Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Jebakan di Lembah Sunyi
Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan di depan jalan. Sebuah batang pohon beringin raksasa berukuran diameter dua meter tampak melintang tumbang secara vertikal, menutup seluruh akses badan jalan perbukitan. Tidak ada celah sedikit pun bagi bus untuk melintas.
"Jalanannya tertutup pohon tumbang, Dokter," ucap sopir bus dengan wajah panik. Tangannya bergerak cepat, berulang kali mencoba menghubungi posko luar menggunakan radio komunikasi interkom. Namun, yang keluar hanyalah suara desis statis yang kosong.
"Aneh, radio komunikasinya mati total. Sinyal ponsel saya juga hilang dari semenjak masuk ke area lembah ini," gumam sopir itu lagi, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Sebelum Tera sempat menganalisis situasi ganjil tersebut dengan logika kedokterannya, sebuah suara gemuruh yang sangat hebat mendadak terdengar dari arah tebing batu di sisi kanan dan kiri mereka.
Brakkk! Duuuaaarrr!
Beberapa bongkahan batu besar berukuran sebesar mobil mini sengaja dijatuhkan dari atas tebing, menghantam permukaan jalan tepat di belakang bus baris paling belakang. Hantaman itu mengunci jalur mundur mereka secara total dalam hitungan detik. Rombongan tim medis itu kini terperangkap sempurna di dalam cekungan lembah sunyi tanpa jalan keluar, baik ke depan maupun ke belakang.
Suasana di dalam bus seketika berubah menjadi kepanikan massal yang luar biasa.
"Kita terjebak! Ada longsor susulan! Tolong!" teriak salah seorang perawat dari arah belakang, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian lembah.
"Tenang semuanya! Tetap di kursi masing-masing! Jangan ada yang keluar!" seru seorang dokter senior mencoba menenangkan massa, meskipun suaranya sendiri bergetar hebat menahan ngeri yang teramat sangat. Para perawat muda mulai menangis ketakutan, saling berpelukan erat di tengah guncangan kepanikan.
Tera mencoba tetap tenang di posisinya, meskipun debaran jantungnya berdegup kencang bagai ditabuh bertubi-tubi. Ia mencengkeram sandaran kursi di depannya, melemparkan pandangan tajam ke arah luar kaca jendela. Otak cerdasnya menangkap kejanggalan yang sangat nyata—pohon yang tumbang di depan memiliki bekas potongan gergaji mesin yang sangat rapi di bagian pangkalnya, bukan tumbang alami akibat angin atau pelapukan.
Ini bukan bencana alam, batin Tera menegang.
Ini adalah sebuah operasi jebakan penyergapan yang dirancang dengan sangat matang dan rapi oleh manusia profesional.
"Dokter Tera, apa yang terjadi di luar?" bisik seorang perawat muda di sampingnya dengan bibir pucat pasi.
"Tetap menunduk," jawab Tera pendek, suaranya ditekan serendah mungkin. "Jangan pancing perhatian mereka."
Dari balik rimbunnya semak-semak hutan pinus di sepanjang lereng tebing, spekulasi Tera terbukti.
Bermunculan puluhan pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam. Wajah mereka ditutupi oleh masker kain hitam, dan di leher mereka yang terbuka, terpampang sebuah tato simbol ular beludak yang sedang menyeringai kejam—Klan Hitam.
Mereka bergerak turun mengepung barisan bus dengan memegang berbagai macam senjata tajam, rantai besi, hingga beberapa pucuk senjata api otomatis laras pendek.
Di barisan paling depan, seorang pria paruh baya dengan bekas luka bakar yang mengerikan di sepanjang wajah sebelah kanannya melangkah maju. Ia memegang sebuah tongkat komando besi berlapis batu hitam. Dia adalah Wakil Ketua Eksekutor Klan hitam, Si Wajah Retak.
Belum sempat pemimpin itu berkata menggunakan pengeras suaranya, ia memberikan isyarat tangan yang dingin kepada tiga anak buahnya.
Brakkk!
Pintu depan bus dihantam keras dari luar hingga engselnya jebol. Tiga orang pria bertubuh kekar dari Klan Viper merangsek masuk ke dalam bus.
Bau mesiu, debu lembah, dan hawa membunuh yang pekat seketika menyeruak masuk, membungkam seluruh jeritan parau di dalam kabin.
"Jangan bergerak! Siapa pun yang maju selangkah, peluru ini akan menembus kepala kalian!" bentak salah satu penyusup yang memegang senapan laras pendek, menodongkan senjatanya ke arah barisan kursi depan.
Suasana berubah menjadi hening yang mencekam. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan dari para perawat.
Pria berbaju taktis yang berada di depan mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh isi bus. Matanya menyusuri satu per satu wajah yang ketakutan, hingga pandangannya berhenti tepat pada sosok Tera yang berdiri kaku di baris tengah.
Pria itu merobek selembar foto dari kantong taktisnya, mencocokkannya dengan wajah Tera.
"Ini dia. Dokter pribadi yang selalu menempel pada si cacat Sean," ucap pria itu dengan seringai sinis di balik maskernya. "Bawa perempuan ini keluar!"
"J-jangan! Apa yang mau kalian lakukan?!" Tera mencoba menarik dirinya mundur, namun ruang di dalam bus terlalu sempit.
