NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22 Lelaki Simpanan?

Lima belas menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti dengan mulus di depan lobi sebuah restoran. Seorang pria bertubuh tinggi tegap keluar dari kursi penumpang.

Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dijahit pas menempel di tubuh atletisnya. Wajahnya yang rahangnya tegas tampak sangat tampan, pembawaannya tenang namun mematikan. Auranya begitu berkelas, hingga beberapa pengunjung wanita di lobi tanpa sadar menoleh dan berbisik kagum.

Pria itu adalah Tristan.

Ia melangkah masuk ke dalam restoran. Begitu waiters menyapanya, Tristan langsung meminta meja di area outdoor yang terlindung kanopi kaca, tepat di dekat batas jalan, tempat yang sangat terekspos.

Tak lama kemudian, Kirana datang.

"Maaf membuatmu menunggu lama," sapa Kirana lembut.

"Tidak apa-apa, Nona. Saya baru saja tiba," jawab Tristan kaku.

Kirana berdecak pelan, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tristan, ingat kesepakatan kita di telepon tadi. Mulai detik ini, dan selama kita berada di tempat umum, jangan panggil aku Nona."

Tristan terdiam sejenak, jakunnya naik turun sebelum ia mengangguk mengerti.

"Baiklah Kirana."

Baru saja Kirana hendak duduk, ekor matanya menangkap sebuah pantulan dari kaca jendela di sebelahnya. Di seberang jalan, tersamar oleh bayangan pohon rindang, motor sport hitam itu masih terparkir. Pengendaranya tampak sibuk mengawasi dari balik helm yang kacanya sedikit terbuka.

"Anjing pelacak itu ternyata masih setia mengikuti," gumam Kirana pelan, memastikan hanya Tristan yang bisa mendengarnya. "Lakukan tugasmu sekarang."

Tristan menatap wajah Kirana lekat-lekat, lalu menghela napas panjang yang terdengar pasrah.

"Benarkah harus sampai seperti ini? Maksud saya, apakah adegan fisik benar-benar diperlukan?"

"Kamu sudah berjanji akan membantuku, Tristan," pancing Kirana. "Atau bawahan terbaikku ini ternyata payah dalam berakting?"

"Baiklah. Jika itu yang anda inginkan."

Tristan menegakkan tubuhnya. Pria dingin itu mengambil langkah maju, mengikis jarak di antara mereka. Tiba-tiba saja, lengannya yang kokoh merangkul pinggang Kirana dengan luwes. Kemudian, ia menunduk dan mengecup pelan kedua pipi Kirana secara bergantian.

Di seberang jalan, pria yang diutus oleh Ardy nyaris terjungkal dari jok motornya.

"Astaga, nona Kirana selingkuh?" gumamnya dengan mata membelalak lebar.

Tanpa membuang waktu, pria itu buru-buru merogoh saku jaketnya, menarik keluar ponselnya, dan langsung mengaktifkan kamera dengan lensa zoom maksimal.

Momen ciuman pipi yang tampak sangat mesra itu berhasil ia abadikan.

Setelah adegan pembuka yang sempurna itu, Tristan dengan sengaja memegang punggung kursi, menariknya mundur, dan mempersilakan Kirana duduk layaknya seorang gentleman sejati yang sangat memuja pasangannya.

Meski dari luar mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara dalam sebuah kencan romantis siang bolong, kenyataan dari obrolan mereka sungguh berbanding terbalik.

"Jadi, bagaimana perkembangan perusahaan itu?" tanya Kirana.

"Semuanya berjalan dengan sangat baik. Tangan kanan saya sudah menyuap dua dewan direksi. Kapan anda akan kembali ke perusahaan utama dan mengambil alih secara terang-terangan?"

"Tidak untuk sekarang," jawab Kirana, tertawa kecil sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.

"Aku mau bermain-main dulu. Aku mau merebut semua proyek tender milik suamiku dari belakang, membuatnya bertekuk lutut, lalu membuatnya jatuh miskin tak tersisa!"

Mendengar rencana kejam yang dibalut senyuman malaikat itu, Tristan hanya bisa menggeleng pelan.

"Sepertinya kita sedang diperhatikan dengan sangat intens dari luar. Kilatan lensa kameranya bahkan sampai kemari."

Kirana meraih gelas air putihnya, tersenyum tanpa menoleh sedikit pun ke arah jalanan.

"Biarkan saja dia memotret sampai memori ponselnya penuh. Itu memang tujuanku hari ini."

Tak lama kemudian, makanan pesanan mereka pun datang.

Tristan tidak langsung memakan bagiannya. Pria itu menarik piring Kirana ke hadapannya. Dengan pisau dan garpu, ia memotong daging steak itu menjadi bagian-bagian kecil yang seukuran gigitan. Setelah selesai, ia menusuk satu potongan daging yang paling empuk lalu menyodorkan garpu itu tepat ke depan bibir Kirana.

"Silakan," ucap Tristan.

Kirana sedikit mengernyit, menatap garpu itu dan wajah Tristan bergantian.

"Harus sejauh ini, Tristan? Memotongkan daging dan menyuapiku di tempat umum?"

