Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22. Menerima
"Mas Nazriel itu orang baik, sopan, dan sangat menjaga lisannya. Aku baru beberapa jam kenal dengannya, aku bisa menilai seperti apa dia."
Pak Imran dan Ibuk Siti, tidak berkata apa-apa, kedua orang tua itu hanya diam mendengar apa yang Fira katakan.
"Kalau Bapak dan Ibuk tidak percaya sama mas Nazriel, tolong kalian percaya padaku, kami dari terminal langsung pulang, tapi saat dijalan kami terjebak hujan." Ujar Fira lagi, karena melihat Bapak dan Ibuknya tidak berkata apapun.
Kemudian Fira melanjutkan ceritanya hingga mereka berteduh disebuah kios yang sudah tidak dipakai lagi.
Fira menceritakan kenapa dia memeluk Ariel, itu karena dia reflek saat suara petir begitu menggema.
"Bapak dan Ibuk sudah tau 'kan, dari kecil aku sangat takut petir ?" Pak Imran mengangguk, begitu juga dengan Buk Siti.
"Kami percaya, kamu tidak akan melakukan perbuatan sekeji itu, kami juga percaya kalau Nazriel juga tidak mungkin seperti itu, dia sudah sangat lama tinggal disini, jadi kami sudah tau sifatnya gimana." Ujar Pak Imran.
"Oh ya, mana Nazriel, kenapa dia tidak masuk ?" tanya Pak Imran karena tidak melihat Ariel didalam rumah.
"Mungkin Nazriel takut, atau dia malu." Jawab Buk Siti, menebak.
"Buat apa malu, kamu panggil suami kamu, Bapak mau minta maaf, karena tadi Bapak sempat emosi dan hendak menamparnya." Ujar Pak Imran.
Fira langsung keluar, dia melihat Ariel sedang duduk dikanebo, matanya memandang bintang yang terlihat setelah hujan tadi.
Fira berjalan menghampiri, kemudian duduk di sisi Ariel.
"Mas, kenapa gak masuk, apa mas marah, atau mas terbebani menikahiku?" tanya Fira takut-takut.
Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Fira, Ariel segera melihat ke Fira.
"Kenapa kamu ngomong seperti itu, aku sama sekali tidak terbebani, kamu tidak boleh ngomong gitu." Ariel sama sekali tidak terbebani menikahi Fira, Ariel tidak masuk kerumah karena tidak enak sama Pak Imran.
Pak Imran dan Buk Siti sudah sangat berjasa bagi hidupnya, tapi dia malah membuat Pak Imran kecewa.
Sudah nampak Pak Imran kecewa saat tadi Pak Imran hendak menamparnya waktu dirumah Pak RT kampung sebelah.
"Kalau mas, tidak ingin pernikahan ini, mas boleh menceraikan aku, sekarang sudah tidak terdesak lagi." Ujar Fira, tidak apa-apa jika Ariel menceraikannya, karena Fira juga tidak mau memaksa Ariel untuk menerimanya.
Ariel menatap lekat wajah Fira yang masih tertutup cadar, dia mencari sesuatu dalam bola mata Fira.
"Tidak ada perceraian, bagiku menikah itu sekali seumur hidup, kamu sekarang istriku, dan aku suamimu, aku tau tidak ada cinta diantara kita, kita menikah dengan terpaksa, tapi aku akan berusaha membahagiakanmu, jika memang kamu ingin menjadi istriku, tapi kalau kamu tidak mau, aku tidak apa-apa." Jawab Ariel.
"Aku juga sama, aku berharap dalam hidupku, hanya menikah sekali juga, aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu."
"Terimakasih, kamu ingin mempertahankan pernikahan paksa ini. Aku yakin seiring berjalannya waktu, diantara kita akan ada cinta." Ujar Ariel.
"Iya mas, kita akan sama-sama bertahan, ayo kita masuk, Bapak ingin berbicara dengan mas." Ajak Fira.
"Tapi--"
"Udah, tidak apa-apa, bukankah kita sudah sepakat, untuk saling menerima?" Ujar Fira.
Ariel mengangguk, dia diiringi oleh Fira masuk kedalam rumah. Sebenarnya Ariel masih sedikit takut kalau Pak Imran marah, tapi dia harus menjelaskan pada Pak Imran kalau dia dengan Fira tidak melakukan seperti yang warga tuduhkan.
