Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Lampion dan kembang api
Semuanya terlihat berantakan, tidak banyak para pekerja berada disana. Kepala pelayan sesekali memantau kegiatan para pekerja yang di bawa Nathan pada saat berada di rumah ini. Terlihat mereka mengepakkan barang dalam beberapa kotak kayu dan mengangkatnya.
Tempat itu menjadi kosong seperti semula, para pengawal sudah banyak di tari dari sana pada siang hari yang cerah tersebut.
Nathan menatap kediaman itu seakan meninggalkannya lagi untuk waktu lama. Lamunannya terhening ketika kepala pelayan menghampirinya.
“Maaf tuan, apakah anda akan berpamitan dengan nona?” Tanya kepala pelayan itu.
Nama kepala pelayan itu nyonya Red. Sebenarnya ia bernama Briliand Red, namun disini ia memakai nama keluarganya.
“Tidak nyonya Red. Tadi pagi saya sudah berpamitan. Saya akan segera ke tempat festival disana akan saya katakan pada Nona Emily bahwa saya sudah membawa barang-barang saya.” Nathan hendak berbalik lalu membungkukkan badannya sedikit.
“Baiklah tuan, semoga perjalanan anda menyenangkan. Saya permisi terlebih dahulu.” Kepala pelayan itu mundur dua langkah memasuki pintu kediaman. Dan menatap Nathan dan rombongannya menjauh.
Tak lama kepergian Nathan, Rona bergegas kembali ke kediaman bukan untuk menyapa Nathan namun ada urusan lain.
Paman bil yang ada di depan gerbangpun kaget setelah ingin menutuo gerbang tersebut. Rona hanya memberi perintah memberi makan kudanya dan langsung berlari ke dalam kediaman.
Nyonya Red yang masih ada di dekat pintu pun kaget dibuatnya. Kepala pelayan memerintahkan pelayan Rona untuk membawakan teh dan makan siang, karena sudah lewat jam makan siang. Lalu menyuruhnya menyiapkan baju ganti untuknya.
Langkah kaki Rona begitu cepat memasuki ruang bawah tanah miliknya.
Pada malam harinya saat Nathan bersama Emily. Sekilas ia ingat bahwa gadis itu melewatinya dijalan dengan jalan cepat tanpa Grey yang mendampinginya. Tatapan Nathan tak lepas dari raut wajah serius Rona menuju rumahnya.
“Kembang api sudah mau dimulai, kembang apinya sudah mau dimulai.” Sorak beberapa orang yang ada disana.
Malam itu begitu hangat dan meriah, namun perasaan Nathan mendadak kaku. Ia menatap Emily yang sedari tadi sudah disana bersama para pekerja yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. Tawa dan senyum Emily begitu hangat, gelak tawa bersama antara majikan dengan pekerja jarang sekali terjadi. Banyak candaan disana namun Nathan masih sulit menyadarinya.
Grey yang menatap tuannya itu memberinya secangkir anggur yang dibagikan Emily untuk para pekerja. Grey menaikkan satu alisnya, sambil memantau sekitar.
Nathan hanya meneri cangkir yang diberikan Grey dan menggelengkan sedikit kepalanya.
“Dimana Rona?” Bisiknya ke telinga Grey yang mendekat sedikit.
Grey bersandar di tiang di dekat Nathan.
“Kau mengkhawatirkan nona muda tuan, tapi bagaimana dengan gadis cantik yang ada di depanmu?” Tanyanya perlahan sambil menarik nafas panjang lalu membuangnya.
“Aku kan sudah memerintahku untuk menjaganya.” Nathan menatap langit lalu tatapannya menuju Emily yang masih bercengkrama bersama para pelayan dan pekerjanya.
“Nona muda kita sangat menarik tuan, aku tak bisa memikirkan sedikit saja ataupun memprediksi sikapnya. Terlebih sikap tegasnya pagi ini untuk membuatmu angkat kaki atau membuatku kewalahan dalam mengejarnya. Gadis muda itu sangat luar biasa.” Grey hanya tersenyum mengakui kekalahannya dari seorang gadis kecil pemberani dan sangat susah untuk diprediksi.
Nathan hanya terdiam tak bergeming, banyak hal yang ingin ia katakan namun belum saatnya. Banyak hal yang tumpang tindih jika ia ceritakan takkan bisa dengan cerita pendek. Pasti memerlukan pemahaman hati dan emosional dalam penyampaiannya.
