Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di tempat lain, Dian dan Sinta duduk berhadapan di sebuah coffee shop. Suasana terasa sunyi meski tempat itu ramai oleh pengunjung.
“Sinta… kenapa kamu nggak cerita dari awal sama aku, Sin?” tanya Dian pelan, matanya menatap kosong ke arah luar jendela.
Sinta menatap Dian dalam-dalam, lalu menggenggam tangannya erat.
“Dian, aku akan jelaskan semuanya. Tapi kamu harus kuat, ya,” ucapnya lembut.
Perlahan Sinta mulai bercerita. Tentang liburannya ke Kuala Lumpur bersama sang suami, tentang pertemuan tak sengaja dengan Andi dan seorang perempuan yang selalu bersamanya. Awalnya Sinta ingin langsung memberi tahu Dian, namun Mas Hendra melarang—katanya itu urusan rumah tangga orang lain.
Tapi Sinta tak bisa tinggal diam. Ia tak rela sahabatnya dibohongi oleh suaminya sendiri. Karena itu, ia memilih mencari tahu diam-diam, hingga akhirnya tahu rutinitas Andi: tempat makan siangnya, waktunya, dan fakta bahwa ia hampir selalu bersama perempuan itu.
Mendengar semua itu, dada Dian terasa perih. Tiga tahun pernikahan, dan tak sekalipun Andi pernah mengajaknya pergi ke luar negeri.
“Masih ada satu hal lagi, Ian,” lanjut Sinta pelan.
“Kamu ingat kan aku pernah bilang adikku, Evan, diundang ke pernikahan iparmu, Arif? Dia kaget… karena di pelaminan yang mendampingi Andi bukan kamu, tapi perempuan itu.”
Kata-kata itu menghantam Dian tanpa ampun.
“Jadi… Ibu,Arif dan Nuri sudah mengenalnya. Bahkan sejak lama,” gumam Dian lirih.
Pantas saja ia pernah melihat kwitansi dua kebaya. Ia sempat mengira itu untuk dirinya—ternyata bukan. Saat itu, Dian merasa benar-benar runtuh. Rasanya ingin menghilang saja.
“Ian… kamu siap lihat semua bukti yang aku punya?” tanya Sinta ragu.
Dian menoleh, menarik napas panjang seolah mengumpulkan sisa kekuatan, lalu mengangguk.
“Siap.”
Sinta pun membuka ponselnya.
“Aku mulai, ya. Namanya Tasya. Orang tuanya pengusaha di Batam. Ayahnya salah satu relasi Mas Hendra.”
Satu per satu foto dan video ditunjukkan: Andi dan Tasya bersama, tertawa, berjalan berdampingan. Hingga akhirnya muncul gambar yang paling menyakitkan—momen makan bersama Bu Minah, Arif, dan Nuri.
Dian merasa dirinya adalah orang paling bodoh—selalu diam, selalu menunduk, selalu manut setiap kali mertuanya mengomel dan mengumpat tanpa henti.
Ia mengira kesabaran akan membuat segalanya membaik, bahwa tunduk dan mengalah adalah jalan agar tetap diterima. Nyatanya, semua itu tak pernah cukup. Yang ia terima justru luka yang terus bertambah, harga diri yang perlahan terkikis, dan hati yang kian lelah.
Kini Dian sadar, diamnya selama ini bukan karena ia lemah, melainkan karena ia terlalu percaya. Terlalu percaya bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan, bahwa bertahan berarti setia. Namun pada akhirnya, ia justru dibiarkan sendirian—menahan sakit, sambil terus disalahkan.
Tidak lama kemudian ponsel Dian berdering.
Nama mertuanya muncul di layar.
“Aku angkat dulu ya, Sin,” ucap Dian lirih.
Dengan sisa kekuatan yang ia punya, Dian menjawab panggilan itu.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Kamu di mana? Cepat kasih tahu. Arif sudah mau jemput,” suara Bu Minah terdengar keras dan kesal.
“Bu, nanti Dian sama Naya naik taksi saja,” jawab Dian datar, menahan gemetar di suaranya.
“Haduuh, menantu bodoh! Kamu itu sudah enak jaga rumah malah datang ke Batam. Cuma gara-gara gaji Andi ibu pegang, kamu jadi begini!” omel Bu Minah dari seberang sana.
Dian memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara bergetar namun tegas,
“Bukan cuma soal itu, Bu. Dian sama Naya rindu Andi. Sudah lama kami tidak bertemu. Apa salahnya seorang istri dan anak merindukan suami dan ayahnya sendiri?”
Karena semakin kesal, Bu Minah langsung mematikan panggilan itu tanpa memberi kesempatan Dian melanjutkan ucapannya.
