"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 | AIR MATA DI ATAS ASPAL
Air mata Aleeza tumpah semakin deras, membasahi pipinya tanpa bisa dikendalikan. Langkah kakinya terasa sangat berat meninggalkan gerbang vila tempat Julian bersembunyi di balik topeng kebutaan palsunya.
Bodoh! Aku benar-benar wanita paling bodoh di dunia ini! rintih Aleeza dalam hati, memukul dadanya sendiri yang terasa amat sesak.
Selama berbulan-bulan, ia hidup dalam rasa bersalah yang teramat kelam. Ia merelakan harga dirinya diinjak-injak, membiarkan dirinya diancam, dikurung, dan dijadikan mainan oleh seorang billionaire arogan seperti Austin Vanderbilt semuanya demi menebus dosa masa lalu yang ternyata hanyalah sebuah kebohongan busuk. Julian tidak pernah cacat. Pria itu sengaja memasang perangkap emosional agar Aleeza tidak pernah bisa lepas dari sisi hidupnya.
Aleeza menyetop sebuah taksi di pinggir jalan raya, lalu masuk ke dalam dengan tubuh yang masih gemetar hebat.
"Ke mana kita, Nona?" tanya sang sopir taksi melirik dari kaca spion.
"Jalan saja ke mana pun asal menjauh dari tempat ini!" suara Aleeza parau, tercekat di tenggorokan.
Ia menyandarkan kepalanya di kaca jendela taksi yang mulai berembun. Pemandangan kota Madrid berlalu begitu cepat di luar sana, secepat hancurnya seluruh prinsip hidup yang selama ini ia pegang teguh.
Lantas, apa arti pengorbananku selama ini? Apa arti ciuman-ciuman itu? Apa arti ancaman Austin?! teriak batin Aleeza frustrasi.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah mobil sedan sport mewah berwarna hitam legam melaju dengan kecepatan tinggi, lalu memotong jalur taksi yang ditumpangi Aleeza secara agresif hingga sopir taksi membanting setir dan mengerem mendadak!
CIIIIT—!
"Hei! Apa-apaan pengemudi gila itu?!" maki sang sopir taksi terkejut, mengelap keringat dingin di keningnya.
Aleeza yang hampir terbentur dashboard mobil mengangkat kepalanya. Napasnya memburu, siap melontarkan amarah. Namun, begitu pintu mobil mewah di depan mereka terbuka dan sosok tinggi berjas rapi melangkah keluar dari balik kemudi, amarah Aleeza mendadak menguap, digantikan oleh kejut luar biasa.
Austin Vanderbilt.
Pria itu berdiri di tengah jalan raya di bawah pendar lampu jalan, mengabaikan klakson kendaraan lain yang mulai bersahut-sahutan. Dengan langkah pasti dan sorot mata elang yang menyala tajam, Austin berjalan mendekati taksi yang ditumpangi Aleeza, lalu mengetuk kaca jendela dengan buku jarinya.
Sopir taksi menoleh ragu pada Aleeza. Dengan tangan bergetar, Aleeza menurunkan kaca jendela taksi.
"Keluarlah dari taksi itu, Aleeza," perintah Austin dingin namun mutlak, suaranya mengalun tegas menembus keheningan malam.
Aleeza menatap pria itu dengan mata sembab dan bulu mata yang masih basah oleh air mata. "A-Apa yang kaulakukan di sini?! Bukankah kau masih di Vietnam?!" pekik Aleeza serak.
Austin tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu membuka pintu taksi secara paksa, menyambar pergelangan tangan Aleeza, dan menarik tubuh gadis itu keluar dari dalam taksi tanpa ampun.
"Aww! Lepaskan aku, El Oso sialan! Apa-apaan ini?!" ronta Aleeza histeris, berusaha melepaskan diri di hadapan pengemudi taksi yang menonton dengan mulut ternganga.
"Kau menangis," bisik Austin tajam begitu tubuh Aleeza sudah berada dalam dekapannya, mengabaikan seluruh perlawanan gadis itu. Sorot mata biru Austin melembut sekejap, namun berubah menjadi gelap gulita saat menatap pipi Aleeza yang basah oleh air mata. "Siapa yang membuat Mawar Berduri milikku menangis seperti ini, hancur berkeping-keping?"
Mendengar kata-kata itu, pertahanan terakhir Aleeza runtuh total. Alih-alih memukul atau menampar dada bidang Austin seperti biasanya, Aleeza justru membenamkan wajahnya di dada tegap sang billionaire, menangis sejadi-jadinya di pelukan pria yang selama ini menjadi musuh sekaligus tempat paling aman baginya.
Austin tertegun. Namun dalam detik berikutnya, ia mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Aleeza dengan penuh kepemilikan, berbisik lembut di tengah riuhnya jalanan kota Madrid:
"Menangislah sepuasmu, Mi Amor Karena mulai detik ini, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang boleh menyakitimu selain aku."
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!