Nathan sempat ragu menatap Emily namun ia tetap tersenyum dan meneguk agurnya. Gadis cantik itu sangat cantik dan lembut, namun tak memiliki kepekaan seperti adiknya yang selalu waspada akan banyak hal. Entah itu untuk melindungi diri ataupun untuk mempertahankan apa yang sudah susah paya ia pertahankan.
“Lihat-lihat lampionnya akan diterbangkan.” Sorak orang-orang beramai ramai berlari ke arah tempat lampion di terbangkan.
Nathan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Emily, Emily tersipu dan menggenggam tangan tersebut.
Nathan sedikit berlari menggenggam tangan Emily, gadis itu tersenyum indah. Seolah mengingat kejadian saat mereka masih kecil. Berlari-larian sambil menggenggam tangan kala itu.
Emily menatap tubuh besar Nathan yang menggenggam erat tangannya. Tak lupa Emily mengangkat sedikit gaunnya agar ia bisa mengimbangi laju lari lelaki itu. Mereka berhasil melewati ratusan orang dan sedikit berdesak padat.
Nathan meraih sebuah kampion berukuran sedang dan memberikan uang kepada penjual yang ada di kaki lima tersebut.
“Terimakasih tuan.” Pedagang itu menangkap uang pemberian Nathan.
Nathan menoleh kebelakang menatap Emily. Sampailah mereka kebagian paling tinggi untuk menerbangkan lampion tersebut. Lagi lagi Nathan mengulurkan tangannya agar gadis itu dapat naik ke atas tangga dengan mudah.
Emily yang sedikit kehabisan nafas menyekah dahinya dari cucuran air keringat yang membasahinya.
“Ayo.” Ucap Nathan sambil membawa lampion.
Emily hanya meraih tangan lelaki itu. Emily naik tepat pada pelukkan Nathan. Jantungnya berdegup kencang.
“Ini terbangkan.” Nathan menghidupkan api pada lampion tersebut.
Emily hanya mengangguk dan menatap lelaki yang ada di hadapannya itu. Lelaki yang sudah lama ia cintai.
“Auww.” Emily berteriak.
“Hei Emily kau tak apa?” Tatap Nathan memegang lampion dan satu tangannya menggenggam tangan Emily.
“Maaf aku tak melihat api.” Ucap Emily terlihat sedikit gugup.
Nathan mengambil tangan gadis itu dan membawanya ke bawah lampion.
“Ini kau harus meletakkannya disini. Nah terbangkan sekarang.” Seperti biasa dengan Suara lembut Nathan menyampaikan pada Emily.
Tanpa banyak bicara Emily menerbangkan lampion tersebut. Terlihat berbagai lampion menghiasi langit dengan warna warni dan bentuk yang berbeda.
“Wahh indahnya.” Mata Emily berkaca menatap haru dengan bahagia keatas langit.
Nathan menatap Mata gadis itu yang menatap langit lalu mendekat mencium keningnya dengan lembut. Mata Emily terbelalak dan ia hampir jatuh.
“Kenapa tiba-tiba.” Ucapnya kaget.
“Tidak apa aku hanya ingin.” Ucap Nathan, lalu mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
Jedarr … jedar …
Kembang api bertaburan di atas langit dan memeriahkan acara puncak pada malam itu. Jantung Emily berdegup kencang, walaupun sempat ia merasa aneh dengan semua kejadian yang terjadi dari pagi tadi bersama Rona. Dan saat ini seakan segalanya berbalik dan terbalik.
“Dimana Rona?!” Tanya Emily dalam hati.
Karena kesenangannya bersama Nathan, sejenak Emily melupakan adik kesayangannya.
“Lihatlah keatas Indah sekali seperti dirimu Emily.” Ucap Nathan menunjuk ke arah langit.
Rona yang tak jauh dari sana masih menikmati ciumannya bersama Dean. Dan memeluknya sangat Erat.
Untuk hari hari yang kunantikan ternyata penantian akan jawaban siapa seseorang yang sejak dahulu berada didekatku adalah seseorang yang kini ada dalam pelukanku. Detak jantung mereka seirama, bagai tangga nada yang beriringan dengan suara kembang api yang terus mencuat dengan indahnya di atas langit.
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakan bahwa itu kamu?” Tanya Rona sambil memegang kepala lelaki itu dengan kedua tangannya di antara pipi Dean.
Dean tersipu malu dan sulit untuk menjaga ekspresi malu sekaligus bahagianya di hadapan gadis tersebut.
“Saat aku pergi aku juga baru tahu. Yang terpenting sekarang ada aku disisimu.” Dean kembali memeluk Rona dan Rona pun membalas pelukkan hangat tersebut