Warning📢
Novel ini mungkin menyebabkan para pembacanya sakit perut
Semoga selera humor kita sama😁✌
Seseorang yang terlihat ceria justru dialah orang yang sanggup menyembunyikan kesakitannya.
Bercerita tentang seorang gadis biasa bernama Syasa yang setiap harinya selalu tersenyum dan ceria, hatinya sudah terpatri oleh seorang dokter muda ganteng, salah satu langganan di tempat makan ibunya.
Ferdy, dokter muda yang di kenal baik dan ramah, namun memiliki kisah masalalu yang tak di ketahui banyak orang.
Bagaiamana perjuangan gadis ini untuk bisa bersama dengan sang dokter?
Akahnkah Syasa bisa menerima masalalu dokter tampan ini?
Simak terus ya Say😉
Selalu beri dukungan untuk Author dengan
Like
Coment
Vote
Rate 5
Haturnuhun😁✌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Angin malam berhembus pelan, menerpa rambut panjang nan hitam milik Syasa. Ferdy sejenak terpukau melihat wajah cantik Syasa yang berada tepat disampingnya.
Bola mata gadis itu bersinar indah. Hidungnya yang mancung, dengan pipi tirus membuat nilai plus pada Syasa. Ferdy baru menyadari akan hal itu. Selama ini ia terlalu lama menutup mata, sehingga ia tak mampu melihat keindahaan yang tersaji di depannya.
"Pak Dokter ini udah kayak pasangan aja pake kencan segala," jawab Syasa.
"Kita bukannya pasangan ya?" tanya Ferdy.
"Eh, iya kita 'kan juga pasangan," jelas Syasa. "Tapi pasangan berantem."
Syasa tertawa seperti anak kecil mendapatkan permen lolipop. Ferdy hanya tersenyum simpul, lalu berkata, "Jadi gimana mau apa tidak?"
"Kalau soal makan mah Syasa maju paling depan dong, Pak Dokter." Tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih miliknya.
"Nah, kalau begitu saya izin dulu sama Bu Mirna," kata Ferdy.
"Emak mah gampang, Pak Dokter. Disuap martabak Mang Emon aja udah kegirangan," usul Syasa.
"Mang Emon!" seru Ferdy.
"Iya, itu loh tukang martabak serbang jalan sana. Yang gayanya udah kaya orang kantoran tiap jualan," beber Syasa.
"Maksudnya kaya orang kantoran gimana, Sya?" tanya Ferdy.
"Pak Dokter pikir aja 'kan biasanya orang jualan tuh pake baju kaos sama celana panjang aja. Nah, Mang Emon ini beda dari yang lain. Jadi dia itu sukanya pake setelan kantor lengkap sama jas hitam, sepatu hitam. Engga lupa juga kaca mata hitam, udah kek mau ke pemakanan jadinya hehehe," jelas Syasa.
"Hus, kamu ini kalau ngomong sembarangan," tegur Ferdy pelan.
"Lah, emang iya, Pak Dokter!" sungut Syasa.
"Sudah, sudah biarkan saja. Sekarang sebaiknya kamu ganti pakaian. Apa kamu engga malu kencan, tapi pakenya baju setelan tidur!" kata Ferdy.
"Enggalah, Pak Dokter! Yang malu itu kalau kencan, tapi engga pake baju sama sekali!" bantah Syasa.
"Kalau kaya gitu saya bawa kamu bukan keluar, tapi ke kamar!" Ferdy beranjak dari tempat duduk, lalu berlalu masuk ke rumah berniat meminta izin pada Bu Mirna.
"Eh, kok malah ke kamar. Otak Pak Dokter mesti dikeruk beko nih biar bersih," gerutu Syasa.
Setelah kata izin sudah dikantongi. Ferdy dan Syasa segera berlalu meningglkan Raka dan Bu Mirna yang masih memandangi punggung keduanya.
"Kak Syasa kayaknya seneng banget, ya, Mak!" celutuk Raka.
"Ya, Kakamu udah lama engga keliatan seneng kaya gitu. Semenjak...," lirih Bu Mirna.
"udah, Mak. Engga usah diinget-inget lagi soal kejadian waktu itu. Lihat tuh, sekarang Kaka aja kayaknya udah bisa ngelupain juga," potong Raka.
Bu Mirna tidak menjawab. Pikirannya terbang bersama hembusan angin malam. Masih teringat jelas jerit tangis kesakitan batin anak gadisnya kala itu.
"Semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan untukmu, Nak!" batin Bu Mirna.
💮💮💮💮💮💮
Di dalam mobil mulut syasa tidak berhenti bernyanyi mengikuti lagu yang tersetel di mobil Ferdy. Sedangkan lelaki bergelar Dokter itu sesekali melirik pada Syasa.
"Sya, kamu beneran nih kencan pake baju tidur," kata Ferdy mencoba menghentikan suara cempreng Syasa yang masih saja asyik bernyanyi.
"Emang kenapa sih, Kang Gendangku?" tanya Syasa.
"Dari sekian wanita, sepertinya hanya kamu yang otaknya masih tertahan di pegadaian," jawab Syasa.
"Lah, ngapaian otak Syasa ke sana, Pak Dokter? kayaknya Emak udah kagak kuat cari uang, nih. Makanya otak Syasa digadaikan!" tutur Syasa.
"Kamu ini." Menggelengkan kepala. "Coba aja, wanita mana yang pergi kencan hanya pakai setelan tidur! Sepertinya hanya kamu aja, Sya!"
