yang sedang makan dengan santai, melirik ke arah ibunya, bertanya melalui tatapan, "Ada apa?"

Ratri tersenyum, senyum penuh pertimbangan. “Valaria, bagaimana kalau masakan ini… kita jual?”

Valaria berhenti mengunyah, garpunya menggantung di udara. “Dijual? Maksud Ibu, nasi bungkus?”

“Iya, sebungkus bersama dengan nasi,” sahut Ratri, matanya berbinar. “Pasti banyak yang suka.”

Valaria mengangguk, namun raut wajahnya menunjukkan keraguan. “Tapi… mau dijual dengan harga berapa? Dan kalau langsung semua, bukankah kita akan menjadi masalah untuk orang lain? Maksudku, saingan dengan pedagang lain?” Ia menjeda, menimbang-nimbang. “Ditambah lagi, untuk mencari bahan dan nasinya bagaimana? Kita kan tidak punya banyak modal.”

Kekhawatiran Valaria memang beralasan. Mereka memang punya keahlian memasak dan bahan dasar, tapi masalah logistik dan persaingan tentu tidak bisa diremehkan.

Jaya, yang selama ini mendengarkan dengan saksama, mengerti sepenuhnya pertimbangan Valaria. Ia menatap semua yang ada di meja. “Aku punya ide.”

Semua mata tertuju padanya. Jaya menegakkan duduknya, ekspresinya serius. “Kalau kita menjual makanan dalam bentuk bungkusan, terutama nasi, itu akan mudah bercampur dan cepat basi. Apalagi kalau bahan lauknya seperti ini. Kalau dipisah, pasti akan membutuhkan waktu lebih lama saat pembeli datang.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. “Jadi, menurutku, lebih baik kita membuat kedai makanan saja. Warung kecil di dekat kedai dagangan kita sebelumnya. Itu lebih efisien.”

Seketika, keheningan menyelimuti ruangan. Ide Jaya memang terdengar logis, namun ada satu ganjalan besar yang mengemuka.

“Tapi… bagaimana dengan modalnya?” tanya Baskoro, suaranya sedikit berat. Masalah modal memang selalu menjadi batu sandungan utama mereka.

Semua kembali terdiam, menghela napas. Seolah-olah dinding tak terlihat berdiri di antara mereka dan impian untuk memulai usaha.

Valaria, yang biasanya pendiam, kini mengangkat kepalanya. Matanya menatap satu per satu anggota keluarganya. “Bagaimana kalau… uang dari hasil jualan kita sebelumnya, kita gunakan untuk modal?” Ia ragu sejenak, lalu melanjutkan, “Tapi hanya setengah saja. Misalnya, kita membeli nasi hanya untuk satu baskom besar saja dulu. Untuk lauknya, kita bisa bervariasi dari kerang, teratai, sayuran, dan gorengan. Untuk nasi sayuran, harganya bisa sedikit berbeda jika memungkinkan.”

Argumen Valaria terdengar masuk akal. Mereka bisa memulai dari skala kecil, meminimalkan risiko, dan melihat respons pasar. Semua mendengarkan dengan seksama, mengangguk setuju pada setiap poin yang diucapkan Valaria.

“Kerang dan teratai buatan Valaria kemarin kan rasanya enak sekali,” ujar Ratri, senyumnya kembali mengembang. “Kita bisa menetapkan harga yang bersaing.”

Akhirnya, kesepakatan tercapai. Mereka menentukan harga, membagi tugas, dan merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Sebuah harapan baru terbit, harapan yang muncul dari kreativitas dan kebersamaan keluarga.

Malam semakin larut, keheningan menyelimuti rumah setelah diskusi panjang yang penuh semangat. Valaria merebahkan tubuhnya di kasur, rasa lelah menyelimuti. Diskusi yang panjang itu menguras tenaganya, namun juga mengisi hatinya dengan antusiasme. Perlahan, ia terlelap dalam tidur.

Namun, entah mengapa, jendela kamarnya tidak tertutup rapat. Angin malam yang sejuk menerobos masuk, mengelus pipi Valaria. Merasa sedikit kedinginan, Valaria samar-samar terbangun. Ia mengucek matanya, lalu bangkit dari tempat tidur. Dengan langkah gontai, ia mendekati jendela, berniat untuk menutupnya.

