"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 15 (spesial alasan Hana menjadi teman Yuki)
Matahari sore menyinari taman sekolah dengan cahaya emas yang lembut. Yuki dan Kinta duduk di bangku tua yang selalu mereka pakai di depannya, lapangan rumput hijau yang segar, di belakangnya pohon beringin yang memberikan naungan sempurna. Hana baru saja pulang duluan karena ibu nya memanggil untuk membantu di rumah.
"Sayang banget Hana pulang duluan," ucap Yuki sambil membuka kotak camilan yang Hana tinggalkan kue lapis rasa coklat yang masih hangat. "Kue nya ini enak banget, Kinta. Coba!"
Kinta mengambil sepotong dan mengangguk puas. "Iya, bener banget. Hana bener-bener jago bikin makanan. Kayaknya dia aja yang harus menang lomba masak setiap kali ya!" Yuki ketawa. "Ya dong! Kalau dia jadi juru masak, pasti banyak orang yang mau makan di rumahnya!"
Mereka bercanda sambil melihat anak-anak kecil bermain bola salah satu anak malah menendang bola ke arah pohon, bikin burung-burung terbang terkejut dan teriak. Saat tawa mereka mereda, Kinta melihat Yuki yang tersenyum sambil memandang jalan yang Hana lewati tadi. Mata Yuki terlihat penuh kenangan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh.
Kinta sudah lama ingin menanya, tapi selalu ragu karena takut menyentuh topik yang sensitif. Tapi hari ini, suasana terlalu tenang dan nyaman dia merasa ini adalah kesempatan yang tepat.
"Yuki..." Kinta memulai dengan suara pelan, jari-jarinya bermain dengan keripik singkong yang ada di meja. "Maaf ya, kalo aku penasaran... Bagaimana sih kamu dan Hana bisa jadi teman yang begitu dekat? Kayaknya ada cerita yang spesial ya?"
Yuki terkejut sebentar, lalu tersenyum lembut. Dia menghela nafas pelan, matanya melayang ke arah taman kota yang jauh di kejauhan tempat dia pertama kali bertemu Hana.
MOMEN PERTAMA KALI KETEMU: SAAT DIA BUTUH ORANG YANG MELINDUNGI
"Kita bertemu saat umur 5 tahun," mulai Yuki, suaranya pelan tapi jelas. "Di taman kota yang dekat rumahku. Saat itu, Hana baru pindah dari kota lain ayahnya dapet pekerjaan baru di sini, jadi keluarga nya pindah kesini semua. Dia masih asing dengan semua hal, tidak punya teman sama sekali."
Kinta mendengar dengan seksama, matanya tidak meninggalkan wajah Yuki. "Dia sendirian banget ya saat itu?"
Yuki mengangguk. "Ya. Aku melihat dia duduk sendirian di bangku taman yang sama seperti ini. Dia bawa boneka beruang putih yang bulunya lembut katanya, itu hadiah dari ayahnya sebelum dia pindah. Dia cuma duduk diam, memandang anak-anak lain yang bermain, mata nya terlihat sedih dan takut."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Kinta.
"Saat itu, ada tiga anak laki-laki yang lebih besar dari kita mungkin umur 8 atau 9 tahun yang melihat dia sendirian. Mereka mendekat dengan senyum yang tidak enak. Salah satunya mengambil boneka Hana dari tangannya dengan cepat. 'Wah, boneka ini lucu ya! Bisa kubeli gak?' katanya dengan nada sarkastik."
Yuki berhenti sejenak, seolah merasakan lagi perasaan saat itu. "Hana menangis dan minta kembali. 'Tolong kembalikan boneka ku... itu milik ayah ku...' katanya dengan suara gemetar. Tapi mereka malah menertawakan dia. 'Kalau mau ambil, ambil lah dari kolam!' teriak salah satunya, lalu dia melemparkan boneka ke kolam ikan yang dalam di tengah taman!"
Kinta jari-jarinya mengepal. "Anak-anak itu terlalu jahat! Gimana kamu bisa melihat itu?"
"Aku juga marah banget," kata Yuki dengan nada tegas. "Meskipun aku juga takut mereka lebih besar, lebih kuat, dan kelihatan ganas aku tidak bisa tinggal diam. Aku berdiri dan menepuk bahu anak yang paling tinggi di antara mereka. 'Kembalikan boneka dia!' teriakku dengan suara yang sekeras mungkin, meskipun hatiku berdebar kencang."
"Mereka marah ya?"
"Sangat marah," jawab Yuki. "Anak itu menoleh ke arahku dengan mata yang membara. 'Siapa lu coba ngomong sama aku?' katanya, lalu dia mau menangkap pundak ku. Tapi saat itu, ayahku sedang lewat dari taman dia mau beli roti di toko dekat sana dan melihat semua yang terjadi!"
"Ayahmu menangani mereka ya?"
