NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: DI BAWAH MEJA RAPAT

Ruang rapat direksi terasa lebih sempit dari biasanya.

Bukan karena ukurannya berubah—melainkan karena sorot mata yang terlalu banyak tertuju pada satu orang.

Aira berdiri di ujung meja panjang, tablet di tangannya terasa lebih berat dari seharusnya. Di layar terpampang dokumen yang menjadi sumber masalah: file internal perusahaan yang bocor ke pihak luar.

Di kursi utama, Arlan duduk dengan punggung tegak. Jemarinya saling bertaut di atas meja, ekspresinya nyaris tak terbaca.

“File ini dikirim dari akun sekretaris CEO,” ujar salah satu direktur, suaranya tegas. “Timestamp pukul 21.47. Hanya dua orang yang punya akses langsung ke folder itu.”

Semua mata mengarah pada Aira.

Ia menelan ludah. “Saya tidak pernah mengirim dokumen tersebut, Pak.”

“Log sistem tidak pernah salah,” sahut yang lain.

Arlan belum bicara.

Ia hanya menatap layar proyektor beberapa detik, lalu memindahkan pandangannya pada Aira. Tidak marah. Tidak membela. Hanya mengamati.

“Jika terbukti bersalah,” ucapnya akhirnya, tenang dan jelas, “kamu keluar hari ini.”

Kalimat itu jatuh tanpa emosi—dan justru karena itulah terasa lebih berat.

Napas Aira tercekat.

Ia tidak meminta dibela. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap Arlan akan mengatakan sesuatu… lebih dari itu.

“Saya tidak melakukannya,” ulangnya, suaranya lebih stabil kali ini. “Saat itu saya masih di kantor.”

“Dengan siapa?” tanya seorang direktur.

Aira terdiam sepersekian detik.

“Dengan saya.”

Semua kepala beralih pada Arlan.

Ia bersandar ringan di kursinya. “Pukul 21.30 sampai hampir pukul 22.00, dia ada di ruang saya. Membahas revisi laporan.”

Ruang rapat mendadak sunyi.

“Kalau begitu akunmu dipakai orang lain,” ujar direktur tadi, kini lebih berhati-hati.

“Mungkin,” jawab Aira pelan.

Arlan berdiri.

Gerakan sederhana itu cukup membuat percakapan terhenti.

“Tim IT audit ulang akses server,” perintahnya. “Saya ingin laporan detail—termasuk perangkat dan IP address.”

Salah satu direktur mengangguk. “Baik.”

Rapat dibubarkan tanpa keputusan final.

Satu per satu kursi ditinggalkan. Suara langkah dan gesekan kursi mengisi ruangan yang tadi tegang.

Kini hanya tersisa mereka berdua.

Aira masih berdiri di tempatnya.

“Kenapa tidak langsung memecat saya saja, Pak?” tanyanya pelan.

Arlan tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah layar proyektor, mematikan tampilan file yang masih terpampang.

“Kau pikir aku bodoh?” balasnya datar.

Aira mengangkat wajahnya.

“Jika aku ingin menghancurkanmu,” lanjut Arlan, “aku tidak akan memakai cara serendah ini.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti pembelaan. Lebih seperti pernyataan prinsip.

“Ini bukan soal kamu saja,” tambahnya. “Ini soal siapa yang berani bermain di belakangku.”

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, Aira melihat sesuatu yang berbeda—bukan kebencian, bukan juga amarah. Melainkan kewaspadaan.

Seperti seseorang yang mulai menyusun potongan puzzle.

“Kembali bekerja,” ucap Arlan akhirnya. “Dan jangan sentuh sistem sampai audit selesai.”

“Iya, Pak.”

Aira berbalik keluar ruangan.

Pintu tertutup perlahan.

Arlan tetap berdiri beberapa detik, lalu berjalan kembali ke kursinya. Ia membuka laptopnya, mengakses ulang log sistem.

Pukul 21.47.

Timestamp itu mengganggunya.

Ia mengingat jelas—pukul itu Aira masih berdiri di depan mejanya, menjelaskan angka demi angka. Wajahnya pucat, tapi fokus.

Tidak mungkin ia sempat mengirim file tanpa ia sadari.

Kecuali…

Arlan memperbesar detail akses perangkat.

Ada satu login tambahan. Tercatat lima menit sebelum file dikirim. Perangkat berbeda. Lokasi jaringan internal.

Seseorang menggunakan celah.

Sudut bibirnya menegang tipis.

“Menarik,” gumamnya.

Di luar ruangannya, Aira duduk kembali di meja kerja. Tangannya gemetar kecil saat meraih air minum.

Ia tahu satu hal.

Hari ini Arlan tidak membelanya.

Tapi juga tidak menjatuhkannya.

Dan bagi seseorang seperti Arlan Dirgantara—

itu sudah berarti sesuatu.

Namun di ujung lorong, seorang wanita berdiri memandangi ruang CEO dari balik kaca.

Clarissa tersenyum tipis.

Permainan baru saja dimulai.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!