Dian menatap layar ponselnya yang kini gelap. Dadanya terasa sesak, ada perih yang mengendap, tapi air matanya justru tak lagi jatuh. Ia hanya terdiam, seolah semua yang barusan terjadi menguatkan satu hal di hatinya—bahwa suaranya memang tak pernah dianggap penting.
Sinta yang sejak tadi memperhatikan menggenggam tangan Dian erat.
“Udah, Ian… kamu sudah cukup sabar. Sekarang giliran kamu mikirin diri kamu dan Naya,” ucapnya pelan, penuh empati.
Dian mengangguk perlahan. Ia menoleh ke arah Naya yang tertidur pulas, lalu membelai rambut anaknya dengan lembut.
Dalam hati, Dian berjanji—apa pun yang terjadi setelah ini, ia tak akan lagi membiarkan dirinya dan anaknya terus terluka dalam diam.
Sebelum beranjak, Sinta menyodorkan sebuah flashdisk ke tangan Dian.
“Simpan ini baik-baik, Ian. Semoga bisa jadi peganganmu kalau suatu saat kamu butuh. Apa pun yang terjadi, kabari aku ya. Jangan pernah merasa sendirian,” ucapnya tulus.
Dian menerima flashdisk itu dengan jemari sedikit bergetar. Ia mengangguk, matanya berkaca-kaca.
“Makasih, Sin… terima kasih sudah sejauh ini berdiri di samping aku.”
Di sepanjang perjalanan, Dian lebih banyak diam. Tatapannya kosong menembus kaca mobil, mengikuti deretan jalanan Batam yang dipenuhi panas terik siang hari. Namun pikirannya hanya tertambat pada satu nama—Naya.
Dalam batinnya, Dian bergulat dengan keputusan yang perlahan mulai mengerucut.
Jika memang Andi memilih bersama perempuan itu, ia siap melepaskan, meski hatinya hancur. Ia tak akan memaksa cinta yang sudah berpaling. Namun jika Andi masih ingin kembali, masih memilih Dian dan Naya, maka ia siap memaafkan—dengan satu syarat: tak akan ada lagi ruang bagi Tasya, atau perempuan mana pun, untuk merusak rumah tangganya.
“Apapun yang terjadi,” batinnya lirih,
“aku harus kuat. Demi Naya.”
Mobil terus melaju, meninggalkan riuh Batam Center di belakang, membawa Dian pada sebuah persimpangan hidup yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sesampainya di rumah, Sinta dan Dian masuk lebih dulu. Suasana di dalam terasa tenang, hanya terdengar dengusan halus pendingin ruangan.
“Naya habis makan siang tadi langsung tidur, Mbak,” ujar Dea pelan, seolah tak ingin mengganggu.
Dian menoleh ke arah kamar, langkahnya spontan melambat. Ada rasa lega ketika tahu putrinya tertidur pulas, namun bersamaan dengan itu hatinya kembali terasa sesak. Ia mendekat, mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Naya terlelap dengan posisi miring, napasnya teratur, wajah kecilnya tampak damai—seakan tak tahu badai apa yang sedang bergemuruh di hati ibunya.
Dian menghela napas panjang.
“Alhamdulillah,” gumamnya lirih.
Sinta berdiri di belakangnya, menepuk bahu Dian dengan lembut. Tanpa kata, ia ingin meyakinkan sahabatnya bahwa setidaknya, untuk saat ini, ada satu hal yang tetap utuh dan menjadi alasan Dian untuk bertahan: Naya.
Sebelum Dian beranjak pergi, Sinta menahannya dengan lembut.
“Ian, sebelum kamu pulang, biar aku yang urus semuanya. Penampilan kamu akan aku ubah. Aku juga sudah minta Pak Muin mencarikan kado untuk adik iparmu yang baru menikah. Kamu tenang saja,” ucap Sinta tulus. “Aku ada untuk kamu. Kamu boleh sedih. Aku tahu, kamu itu perempuan yang kuat—dan ibu yang hebat.”
Dian menoleh, matanya berkaca-kaca. Ia lalu memeluk Sinta erat, seakan ingin menumpahkan seluruh lelah dan luka yang selama ini ia pendam.
“Terima kasih, Sin,” ucapnya lirih.
Dian bingung harus berkata apa lagi. Selain ibunya, hanya Sinta yang selalu berdiri di sisinya, tanpa syarat, tanpa menghakimi.
Dalam hati, Dian bertekad.
Kalau memang hanya penampilan yang perlu diubah, akan aku ubah semuanya.
