NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Bocil

Terpikat Pesona Bocil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Mafia / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bocil Panda

Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"


Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."

"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"

"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.

"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.

"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.

"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.

"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.

Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."

"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nikah Yuk!

“Perut aku laper banget, Kak” rintih Luna sambil memegangi perutnya. Mereka baru saja keluar dari bioskop, setelah film berakhir.

Rendra menoleh menatap ke arah Luna, “Gue kira tadi popcorn segede ember udah cukup buat lo, Cil.”

"Mana cukup, Kak. Itu kan buat camilan, bukan makan.”

Rendra tersenyum kecil. “Oke, jadi mau makan di mana? Restoran Italia? Biar sekalian so sweet gitu, abis nonton film romantis.”

Luna langsung menggeleng cepat, wajahnya menolak setuju, “Nggak ah. Aku pengen mie ayam aja. Yang di pinggir taman itu loh, deket air mancur,” ia menunjuk penjual kaki lima yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Rendra berhenti melangkah, menatapnya heran. “Serius lo? Dari semua pilihan makanan, lo milih mie ayam kaki lima itu?”

“iya Kak, please mau ya?” pinta Luna.

Rendra menghela napas memilih menyerah. “Terserah lah, yang penting lo kenyang.”

Mereka berjalan menyeberang ke arah taman kota. Malam itu ramai tapi terasa tenang suara air mancur berpadu dengan desiran angin. Aroma kaldu ayam, dan bawang goreng langsung menyambut begitu mereka mendekat ke penjual kaki lima tersebut.

Luna duduk duluan di bangku panjang, tangannya melambai ke arah penjual mie ayam. “Dua, Bang! Satu pake pangsit, satu biasa.”

Penjual mie ayam langsung mengangguk paham, dan segera membuat pesanan yang diminta Luna.

Rendra juga ikut duduk di sebelah Luna. “Kalo orang lain liat, gak bakal nyangka kita naik mobil miliaran, tapi makan di pinggir jalan,” ucapnya sambil mengamati sekelilingnya. Jujur, baru seumur hidupnya Rendra menginjakan kaki, dan makan di pinggir jalan.

Luna menoleh sambil tersenyum. “Kenapa emangnya? Yang enak tuh gak harus mahal, Kak.”

"Iya, lo bener. Tapi jarang ada yang mikir kayak gitu sekarang.”

Beberapa menit kemudian, semangkuk mie ayam panas tersaji di depan mereka. Uapnya mengepul ke udaranya, dan aroma kaldunya langsung bikin perut bergejolak.

Luna mengambil sesendok kuah meniup pelan, lalu mulai menyeruputnya. “Enak banget,” ucapnya setelah mencicipi kuah mie ayam tersebut.

Rendra menatapnya diam-diam, melihat bagaimana ekspresi gadis itu seolah dunia begitu indah untuk ia tempati.

“Lo tau gak? Kadang gue iri sama lo,” ucap Rendra secara tiba-tiba.

Luna berhenti sejenak, “Iri kenapa?”

“Soalnya lo bisa bahagia cuma gara-gara semangkuk mie ayam.”

Luna tertawa kecil. “Ya karena aku gak butuh hal rumit buat senang. Asal bareng orang yang aku sayang aja, rasanya udah cukup.”

Rendra terus saja menatapnya, sambil senyum. Ia tidak ingin menjawab, hanya memilih memandangi wajah Luna yang terlihat begitu sederhana, dengan pemikiran polos, namun dewasa di waktu yang tepat.

"Eh, mienya abis, Kak?” Luna menatap mangkuk kosongnya. “Aku boleh nambah gak?”

"Buset! Punya gue aja belum gue sentuh. Udah abis aja punya lo,” Rendra dibuat syok melihat kecepatan Luna menghabiskan makanannya.

"Hehehe, laper soalnya,” balas Luna tanpa merasa malu.

Mungkin jika cowok lain yang mengencani Luna saat ini pasti akan merasa malu, dan ilfeel. Melihat tingkah Luna yang terlihat childish, tanpa bisa menjaga imagenya di hadapan cowok.

Tapi bagi Rendra, justru ini daya tariknya yang membuatnya jatuh cinta, melihat sikap Luna yang apa adanya. Tanpa perlu dibuat-buat, ataupun ditutup-tutupi.

“Ya udah kalau mau pesen lagi. Sana makan sepuas kamu, Bocil kesayanganku,” gemas Rendra mencubit pelan pipi Luna yang sedikit chubby.

"Bocil kesayangan?” Luna terkekeh merasa lucu. “Aku sih emang masih bocil kok. Bocil yang suka pria dewasa kayak kamu, Kak Rendra sayang.”

Rendra hanya bisa tersenyum manis menatap gadis di sampingnya yang masih sibuk dengan sendok, dan sumpit menunggu pesanan mie ayam yang sedang dibuat.

Entah sejak kapan, tapi ia sadar setiap kali bersama Luna, hidupnya terasa jauh lebih ringan. Bukan karena tempat atau makanan yang mereka pilih, tapi karena ada Luna di sana, yang selalu tahu cara membuat segalanya terasa cukup.

Setelah selesai makan, mereka duduk sebentar di bangku taman. Luna bersandar di bahu Rendra, tangannya masih menggenggam gelas teh hangat dari pedagang tadi.

