Di Benua Sembilan Provinsi, kekuatan adalah satu-satunya hukum yang diakui. Lin Xuan, pewaris muda Klan Lin yang lahir dengan Tulang Kaisar Kuno, dikhianati pada malam upacara kedewasaannya. Tetua Agung klan bekerja sama dengan sepupunya, Lin Haotian, dan tunangannya dari Sekte Pedang Bulan, Su Qingxue, untuk merobek Tulang Kaisar dari tubuhnya secara hidup-hidup. Dengan meridian yang hancur dan tubuh yang dibuang ke Jurang Tulang Iblis, Lin Xuan seharusnya mati menjadi santapan binatang buas.
Namun, darah pantang menyerah dan kebencian yang membakar jiwanya memicu bangkitnya artefak misterius dari era sebelum penciptaan langit: Sistem Penakluk Takdir (Fate Conqueror System). Sistem ini memiliki satu hukum mutlak: rampas takdir musuh untuk membangun tahta sendiri. Setiap musuh yang dibunuh dan setiap faksi yang dihancurkan oleh Lin Xuan akan diekstrak menjadi Esensi Kultivasi Murni, Bakat Spiritual, dan Fragmen Hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Hadiah Pertunangan Berupa Dua Kepala
Matahari pagi menyinari kemegahan Aula Utama Klan Lin di jantung Kota Awan Merah.
Ribuan kain sutra merah dan lentera emas tergantung di sepanjang jalan utama menuju kediaman klan. Hari ini adalah hari yang paling dinantikan oleh kubu Tetua Agung Lin Zhen: perayaan keberhasilan Lin Haotian menyatu dengan Tulang Kaisar Kuno, sekaligus upacara pertunangan resminya dengan murid inti Sekte Pedang Bulan, Su Qingxue.
Di dalam halaman raksasa Aula Utama, ratusan meja perjamuan dari kayu cendana merah telah dipenuhi oleh para tokoh terkemuka Kota Awan Merah.
Di deretan kursi kehormatan paling depan, duduk Gubernur Kota Awan Merah, Chu Tianhe (praktisi Ranah Fondasi Roh Tingkat 1), Kepala Klan Wang, Wang Ba (Pembukaan Meridian Tingkat 9), serta tamu paling terhormat hari itu—utusan resmi dari Sekte Pedang Bulan, Tetua Luar Luo Feng, seorang pakar Ranah Fondasi Roh Tingkat 2 yang mengenakan jubah perak bersulam pedang!
"Haha! Selamat kepada Tetua Agung Lin!" seru Gubernur Chu Tianhe sambil mengangkat cawan anggurnya. "Mulai hari ini, Klan Lin tidak hanya memiliki jenius bertulang kaisar seperti Tuan Muda Haotian, tetapi juga menjalin ikatan pernikahan dengan Sekte Pedang Bulan! Kedudukan Klan Lin di Kota Awan Merah kini benar-benar tak tergoyahkan!"
Tetua Agung Lin Zhen tersenyum lebar di atas panggung utama. Meski di dalam hatinya ia sempat gelisah karena belum ada kabar dari Tambang Batu Spiritual sejak tadi malam, kehadiran Tetua Luar Luo Feng dari Sekte Pedang Bulan membuatnya merasa sangat aman.
"Gubernur Chu terlalu memuji," ucap Lin Zhen dengan dada membusung bangga. "Setelah upacara ini selesai, Haotian dan Qingxue akan langsung berangkat menuju Gunung Pedang Bulan bersama Tetua Luo!"
Tepat pada saat itu, suara lonceng giok berdentang tiga kali.
Dari balik tirai sutra emas di belakang panggung, pasangan pengantin hari itu melangkah keluar dengan penuh wibawa.
Lin Haotian mengenakan jubah merah keemasan bermotif naga terbang. Wajahnya tampak angkuh luar biasa, dan di setiap langkah kakinya, terpancar gelombang Qi berwarna emas samar dari dalam dadanya—pertanda bahwa Tulang Kaisar Kuno yang ia rampas dari Lin Xuan telah menyatu sebagian dengan tubuhnya, mendorong kultivasinya ke puncak Pembukaan Meridian Tingkat 9 (Setengah Langkah Fondasi Roh)!