Dua orang pria berbaju hitam langsung merangsek maju, mendorong kasar dokter senior yang mencoba menghalangi jalan mereka.
Mereka mencengkeram kedua lengan Tera dengan sangat kuat, membuat Tera meringis kesakitan.
"Lepaskan saya! Saya tidak tahu apa-apa tentang apa yang kalian cari!" seru Tera, berusaha meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman besi yang menjepit lengannya.
"Diam kamu! Ikut kami keluar!" bentak pria itu kasar, menyentak tubuh Tera hingga ia terhuyung ke depan.
"Dokter Tera!" teriak para perawat yang hanya bisa memandang dengan mata berkaca-kaca, terlampau takut oleh moncong senjata yang masih menodong ke arah mereka.
Tera diseret paksa menyusuri lorong bus. Kakinya tersandung beberapa kali pada tas-tas medis yang berserakan di lantai, namun para pria itu tidak peduli.
Mereka membawanya keluar melewati pintu bus yang telah rusak, melempar tubuhnya hingga jatuh berlutut di atas permukaan jalan berkerikil yang dingin dan kasar, tepat di hadapan Si Wajah Retak.
Begitu Tera berhasil dikeluarkan, puluhan anggota Klan Hitam langsung merapatkan barisan di sekeliling bus. Mereka membarikade setiap pintu dan jendela dengan senjata api terkokang dan rantai besi yang dililitkan pada pegangan pintu luar.
"Jaga ketat semua jalan keluar!" perintah salah satu komandan lapangan dengan suara berat.
"Jangan biarkan satu tikus pun lolos dari dalam bus ini!"
Rasa sakit menjalar di lutut dan telapak tangan Tera yang tergores batu. Ia mendongak, menatap langsung pada sosok Si Wajah Retak yang kini menunduk memandangnya seperti seekor predator yang menatap mangsa tak berdaya. Ia mengetukkan tongkat komando besinya ke tanah dengan ritme yang lambat.
"Jadi, kamu adalah mainan baru si cacat Sean?" tanya Si Wajah Retak dengan suara seraknya yang mengerikan. "Wajah yang lumayan untuk seorang dokter. Mari kita lihat, seberapa lama Sean bisa bersembunyi di dalam sana setelah melihat perempuannya berada di tangan saya."
Pria berwajah retak itu kemudian mengangkat sebuah pengeras suara mini. Suaranya menggema nyaring menembus dinding kaca bus yang terkepung rapat, nadanya terdengar sangat dingin, serak, dan penuh dengan kepuasan sadis.
"Seluruh penghuni bus, dengarkan perintah saya! Kami tidak memiliki urusan dengan nyawa murah para dokter dan perawat amatir dari rumah sakit ini. Tujuan kami hari ini hanya satu, menyeret keluar target utama kami, Sean Eagle Nugraha, si keturunan Nugraha yang paling cacat dan lemah!"
Pria itu menjeda kalimatnya, menendang kerikil di dekat kaki Tera sebelum melanjutkan dengan ancaman yang lebih mengerikan.
"Keluar kamu dari persembunyianmu, Sean! Lihat ke depan! Dokter pribadimu sudah ada di tanganku! Jangan coba-coba melarikan diri, karena seluruh bus ini sudah kami jaga ketat tanpa celah. Jika kamu tidak menampakkan batang hidungmu untuk menyerahkan kepalamu, kami akan membakar seluruh bus ini beserta puluhan nyawa dokter muda di dalamnya dalam waktu tiga menit dari sekarang!"
Mendengar nama Sean disebut sebagai target utama pembunuhan berskala besar oleh sekelompok penjahat bersenjata lengkap, Lentera yang berlutut di tanah langsung terpaku kaku dengan mata membelalak sempurna.
Tuan Sean? Mereka mengincar Tuan Sean? Dan mereka bilang, Tuan Sean adalah yang paling cacat dan lemah?
Pikiran Tera mendadak melayang kembali pada rentetan kejadian medis aneh yang melingkupi tubuh Sean—kejang hebat berulang di UGD setahun lalu, hasil laboratorium sarafnya yang menentang teori kedokteran, dan bagaimana aliran hangat dari jemari tangannya selalu dicari oleh pria itu untuk menenangkan gejolak tubuhnya.
Di tengah kepungan maut klan hitam yang mencekam itu, sebuah tabir rahasia besar tentang eksistensi sejati dari pria yang selama ini sering mengganggunya dengan tempe mendoan dan susu hangat akhirnya mulai terkuak secara nyata di depan mata kepalanya sendiri.
Di dalam bus yang terkunci rapat dari luar, kepanikan semakin memuncak. Para dokter senior dan perawat berteriak histeris, menggedor-gedor kaca jendela yang dijaga ketat oleh moncong senapan Klan Hitam.
"Tolong keluarkan kami! Kami mohon!" ratap mereka dari balik kaca.
Tera memejamkan matanya erat, dadanya bergemuruh hebat di antara rasa takut yang mencekik dan tanda tanya besar yang belum terjawab.
Waktu tiga menit mulai berjalan mundur, dan nasib puluhan nyawa di dalam bus kini sepenuhnya bergantung pada keputusan Sean untuk segera muncul.
Jangan lupa Like dan Komennya ya