Kesalahan yang terjadi pada dua manusia yang saling mencintai. Hubungan keduanya yang sudah tidak direstui. Mungkin karena tidak memiliki status sosial yang setara. Alina hanya gadis biasa yang duduk di bangku SMA dan menggunakan beasiswa dan sementara Fathan anak seorang pengusaha kaya raya dan juga seorang ibu yang bekerja dalam dunia entertainment.
Fathan dan Alina terjebak dalam hubungan gairah yang akhirnya menjadi skandal dan siapa yang dirugikan dalam hal itu.
Alina harus menerima nasibnya yang masih duduk di bangku SMA dan mengandung akibat kesalahan fatal yang dia lakukan bersama dengan kakak kelasnya yang juga menjadi pacarnya.
Karena hubungan yang tidak direstui itu yang ternyata membawa Fathan pergi dari Alina.
Bagaimana Alina menjalani kehidupannya dengan janin yang ada di dalam kandungannya.
Lalu apakah mereka dipertemukan kembali?
Jangan lupa untuk mengikuti cerita Saya dari awal sampai akhir dan follow akun Instagram saya .
ainunnharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Selalu Di Pertemuan.
"Tapi untuk apa merekrut artis yang naik daun, jika tidak memiliki kemampuan. Jelas alasan dia karena tidak ingin ada adegan action dalam film ini dan sementara nyawa dalam film ini adalah adegan actionnya. Jadi percuma saja mengkerut orang seperti itu," sahut Alina berpendapat.
"Lalu apa kita masih punya waktu untuk mencari aktris yang cocok dengan film ini?" tanya Monica. Semua diam dan terlihat berpikir.
Alina menoleh ke arah ponsel yang menyala di sampingnya yang melihat pesan masuk yang ternyata dari sang mama yang menuliskan nota bahan-bahan kue yang harus di belanjaan Alina saat pulang bekerja nanti.
"Bagaimana jika kita rekrut Fathan Adi Kusuma!" sahut Giselle tiba-tiba.
Deg
Alina mengangkat kepala perlahan, jantungnya berdebar dengan kencang saat nama itu di sebutkan. Wajahnya tampak gelisah yang terlihat tidak tenang.
"Bukankah Fathan masih terlibat syuting," sahut Dion.
"Dia aktris profesional dan senior dan dia juga sangat cocok dengan film action dan apa salahnya kita coba. Jika terlibat syuting dia pasti bisa mengurus hal itu," sahut Giselle berpendapat yang sangat yakin.
Orang-orang yang mengikuti rapat itu mengeluarkan pendapat masing-masing antara setuju dan tidak dengan merekrut aktris yang baru saja mereka pikirkan. Tetapi Alina malah terdiam dengan ponsel yang masih dipegangnya. Mulutnya sama sekali tidak memberikan pendapat apa-apa.
"Baiklah kita coba saja! Giselle kamu berbicara dengan managernya dan jika Fathan setuju kita akan rekrut dia dan gantikan bocah stars syndrome itu," sahut Monica yang akhirnya setuju juga.
"Baiklah saya akan menyusun semuanya," sahut Gisele setuju.
Alina masih diam membisu yang tidak mengatakan apa-apa dan orang-orang juga tidak menanyakan pendapatnya.
*********
Karena mendapatkan tugas dari Ratih untuk membelikan bahan-bahan kue yang membuat Alina setelah pulang kerja mampir ke supermarket. Alina mematikan mesin mobilnya saat sudah berada di parkiran.
Alina seketika mengingat pembicaraan pada saat rapat tadi, bagaimana orang-orang kantornya akan merekrut Fathan Adi Kusumah sebagai pengganti dari Andreas.
"Bagaimana jika semua itu terjadi," batinnya terlihat khawatir dan seperti ada sesuatu yang dia hindari.
"Sudahlah Alina! kamu jangan berpikiran terlalu jauh. Kamu harus berpikir positif," ucapnya yang tidak ingin ribet sama sekali. Alina langsung keluar dari mobil.
Alina yang sudah berada di dalam supermarket sembari mendorong troli belanjaan dengan memasukkan beberapa keperluan yang dibutuhkan Ratih.
"Aku tidak menemukan tepung yang seperti diperlihatkan Mama," ucapnya yang terus mencari di rak tersebut.
Ketika salah satu pelayan supermarket itu lewat di belakangnya dan Alina langsung menghentikan.
"Mbak tunggu!" cegah Alina.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu yang sudah berdiri di hadapan Alina. Alina tampak bengong dengan mengerutkan dahi, dia melihat bed nama dari pelayan tersebut. Nada.
Alina mengingat wanita itu adalah orang yang pernah bersekolah di sekolah Alina dan terlebih lagi wanita yang bernama Nada itu yang tak lain adalah senior yang pernah membullynya.
"What!" batinnya tampak sedikit kaget.
"Nona yang bisa saya bantu?" tanyanya kembali yang terlihat bingung.
Nada pasti tidak mengenali Alina. Karena wanita yang dihadapannya sekarang itu bukanlah wanita cupu lagi dan sangat berbeda.
"Oh. Iya benar sekali, saya ingin mencari tepung seperti ini," jawab Alina yang memperlihatkan layar ponselnya.
"Sebentar saya lihat," ucap Nada yang mencoba mencari apa yang dibutuhkan Alina dan Alina hanya memperhatikan saja, dari ekspresi wajahnya terlihat tersenyum seperti ada rona-rona julid.
