NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:388k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Acara pertunangan Melisa masih berlangsung ketika Jena kembali ke rumah Tante Sekar.

Ia langsung menuju halaman depan, tempat motor yang tadi dipinjamkannya terparkir. Kondisinya sudah tidak seperti ketika ia membawanya pergi. Beberapa bagian bodi lecet dan terdapat kerusakan akibat benturan.

Jena menyerahkan kunci kepada satpam. “Pak, ini motornya. Maaf, tadi saya mengalami kecelakaan kecil.”

Satpam itu memperhatikan kondisi motor dengan wajah terkejut.

“Saya akan bertanggung jawab, tenang aja. Tolong nanti bawa motor ini ke bengkel. Kalau sudah diperbaiki, minta nota bengkelnya. Bapak datang ke rumah saya, nanti seluruh biaya perbaikannya saya ganti."

Satpam tersebut garuk-garuk kepala, tak bisa berkata apa-apa, mau marah juga gak enak. “Baik, Mbak."

Jena kemudian masuk ke rumah dengan langkah gontai. Semoga aja, gak ada lagi yang nanya soal nikah setelah ini. Sungguh, ia muak sekali.

Begitu melihat putrinya, Bu Asri langsung terperanjat. “Jena?” Tadi saat berangkat bersamanya, Jena masih baik-baik saja. Namun sekarang, pipinya terluka dan bajunya sedikit kotor. “Ya Allah, kamu kenapa? Tadi Mama nyariin kamu gak ketemu, di telepon juga gak bisa."

Jena menghela napas panjang, kemudian menceritakan semuanya. Tentang dirinya yang menabrak gerobak penjual roti bakar, keributan yang terjadi, hingga ponsel dan dompetnya yang hilang.

Bu Asri mendengarkan tanpa menyela.

"Sial banget aku hari ini, Mah." Jena tertunduk lesu. Matanya lalu menatap ke arah Melisa yang sedang melakukan sesi foto dengan tunangannya dan keluarga yang lain. Gadis itu tampak bahagia. Apakah ia cemburu? Tentu tidak. Ia tak ingin berasa di posisi Melisa saat ini.

“Jadi kamu menabrak gerobaknya?”

Jena yang sedang melamun, lalu mengangguk.

“Kalau begitu, kamu harus bertanggung jawab. Bukan cuma mengganti kerusakan gerobak,” lanjut Bu Asri. “Kalau pedagang itu tidak bisa berjualan karena gerobaknya rusak, kamu juga harus memikirkan kerugian selama dia tidak bisa mencari nafkah.”

Jena hanya diam.

“Kamu harus menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.”

Jena mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk. “Iya. Aku akan ganti.”

Nama Bu Asri dan Jena dipanggil, diminta untuk foto bersama.

Meski sebenarnya enggan, Jena tetap menurut, mengikuti Mamanya ke tempat Melisa dan tunangannya yang berdiri di depan dekorasi lamaran.

"Pipi kamu kenapa, Jen?" tanya Melisa.

"Gak Papa. Cuma kecium aspal barusan."

"Makanya buruan cari pacar, nikah, biar ada yang nyium, bukan malah dicium aspal." Melisa tertawa cekikikan.

Jena membuang muka, mendengus kesal, merutuki dirinya sendiri yang salah memilih kosa kata.

Setelah foto bersama, Jena dan Bu Asri berpamitan pada Tante Sekar dan suaminya.

“Jena, kapan nih? Semoga bisa segera nyusul Melisa. Melisa dua bulan lagi menikah. Semoga setelah itu, kamu yang menikah.” Tante Sekar mengusap lengan Jena.

Senyum Jena langsung terasa kaku. Ia hanya membalas dengan senyum kecut.

Begitu masuk ke mobil dan pintu tertutup, wajah Jena langsung berubah. “Harusnya aku nggak perlu ikut acara tadi," gerutunya.

Bu Asri menoleh. “Kenapa sih?”

“Muak, Mah. Semua orang sibuk nanya kapan aku nikah. Seolah-olah hidupku cuma soal menikah.”

Jena menyandarkan kepalanya ke jok. “Datang ke acara pertunangan orang, bukannya menikmati acara, malah ditanya kapan menyusul. Capek.”

Bu Asri tersenyum tipis, faham apa yang dirasakan putrinya. Mobil sudah berjalan, meninggalkan kediaman Tante Sekar.

“Memangnya kamu benar-benar tidak ingin menikah?” Asri mengusap kepala Jena, merapikan rambutnya.

Jena hanya diam.

“Bukan berarti semua laki-laki sama,” lanjut Bu Asri lembut. “Tidak semua laki-laki seperti papa kamu.”

Jena menoleh ke arah jendela. Ada sesuatu yang berubah dalam sorot matanya setiap kali mereka membahas soal Papa.