Yuki tersenyum. "Ya. Ayahku berjalan cepat ke arah kita. Dia tidak marah atau berteriak, tapi suaranya tegas. 'Berhenti itu,' katanya ke anak-anak itu. 'Kalau kamu suka bully orang yang lebih kecil, nanti ada orang yang lebih besar dari kamu yang akan lakukan hal yang sama padamu.' Mereka melihat ayahku dan takut ayahku kan lebih tinggi dari mereka. Mereka langsung berlari ke kolam, ambil boneka Hana yang basah, dan berjalan pergi dengan kepala terbenam."
"Lalu apa selanjutnya?"
"Ayahku bawa aku dan Hana pulang ke rumah. Hana masih menangis, boneka nya basah dan kotor. Ibuku membuat minuman coklat hangat untuk dia, lalu dia mengeringkan boneka Hana dengan hair dryer. Dia berkata ke Hana, 'kamu tidak sendirian lagi di sini, ya. Yuki akan selalu jadi teman mu.' Dan sejak hari itu, aku selalu mengajak Hana bermain."
KENANGAN LAMA YANG MENGHANGATKAN HATI
*Yuki melanjutkan cerita nya, matanya terangnya dengan kebahagiaan. "Setiap hari, Hana akan datang ke rumahku pagi-pagi. Kita main sembunyi-sembunyi di taman, bikin kue dengan tepung yang bikin dapur kacau, atau main layang-layang di lapangan. Kadang, ada anak yang masih mau bully Hana mereka ngomong dia asing atau baju nya aneh tapi aku selalu berdiri di depan dia."
"Kamu selalu melindunginya ya?" tanya Kinta dengan suara penuh hormat.
"Ya," jawab Yuki. "Dia adalah teman pertama ku yang sungguhan. Tanpa dia, hari-hari ku pasti sangat sepi. Aku tidak mau dia merasa sedih atau sendirian lagi, seperti saat pertama kali kita bertemu."
Kinta melihat Yuki dengan mata yang berbeda dia tidak menyangka bahwa Yuki, yang biasanya lembut, ragu-ragu, dan suka malu, pernah berani seperti itu. Dia merasa lebih menyukai Yuki karena sifat keberanian dan kebaikannya yang tulus sifat yang tidak banyak orang punya.
"Trus, kenapa Hana pindah ya dulu? Karena kamu pernah bilang dia teman masa kecil yang baru kembali kan?" tanya Kinta.
Yuki menghela nafas pelan. "Setelah kita umur 7 tahun, ayah Hana dapet pekerjaan di kota lain lagi. Jadi keluarga nya pindah lagi. Kita sangat sedih saat berpisah. Hana memberikan boneka beruang nya yang sudah kering ke aku, dan aku memberikan mainan mobil remote ku ke dia. Dia berkata, 'kita pasti akan ketemu lagi suatu hari, Yuki. Jangan lupa sama aku ya.' Dan aku juga berjanji tidak akan lupa dia."
"Dan ternyata kalian ketemu lagi ya," ucap Kinta dengan senyum.
"Ya," Yuki tersenyum lebar. "Saat dia masuk ke kelas kita beberapa minggu yang lalu, aku tidak percaya mata ku. Dia masih sama seperti dulu rambutnya masih cerah, senyumnya masih sama, dan dia masih suka bikin kelucuan. Aku langsung berlari ke dia dan memeluknya. Itu adalah hari yang sangat bahagia buat aku."
DI JALAN PULANG: KEBAHAGIAAN YANG SEDERHANA
Matahari sudah mulai terbenam, langit berwarna oranye dan merah yang indah. Kinta melihat jam di ponselnya dan mengagetkan. "Wah, sudah jam 5.30 sore! Kita harus pulang sekarang, nanti orang tuaku marah karena terlambat!"
Mereka berdiri dan membersihkan kotak camilan. Kinta mengantarkan Yuki pulang ke rumah. Di jalan, udara sepoi-sepoi dan ada bunga melati yang wangi di tepi jalan. Kinta masih berpikir tentang cerita Yuki yang menyelamatkan Hana.
"Yuki," kata Kinta dengan suara pelan, lalu dia menggenggam tangan Yuki lembut. "Kamu hebat banget. Aku tidak menyangka kamu pernah berani seperti itu melindungi teman mu meskipun kamu sendiri takut."
Yuki pipinya memerah dan tersenyum malu. "T-terima kasih, Kinta. Itu cuma yang harus aku lakukan. Kalau aku tidak berani, mungkin Hana akan tetap sedih dan sendirian. Dan aku tidak mau itu terjadi."
"Aku bangga padamu," ucap Kinta dengan jujur. "Kamu adalah orang yang paling baik yang pernah aku temui."
Yuki memeluk lengan Kinta. "Aku juga bangga bisa bertemu kamu, Kinta. Kamu selalu membuatku merasa aman dan dicintai. Tanpa kamu dan Hana, hidupku pasti sangat hampa."
Sampai di depan rumah Yuki, Ayase sudah menunggu di teras. Dia melihat keduanya dengan tangan saling terjalin dan tersenyum. "Kamu pulang terlambat ya, Yuki? Hana bilang kamu berduaan di taman ya?"
