NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:80
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gengsi

"Gimana kabarmu, dan... anak kita?"

Rania tersenyum getir, "anak kita?"

"Rania. Tolong maafkan aku, aku ingin ketemu kamu. Aku lelah sendirian di sini. Maafkan aku, aku salah, dan... Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya"

Rania terdiam. Entah sudah berapa kali Reyhan membujuknya. Tapi, Rania tidak pernah memberinya kesempatan. Rasa sakit di masalalu, membuatnya enggan terlibat lagi dengan pria itu.

"Banyak perempuan yang mengejarmu. Dan aku... Aku sama sekali bukan tipemu. Tolong, biarkan aku dan anakku hidup bebas dari bayang-bayangmu."

"Rania... Tapi–"

Panggilan terputus.

Rania sengaja memutuskannya sepihak. Ia tidak sanggup lagi mendengar semua ucapan lelaki yang sudah menyakiti hatinya.

Rania meletakkan ponsel di meja. Ujung matanya panas, tapi ia menolak membiarkan air mata jatuh.

Di sampingnya, Aira menggeliat pelan, lalu memeluk lengan Rania tanpa sadar.

“Tenang aja, Sayang…” bisiknya, mengecup dahi anak itu. “Mama nggak akan biarin siapa pun nyakitin kamu lagi.”

Ia menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi suara dering ponsel kembali bergeming, membuatnya frustasi pagi itu.

Ia menggeser ikon hijau, tanpa memperhatikan pemanggilnya.

"Apa lagi, Hah?!"

Di seberang, suara itu terdengar kaget. "Rania? Kamu baik-baik aja?"

Saat sadar, pria itu bukan Reyhan. Rania segera memutar otak, mencari alasan.

"Aku masih kesel sama kamu." katanya.

Radit terdengar serak dan malas, khas orang yang baru bangun tidur. “Kesel, karena semalem kita main sebentar?"

"Radit. Jangan mulai deh!"

"Iya deh iya. By the way… kamu udah sarapan?”

“Udah,” jawab Rania singkat sambil menyesap teh. “Kamu?”

Tanpa sadar, ucapan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Aneh. Padahal Rania tidak berniat untuk menanyakan hal itu.

Radit tertawa kecil. “Belum. Masih di kasur, belum siap ketemu dunia.” Ia terdengar menghela napas, seolah masih menikmati sisa hangat selimutnya. “Tapi… aku nggak lupa. Waktumu tinggal 13 hari lagi, Ran. Jangan pura-pura lupa sama janji.”

Rania mendecak pelan. “Kamu bangun pagi cuma buat ngingetin aku hal itu?”

“Bukan cuma itu…” Nada Radit menurun, “Aku cuma mau bilang… terima kasih untuk semalam.”

Rania terdiam. "Terimakasih untuk apa”

“Hmm.” Senyumnya nyaris bisa Rania dengar dari telepon. “Kamu pura pura lupa apa gimana?

Rania menelan ludah. Matanya refleks melirik Aira yang sedang tertawa kecil. “Kamu ini aneh.”

“Mungkin,” jawab Radit santai. “Tapi itu aneh yang cuma muncul kalau sama kamu.”

Sebelum Rania sempat membalas, Radit menambahkan, “Sarapan yang banyak. Sebentar lagi aku jemput.”

Panggilan terputus.

Rania menatap layar ponsel lama-lama, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu apakah ini awal dari masalah baru… atau awal dari sesuatu yang tak pernah ia rencanakan.

---

Pagi itu, setelah sarapan, Rania duduk di ruang tamu dengan riasan ringan dan pakaian rapi.

Jam bergulir. Setengah jam berlalu, lalu satu jam… tak ada tanda-tanda mobil Radit di depan kontrakan. Ponselnya sunyi, tak ada telepon ataupun pesan masuk.

Dia lupa?  pikir Rania, menatap layar ponselnya untuk kesekian kali.

Menit demi menit lewat, dan rasa antusias itu berubah jadi campuran kesal dan bingung. Akhirnya, ia mengambil tas dan memutuskan pergi sendiri.

Perjalanan terasa hambar. Rania mencoba meyakinkan diri, ini cuma urusan kerja… nggak usah baper. Tapi hatinya tetap terasa berat.

Sampai di kantor, langkahnya sedikit melambat. Ia menuju lantai atas, membuka pintu ruang Radit—kosong.

“Pak Radit belum datang sejak pagi,” kata sekretarisnya tanpa menoleh.

Rania mengangguk pelan. Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang mengganggu. Kenapa aku khawatir? Bukannya aku nggak peduli… kan ini cuma kontrak?

