Bagi Krittin, pernikahan ini bukanlah tentang cinta—melainkan tentang balas dendam. Bertahun-tahun ia menyimpan kebencian mendalam terhadap keluarga Velora, yang dianggapnya telah menghancurkan keluarganya dan merampas segalanya darinya. Kini, dengan perjodohan yang dipaksakan demi kepentingan bisnis, Krittin melihat ini sebagai kesempatan emas untuk membalas semua rasa sakitnya.
Velora, di sisi lain, tidak pernah memahami mengapa Krittin selalu dingin dan penuh kebencian terhadapnya. Ia menerima pernikahan ini dengan harapan bisa membawa kedamaian bagi keluarganya, tetapi yang ia dapatkan hanyalah suami yang memandangnya sebagai musuh.
Ruang hati sang kekasih adalah kisah tentang pengkhianatan, luka masa lalu, dan perjuangan antara kebencian dan cinta yang tak terelakkan.
bagaimana kisah mereka? yuk kepoin kelanjutan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yarasary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
" Velora. "
Panggilan Aiden tak membuat wanita itu bergerak, tatapan matanya lurus melihat sebuah tebing curam yang terlihat memiliki keunikan dengan bentuk pecahan-pecahan alami dengan dihiasi lumut hijau.
" Kau menyukai pantai? "
Kepala Velora tertarik melihat ke samping, menggeleng lalu kembali menatap ke depan, "hanya menyukai tempat yang tenang, kalau boleh bilang aku sebenarnya lebih suka danau."
" Apa bedanya. "
" Entah, " Velora mengedikkan bahu, " Tak ada alasan, hanya itu yang ada di pikiran ku. Memiliki rumah sederhana di dekat danau, dan taman bunga mawar yang lebat. "
Aiden tersenyum, "apa kau sedang menceritakan rumah impian mu? "
" Rumah hayalan ku lebih tepatnya. "
Karena rumah impian ku tidak akan pernah berharga semenjak rumah tangga ku berantakan.
Velora berbalik, mendekati mobil dan berbicara pada Aiden yang masih tak bergerak dari tempat nya namun dengan tatapan tertuju ke arah Velora "bukankah kita akan pergi? Kenapa masih di sana? "
"Aku pikir kau ingin tinggal lebih lama. " Aiden menjawab sambil berjalan memasuki mobil.
" Maaf, aku tidak bisa memberi mu saran apapun. " Ucap Velora karena sejak tadi meski ada banyak gambaran dari arsitektur pilihan Aiden, ia tetap tak memiliki ide yang menarik untuk di utarakan karena memang semua yang ia lihat sudah sangat menakjubkan.
" Tidak apa-apa, kamu bersedia mengikuti ku sudah sangat membantu. " Tangan Aiden bergerak lincah membantu memasangkan seatbelt di tubuh Velora, abaikan ekspresi wanita itu yang ingin berkata ia bisa melakukan sendiri dan merasa canggung dengan jarak tubuh yang begitu dekat.
" Ini hampir jam makan siang, bagaimana kalau kita cari restoran dulu setelah itu pulang. " Tawar Aiden, mulai menjalankan mobil melewati jalan bebatuan yang tak terlalu banyak kendaraan lewat hingga tak lama mobil menapaki jalan aspal yang lebih mudah di lewati.
" Mungkin sebaiknya aku langsung pulang, "
" Ayolah lora, kau sudah mau membantu ku, jadi biarkan aku mentraktir mu makan siang untuk membalas nya. "
" Anda sudah terlalu banyak memberi balasan tuan, apa anda tidak ingat makanan yang anda bawa ke panti? " Velora berkata meyakinkan namun hanya di balas kekehan kecil oleh Aiden.
" Itu beda lora, sebentar saja, oke. " Pinta Aiden tak mau mengalah.
Velora yang merasa tak tega hanya bisa menyanggupi, menikmati perjalanan mereka dengan suara musik bertentum keras di radio hingga Velora tak sadar jika sudah hampir satu jam terduduk di dalam mobil.
" Kita sampai. " Seru Aiden, melepas seatbelt milik nya dan hendak membantu Velora tetapi tangan wanita itu lebih cepat menyelesaikan nya.
" Apa ini tidak terlalu mewah? " Velora bertanya sambil mengamati bangunan dengan tiga belas lantai yang menjulang tinggi di hadapan nya, bukan berarti Velora tak pernah menginjakkan kaki di restoran mewah manapun, hanya saja semenjak menikah dengan Krittin Velora sangat jarang bepergian ke luar, apalagi hanya untuk makan.
" Kau bisa memesan sepuasmu nanti, jangan sungkan. " Mengajak Velora masuk dengan tangan yang bergandengan. Tapi belum dua langkah ia maju, kaki nya harus terhenti karena seseorang menahan tangan nya.
"bisakah kita berjalan biasa saja, a-aku... Aku hanya merasa tak nyaman jika di lihat banyak orang. " Tatapan Velora mengelilingi sekitar, dan benar saja banyak yang tengah menatap ke arah mereka sekarang.
Tidak tahu apakah mungkin ada yang mengenal salah satu dari mereka, hanya saja yang bisa Aiden tangkap dari tatapan orang-orang di sana adalah tatapan takjub seolah mereka tengah memuja jika pasangan pria wanita itu terlihat begitu serasi. Bahkan Aiden sempat melirik kemeja nya sendiri yang entah kenapa terasa begitu kebetulan dengan dress milik Velora, seperti mereka sengaja memakai sepasang baju couple untuk berkencan.
" Baiklah. " Aiden tak keberatan, menjejerkan langkah nya dengan Velora sampai mereka tiba di ruang VIP lantai tiga.
