NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Alya terdiam, matanya sulit mempercayai kenyataan yang baru saja menimpa dirinya. Akankah Romeo benar-benar menerima dirinya kini sebagai istri? Rasa tidak percaya dan kebahagiaan bercampur menjadi satu dalam hatinya.

Tatapan Alya yang bingung membuat Romeo tak bisa diam, dengan lembut ia memeluk istrinya, membungkusnya dalam kehangatan yang intim.

Sentuhan lembut Romeo membuat Alya tersenyum tipis, tubuhnya terasa hangat dan nyaman dalam pelukan yang begitu memikat.

"Ah… rasanya…enak luar biasa." Bisiknya, mata terpejam menikmati momen itu.

"Apa yang membuatmu merasa begitu enak?" selorohnya, nada suaranya penuh godaan.

Matanya melebar, Alya menunduk malu. Tanpa disadari, pengakuannya membuat Romeo mungkin merasa bangga sekaligus geli.

"Mari kita mulai lagi, dari nol. Ajari aku untuk mencintaimu dengan benar, Alya. Aku janji, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Kamu mau, kan… kita hadapi semuanya bersama-sama?" Romeo menatap Alya dengan mata penuh tekad.

"Aku mau… tapi jangan main-main, ya. Aku lelah jika hubungan ini cuma jadi percobaan. Kita sudah menikah,tuan. Hubungan ini bukan untuk diuji coba, tapi untuk kita yakinkan dan temukan cinta yang hanya milik kita berdua." Alya menatap Romeo dengan tatapan tegas.

"Ada satu hal yang tidak bisa ditawar: kita harus saling percaya. Kepercayaan adalah pondasi hubungan ini. Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu, dan aku ingin kamu melakukan hal yang sama. Katakan padaku apa yang membuatmu kecewa, dan aku juga akan jujur padamu. Kamu siap untuk itu?" Romeo menatap Alya dengan serius, nadanya rendah tapi tegas.

Alya hanya mengangguk pelan, hatinya mantap. Entah apakah semua doanya akhirnya terkabul, yang pasti, rasa bahagia itu mengalir deras di dadanya, membuatnya tersenyum tanpa bisa ditahan.

Akhirnya, mereka melanjutkan makan malam yang sempat tertunda. Bukan tanpa alasan perut keduanya sudah tak bisa lagi menahan lapar.

"Kamu sudah ingin tidur?" Setelah meneguk terakhir dari gelasnya, Romeo menoleh ke Alya dan bertanya lembut.

"Ya, kan aku baru bangun… masih nggak tahu harus ngapain. " ucapnya santai, menambahkan senyum tipis.

"Gimana kalau kita keluar malam ini? Aku mau tunjukin keindahan kota… Kamu kan belum pernah ke sini. Aku janji, aku akan menemanimu berkeliling." Romeo menatap Alya dengan mata berbinar.

"Tunggu ya, aku ganti baju dulu." ucapnya antusias sebelum segera menuju bilik ganti di kamar.

"Lucu banget, ya dia." gumamnya gemas, matanya mengikuti Alya yang berlari kecil meninggalkannya.

Keduanya akhirnya melangkah menuju Temple Street di Singapura, sebuah lokasi yang terkenal di kalangan turis. Di sini, pengunjung bisa mencicipi beragam kuliner khas, berburu oleh-oleh unik untuk dibawa pulang, bahkan mencoba ramalan nasib dan keberuntungan bagi yang penasaran.

Ini adalah pengalaman pertama Romeo berada di tengah kerumunan orang banyak. Meski ada rasa canggung dan sedikit risih, dia berusaha tetap tenang. Malam ini, baginya, yang terpenting hanyalah membuat Alya bahagia, apapun yang harus dia lakukan.

Sementara Alya tengah menikmati kencan pertamanya bersama suaminya, suasana di rumah justru berbeda jauh, tanpa menyadari momen romantis yang sedang terjadi.

Si kembar kini demam tinggi sejak pulang sekolah, mungkin karena kelelahan. Namun menurut Satria dan Edgar, yang juga ikut mengawasi mereka, panas itu seolah berasal dari kerinduan yang terpendam pada Alya. Bagaimana tidak, sejak pulang sekolah, kedua bocah itu kerap menyebut namanya bahkan di dalam tidur mereka pun suaranya terdengar lirih.

Arjuna sudah berulang kali mencoba menghubungi Romeo maupun Alya, tapi tak satu pun dari keduanya yang menjawab panggilannya.

