"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4 (Dijadikan pembantu)
Keesokan harinya, Fania masih dalam kondisi pingsan, hingga Raditya masuk ke dalam untuk membangunkannya. Raditya masuk bersama Zelina yang membawa seember air. Dia tega mengguyurnya dengan sangat kasar. "Bangun, dasar pemalas! Waktunya kerja, jangan tidur terus!"
Fania masih belum bangun bahkan tidak merespon sedikitpun. Raditya dan Zelina saling pandang, mereka langsung panik. "Radit, gimana ini? Jangan-jangan dia mati?"
Raditya menyentuh istrinya dengan kaki. Dia sama sekali tidak mempunyai belas kasihan. "Hei bangun! Jangan berpura-pura kamu!"
Zelina semakin geram, dia mempunyai ide lain untuk membangunkan Fania. "Heh, bangun! Hei, jangan buat aku kesal, ya!"
Fania masih belum bangun, Raditya ingin mengangkat istrinya, tapi langsung dihentikan oleh Zelina. "Sayang, kamu mau ngapain? Jangan sampai menyentuh dia, ya. Aku tidak pernah rela kamu menyentuhnya walau sedikit saja."
Raditya menuruti apa kata kekasihnya. Dia kembali berdiri dan giliran Zelina yang memberikan pelajaran. Dia menginjak tangan Fania dengan kakinya. Hingga injkan itu menyadarkannya. "Bangun, bodoh. Jangan merepotkan di sini."
Fania mulai sadar, dia merasakan sakit di jari tangannya. "Aaaahh, sakit."
"Bangun, bodoh. Sana kerja! Buat sarapan untuk kita, bukannya kamu mau mengabdi? Inilah saatnya!" seru Zelina dengan sangat kasar. Dia menendang kaki Fania agar cepat bangun.
Fania mencoba untuk bangun. Tubuhnya masih lemas dan gemetar. "Aku lagi sakit, Mas. Kepalaku sangat pusing. Badanku panas sekali."
Raditya diam, dia tidak merespon perkataan istrinya. Justru Zelina lah yang menjawab, "Kamu jangan banyak alasan, cepat bangun sana! Aku sudah lapar, cepat masak yang enak."
Fania memaksakan diri untuk berdiri, dia meminta izin untuk mengganti baju. "Mas, aku minta izin mandi dulu. Bajuku basah semua."
Raditya mengizinkan istrinya, dia mengajak Zelina keluar dari kamar. "Biarkan dia mandi dulu! Kamu tidak ingin kan masakannya terkontaminasi kuman."
Zelina berdecak kesal, dia keluar dari kamar dengan langkah kasar. Sementara itu, Fania masih mengumpulkan tenaga untuk memenuhi permintaan itu. "Astagfirullahaladzim, Ya Allah berikan hamba kekuatan untuk menghadapi ujianmu," ucap Fania dalam hati.
Fania beranjak dari tempatnya, dia membersihkan diri di dalam kamar mandi. Sepuluh menit berlalu, Fania sudah selesai mandi. Dia segera masuk ke dapur untuk membuat sarapan. Di meja makan sudah ada Raditya dan Zelina yang menunggu dengan sangat kelaparan. Mereka masih bermesraan dan tidak tahu malu. Fania tidak mempedulikan itu, dia segera menyiapkan bahan yang ada. Dia tidak sadar jika kulkas sudah terisi penuh dengan bahan makanan. Sejenak berpikir, sebuah ide masakan muncul di benaknya.
Fania mengeluarkan udang dan sayuran untuk memasak spagheti. Dia memilih menu yang simple agar bisa beristirahat dengan cepat. Meski sakit, kedua tangan Fania bergerak sangat cepat. Dia sangat tenang melakukannya meski sudah diperlakukan secara buruk oleh suaminya. Dari meja makan, Zelina berteriak meminta sesuatu. Wanita itu meminta dengan cara yang tidak sopan.
"Hei wanita miskin, buatkan aku jus alpukat. Jangan manis-manis. Awas saja kalau tidak pecus. Aku akan menghukummu." Zelina memberikan perintah pada Fania tanpa melihat kesibukannya di dapur.
Fania hanya menjawab singkat, dia masih fokus pada masakannya. Sekitar lima belas menit, sarapan pun jadi. Fania menyediakannya di atas meja. Dua porsi spageti siap untuk dimakan. Raditya dan Zelina mengambil garpu, mereka mulai menikmati masakan itu. "Emmm, lumayan juga. Sayang, kamu tidak perlu nyari pembantu. Dia berguna juga untuk rumah ini."