“Kak aku boleh nanya sesuatu nggak?”

"Emang mau nanya apa? Jangan bilang mau minta jajan lagi,” balas Rendra mulai memandang curiga.

Luna memukul pelan bahu Rendra, “Ish! Bukan itu. Ini soal Kak Selvi.”

"Lo mau nanya apa lagi soal dia?”

"Kemarin kan Kakak mau kasih kesempatan Kak Selvi buat jelasin, alasannya udah ninggalin Kakak 5 tahun yang lalu,” ujar Luna.

“Terus?”

“Ya, itu… emm…" Luna menundukkan kepala, meremas pelan kedua tangannya.

"Kakak tetep ninggalin Kak Selvi, atau…” sekali lagi lidah Luna terasa kelu, membuat Rendra yang dari tadi menunggu menatap ke arahnya, tersenyum manis karena mengerti apa yang sedang ingin Luna bicarakan.

“Gue pikir lo cerdas, Cil!” Rendra menatap jalanan kota yang hari ini terlihat sangat ramai. “Harusnya lo bisa tau hasil keputusan gue sama Selvi kemarin apa, lewat seharian kita ngedate.”

Luna mengangkat kepala, menatap Rendra dengan raut wajah tidak percaya. “Jadi Kak Rendra tetep ninggalin Kak Selvi?” tanyanya memastikan.

“Iya, gue tetep ninggalin dia. Meski gue udah tau alasan dia ninggalin gue 5 tahun yang lalu. Dan sekarang, dia cuma masa lalu buat gue.”

Mendengar itu Luna merasa tidak menyangka bisa menggeser posisi Selvi dalam hati Rendra. “Jadi, apa sekarang kita resmi pacaran?”

Rendra menatap ke arah Luna. “Gue gak mau,” balasnya singkat membuat senyum Luna menjadi meredup.

“Tapi gue maunya nikah sama lo bulan depan.”

Kalimat itu sukses membuat senyum yang semula pudar dari bibir Luna, kembali merekah menatap senang kedua mata Rendra. “Serius bulan depan kita nikah?”

“Itu sih kalau lo mau,” balas Rendra tersenyum menggoda.

“Ish, ya mau lah,” Luna semakin merasa senang. “Ya Tuhan, akhirnya bisa juga ngerasain enaknya malam pertama sama Kak Rendra,” ucapnya dengan santai membuat Rendra membulatkan mata, dan menyentil dahi bocil sengklek-nya itu.

Tak

"Aww, sakit Kak…" rengek Luna seperti anak kecil.

“Suruh sapa lo mikir mesum kayak tadi,” Rendra geleng-geleng kepala merasa heran dengan perkataan Luna, yang suka ceplas-ceplos.

Luna mengerucutkan bibirnya, “Yaudah sih, namanya orang lagi seneng.”

Rendra mendesah panjang, “Iya-iya.”

"Tapi kalau boleh tau, dulu kenapa Kak Selvi selingkuh, Kak?” tanya Luna secara random.

Rendra mengernyitkan dahinya, “Lah lo ngapain nanyain itu?”

"Udah sih tinggal jawab aja. Cerita gitu tentang masa lalu Kakak. Biar aku bisa belajar dari kesalahan Kak Selvi, dan gak takut lagi bikin Kakak terluka,” ujar Luna yang kali ini terdengar sedikit dewasa.

“Ternyata lo itu susah di tebak. Kadang lo childish banget, kadang malah lebih dewasa dari gue. Atau kadang-kadang pengen gue lelepin lo ke pantai selatan-”

“Karena aku terlalu gemesin ya,” Luna menyela perkataan Rendra dengan percaya diri.

Sementara Rendra sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, untuk membalas perkataan Luna yang  hanya bisa membuatnya menghela napas setiap kali bertemu.

"Kok diem, Kak?” tanya Luna.

"Gapapa, yuk pulang aja!” ajak Rendra.

"Tapi kan pertanyaanku tadi belum kakak jawab,” keluh Luna memaksa Rendra untuk menceritakan masa lalunya.

“Yang namanya masa lalu, biarlah berlalu. Sekarang gue udah sama masa depan gue. Jadi, stop bawa cerita lama dalam hubungan baru,” balas Rendra dan langsung menarik tangan Luna, mengajaknya untuk segera pulang karena hari sudah larut malam.

1
Melati08
semangat terus buat author
Melati08
makin seru nih ceritanya
Melati08
lanjut thor
Arie Argan
🥳🥳
Melati08
nasib luna benar2 menyedihkan..apalagi dia hidup di panti asuhan malah diadopsi org jahat
Melati08
keluar sifat ngambeknya🤣
Melati08
minuman bukan solusi menenangkan pikiran🙏
Melati08
hmmm..hanya demi harta.anak sendiri si aikat
Melati08
asyekk...diajak nikah
Melati08
keren
Melati08
yah..kasihan selvi
Melati08
walaupun bocil..tapi pemikiran nya dewasa
Melati08
Danu mulai mencari tahu
Melati08
semangat thor
Melati08
hampir saja
Melati08
ada apa dengan satya?
Melati08
geram banget lihat danu
Melati08
bapak kandung sendiri berbahaya
Melati08
gawat kalau sampai Danu tahu
Melati08
langsung aja bilang suka tuk apa pura pura pacaran sampai seminggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!