"Apa mereka sudah tidur ya… tapi entah kenapa gue nggak yakin." gumam Arjuna, suaranya nyaris terdengar oleh dua sahabatnya yang berada di dekatnya.

"Bisa saja… padahal jam kita sama, tapi mungkin mereka kelelahan. Begini aja, kalau panas si bocah belum turun sampai jam dua malam, langsung kita bawa ke rumah sakit. Ingat, kalau si kembar sampai kejang lagi, bahaya besar. Jadi kalian berdua jangan sampai lengah." terang Satria tegas.

Arjuna dan Edgar akhirnya mengiyakan saran Satria. Sebenarnya, hal semacam ini sudah menjadi kebiasaan mereka sejak Romeo memiliki dua anak.

"Ibu… Ibu…" suara Selina terdengar lirih, hampir memelas, saat ia memanggil ibunya.

Tubuh anak itu kuyup oleh keringat, matanya masih terpejam rapat. Sementara Serena menggigil hebat, hingga giginya beradu menghasilkan bunyi yang tak terdengar menenangkan.

"Gak ada pilihan lain… ini sudah parah. Kita harus segera bawa mereka ke rumah sakit. Gue nggak mau ada hal buruk terjadi." ujar Arjuna, matanya menatap kedua keponakannya dengan kekhawatiran yang menyesakkan.

Tanpa membuang waktu, ketiganya segera membawa si kembar ke rumah sakit. Begitu sampai di ruang gawat darurat, kedua anak itu membuka mata dan terus memanggil-manggil Alya, ingin dia tetap berada di sisi mereka sepanjang malam.

"Terus hubungi mereka, Sat. Jangan berhenti sampai mereka angkat. Gue nggak mau mereka menyesal nanti." ujar Edgar tegas, matanya menatap serius.

Arjuna sibuk menangani si kembar bersama dokter anak yang menjadi rekannya. Sementara itu, hanya Satria dan Edgar yang tersisa, bertugas menghubungi Romeo dan mengurus segala hal yang masih tertunda di sini.

Sementara itu, Romeo dan Alya duduk di salah satu kedai makanan. Padahal mereka baru saja makan, tapi deretan jajanan yang terpajang membuat keduanya tak kuasa menahan diri untuk mencicipinya.

"Tuan… ponsel Anda berdering. Ada yang nelpon." ucapnya lembut, nada suaranya penuh perhatian.

Romeo akhirnya mengangkat telepon dari Satria, setelah sebelumnya puluhan panggilan tak terjawab dari ketiga sahabatnya menumpuk di ponselnya.

"Ada apa, Sat? Ada masalah?" tanya Romeo singkat, nada suaranya serius dan langsung ke inti.

"Si kembar di rumah sakit… badannya demam tinggi, dan terus memanggil nama istrimu." kata Satria tegas

"Kok bisa gitu… maksud gue, kenapa dia bisa sakit?" Romeo bertanya, suaranya bergetar karena kebingungan dan khawatir.

"Sepertinya dia kangen sama istrimu. Lo harus pulang malam ini… kasihan anak-anak, mereka sampai menggigil sambil terus memanggil nama Alya." terang Satria dengan nada serius dan penuh kejujuran.

"Gue langsung pulang sekarang, terima kasih, Sat. Jagain anak-anak gue dulu, ya!" jawab Romeo tergesa-gesa, nada suaranya penuh cemas.

Romeo segera menutup panggilan itu secara tiba-tiba, wajahnya penuh kepanikan. Namun hatinya masih bimbang, tidak tahu bagaimana harus memberi tahu istrinya.

"Ada apa, Tuan? Kenapa wajahmu tampak panik?" tanyanya lembut, matanya menatap Romeo penuh kekhawatiran.

"Maaf, Alya… sepertinya malam ini kita harus segera pulang ke Indonesia." ucapnya dengan suara bergetar, wajahnya menunjukkan rasa takut.

"Apa yang terjadi? Anak-anak baik-baik saja, kan?" Alya terdengar panik, suaranya bergetar karena khawatir.

"Anak-anak… mereka sedang dirawat di rumah sakit, Alya. Mereka rindu sama kamu." kata Romeo tergagap, suaranya penuh kecemasan.

Mendengar kabar itu, Alya langsung tercengang, matanya terbelalak. Dia sama sekali tak menyangka si kembar bisa sampai sakit parah seperti ini.

Tanpa menunggu lebih lama, Alya segera berdiri, meraih pergelangan tangan Romeo, dan menuntunnya pergi dari tempat itu.

"Ayo, Tuan! Anak-anak butuh kita sekarang!" teriak Alya, suaranya lantang dan penuh khawatir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!