NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA

ANAK RAHASIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Single Mom / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: WikiPix

Rahasia kelam membayangi hidup Kamala dan Reyna. Tanpa mereka sadari, masa lalu yang penuh konspirasi telah menuntun mereka pada kehidupan yang tak seharusnya mereka jalanin.

Saat kepingan kebenaran mulai terungkap, Kamala dan Reyna harus menghadapi kenyataan pahit yang melibatkan keluarga, kebencian, dan dendam masa lalu. Akankah mereka menemukan kembali tempat yang seharusnya? Atau justru terseret lebih dalam dalam pusaran takdir yang mengikat mereka?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, dendam, dan pencarian jati diri yang akan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WikiPix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NARASI Episode 25

Seno berteriak memanggil Indira, suaranya menggema di seluruh rumah. Wajahnya tampak tegang, tangannya mengepal kuat. "Indira! Di mana amplop coklat itu?!"

Indira yang sedang berada di dapur segera bergegas menghampiri, dan Seno berdiri di dekat lemari dengan ekspresi panik, sambil mengacak-acak isi lemari.

"Amplop apa, Seno?" tanyanya heran.

"Amplop coklat berisi dokumen penting perusahaan! Aku yakin menyimpannya di brankas, tapi sekarang hilang!" Seno menjawab dengan nada penuh kegelisahan.

Indira mengernyit, lalu berjalan menuju brankas yang terbuka. Ia memeriksa isinya, tetapi amplop yang dimaksud memang tidak ada. "Apa mungkin ada yang masuk ke sini?"

"Tidak mungkin! Hanya kita yang tahu kombinasi brankas ini!" Seno mulai berjalan mondar-mandir, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Dokumen itu sangat penting, menyangkut masa depan perusahaannya.

Indira mencoba tetap tenang. "Coba kita pikirkan lagi. Terakhir kali kamu melihat amplop itu di mana?"

Seno mengusap wajahnya, mencoba mengingat. "Aku yakin menaruhnya di sini satu minggu lalu… Tapi pagi ini, brankas masih terkunci. Tidak ada tanda-tanda dibuka paksa."

Indira terdiam sejenak, lalu tatapannya berubah serius. "Kalau begitu, hanya orang dalam yang bisa mengambilnya."

Seno mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun bermain-main dengan dokumen itu. Ini menyangkut perusahaan!"

Indira menatapnya penuh waspada. "Kita harus mencari tahu siapa yang masuk ke ruangan ini tanpa sepengetahuan kita."

Seno mengangguk, lalu bergegas menuju ruang CCTV. Ia segera memeriksa rekaman dari satu minggu lalu hingga sore ini. Indira berdiri di belakangnya, memperhatikan layar dengan saksama.

Beberapa jam berlalu, namun mereka tidak menemukan apa pun yang mencurigakan dalam rekaman CCTV. Tidak ada tanda-tanda seseorang masuk ke ruangan Seno, apalagi membuka brankas.

Seno menghela napas panjang, rasa frustrasi semakin menghimpitnya. "Ini tidak masuk akal... Kalau tidak ada yang masuk, bagaimana bisa amplop itu hilang?"

Indira juga merasa bingung. "Apa mungkin seseorang berhasil mengambilnya tanpa terekam kamera?"

Seno menggeleng. "Tidak mungkin. Semua sudut ruangan ini terpantau. Satu-satunya kemungkinan adalah..."

"Amanda!" Ucap Indira tiba.

Seno mengerutkan kening. "Amanda? Kenapa kamu yakin?"

Indira menarik napas dalam-dalam, mencoba merangkai ingatannya. "Waktu itu? Seminggu yang lalu, Bi Wati sempat melihat Amanda keluar dari ruang kerjamu. Dengan tampak membawa sesuatu di tangan, namun Bi Wati tidak menanyakan karena ia buru masuk ke dalam kamar."

Seno langsung tersadar, wajahnya menegang. "Kalau begitu, dia pasti sudah merencanakan ini sejak awal!"

Indira mengangguk, rasa khawatir menyelimuti dirinya. "Kita harus segera mencarinya sebelum dia menggunakan dokumen itu untuk sesuatu yang berbahaya."

Mereka buru-buru menuju kamar Amanda, tetapi saat pintu didobrak, ruangan itu kosong. Lemari pakaian sudah kosong, hanya tersisa beberapa barang yang tertinggal.

"Sial!" Seno menggeram, tinjunya mengepal. "Dia sudah pergi!"

Indira merasa cemas. Tanpa merespon perkataan Seno, ia bergegas menuju kamar Faris dengan harapan bisa menemukan jawaban. Langkahnya cepat, nyaris berlari, dengan Seno yang mengikuti di belakangnya.

Namun, sebelum sampai di kamar Faris, mereka berpapasan dengan Bi Wati di lorong. Wanita paruh baya itu tampak terkejut melihat ekspresi tegang mereka.

"Bi Wati!" Indira langsung menghentikan langkahnya. "Apa Ibu melihat Amanda dan Faris?"

