Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: HASIL DNA YANG MENGGUNCANG
Hujan sisa badai semalam masih menyisakan rintik tipis di jendela kaca setinggi langit-langit kantor pusat Syailendra Group. Di lantai paling atas gedung pencakar langit itu, keheningan terasa begitu menekan.
Arlan Syailendra duduk di balik meja kerja mahogani yang luas, membelakangi pintu masuk. Matanya tidak menatap kota yang sedang sibuk di bawahnya, melainkan terpaku pada sebuah amplop cokelat tertutup yang terletak di atas meja, tepat di bawah sorot lampu kerja yang dingin.
Pintu kantor terbuka tanpa suara ketukan. Harry masuk dengan langkah terburu-buru, napasnya sedikit tidak teratur. Wajahnya yang biasanya kaku kini menunjukkan raut kecemasan yang nyata.
"Tuan Arlan, laporannya sudah keluar," bisik Harry, suaranya sedikit bergetar.
Arlan tidak segera bergerak. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma kopi pahit dan kertas mahal memenuhi paru-parunya sebelum akhirnya berbalik.
Tangannya yang besar dan kokoh mengambil amplop itu, merobek bagian atasnya dengan satu gerakan efisien. Ia mengeluarkan lembaran kertas putih dengan logo laboratorium forensik paling rahasia di negara ini.
Mata tajam Arlan menelusuri baris demi baris angka dan kode genetik. Ia berhenti pada paragraf terakhir, di mana kesimpulan akhir dicetak dengan huruf tebal.
Probabilitas Hubungan Biologis: 99,99%.
Subjek A (Lukas) dan Subjek B (Adrian Mahendra) adalah Ayah dan Anak Kandung.
Arlan merasakan rahangnya mengeras hingga otot-otot di pelipisnya menegang. Kertas di tangannya sedikit remuk karena cengkeraman jarinya yang tiba-tiba menguat.
Selama ini, kecurigaannya hanyalah berdasarkan kemiripan struktur wajah dan aura dingin yang dimiliki Lukas, namun melihat bukti hitam di atas putih ini memberikan hantaman realitas yang berbeda.
"Jadi... dia benar-benar Aura Mahendra," desis Arlan, suaranya terdengar seperti raungan rendah seekor singa. "Wanita itu tidak hanya selamat dari kematian, dia membawa kembali dua bom waktu yang siap meledakkan seluruh keluarga Mahendra."
"Apa yang akan kita lakukan, Tuan?" tanya Harry waspada. "Jika Adrian mengetahui keberadaan Lukas, dia bisa menggunakan anak itu untuk mengklaim warisan kakek Mahendra yang tersisa. Atau lebih buruk lagi, dia bisa melenyapkan mereka untuk menghilangkan bukti pengkhianatannya."
Arlan berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri.
"Adrian tidak akan pernah tahu. Untuk saat ini, simpan laporan ini di brankas paling dalam. Jangan ada satu pun jiwa yang tahu, termasuk Alana. Aku ingin melihat sejauh mana wanita itu akan bermain sebelum ia mengakui siapa dirinya padaku."
Namun, di balik ketenangannya, ada badai emosi yang berkecamuk di dada Arlan. Ada rasa marah yang tidak rasional saat menyadari bahwa wanita sekuat Alana pernah dimiliki oleh pria menjijikkan seperti Adrian.
Dan ada rasa protektif yang tiba-tiba muncul terhadap Lukas dan Luna—dua anak yang kini ia pandang bukan lagi sebagai orang asing, melainkan sebagai korban dari sebuah konspirasi yang mengerikan.
Sementara itu, di sebuah kediaman pribadi yang tersembunyi di pinggiran kota, Sisca sedang duduk di depan meja riasnya yang dipenuhi kosmetik mahal.
Namun, kecantikannya hari ini tertutup oleh raut wajah yang penuh kedengkian. Ia baru saja membanting vas bunga kristal ke lantai, serpihannya berserakan seperti hatinya yang penuh kebencian.
"Tidak mungkin! Aku tidak percaya dia hanya seorang dokter kebetulan!" teriak Sisca pada bayangannya sendiri di cermin.
Di belakangnya, seorang pria berpakaian kasual dengan tatapan mata yang licik—kepala informan pribadinya—berdiri dengan kepala menunduk.
"Nyonya, kami telah menelusuri kedatangan Dr. Alana. Dia membawa dua anak kecil. Laki-laki dan perempuan. Mereka tinggal di penthouse rahasia milik organisasi The Sovereign."
Sisca berbalik dengan cepat, matanya berkilat jahat. "Dua anak? Berapa umur mereka?"
"Kira-kira empat atau lima tahun, Nyonya."
Sisca terdiam sejenak. Otaknya yang licik mulai berputar dengan kecepatan tinggi.
Lima tahun lalu, Aura dikabarkan hamil saat ia diusir. Adrian selalu mengatakan bahwa anak itu pasti ikut mati bersama ibunya di dasar jurang. Tapi sekarang, Dr. Alana muncul dengan dua anak yang usianya sangat cocok dengan usia janin Aura jika ia selamat.
"Jika anak-anak itu adalah darah daging Adrian, posisiku sebagai Nyonya Mahendra terancam," bisik Sisca pada dirinya sendiri.
"Aku belum memberikan Adrian ahli waris laki-laki. Jika kakek Mahendra tahu ada cicit laki-laki yang masih hidup, dia akan memberikan seluruh sisa hartanya pada anak haram itu!"
Sisca berdiri, berjalan mendekati informannya. Ia mengambil selembar cek dari laci dan menuliskan angka yang sangat besar di sana.