" Pilih saja apa yang ingin kau makan, ingat jangan sungkan lora. "
Velora mengangguk, mulai menelusuri setiap menu yang tersedia namun matanya terasa perih saat melihat angka yang berjejeran di bawah nya, " Gnocchi dan Polenta. "
" Itu saja?" Tanya Aiden meyakinkan.
" Yah, mungkin itu tidak akan habis. "
" Kau bercanda, " Aiden mengangkat tangan, tak lama seorang pelayan datang untuk menerima pesanan, " Minum nya? "
Velora yang semula menunduk melihat ponsel nya, langsung kembali mengangkat pandangan, " Air putih saja. "
Ekspresi Aiden terlihat jelas tak mempercayai, seolah ia berkata 'kau serius hanya itu, ini restoran mahal Velora' tapi tak mengatakan langsung dan memilih melakukan kehendak nya sendiri dengan memesan berbagai menu lainnya.
" Aiden, seperti nya aku butuh toilet. " Ucap Velora melempar pandangan ke kanan dan kiri karena tak tahu di mana tempat toilet berada di gedung restoran itu.
" Mau ku antar? " Sedang Aiden menawarkan dengan senang hati, tak menyadari ada yang salah dengan kalimat yang berisi tiga kata itu.
Velora menggeleng cepat, " Tidak. Aku akan bertanya pada karyawan yang di sana. " Ucap nya, menunjuk seorang karyawan wanita yang tengah berdiri di samping pintu ruangan dengan tangan bersampir kain putih.
" Baiklah hati-hati, aku akan menyusul mu jika lebih dari sepuluh menit. "
Velora bangkit,bertanya dengan bibir tersenyum lebar, " Apa harus seperti itu? "
" Tentu saja, aku harus bertanggung jawab karena aku yang membawa mu ke sini. "
" Tenang saja, ingatan ku cukup baik kalau sekedar menghafal jalan. "
Aiden mengangguk, tak melepas pandangan nya pada punggung Velora yang semakin menjauh lalu menghilang tertelan jarak.
Velora masuk ke dalam toilet, menatap pantulan wajahnya di cermin sebelum membiarkan air kran mengalir membasahi punggung tangan nya. Dua wanita ikut bergabung, dari ekor mata Velora ia bisa melihat mereka tengah mengindahkan kembali polesan yang mereka kenakan, mengamati setelan bajunya, lalu salah satu dari mereka sedikit menurunkan kaitan dress di pundak nya hingga memperlihatkan dada putih yang mulus tak memiliki goresan apapun.
Hendak berbalik dan pergi ke luar, gerakan Velora terhenti seketika saat suara dua wanita itu beradu membicarakan topik yang menarik perhatian nya. Memilih kembali memasuki salah satu toilet hanya untuk mendengar lebih banyak.
" Siapa yang tidak menginginkan pria tampan dan tajir, bukankah itu cita-cita semua wanita di dunia. " Ucap salah satu dari mereka.
" Hanya saja aku tidak berpikir menjadi pelakor itu menarik, tapi pengecualian untuk CEO Moonveil Corp." Tambah nya.
Suara kekehan terdengar, Velora semakin mendekat kan telinga ke pintu berharap mereka tak berbisik dan bicara lebih keras.
" Apa kau sungguh percaya tuan CEO itu punya istri? " Tanya teman nya.
" Aku tidak kepercayai itu, sebab aku menginginkan aku yang akan menjadi istri nya. Tapi kalau menanyakan kenyataan, dari kabar yang beredar Tuan Krittin memang sudah menikah, tetapi tak pernah memberi kabar lebih banyak ke dunia luar tentang keluarga kecil nya. Jadi ku pikir mungkin ada sedikit masalah dalam hubungan suami istri itu? "
Velora mengepalkan tangan, dia tahu jika suaminya adalah orang yang selalu di puja banyak wanita, tetapi tetap sebagai orang yang masih memiliki ikatan murni, Velora merasa tak terima karena takut akan semakin tak memiliki kesempatan untuk bersama Krittin lagi. Dua wanita yang dilihatnya barusan terlihat jelas orang kalangan atas, dan mungkin saja memiliki hal istimewa yang tak bisa Velora miliki.
" Yah, mungkin salah satu sebab nya karena mertua tuan Krittin sendiri, aku pernah dengar dari ayah kalau CEO Raventhorn Corp sangat terobsesi dengan kekayaan. "
" Itu terlihat jelas, tapi sebaiknya kita tak membahas ini lebih lanjut. Kau tidak lupa jika mereka merupakan anggota mafia bukan? "
" Aku selalu ingat, bahkan cerita mereka yang dengan mudah melenyapkan nyawa orang saja sudah terukir indah di kepala ku. "
Hening beberapa saat.
" Baiklah kita pergi. Lihat! Apa lipstick ku terlihat menarik."
" Hmm, kau tak pernah gagal. "
Pintu toilet terbuka setelah suara ketukan heels dua wanita itu tak terdengar di indra pendengaran Velora, berjalan cepat karena di rasa ia sudah terlalu lama mendengarkan ocehan dua wanita asing itu.
Sesosok tubuh tiba-tiba muncul menghadang tepat di depan tubuh Velora, di rasa sesak nafas dengan tubuh yang seketika membeku ketika melihat wajah siapa yang sekarang terpampang di hadapan Velora. Reflek kaki Velora melangkah mundur untuk menjauh kan diri, denyut jantung nya berpacu dua kali lebih cepat dan terdengar keras di telinga Velora.
" A-Alvino... " Suara Velora keluar, sangat lirih dan terbata-bata saat pria di hadapan nya kini melempar kan senyum lembut yang tak pernah berubah sejak dulu.
" Selamat siang, Lama tidak berjumpa nona. "