Bi Wati mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Saya tidak tahu pasti, Tuan, Nyonya… Tapi dua hari yang lalu, saya masih melihat Den Faris. Setelah itu, saya tidak melihatnya berada di rumah lagi. Dan seingat saya, satu hari setelah Den Faris tidak pulang, Amanda terlihat membawa tas besar saat keluar rumah. Tapi saya tidak menaruh curiga karena saya pikir hanya pergi sebentar."

Indira dan Seno saling berpandangan.

"Kenapa kau tidak melaporkan hal ini pada kami?" Seno bertanya dengan nada sedikit tajam.

Bi Wati menunduk, merasa bersalah. "Saya benar-benar tidak menyangka kalau dia akan pergi begitu saja, Tuan. Saya kira hanya urusan biasa…"

Indira menghela napas panjang. "Baiklah, kalau begitu. Terima kasih, Bi Wati."

Hati Indira semakin mencelos. Ia menoleh ke arah Seno yang kini mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.

"Sialan! wanita brengsek!" gumamnya penuh kemarahan.

Indira mengusap wajahnya dengan kesal. "Amanda pasti tidak pergi sendiri. Dia mungkin membawa Faris bersamanya, untuk melakukan rencana selanjutnya."

"Kita harus segera menemukan mereka!" Seno berkata dengan nada tegas.

"Kalau dokumen itu sampai di salah gunakan, kita dalam bahaya! Semuanya akan hancur."

Indira mengangguk cepat. "Aku akan coba menghubungi beberapa orang untuk mencari keberadaan mereka."

Tanpa membuang waktu, Indira segera mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon beberapa kenalan yang bisa dirinya andalkan.

Seno, di sisi lain, langsung menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk bersiap jika terjadi sesuatu yang lebih buruk di perusahaan.

Apabila dokumen itu disalahgunakan, maka kehancuran bukan hanya akan menimpa perusahaan mereka, tetapi juga keluarga mereka.

"Baik, Ny. Indira," ujar seorang pria di ujung telepon.

"Kami akan mencoba melacak keberadaan Amanda dan Faris. Jika ada informasi terbaru, saya akan segera menghubungi Anda."

Indira mengangguk, meskipun orang itu tidak bisa melihatnya. "Tolong secepatnya. Kita tidak boleh membiarkan dokumen itu jatuh ke tangan yang salah."

Setelah menutup telepon, Indira menatap Seno dengan wajah penuh kecemasan, dan kecewa.

"Faris, bagaimana anak itu bisa sebodoh ini, mempercayai wanita seperti itu?" gumamnya dengan suara penuh kekecewaan, dengan mengalihkan pandangan ke arah lantai bawah.

Seno yang berdiri di dekatnya hanya bisa menghela napas. "Kita tidak bisa menyalahkan Faris sepenuhnya. Amanda memang licik, dan sepertinya dia sudah lama merencanakan ini."

Indira menoleh, matanya menyiratkan kemarahan yang tertahan. "Tapi tetap saja, Seno! Aku sudah berkali-kali memperingatkannya, tapi dia tidak pernah mau mendengar! Sekarang lihat apa yang terjadi!"

Seno terdiam, tahu bahwa Indira sedang berada di puncak emosinya.

Indira kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, matanya menatap kosong ke kejauhan. Suaranya melemah, namun penuh dengan rasa kecewa yang mendalam. "Aku sudah muak dengan kelakuan anak itu. Seperti berandalan, pulang pergi seenaknya tanpa mengerti aturan. Seakan-akan dia tidak memiliki tanggung jawab sedikit pun..."

Ia menghela napas panjang, jemarinya mengepal di tepi jendela. Lalu, tanpa sadar, kata-kata yang selama ini hanya terpendam akhirnya meluncur dari bibirnya. "Apakah benar dia anakku?"

Seno terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulut Indira. Matanya menajam, menatap wanita yang telah menjadi istrinya selama bertahun-tahun. "Indira, apa maksudmu?"

Indira terdiam sejenak, seolah menimbang-nimbang perasaannya sendiri. "Aku tidak tahu, Seno. Aku hanya merasa… ada sesuatu yang tidak beres. Sikapnya, kelakuannya, bahkan cara berpikirnya. Dia tidak seperti diriku, tidak seperti bagian dari keluarga ini."

Seno menghela napas berat. "Aku tahu Faris sulit diatur, tapi dia tetap anak kita. Kita yang membesarkannya, Indira."

Indira memalingkan wajahnya. "Aku ingin percaya, tapi hatiku berkata lain."

Seno mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba meredam gejolak dalam hatinya. "Indira, aku mengerti kau marah, tapi jangan mengatakan hal seperti itu. Faris tetap anak kita, bagaimanapun dia sekarang."

Indira tetap menatap hal yang sama, dengan memejamkan matanya sejenak, lalu menghela nafas berat.