"Bapak, Ibuk." Sapa Ariel saat sudah berada didalam rumah.
"Nak Ariel, ayo duduk disini!" Pak Imran menepuk-nepuk sofa disampingnya.
Dengan sedikit ragu-ragu Ariel duduk disampingnya Pak Imran, yang dulu dia sebut Bapak, dan sekarang sudah menjadi Bapak mertuanya.
"Bapak minta maaf, tapi bapak sempat emosi, karena mendengar tuduhan warga seperti itu sama kamu, seharusnya Bapak percaya sama kamu dan Fira, sekali lagi Bapak benar-benar minta maaf." Pak Imran sangat merasa bersalah, seharusnya dia bisa menilai Ariel bagaimana, karena Ariel sudah lama bersamanya.
"Tidak apa-apa, Pak, aku mengerti, Fira Putri Bapak dan Ibuk semata wayang, jadi wajar Bapak sebagai orang tuanya marah, apalagi warga berkata seperti itu." Ariel tau dan memaklumi kemarahan Pak Imran.
Ariel paham, kemarahan Pak Imran, karena tidak ada orang tua yang ingin Anaknya berbuat seperti itu, apalagi Fira seorang gadis Soleha, begitu juga Pak Imran dan Buk Siti, meraka sangat menjunjung agama.
"Terimakasih Nak, kamu mengerti dengan Bapak, Bapak percaya kamu Anak yang baik, Fira tadi sudah menjelaskan pada kami kalau ini salah faham." Ujar Pak Imran lagi.
Setelah mendengar cerita Fira tadi Pak Imran sangat merasa bersalah, namun sekarang dia lega karena Ariel memaklumi kemarahannya tadi.
Sekarang Pak Imran sama Buk Siti, harus menerima kenyataan kalau Ariel sekarang adalah menantunya.
Soal kebaikan, dan tanggung jawab, Pak Imran dan Buk Siti tidak khawatir, karena keduanya tau bagaimana karakter Ariel, meraka sudah lama hidup bersama dibawah satu atap.
"Sekarang, kamu dan Fira suami istri, Bapak dan Ibuk berharap sama kamu, perlakukan Fira dengan baik, dan jangan sakiti dia, Fira Putri Bapak satu-satunya." Harap Pak Imran pada Ariel.
"Bapak tidak usah khawatir, aku akan menjaga Fira, dan memperlakukannya dengan baik." Ujar Ariel.
"Walaupun kami baru saling mengenal, dan belum saling mencintai, tapi kami sudah bertekad mempertahankan hubungan kami, walaupun kami bersatu dengan cara seperti ini." Lanjut Ariel lagi.
"Kamu jangan sungkan, kita seperti biasa, kami tetap orang tua kami, apalagi sekarang kita sudah menjadi keluarga." Imbuh Buk Siti.
"Ia, Buk, Pak, terimakasih sudah menolong, dan merawat ku, dan terimakasih juga sudah mempercayakan Fira padaku, dan merestui kami." Ariel akan belajar menerima dan mencintai Fira, Pak Imran sudah sangat baik padanya, tidak mungkin dia akan membuat Putri semata wayang mereka menderita.
Setelah mengobrol, semuanya makan malam, walaupun sudah telat karena masalah Ariel dan Fira.
Fira melayani Ariel, dengan cekatan, walaupun Fira baru beberapa jam jadi istri Ariel, namun tanggung jawabnya sebagai istri sangat sempurna.
"Kalian istirahat lah, pasti kalian capek, apa lagi kamu Fira, kamu pasti sangat lelah dari pondok kesini, ditambah lagi dengan kejadian tadi." Ujar Pak Imran.
"Baik Pak, Buk, kalau begitu aku kekamar dulu." Fira langsung melangkahkan kakinya ke kamar, namun langkahnya terhenti karena suara Ibuknya.
"Nak, ajak suamimu juga !" Ujar Buk Siti karena melihat Fira hanya pergi sendiri.
Fira, berbalik badan, dia sedikit malu, karena belum terbiasa, namun Fira harus membiasakan diri, karena sekarang dia istri orang, bukan lagi single.
"Ayo, mas, istirahat." Ajak Fira dengan sedikit perasaan malu, apa lagi didepan Bapak dan Ibuknya.
Bersambung.
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..