Mungkin Alina tidak percaya dengan senior yang pernah membullynya setelah sekian tahun sekarang menjadi pelayan minimarket. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu, tetapi Alina berpikir saja jika orang-orang yang dulu merasa paling di atas dan hidupnya akan terus berkembang dan ternyata salah. Buktinya bisa dikatakan dia jauh lebih sukses daripada senior yang membullynya.
"Mbak sepertinya masih ada di gudang. Apa bisa ditunggu sebentar," ucap Nada.
"Baiklah," jawab Alina dengan santai dan Nada langsung pergi seperti biasa pelayan di supermarket akan terus mengeluarkan senyum.
"Astaga aku tidak percaya bisa bertemu dengan dia dan ternyata bertemu dalam keadaan seperti ini. Huhhh, aku pikir setelah dia lulus sekolah, mungkin saja dia akan menjadi pengusaha yang hebat dan sangat lancang berbicara dan ternyata tidak dan dia bisa juga berbicara semanis itu. Memang benar kata orang-orang di dunia itu bagai roda yang berputar dan lihatlah dia sekarang," batin Alina dengan tersenyum.
"Alina apa yang kau pikirkan? Tidak, kau sedang tidak menghinanya. Hatimu tiba-tiba saja bergembira dan entahlah apa sebabnya," ucapnya yang merasa lucu sendiri saat bertemu dengan seniornya yang tidak mengenalinya sama sekali.
Alina bahkan tidak membayangkan jika seniornya itu mengenali dirinya dan mungkin betapa malunya seniornya itu atau mungkin akan berlutut meminta maaf kepada Alina karena sudah pernah jahat pada Alina.
Mana mungkin ada yang mengenali Alina dengan perubahannya yang sangat besar dan Alina jelas saja masih mengenali orang-orang yang pernah bertemu dengan dia, karena biasanya wajah itu hanya akan berubah sedikit-sedikit saja.
Setelah menyelesaikan aktivitasnya seharian yang akhirnya Alina kembali pulang dan seperti biasa dia akan disambut putranya Keenan yang begitu mendengar suara pintu dibuka langsung berlari menghampirinya.
"Mama sudah pulang?" tanyanya.
"Iya sayang," sahut Alina.
"Bagaimana hari ini apa kegiatannya lancar?" tanya Alina.
"Sangat lancar, Tante Thalia juga tadi membawakan makanan, tetapi tetap saja Moza sangat menyebalkan," jawabnya dengan wajah cemberut saat menyebutkan nama anak perempuan yang tidak jauh usianya dari Keenan yang tak lain adalah sepupunya, keponakan Alina.
"Ada apa lagi dengan Moza?" tanya Alina.
"Dia mengganggu konsentrasi Keenan dan Keenan hanya menang beberapa pertandingan saja," jawabnya.
"Keenan tidak boleh seperti itu yang terpenting Keenan sudah ada menang dan harusnya bersyukur karena Moza ikut. Jadi Keenan ada yang support," ucap Alina.
"Tapi tetap saja semuanya kurang menyenangkan," jawab Keenan.
"Keenan tidak boleh seperti itu. Keenan dari kecil harus tetap baik kepada orang lain, agar dewasanya nanti mendapatkan keberkahan hidup yang berjalan dengan lancar. Keenan tidak boleh menjadi orang jahat, bagaimana jika nanti saat Keenan dewasa hidupnya tidak baik dan orang yang Keenan jahati hidupnya jauh lebih baik," ucap Alina memberikan nasehat kepada putra tampannya itu
"Memang ada orang seperti itu?" tanyanya.
"Pasti banyak sayang. Kalau kita jahat di masa lalu dan semua itu akan ada balasan dan maka dari itu kita harus selalu baik kepada orang," jawab Alina.
Mungkin perkataan Alina berhubungan saat tadi dia bertemu dengan Nada. Sudah membully dan begitu jahat semasa SMA dan ternyata Nada tidak menjadi apa-apa.
"Baiklah kalau begitu. Keenan mau bawa belanjaan Mama ke dapur. Mama istirahatlah," sahut Keenan yang langsung mengangkat sedikit kesulitan barang-barang Alina, walau kesulitan tetapi dia tetap membawa sampai ke dapur.
Alina tersenyum melihat putranya yang sangat pengertian itu dan walau terkadang Keenan sedikit nakal tetapi selalu menjadi anak yang penurut dan begitu sangat menyayangi Alina.
"Aku tidak bisa membayangkan beberapa tahun lagi Keenan akan semakin dewasa, dia akan menjadi anak remaja, terus menjadi orang dewasa dan mungkin pada saatnya dia akan meninggalkanku dan punya kehidupan sendiri," batin Alina yang sudah mulai takut sebagai seorang ibu.
Padahal semua itu masih sangat jauh sekali karena putranya juga masih berusia 8 tahun.
Bersambung.......
semoga ada keajaiban, ada lelaki yg punya kuasa melebihi mergin, biar bisa melindungi Alina dan kluarganya.
seorang Fathan bisa nya apa, cm menang aktor terkenal tp gk bisa ngapa ngapain. bhkan dia di bawah kendali ibunya. lelaki yg sdh di bawah kendali ibunya alias anak mama gk bisa di jadikan suami, kl jd suami makan hati tiap hari. apa apa mama apa apa mama 😂😂
pdhl kl dia lelaki sejati tinggal cari tau kelar semua masalah.
eh tapi Fathan kn gk punya kuasa deng anak lelaki yg di setir ibunya 🤣. pake rok pink saja lah Fathan gk guna juga sebagai lelaki.
Alina lbih baik dpt laki yg teges mandiri dan sempurna lbih dr Fathan biar nyaho tu mak Lampir.
semoga nnti Fathan nikah dng yg lain gk bisa punya anak 🤣🤣😅