"Tapi jika benar dia anak kita, kenapa aku merasa begitu asing dengannya, Seno?" Indira akhirnya membuka suara, nada suaranya lebih lembut, namun sarat dengan luka yang terpendam.

Seno terdiam. Dalam hatinya, ia pun harus mengakui bahwa Faris memang berbeda. Sejak kecil, Faris selalu memberontak, sulit diatur, dan seakan memiliki dunia sendiri. Namun, ia tidak pernah mempertanyakan garis keturunan anak itu.

Indira berbalik menatap suaminya. "Aku ingin mencari tahu, Seno. Aku ingin kepastian."

Seno mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Indira menarik napas dalam-dalam sebelum mengucapkan sesuatu yang sudah lama ia pendam. "Tes DNA. Aku ingin melakukan tes DNA pada Faris, untuk ketiga kalinya."

Seno menatap Indira dengan ekspresi terkejut. "Untuk ketiga kalinya?"

Indira mengangguk, matanya penuh dengan kegelisahan. "Aku sudah pernah melakukannya dua kali sebelumnya, tapi hasilnya selalu menunjukkan bahwa dia anakku. Tapi entah kenapa, aku merasa ada yang tidak beres. Aku tidak bisa mengabaikan instingku, Seno. Aku butuh kepastian lagi."

Seno menghela napas panjang. Ia tahu bahwa istrinya bukan tipe orang yang mudah percaya begitu saja. Jika Indira sampai ingin melakukan tes DNA lagi, berarti perasaan curiganya sudah mencapai puncaknya.

"Tapi, Indira… jika hasilnya tetap sama, apakah kau bisa menerimanya?" tanya Seno, suaranya lebih lembut.

Indira terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara pelan, "Aku tidak tahu, Seno. Tapi aku harus melakukannya."

Seno menatapnya dengan penuh pertimbangan. Ia tahu tidak ada gunanya membantah keinginan Indira saat ini.

"Baiklah," akhirnya Seno mengalah. "Aku akan mengurusnya."

Namun, Indira menggeleng tegas. "Tidak, Seno. Aku yang akan melakukannya sendiri." Tatapannya penuh keyakinan. "Kau urus saja perusahaan, jangan sampai terjadi hal yang buruk menimpa kita. Aku tidak mau kehilangan segalanya hanya karena kelalaian kita."

Seno menghela napas, menyadari bahwa Indira benar-benar serius. Ia mengenal istrinya—sekali Indira memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya.

"Baik," ucapnya akhirnya. "Tapi hati-hati, Indira. Aku tidak mau kau bertindak gegabah dan malah membahayakan diri sendiri."

Indira mengangkat dagunya sedikit. "Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Seno hanya bisa mengamati saat Indira berbalik, matanya penuh dengan tekad. Ia tahu, dalam waktu dekat, kebenaran yang selama ini terpendam akan terungkap, entah itu akan menjadi awal dari kehancuran mereka, atau justru membebaskan mereka dari kebohongan yang selama ini membelenggu.

Indira menghela napas panjang, mencoba menyingkirkan kecurigaan yang tiba-tiba muncul di benaknya. Apakah ini ada kaitannya dengan Ratna? Namun, ia segera menepis pikirannya. Ratna sudah lama diberitakan meninggal dalam kecelakaan bersama Bram. Tidak mungkin dia masih berperan dalam semua ini.

Tapi tetap saja, ada sesuatu yang terasa janggal. Indira tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang belum terungkap, sesuatu yang mungkin selama ini luput dari perhatiannya.

Ia menatap ke kejauhan, pikirannya dipenuhi bayangan masa lalu. Kenangan tentang Ratna kembali menghantui, membawa serta rasa bersalah yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

Indira menghela napas berat, suaranya hampir tak terdengar saat ia berbisik, "Maafkan aku, Ratna… Aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Aku tidak bisa melindungimu, tidak bisa memahami perasaanmu. Aku terlalu sibuk dengan kebahagiaanku sendiri, hingga tidak menyadari rasa sakit yang kau pendam."

Matanya sedikit memanas, namun ia segera mengedipkannya, menahan emosi yang bergejolak di dadanya.

"Tapi jika kau benar-benar sudah tiada, mengapa aku masih merasa bayanganmu ada di sekitarku?" Indira bergumam, perasaan was-was kembali menyelimutinya.

Indira menghela napas panjang sebelum akhirnya mengambil keputusan. Ia akan pergi ke makam Ratna. Mungkin dengan melihat sendiri pusara adiknya, ia bisa menenangkan pikirannya yang penuh dengan keraguan.

Tanpa banyak bicara, ia mengambil tas dan kunci mobil, lalu bergegas keluar rumah. Seno yang melihatnya bersiap pergi, langsung bertanya, "Kau mau ke mana?"

"Ke makam Ratna," jawab Indira singkat, suaranya terdengar mantap. "Aku perlu memastikan sesuatu."

Seno menatapnya dengan ragu, tetapi ia tidak menghentikannya.

1
Sarul Parjo
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!