"Hehehe, engga apalah, Pak Dokter. Kencan 'kan cuman alibi saja, ujung-ujungnya mah cuman mau makan pecel ayam aja," bantah Syasa.
Ferdy kembali pokus pada jalanan. Ia akui, jika dirinya tidak akan pernah menang kalau sudah berdebat dengan Syasa.
Selang sepuluh menit mobil Ferdy sampai disalah satu kedai pecel ayam terbesar dan terenak di kota itu. Saking enaknya sampai-sampai setiap orang harus rebutan untuk hanya mendapatkan tempat duduk.
Ferdy dan Saysa keluar dari mobil, lalu mencari tempat kosong. Mata Ferdy yang jeli sehingga mereka tak perlu menunggu lama untuk menemukannya.
"Kamu duduk di sana dulu. Saya mau pesan ke Abangnya!" perintah Ferdy.
"Siap, Bosku!" sahut Syasa.
Syasa melangkah maju pelan mendekati tempat lesahan. Tak lupa matanya mengamati satu per satu setiap pengunjung wanita yang sedang makan.
"Pantes aja Pak Dokter bilang Otak Syasa tergadaikan. Emang bener, sih orang mah kalau mau jalan pake dress cantik, ini malah pake baju tidur. Hehehe," gumam Syasa pelan.
Syasa di tempat yang ditunjuk Ferdy sebelumnya. Ia merogoh ponsel bermaksud bersekancar di dunia maya. Sudah lama sekali ia belum mengintip Lee Minho, aktor korea kesukaannya.
"Ngintip dulu, ah. Takutnya muka Babang Lee Minho janggutan lagi, karena kelamaan kagak ditengok Syasa," gumam Syasa.
Ferdy yang baru saja selesai memesan makanan segera menyusul Syasa dibelakang. Ia memperhatikan seksama tingkah laku gadis ini yang cepat sekali berubah-ubah layaknya bunglon.
"Kamu kenapa ketawa seperti itu, Sya?" tanya Ferdy tiba-tiba.
"Gusti, untung nih jantung kagak nonjol keluar! Pak Dokter ngapain sih pake ngagetin kaya gitu!" ketus Syasa.
"Astagfirullah, Sya! Saya cuman nanya bukan ngagetin kamu," bantah Ferdy.
"Ya, tapi jangan tiba-tiba gitu, Pak Dokter. Emang Pak Dokter mau liat gadis secantik Syasa ini kena serangan jantung?" tanya Syasa..
"Kamu ini ada aja jawabannya. Lagian kamu ngapain senyum sendiri kayak gitu, udah kayak orang lagi kesambet aja!"
"Mau tahu apa mau tahu banget nih ceritanya!" ledek Syasa.
'Terserah kamu sajalah! Sudah, simpan ponselmu. Saya tidak suka kamu memainkan ponsel saat berbicara dengan saya! tegas Ferdy.
"Pak Dokter galak udah kaya buru matematika. Killer!" ledek Syasa.
Saat tengah asyik berbincang, tiba-tiba seorang gadis imut yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua seketika datang menghampiri.
"Syasa!" seru gadis itu.
Syasa dan Ferdy serentak mendongkakkan kepalanya ke atas melihat siapa yang memanggil.
Mata Syasa membulat, ia tidak percaya bisa melihat gadis itu di sini.
"Kamu ternyata masih hidup, ya!" sindir gadis itu sinis.
Ferdy yang tidak mengerti arah pembicaraan gadis berambut pirang dihadapannya ini mencoba diam. Ia melirik Syasa yang terlihat tegang setelah kedatangan gadis itu.
"Wah, apa lelaki ini pacarmu, Sya? hebat juga, ya ada yang mau nerima gadis kotor kayak kamu! ledek gadis itu.
"Maksud kamu apa?" tanya Ferdy.
"Loh, Mas engga tahu ya gimana Syasa yang sebenarnya? kasian banget sih, Mas!"
Ferdy semakin dibuat tidak mengerti dengan perkataan gadis kecil ini. Ia memang tidak pernah tahu menahu soal masa lalu Syasa. Namun, saat ini ia dibuat mati penasaran karena perkataan gadis dihadapannya.
"Bicara yang jelas!" tegur Ferdy lembut.
Gadis itu melirik sekilas ke arah Syasa. Tatapan penuh sinis dan rasa jijik yang memuncak tersirat jelas.
"Ok! Aku kasih tahu ya, Mas kalau Syasa ini adalah korban pemerkosaan dan parahnya lagi, dia itu sampai hamil!" ungkap gadis itu dengan jelas.
Ferdy terdiam mematung. Pikirannya mencoba menerima pernyataan yang tidak masuk akal ini. Mana mungkin gadis yang notabennya adalah tetangganya itu adalah korban pemerkosaan.
Sementara itu Syasa yang merasa sudah tidak bisa menyembunyikan lagi kebenarannya ini, lalu berkata, "Apa hakmu melabel diriku sebagai wanita kotor? benar, aku memang korban pemerkosaan, aku juga pernah hamil karena itu. Namun, aku tidak pernah meminta untuk berada di posisi itu. Asal kamu tahu, aku ini seorang korban bukan wanita penjual kehormatan."
...****************...
BERSAMBUNG~~~
TOLONG DUKUNGANNYA, YA. Dengan cara like, coment dan vote sebanyak-banyaknya, Teman🤗
😆😆
saya mampir.. othor
akang Ferdy...
love love dah ...