Raditya menjawab, "Aku tetap akan mencari pembantu. Aku tidak mau menanggung resiko. Jika terjadi sesuatu sama dia, bagaimana aku menjelaskannya sama Mama. Dia masih mempunyai harapan untu selamat dari pernikahan ini."
"Jadi kamu tetap mau mertahanin dia di sini? Apa itu artinya aku tidak bisa mengambil posisi penting di rumah ini?" tanya Zelina dengan nada tidak suka.
Fania hanya mendengar saja percakapan itu. Dia tidak peduli dan ingin cepat istirahat. Selesai membersihkan dapur, Fania keluar dan meminta izin untuk beristirahat. "Mas, aku mau minta izin istirahat. Aku masih tidak enak badan."
Raditya menjawab tanpa menoleh,. "Di dapur ada penurun panas, kamu minum obat dulu. Aku tidak mau ada virus di rumah ini."
"Baik, Mas." Fania segera pergi dari meja makan. Dia mengambil obat penurun panas yang ada di dapur.
Zelina semakin tidak suka dengan keberadaan Fania di rumah itu. Masalahnya dia tidak bisa mengambil hati Ibunya Raditya. Itulah yang membuat hubungannya semakin renggang. Fania keluar dari dapur dan segera menuju ke kamaranya. Embusan napasnya sungguh panas sekali sehingga membuat wajahnya memerah. Sesampainya di kamar, Fania membuka cadar yang menutupi wajahnya. Dia segera beristirahat agar bisa pulih kembali.
Sementara itu di luar, Raditya dan Zelina sedang berdebat masalah hubungannya yang belum menemukan titik terang. "Hari ini kamu harus pulang. Soalnya nanti malam Mama mau ke sini. Aku tidak mau membuat Mama sakit lagi karena melihatmu."
Zelina mengerucutkan bibirnya dia sangat sedih jika harus berpisah dengan kekasihnya. "Kapan kita bisa bersama? Aku ingin menikah denganmu, tapi tanpa sepengetahuan keluargamu. Sepuluh tahun sudah kita bersama, tapi apa yang kudapat? Aku hanya ingin bersamamu, Raditya. Aku tidak ini berpisah denganmu."
Raditya memeluk Zelina dengan penuh kasih sayang. Dia tahu kegelisahan wanita yang sangat dicintainya itu. "Kamu juga tau jika hubungan kita ini sangat rumit. Aku sendiri bingung harus bagaimana? Sebenarnya, 60% saham akan menjadi milikku, jika aku mempunyai anak dengan Fania."
Zelina melepaskan pelukannya, dia sangat terkejut dengan pernyataan itu. "Lalu bagaimana dengan aku, Radit? Apa kamu benar akan tidur dengannya? Aku tidak mau berbagi dengan wanita lain. Apalagi wanita sok suci seperti dia."
Raditya menghela napas berat, dia sangat bingung sekali. "Tenanglah, aku akan cari cara agar bisa menikah secara resmi. Untuk sekarang kita jalani saja dulu. Aku belum tau reaksi Mama saat bertemu dengan Fania."
Perdebatan itu berakhir tanpa hasil. Raditya terus memberikan harapan pada Zelina. Padahal dia sudah tahu jelas jika kesempatannya sangat kecil sekali. Hingga beberapa jam berlalu, Fania sudah dalam kondisi yang fit. Dia bangun dari tidurnya setelah mendengar adzan sholat Ashar. "Alhamdulilah, masih diberikan kesehatan. Satnya sholat, setelah itu siap-siap untuk makan malam."
Zelina turun dari ranjangnya, dia mengambil wudhu kemudian melangsungkan ibadah sholat. Kurang lebih dua puluh menit, Fania selesai berdoa. Dia melipat sajadah dan dikejutkan oleh ketukan pintu. Terdengar suara Raditya dari luar yang membuat jantung Fania berdegup kencang. "Ada apa lagi? Apa Mas Radit akan memarahiku lagi?" tanya Fania dalam hati.
Fania segera berdiri untuk membuka pintu. Tidak lupa dia memasang cadarnya lagi. "Ada apa, Mas?"
"Keluar aku mau bicara penting!" Raditya memerintah istrinya dengan nada angkuh.
Fania menghela napas berat, perasaanya menjadi tidak enak. "Apa yang akan terjadi? Apa aku akan dimarahi lagi?"
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