“Kalau suatu hari ada laki-laki yang benar-benar baik dan bisa membuat kamu merasa aman, jangan langsung menolaknya hanya karena pengalaman masa lalu.”

Jena tetap diam.

“Dan satu lagi,” ujar Bu Asri.

“Apa?”

“Kamu harus belajar menjaga ucapan. Jangan terlalu ketus, apalagi kepada orang yang lebih tua.”

Jena mengerutkan kening.

“Aku memang salah ngomong?”

“Kadang bukan soal kamu benar atau salah. Cara menyampaikannya yang harus diperhatikan. Kamu keselkan, denger orang ngomong gak enak? Tapi kamu gak mau instrospeksi diri, kamu kalau ngomong lebih ngeselin."

Jena terdiam beberapa saat.

"Kamu itu mirip sekali dengan Papa kamu. Kalau ngomong nyelekit, gak ada filternya. Terus satu lagi, sombong. Definisi buah jatuh sepohon-pohonnya."

"Apaan sih Mah, ogah banget disamain sama Papa." Jena mendengus, melipat kedua lengan di dada.

Bu Asri tersenyum. Ia ingat sekali dulu saat kecil, Jena paling suka saat orang bilang, ia mirip Papanya, tapi semua telah berubah. Jena begitu benci, bagitu enggan menikah, karena seseorang yang menyakitinya adalah cinta pertamanya, Papanya sendiri.

...----------------...

Malam itu, H-3 sebelum pernikahan Raka, grup WhatsApp alumni SMA kembali ramai.

Notifikasi masuk tanpa henti.

Jena yang sedang berbaring di kamarnya awalnya berniat mengabaikannya. Namun, rasa penasaran membuatnya akhirnya membuka grup tersebut. Fyi, ponselnya sudah ketemu atas bantuan staf kantor ahli IT.

Satu per satu pesan ia baca. Dan semakin lama, wajahnya semakin masam. Entah sejak kapan, topik pembicaraan kembali berujung pada dirinya.

Dimas : Gue pegang Jena nggak datang.

Aleta : Gue yakin dia datang. Penasaranlah dia.

Selvi : Taruhan seratus ribu, Jena pasti muncul!”

Dimas : Gue taruhan sejuta, dia pasti gak datang.

Nindi : JENARA!!!! Muncul! Lo dighibahin anak sekelas.

Winda : Kalau Jena datang, berarti dia sudah move on. Tapai kalau enggak....

Jena membelalakkan mata.

“Gila…” Ia menggertakkan gigi. Bisa-bisanya mereka menjadikan dirinya bahan taruhan.

Bukan kesal pada Raka yang akan menikah, Jena justru muak karena teman-temannya seolah menganggap kehadirannya di acara itu sebagai tontonan.

Seseorang bahkan menulis:

Silvi : Kita lihat aja nanti. Jena berani datang nggak?”

Rahang Jena langsung mengeras. Jarinya bergerak cepat di atas layar. Tanpa berpikir panjang, ia mengetik:

Aku akan datang.

Ia menatap pesan itu selama beberapa detik. Lalu, dengan geram, menekan tombol kirim. Pesan tersebut langsung muncul di grup.

Jena: Aku akan datang.

Hening.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun pesan baru.

Jena menyeringai tipis. “Nah. Puas kalian?”

Namun belum sempat ia meletakkan ponselnya, notifikasi kembali berdatangan.

Nindi : WOY JENA MUNCUL!

Winda : Serius lo datang?

Silvi : Taruhan gue menang!

Adam : Fix, pernikahan Raka bakal seru!

Senyum Jena langsung lenyap. Ia menatap layar dengan kesal sekaligus panik. “Kenapa aku malah ikut-ikutan…” Menggigit bibir bawah, gelisah.

Ia menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur. Tiga hari lagi, ia akan datang ke pernikahan Raka. Dan mungkin disana, ia bakal jadi pusat perhatian nantinya.

Namun, keputusannya untuk datang justru membawanya pada sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.

Grup WhatsApp kembali ramai setelah pesan Jena muncul. Mereka seolah mendapat bahan baru untuk menggoda, teman-temannya langsung menyerbu.

Silvi : Jena datang sendirian atau bawa pacar?

Dimas : Nah, ini yang gue tunggu. Jangan-jangan datang sama cowok. Jen, dulu gue sempet naksir lo loh.

Winda : Pasti bawa pacar lah. Masa cewek secantik Jena nggak punya pacar? Gue aja yang dulu cuma dianggep remahannya Jena, udah nikah dan punya anak.

Aleta : Setuju. Dari dulu Jena paling cantik seangkatan kita. Mana mungkin sampai sekarang jomblo?