Saat tangannya hendak meraih kusen, sebuah bayangan muncul di ambang jendela. Jantung Valaria serasa berhenti berdetak. Sosok itu… Damian. Wajahnya yang biasa terlihat angkuh, kini tampak menyeringai licik di bawah cahaya rembulan.

Valaria terkesiap, napasnya tertahan di tenggorokan. Sebelum ia sempat berteriak, Damian dengan sigap melompat masuk ke kamar dan mencoba menutup mulutnya dengan tangan. Bau alkohol yang samar tercium dari tubuh Damian membuat Valaria semakin panik.

Dengan sekuat tenaga, Valaria mendorong Damian. Sebuah kekuatan entah dari mana muncul, mendorong tubuh Damian hingga terhuyung.

“Kenapa kamu di sini?! Mau apa kamu?!” Valaria berteriak, suaranya bergetar antara marah dan takut. Matanya menatap Damian dengan nyalang.

Damian yang sempat oleng, kembali mendekat. Wajahnya terlihat begitu dekat, pandangan matanya kosong. “Valaria… Aku hanya ingin bicara. Aku rindu kamu.” Suaranya serak, penuh dengan nada merayu yang menjijikkan. Tangannya mencoba meraih Valaria lagi.

Rasa jijik dan marah membuncah di dada Valaria. Ia tahu betul siapa Damian dan rekam jejaknya. Tidak ada niat baik di balik kehadirannya. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Valaria berbalik dan berlari sekuat tenaga ke arah pintu kamar.

“TIDAAAKK! TOLONG!” teriaknya sekeras mungkin, memecah keheningan malam.

Seketika, lampu-lampu di rumah menyala. Dari kamar sebelah, terdengar suara gaduh. Ratri dan Arjun, orang tua Valaria, segera keluar dari kamar mereka, wajah mereka panik. Raka juga keluar, mata mereka masih merah karena baru terbangun.

“Ada apa, Valaria?!” seru Ratri, suaranya tegang, melihat putrinya gemetar di ambang pintu.

Valaria tak bisa berkata-kata, hanya menunjuk ke arah kamarnya dengan jari gemetar. “Dia… dia…”

Arjun, dengan sigap melihat ke arah yang ditunjuk Valaria. Jendela kamar Valaria terbuka lebar. Sebuah firasat buruk merayapi hatinya.

Suara teriakan Valaria rupanya tidak hanya membangunkan keluarganya, tetapi juga tetangga-tetangga yang lain. Lampu-lampu di rumah sebelah mulai menyala. Beberapa warga yang mendengar keributan segera terbangun dan bergegas menuju rumah Arjun.

Saat Arjun melihat ke dalam kamar, warga yang berada di luar rumah melihat sebuah bayangan bergerak cepat keluar dari jendela kamar Valaria. “Itu dia!” teriak salah seorang warga.

Seketika, kerumunan warga bergegas mengejar bayangan tersebut. Beberapa saat kemudian, terdengar suara gaduh dan teriakan. Damian yang mencoba melarikan diri, berhasil ditangkap oleh warga yang marah.

Ratri segera memeluk Valaria yang masih gemetar. “Tidak apa-apa, Nak. Ada Ibu di sini.”

Di tengah kegelapan malam, di balik jendela yang terbuka, sebuah drama telah terjadi. Namun, kali ini, Valaria tidak sendirian. Keluarga dan tetangganya berdiri di sisinya, siap melindunginya dari bahaya yang mengancam. Fajar yang akan segera tiba, membawa harapan akan keadilan, sekaligus tantangan baru bagi keluarga ini.

1
panjul man09
pak Arjun dan bu Ratri 👍👍
panjul man09
banyak hal2 yg kurang dipahami masalah tanah , berikan yg lebih menarik lagi
panjul man09
sayang tahunnya agak jauh seandainya di tahun yg belum pake drone untuk transportasi atau mundur 4 tahun dari 2030 kayaknya lebih cocok
panjul man09
sebaiknya untuk orang tua valaria gunakan kata ayah dan ibu supaya posisinya jelas
Dewiendahsetiowati
hadir thor
anggita
ikut dukung ng👍like aja, 2👆👆iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!