Ia duduk di ruang tunggu, lalu seorang stylish mendekat, memberinya arahan untuk pekerjaan hari ini.

---

Hari itu terasa panjang dan membosankan. Rania menjalankan semua instruksi dari stylish dengan datar, tanpa minat. Setiap ia menoleh ke arah pintu, tetap saja yang muncul bukan Radit.

Di sela menunggu giliran, ia membuka ponselnya lagi. Tidak ada pesan masuk. Jemarinya sempat ragu mengetik Kamu di mana?, tapi cepat-cepat ia hapus sebelum terkirim.

Ngapain sih… kayak nungguin pacar aja, gumamnya dalam hati. Ia tak mau terlihat seperti perempuan yang tergantung pada pria itu.

“Eh, Mbak Rania,” suara seorang karyawan pria memecah lamunannya. Usianya mungkin awal dua puluhan, dengan senyum usil yang terlalu lebar. “Hari ini nggak dijemput, nih?”

Rania menoleh malas. “Kenapa nanya begitu?”

“Ya… soalnya kemarin saya lihat sendiri, Pak Radit yang antar. Biasanya kalau bos udah jemput sendiri, artinya… spesial.” Ia mengedipkan sebelah mata.

Rania menghela napas panjang. “Kamu kebanyakan nonton drama.”

“Serius, Mbak. Saya ini peka loh. Lihat dari raut muka aja udah tahu kalau Mbak nungguin seseorang.”

“Peka sama gosip, iya.” Rania menegakkan punggungnya, mencoba mengalihkan perhatian ke meja kerja. “Udah sana, kerjain bagian kamu.”

Pria itu terkekeh, lalu pergi sambil melirik-lirik ke belakang. Rania menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan komentar usil itu. Tapi hatinya masih terasa sesak.

Setelah pria tadi pergi, Rania memutuskan untuk pergi ke toilet, berharap cermin bisa sedikit menenangkan pikirannya.

Begitu berdiri di depan pantulan dirinya, Rania merapikan rambut, mengusap pipi, dan menyentuh bibir pelan. Sekilas, bayangan semalam muncul—sentuhan, tatapan, dan ucapan Radit yang terlalu dalam untuk sekadar urusan kontrak.

Ia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikirannya. Jangan bego, Ran. Ini cuma kontrak. Nggak lebih.

Di saat yang sama, ponselnya berdering. Nama di layar membuatnya menghela napas panjang.

Bukan Radit.

"Sadar, Rania! Sadar."

Ia pun memutuskan untuk membasuh wajah, namun suara langkah sepatu kulit berat terdengar mendekat. Rania mengangkat kepala… dan nyaris menjatuhkan handuk kecil yang ia pegang.

“R-Radit?!” suaranya setengah berbisik, setengah terkejut.

Pria itu santai bersandar di pintu, masih dengan jasnya yang rapi. “Kok diem? Nggak meluk?”

Jantung Rania berdegup tak karuan. Ia kaget, senang, tapi gengsi jadi tembok paling tebal.

“Ngapain kamu di sini?! Ini toilet perempuan!”

Beberapa karyawan yang lewat di luar terdengar membicarakan. Suara bisik-bisik mulai ramai.

Rania makin panik. “Keluar! Nggak sopan tahu!”

Namun Radit hanya menatapnya santai, seakan sedang menikmati reaksinya.

“Keluar!” Rania hendak berteriak lagi, tapi pria itu dengan cepat menutup jarak, lalu membekap mulutnya.

“Shh…,” bisiknya di telinga Rania. “Kalau kamu ribut, gosipnya bisa kemana-mana.”

Sebelum Rania sempat melawan, Radit menariknya masuk ke salah satu bilik toilet, lalu mengunci pintunya dari dalam. Napas Rania memburu, jantungnya makin kacau—bukan hanya karena kaget, tapi karena jarak mereka yang terlalu dekat.

Suara ketukan terdengar dari luar.

“Mbak? Tadi beneran ada cowok masuk ke sini, ya?” tanya salah satu karyawan perempuan.

Radit mengangguk pelan, memberi isyarat lewat tatapan.

Rania menelan ludah, lalu menjawab dari balik pintu, “Iya, dia salah masuk. Tapi, udah pergi kok.”

Karyawan itu terdiam sebentar, lalu

terdengar langkah menjauh.

Di dalam bilik, Radit masih belum melepas Rania sepenuhnya. Bibirnya melengkung tipis.

“Kamu kangen, kan?” bisiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!