Sejak tadi, ponsel Dian tak henti bergetar. Nama ibu mertuanya muncul berkali-kali di layar, menanyakan keberadaannya dan Naya. Namun Dian memilih menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam.
Ia kini sudah siap. Naya pun telah dimandikan oleh Sus Dea, rapi dan wangi. Hati Dian terasa hangat—ia benar-benar bersyukur mendapat bantuan Sus Dea sejak kemarin. Tanpa banyak kata, bantuan itu terasa begitu berarti di saat hatinya sedang rapuh.
Dian memandang putrinya yang kini tenang dalam gendongannya.
Dalam hati ia berbisik penuh keyakinan, Bismillah… aku bisa.
Di perjalanan menuju rumah adik iparnya, Arif, Dian lebih banyak terdiam. Tatapannya lurus ke depan, pikirannya sibuk dengan berbagai hal yang berputar tanpa henti. Sesekali ia tersadar ketika Naya berceloteh riang dari kursinya, menyebut namanya dengan suara polos yang selalu berhasil melunakkan hati Dian.
“Ibu…” panggil Naya sambil tersenyum kecil.
“Iya, nak,” jawab Dian lembut, mengulas senyum tipis meski dadanya terasa sesak.
Selepas itu, ia kembali tenggelam dalam diam. Hanya suara mesin mobil dan celotehan kecil Naya yang menemani perjalanan sore itu, sementara Dian berusaha menguatkan diri—bersiap menghadapi apa pun yang menantinya nanti.
Baru saja sampai di rumah Arif, Bu Minah sudah berdiri di teras dengan wajah masam yang sama seperti yang selalu Dian ingat. Namun kali ini berbeda—Dian melihatnya, menyadarinya, lalu memilih bersikap biasa saja. Mulai hari ini, ia belajar cuek.
Dian turun dari taksi online sambil menggendong Naya dan membawa tas kecil. Belum lama kendaraan itu berlalu, Bu Minah sudah bersiap melontarkan omelannya.
“Astaga, Dian. Sudah dibilang betah di rumah saja, malah ke Batam pula,” ucap Bu Minah kesal.
Dian menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Bosen, Bu. Lagian ke Batam Dian ada yang didatangi, bukan asal datang. Di sini kan ada ayahnya Naya. Wajar dong,” balasnya dengan nada sedikit lebih tinggi.
Bu Minah terkejut. Dian tak pernah menjawab seperti itu sebelumnya.
Tanpa menunggu reaksi lebih jauh, Dian melangkah masuk ke dalam rumah. Ia tak lagi peduli pada tatapan ibu mertuanya. Rumah Arif terasa sepi—rupanya hanya Bu Minah seorang diri di sana. Dian mengeratkan gendongannya pada Naya, meneguhkan hati. Apa pun yang terjadi setelah ini, ia tak ingin lagi selalu mengalah.
Dian langsung mengambil tempat di sofa tanpa menunggu perintah dari Bu Minah. Tak lama kemudian, ibu mertuanya masuk ke dalam rumah dan mulai berbicara, kali ini dengan nada dibuat lebih tenang.
“Ian, besok kamu harus segera pulang ke Pinang. Rumah ibu kosong, tidak ada yang menjaga. Nanti bunga-bunga ibu bisa mati,” ujarnya seolah mencari alasan.
Dian menoleh sekilas, lalu menjawab singkat, “Bu, Dian baru saja sampai. Sudah disuruh pulang lagi. Aku dan Naya kangen Bang Andi.”
Raut wajah Bu Minah tampak jelas menahan kekesalan.
Sekitar dua puluh menit berselang, Andi akhirnya datang bersama Arif dan Nuri. Begitu melihat mereka, Dian langsung berdiri.
“Eh, ini ya pengantin baru,” ucap Dian sambil tersenyum tipis ke arah Nuri. “Kenalin, Dian. Ini ponakan kalian, Naya.”
Namun Nuri terlihat acuh, nyaris tak memberi respons.
Dian yang menangkap sikap itu memilih tak ambil pusing. Ia lalu menyerahkan sebuah kotak pada Arif. “Ini kado dari Mbak. Kemarin kan Mbak nggak diundang sama ibumu. Masa iya ibu lupa sama menantunya sendiri?”
Ucapan itu membuat Bu Minah dan Andi tampak kelabakan.
Bu Minah segera menyela, menatap Dian tanpa basa-basi.
“Andi kemarin tidak datang. Jadi untuk apa juga kamu ke sini, Ian?” ujarnya dingin.
Mendengar itu, Dian tak membalas apa pun. Ia hanya mengulas senyum tipis—senyum yang menyimpan lelah, namun juga keteguhan.