Jena yang membaca pesan-pesan itu hanya mendengus. “Lebay.” Ia hendak keluar dari grup ketika sebuah pesan baru muncul.

Singkat. Tanpa emoji, tanpa candaan. Namun justru kalimat itulah yang membuat jari Jena berhenti bergerak.

Diandra : Emang Jena punya pacar??? Kalau punya, kok belum nikah sampai sekarang?

Jena terdiam. Dadanya terasa sesak seketika.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menusuk daripada semua candaan sebelumnya. Ia seperti dinilai tak laku.

Beberapa detik kemudian, pesan-pesan baru mulai bermunculan, tapi ia sudah enggan membaca.

Jena menarik napas panjang, kemudian mengunci layar ponselnya. “Kenapa sih… hidup orang selalu diukur dari pernikahan?”

1
jumirah slavina
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

hilihhhhhhhh🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻👻

JeJen : hhuuaaaaaaaaaaaaaa

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
dengerin kata senior Jen

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ila Lee
kenapa salah menikahi dengan pejual roti bakar yg penting rajin berusaha suap Thu satu hari budi akan menjadi usahawan berjaya punya kedaj2 roti byk cawangan pam andika🙏
jumirah slavina
sini ya Aku kasih tau...
ini rahasia lo.. krn Kamu Suami Istri jadi Aku kasih tau🤭🤣

HO'A HO'E aja tar langsung ketiduran dah
jumirah slavina
krn dia mo grepe² Kamu takut Kamu gampar

🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🤣🤣🤣🤣🤣

Budi : Jumiiiiiiii

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
susu yang mana bud! susu sachet apa susu yang lain 🤭 kalau kamu langsung tanya susu , kan jadi salah faham? 😂
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
belum tahu yaa pak? mereka berdua kan mau malper di dapur 🤣 kalau di kamar mah sudah biasa, kalau di dapur kan luar binasaa rasanya 🤣 kalau perlu mereka mau melakukan malperr di setiap sudut rumah 🤣 kalau bapak mau...kan bisa ikutan malper sama bu asri. siapa tahu jena punya adik dan siapa tahu malah bu asri hamill anak laki2 kan jadinya aset bapak, jatuh ke tangan anak sendiri tho? 😆
online reader
🤣
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
kata siapa jen! Gendut kalau sehat tak maslaah jen 😆 daripada kurus tapi asam lambung, cacingann 🤣 lagian mau gendutt mau kuruss, kalau budi cinta kamu bisa apa? karena cinta budi sama kamu tuluss ( katanya) 🤣
Ila Lee
wah budi dikenal kN sebagai calon suami betul2 gila si jena🤣🤣🤣
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
lagian anehhh kalian berdua 🤣 ada teman bobok malah bengong! malah saling diam. ngobroll apa gitu kek? apa keluar motoran apa main monopolii gitu, apa cerita tentang masa kuliah atau masa kecil , biar lebih dekat. jangan malah cuma diam 🤭 kalian kan sebenarnya belum slaing kenal secara mendalam? jadi manfaatkan waktu yang ada , untuk bisa slaing mengenal dan menumbuhkan rasa. meski aku tahu, budi sudah lama jatuh cinta sama jena. tapi jena kan belum tahu dan selama ini jena menganggap cinta itu hanya Ilusii 🤭 padahal cinta itu ada jika kamu menikah dengan laki2 yang bener2 bisa perduli dan meratukan kamu jen.
yutantia 10
idemu bagus kak, tapi mereka gak mau, takut kamu intipin 🤣
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
pasti mereka bingung mau ngapain? kalau bingung mau ngapain dan enggak bisa bobok, kenapa enggak nyoba main ularr tangga sihh! yang kalah copott baju , smpai akhirnya enggak pakai apa2 gituu 🤭 daripada bengong , malah dengan pemikiran masing2 yaa lebih baik menghidupkan suasana supaya lebih hidupp dan hangatt gitu lhohh 😆 kalian sama2 pemulaa jadi nyaa yaa kurang strategi 🤣
Ari Atik
ya tuhan kalian ....
bikin ortu salah faham saja....
kn papa jadi pengen juga ...🤭😁
Ila Lee
bantu jdi pacar aku mula 2 pura2 lama2 jatuh cinta ya jena😍😍😍😍😍
Ari Atik
sebenarnya jena juga dah punya rasa, tapi malu/ego saja yg tinggi..
Ari Atik
kalian.....
🤣🤣🤣
Ila Lee
bagus cari yg lain bukan angga bukan juga dion🤣🤣🤣
Humaira
terlalu dalam maaakk 😍😍😍😍
Ila Lee
takut ya pelakor dulu jau rampasan andika dari Bu asri tak ingat sekarang rasa kN jika benar2 andika menikah lagi kampus kau Juwita🤭🤭🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!