Yuki mengangguk. "Ya, Kakak. Aku baru saja cerita ke Kinta tentang bagaimana aku pertama kali bertemu Hana."
Ayase mendekat dan menepuk kepala Yuki lembut. "Wah, cerita itu ya? Aku juga ingat banget saat itu. Hana itu anak yang sangat baik, dan kamu juga sangat berani melindunginya. Kamu hebat banget, Yuki ku."
"Kakak juga selalu melindungiku kan?" tanya Yuki.
Ayase memeluknya erat. "Selalu, Yuki. Selalu. Baik, sekarang masuk rumah ya. Aku sudah masak makan malam ayam bakar yang kamu suka!"
MELINDUNGI ORANG LAIN SEPERTI DULU
Keesokan pagi, mereka pergi ke sekolah bersama Yuki, Kinta, dan Hana yang sudah segar kembali. Saat memasuki kelas, mereka mendengar suara tangisan dari sudut kelas. Mereka mendekati dan melihat beberapa anak laki-laki sedang bully seorang siswa baru yang kecil rambutnya pendek, baju nya agak kusut, dan dia menangis sambil menutupi wajah.
"Berhenti dong! Jangan bully dia!" teriak Yuki dengan suara tegas, langkahnya cepat menuju mereka. Hana dan Kinta segera mengikutinya.
Anak-anak yang bully itu melihat mereka dan marah. "Siapa kamu coba? Jangan campur urusan kita!" teriak salah satu anak dengan nada kasar.
"Kita akan campur kalau kamu masih menyakitkan dia!" teriak Hana dengan dada yang terangkat. Kinta juga menambah. "Kalau kamu tidak berhenti, kita akan memberitahu guru. Jangan sampe kamu menyesal!"
Anak-anak yang bully itu melihat wajah mereka yang serius. Mereka tahu kalau mereka melawan, mereka tidak akan menang. Mereka takut dan langsung berjalan pergi dengan kepala terbenam.
Siswa baru itu mengangkat kepala, mata nya merah karena menangis. "Terima kasih banyak ya kalian semua. Aku takut banget..." ucapnya dengan suara pelan.
Yuki memeluknya lembut. "Tidak apa-apa. Kamu tidak sendirian lagi. Nama kamu apa?"
"Rina..." jawab si anak kecil.
"Baik, Rina. Kalau ada orang yang mau bully kamu lagi, cari kita ya. Kita akan melindungimu," kata Yuki dengan senyum hangat. Hana dan Kinta mengangguk. "Ya, kita semua akan melindungimu!"
Mereka membawanya ke meja mereka dan memperkenalkan diri. Selama istirahat, mereka berbagi camilan dengan Rina dan mengajak dia bermain bola di taman. Rina mulai tersenyum akhirnya, dia punya teman yang mau melindunginya.
MALAM YANG PENUH KEHANGATAN.
Malam hari, mereka kumpul di rumah Yuki. Ayase membuat makan malam yang istimewa: omuraice, ciken katsu yang renyah, sup kacang hijau yang hangat, dan kue coklat yang lezuat. Mereka duduk berdampingan di meja makan, bercanda dan berbicara tentang hari itu.
"Hari ini kita melindungi Rina ya, Yuki. Seperti waktu kamu melindungi aku dulu," ucap Hana dengan tersenyum.
"Ya," jawab Yuki. "Kita harus selalu membantu orang yang sedang kesulitan. Itu janji yang aku buat sama diriku sendiri sejak hari pertama bertemu kamu, Hana."
Kinta mengangguk. "Benar. Kita tidak boleh biarkan orang lain merasa sedih atau sendirian seperti yang Hana rasakan dulu."
Ayase tersenyum melihat mereka. "Kalian semua sudah tumbuh jadi orang yang baik dan berani. Aku bangga banget sama kalian. Nanti minggu depan, kita ajak Rina ke pantai ya? Biar dia merasa lebih akur dengan kita."
Mereka semua menyetujui dengan senang. Setelah makan malam, mereka menonton film di ruang tamu. Hana cepat tertidur, kepalanya menempel di bahu Yuki, dan dia ngorok dengan suara kecil bikin Yuki dan Kinta ketawa.
Kinta memeluk Yuki lembut dari samping. "Yuki, aku bersyukur banget bisa ketemu kamu. Ceritamu kemarin malam membuatku lebih menyukaimu lagi. Kamu adalah orang yang paling penting di hidupku."
Yuki memeluknya kembali. "Aku juga bersyukur banget bisa ketemu kamu, Kinta. Dan juga Hana. Kalian berdua membuat hidupku lebih berwarna dan bahagia. Aku tidak bisa bayangkan hidupku tanpa kalian."
Di bawah selimut yang hangat, mereka merasa tenang dan puas. Mereka tahu bahwa tidak peduli apa yang terjadi nanti, mereka selalu ada satu sama lain untuk saling melindungi, saling mencintai, dan membuat setiap hari menjadi lebih berarti.