Di sampingnya, Su Qingxue tampil memukau dalam balutan gaun pengantin berwarna perak kemerahan, dengan ekspresi dingin yang memandang rendah seluruh tamu dari kota kecil tersebut.
"Lihatlah aura keemasan di tubuh Tuan Muda Haotian! Itu benar-benar kekuatan Tulang Kaisar Kuno!"
"Kudengar tulang itu dulunya milik bocah Lin Xuan yang jatuh ke Jurang Tulang Iblis, tapi di tangan Tuan Muda Haotian, cahayanya jauh lebih bersinar!"
Mendengar bisik-bisik kagum para tamu, sudut bibir Lin Haotian terangkat tinggi. Ia menggenggam tangan Su Qingxue di tengah panggung, lalu menoleh ke arah Tetua Luar Luo Feng.
"Tetua Luo, para tamu sekalian! Terima kasih telah hadir di hari bahagiaku dan Qingxue," seru Lin Haotian dengan suara lantang yang dilapisi Qi Sejati. "Ada rumor konyol beberapa hari ini bahwa hantu dari seorang sampah yang telah kubuang ke jurang berani membuat onar di Kota Awan Merah. Hari ini, aku menyatakan di hadapan langit dan bumi: siapa pun yang berani menghalangi kebangkitanku akan bernasib sama seperti sampah itu!"
Namun, belum sempat tepuk tangan para tamu bergema—
DUAAAAARRR!!
Gerbang besi berlapis perunggu seberat sepuluh ribu kati di pintu masuk halaman Aula Utama tiba-tiba meledak dari luar!
Kedua daun pintu raksasa itu terbang melayang melewati kepala ratusan tamu undangan dan menghantam tiang panggung utama hingga runtuh sebagian! Empat penjaga gerbang yang berdiri di balik pintu langsung hancur menjadi kabut darah di bawah tindihan pintu besi tersebut!
Suasana pesta yang tadinya meriah seketika berubah menjadi kepanikan luar biasa. Para tamu melompat dari kursi mereka dengan wajah pucat pasi.
"Siapa yang berani membuat keributan di acara pertunangan Klan Lin dan Sekte Pedang Bulan?!" bentak Tetua Agung Lin Zhen sambil berdiri dengan mata melotot murka.
Dari balik kepulan debu di ambang gerbang yang hancur, terdengar suara langkah kaki yang tenang, teratur, dan dingin.
Dua sosok melangkah masuk melewati genangan darah.
Di sebelah kiri adalah Mo Wuji, yang memancarkan tekanan Ranah Fondasi Roh Tingkat 3 tanpa disembunyikan sedikit pun. Dan di sebelah kanan adalah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun berjubah hitam legam, dengan sebilah pedang panjang hitam bergaris merah di punggungnya.
"Lin... Lin Xuan?!"
Su Qingxue menutup mulutnya dengan mata terbelalak lebar, sementara wajah Lin Haotian langsung mengeras seperti besi.
"Sepupuku yang baik, bukankah kau baru saja menyebut namaku?"
Lin Xuan tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya yang sedingin es abadi.
"Kudengar hari ini adalah pesta pertunanganmu dengan mantan tunanganku. Sebagai sepupu yang pernah kau congkel tulangnya secara hidup-hidup, tentu tidak sopan jika aku datang dengan tangan kosong," ucap Lin Xuan sambil mengayunkan tangan kirinya.
Dua benda bundar berlumuran darah melayang membentuk busur di udara, lalu jatuh menggelinding di atas karpet merah panggung utama—berhenti tepat di depan ujung sepatu Lin Haotian dan Su Qingxue!
Saat melihat jelas kedua kepala manusia dengan mata terbelalak itu, seluruh aula terdengar menarik napas dingin secara bersamaan!
"Adik Kedua Lin Kuan?!" jerit Tetua Agung Lin Zhen dengan suara pecah.
"Kakak Senior Zhou Yan?!" Su Qingxue mundur dua langkah hingga hampir terjatuh, wajah cantiknya berubah sepucat kertas mayat. "Kau... kau membunuh Kakak Senior Zhou Yan dari Sekte Pedang Bulan?!"