"Aku tidak butuh bukti DNA. Aku hanya butuh anak-anak itu hilang. Cari tahu rutinitas mereka. Jika Dr. Alana pergi ke rumah sakit, ambil anak-anak itu. Bawa mereka ke gudang tua di pelabuhan. Aku ingin melihat sendiri wajah mereka sebelum aku mengirim mereka menyusul ibu mereka ke neraka."
"Tapi Nyonya, mereka dijaga oleh pengawal dari The Sovereign. Itu sangat berisiko," sanggah si informan.
Sisca mencengkeram kerah baju pria itu, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahnya, memancarkan kegilaan.
"Gunakan gas tidur! Gunakan tentara bayaran! Aku tidak mau mendengar alasan! Jika kau gagal, aku yang akan mengirimmu ke liang lahat. Mengerti?!"
Pria itu mengangguk ketakutan dan segera keluar dari ruangan. Sisca kembali menatap cermin, menyisir rambutnya dengan tenang seolah baru saja memesan teh sore.
"Aura... atau Alana... siapapun kau, kau pikir kau bisa menang hanya karena kau menjadi pintar? Kau lupa bahwa aku adalah orang yang menghancurkan hidupmu dulu, dan aku tidak keberatan melakukannya lagi."
Di sisi lain kota, di dalam penthouse mewah yang dipenuhi peralatan medis dan teknologi tingkat tinggi, Alana sedang duduk di meja makan bersama Lukas dan Luna.
Suasana sore itu terlihat damai, namun Alana tidak bisa melepaskan kewaspadaannya. Ia melihat Lukas yang sedang sibuk mengutak-atik robot kecil, sementara Luna asyik menggambar sketsa gedung yang rumit.
"Lukas, Luna, besok Mummy harus ke rumah sakit Syailendra untuk memeriksa kakek Arlan. Kalian akan tinggal di sini bersama Paman Leo, mengerti?" kata Alana lembut sambil mengusap kepala Luna.
Lukas mendongak, matanya yang cerdas menatap ibunya dengan tatapan yang seolah bisa membaca pikiran. "Mummy, sistem keamanan di gedung ini sedang dipindai oleh pihak luar sejak dua jam lalu. Aku sudah memasang firewall berlapis, tapi mereka sangat gigih."
Alana tertegun. Ia segera menatap Leo yang berdiri di sudut ruangan. Leo mengangguk kecil, mengonfirmasi laporan Lukas.
"Ada beberapa unit kendaraan yang tidak dikenal terparkir di radius satu blok dari sini, Dokter. Sepertinya Sisca mulai bergerak."
Rahang Alana mengeras. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Sisca adalah tipe wanita yang akan menyerang titik terlemah lawan saat ia merasa terancam. Dan bagi Sisca, titik terlemah Alana adalah anak-anaknya.
"Leo, tingkatkan pengamanan ke level S. Siapkan jalur evakuasi bawah tanah," perintah Alana dengan suara dingin yang mematikan.
"Jika mereka berani menyentuh sehelai rambut pun dari anak-anakku, aku akan memastikan mereka tidak akan pernah melihat matahari besok pagi."
"Mummy," suara kecil Luna terdengar, "jangan khawatir. Aku sudah menaruh pelacak mikro di semua sepatu dan baju kami. Dan aku juga sudah menyiapkan kejutan kecil di pintu masuk jika ada orang asing yang mencoba masuk tanpa izin."
Alana tersenyum bangga, namun ada kepedihan di hatinya. Di usia yang begitu muda, anak-anaknya sudah harus belajar tentang pertahanan diri dan bahaya. Ini semua karena dosa pria bernama Adrian Mahendra.
Tiba-tiba, ponsel rahasia Alana bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Dokter Alana, atau haruskah aku memanggilmu Nyonya Mahendra? Aku punya sesuatu yang mungkin ingin kau lihat.
Datanglah ke lantai 50 gedung Syailendra malam ini sendiri. Atau rahasia tentang anak-anakmu akan menjadi konsumsi publik besok pagi.”
Alana menatap pesan itu dengan mata menyipit. Arlan. Hanya Arlan yang memiliki akses untuk mengirim pesan ke jalur terenkripsi ini. Pria itu sudah tahu.
"Mummy? Ada apa?" tanya Lukas.
Alana menyimpan ponselnya dan tersenyum tenang. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya ada seseorang yang ingin bermain catur dengan Mummy. Dan Mummy akan memastikan dia mendapatkan skakmat malam ini."
Alana berdiri, hatinya kini dipenuhi tekad yang lebih kuat. Jika Arlan ingin konfrontasi, maka dia akan memberikannya. Namun, ia juga tahu bahwa di bayang-bayang, Sisca sedang menyiapkan jeratnya. Malam ini, Kota A akan menjadi saksi sebuah permainan tingkat tinggi di mana nyawa dan identitas menjadi taruhannya.
Alana berjalan menuju lemari senjatanya yang tersembunyi, mengambil sebuah pistol kecil yang elegan dan menyembunyikannya di balik gaunnya. "Leo, jaga mereka dengan nyawamu. Aku akan menemui singa itu di sarangnya."
Saat Alana melangkah keluar dari penthouse, angin malam bertiup kencang, membawa aroma badai yang akan segera datang. Di gedung Syailendra, Arlan sedang menunggu dengan hasil DNA di tangannya.
Di pelabuhan, anak buah Sisca sedang menyiapkan senjata mereka. Dan di tengah-tengah itu semua, sang Permaisuri yang Terlupakan sedang berjalan menuju pusat badai dengan kepala tegak, siap untuk menghancurkan siapa saja yang berani mengusik kedamaian yang ia bangun dengan darah dan air mata.