"Anda yang meminta aku berakting menjadi simpanan idaman, bukan?" balas Tristan santai, alisnya terangkat sebelah. "Kalau ingin terlihat meyakinkan di depan kamera mata-mata itu, ya memang harus begini. Buka mulutmu."

Kirana akhirnya mengalah karena logika pria itu benar. Sambil terkekeh pelan, ia membuka mulut dan menerima suapan daging itu.

Belum cukup sampai di situ, saat Kirana tersedak kecil dan hendak mengambil segelas air, Tristan dengan sigap menyentuh dan menggenggam lembut punggung tangan wanita itu di atas meja.

"Pelan-pelan," tegur Tristan, menatap langsung ke dalam mata Kirana.

Di luar sana, pria suruhan Ardy hampir melompat kegirangan di atas motornya.

"Bagus! Ini dia jackpotnya!" serunya.

Foto demi foto terus memenuhi galeri ponselnya. Mulai dari adegan cium pipi, Tristan memotongkan makanan, menyuapi Kirana, hingga momen di mana tangan besar Tristan menggenggam erat tangan kecil Kirana sambil saling bertatapan dalam. Sayangnya, karena jarak yang terlalu jauh dan terhalang kaca, ia hanya bisa melihat gerak-gerik mereka tanpa mampu mendengar satu patah kata pun isi pembicaraannya.

Yang tampak di matanya hanyalah kenyataan pahit bagi majikannya, seorang pria mapan, berkelas, dan luar biasa tampan yang memperlakukan Kirana layaknya seorang ratu.

Tanpa basa-basi lagi, pria itu segera menyortir lima foto terbaik dan paling mesra, lalu mengirimkannya langsung ke nomor pribadi Ardy.

[Pak Ardy, laporan dari lapangan. Saya menemukan istri Bapak sedang makan siang berdua dengan seorang pria di sebuah restoran mewah. Mereka terlihat sangat mesra dan intim. Pria itu mencium pipi istri anda, memotongkan daging dan menyuapinya makan, bahkan beberapa kali menggenggam tangannya di atas meja. Maaf, saya tidak bisa mendengar pembicaraan mereka karena posisi saya terlalu jauh dan harus bersembunyi. Instruksi selanjutnya, Pak?]

Di kursi kebesaran, Ardy duduk dengan wajah ditekuk seraya memutar-mutar pena mahalnya dengan perasaan jengkel karena pikirannya sedari tadi terus melayang memikirkan Kirana yang keluar rumah pagi tadi.

Ponsel Ardy yang tergeletak di atas meja kaca bergetar.

Melihat nama anak buah yang ia tugaskan untuk membuntuti istrinya tertera di layar, Ardy langsung meraih benda pipih itu tanpa curiga. Ia membuka kunci layar, bersiap membaca laporan bahwa istrinya paling hanya pergi ke salon atau arisan bersama teman-teman wanitanya.

Namun, sesaat setelah ia membaca pesan teks itu dan menggeser layar untuk melihat unduhan foto pertama, jantung Ardy seolah berhenti berdetak.

Wajahnya yang sedingin es seketika berubah kaku.

Foto pertama, terlihat jelas seorang pria bertubuh tegap dalam balutan jas abu-abu sedang merangkul pinggang istrinya dan mengecup pipi Kirana.

Ardy menggeser layarnya dengan jemari gemetar.

Foto kedua, pria itu menyuapi istrinya. Foto ketiga, istrinya tersenyum lebar menatap pria itu. Senyum tulus yang sudah tidak pernah Kirana berikan padanya!

Tangan Ardy yang memegang ponsel mengepal begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang seolah akan meledak. Tatapannya terpaku tajam bak laser pada wajah pria asing yang berani-beraninya menyentuh miliknya.

"Apa dia lelaki simpanan Kirana?"

1
Manis
🤭🤣🤣🤣🤣
Manis
I like Thor
Manis
mantapp
puas banget akuu
Manis
mengsedihhh
Jamilah Hidirmanto
ceritanya keren banget 👍😍🤭🤣🤣🤣
evana gusani
baru mampir
Fiya
🤣🤣🤣🤣
Dini
ceritanya bagus,,alur nya jelas semangat terus berkarya thor /Good/
Nunuy Aja
Ardi bloon, emaknya yg eror diikutin
Anra Pattiwael
tdk setuju thoor anak Siska di adopsi SM Kirana🤒
Nunuy Aja
emang enak,makan tuh kesombongan
Dini
bener"..apa msh ada jaman sekarang wanita kaya kirana?
Riski pasaribu pasaribu
Hai semuanya 🖐️Mampir dong di Novelku "Pasha dan Rani " kisah cinta 2 remaja yg tumbuh dibangku SMA.
Yeyet Rohaeti
ayok Rana kuras habis uang di ardi
Yeyet Rohaeti
lanjut thor
Khusnul Khotimah
luar biasa /Heart//Heart/
Ayla Anindiyafarisa
aku sudah menebak sih kalau Tristan ini anak orang kaya
Ayla Anindiyafarisa
oala masih belum sadar juga tu emak
Risa Ristiani
ya kalo ngomongnya sama Ardi yg di bicarain siapa lagi ya Kirana lah 😆 oon semua😄
Ayla Anindiyafarisa
manusia manusia aneh pengen kaya tapi g mau kerja pengennya ngerampok harta orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!