NovelToon NovelToon
ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

ILUSIANA (KAWIN KONTRAK)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:7.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Novianti Maura

Penting untuk dibaca calon reader sebagai gambaran : Bahwa novel fiksi ini dilatar belakangi kasus kriminal berat. jadi kandungan di dalam nya berisi 40% konflik tegang, 30% romantis dan 30% komedi. Jadi mohon bijak untuk menanggapi. salam sehat selalu dari Author

Hai, Kamu. Ya Kamu yang pernah tersakiti, dicampakkan, dikhianati, didzolimi, dan dibuang seperti barang tanpa arti.
Jangan takut, kamu tidak sendirian.
Aku juga merasakan hal yang sama.
Kamu sedih? Sama, akupun sedih.
Kamu kecewa? Terlebih lagi aku.
Kamu dendam? Apalagi aku.
Kita berhadapan dengan musuh yang sama walaupun dengan jalan cerita yang berbeda.
Aku butuh kasusmu dan kamu butuh perlindunganku. Untuk menghadapinya lebih baik kita bersatu.
(with Love, Ferdian)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianti Maura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Dengan langkah terburu-buru Lusi menapaki koridor kampus menuju ruang kelasnya.

Ia sudah terlambat sepuluh menit dari jadwal kuliah pagi ini lantaran menunggu Ferdian yang sibuk mencari dasi biru bermotif salur tipis kesukaannya.

Pintu kelas dibukanya perlahan. Tampak seorang dosen laki-laki sudah berdiri di depan kelas tengah memberi materi pelajaran. Dosen itu menoleh ke arah pintu, Lusi pun mengangguk hormat.

“Ayo cepat masuk,” suruh dosen itu.

Lusi mencari bangku yang kosong, kebetulan berada di belakang persis di sebelah Reno.

Reno yang melihat Lusi menempati kursi sebelahnya beringsut menggeser kursinya lebih mendekat pada Lusi.

“Hai....“ sapa Reno berbisik. Lusi tak menggubris, hanya menyungging senyumnya tipis. Lalu mulai berkonsentrasi pada materi yang disampaikan dosen di muka kelas.

“Pagi ini sarapan kamu pasti pake jus jeruk, kan?” Lagi- lagi Reno mengusik konsentrasinya.

Lusi menoleh sebentar. Dia heran bagaimana Reno bisa tahu apa yang diminumnya pagi ini.

“Betul, kan?“ usik Reno lagi.

“Iya, kok tau sih? Kamu peramal ya?” tanya Lusi ikut berbisik.

“Ya tau dong, soalnya pagi ini kamu seger banget,” jawab Reno santai seraya menyungging senyum genitnya.

Teman-temannya dibelakang yang mendengar rayuan mautnya itu spontan tertawa tertahan.

Begitu juga Nikita dan Ashanti yang duduk persis di depan Lusi, cekikian geli dengan menutup bibir mereka.

“Heiiii kalian yang di belakang, ngapain berisik sekali!” Tiba-tiba suara dosen terdengar menggelegar menegur barisan Reno dan kawan-kawan.

Serentak mereka terdiam dan menunduk pura-pura menulis sesuatu di buku masing-masing.

“Kalo mau becanda di luar saja sana. Mengganggu saja kalian ini!” omel dosen itu lagi. Kemudian melanjutkan materi pembahasannya.

Satu jam berselang, dosen menyudahi materi perkuliahannya dan keluar dari kelas. Suasana pun kembali riuh.

Nikita dan Ashanti membalikkan badan menghadap Lusi yang masih sibuk menyalin materi kuliah barusan.

“Ke kantin yuk, Lusi. Bete nih,” ajak Ashanti.

“Tapi sebentar lagi kan ada kuliah akuntansi, Shan,” jawab Lusi tanpa mengalihkan fokusnya pada catatan di bukunya.

“Dosennya gak datang, tadi ada pemberitahuan lewat ketua lokal kita.“ beritahu Ashanti santai.

“Ayolah, nongkrong di kantin aja, rajin amat sih belajarnya? Pengen jadi menteri ya? Udah ada, udah banyak,“ gurau Nikita membuat Lusi tersenyum lebar lalu mengangguk menuruti ajakan mereka.

Kedua gadis cantik itu membantu Lusi membereskan buku-bukunya. Lalu menarik tangan Lusi cepat. Karena tampaknya Reno sudah mulai pasang aksi kembali untuk menggoda Lusi.

“Yaaahh, Lusi pergi? Baru aja pengen aku ajak kencan,” gumam Reno kecewa menatap kepergian ketiga gadis itu hingga menghilang keluar kelas.

Di kantin.

Ketiganya menempati salah satu meja di bagian tengah, lalu memesan makanan masing-masing.

Lusi hanya memesan segelas susu coklat, sementara Ashanti dan Nikita memesan makanan dan minuman yang sama, roti bakar dan jus mangga.

Tak lama pesanan mereka pun terhidang di atas meja.

“Eh, Lusi, cowok yang setiap hari antar jemput kamu itu siapa sih? Abang kamu ya?“ tanya Ashanti membuka obrolan. Karena pertanyaan itulah yang selalu ingin dia tanyakan pada Lusi.

Lusi tersedak, dia bingung harus menjawab apa. Kalau jawab yang jujur dia yakin dua gadis ini akan salah paham. Jika jawab tak jujur rasanya mengkhianati diri sendiri. Akhirnya dia lebih memilih tak menjawab.

“Kenapa? Naksir?“ Lusi mengalihkan dengan pertanyaan.

“Yaaa, gitu deh. Abis ganteng banget, kayak aktor drakor,” jawab Ashanti dengan mimik wajah genit. Nikita dan Lusi hanya tersenyum kecil menoleh padanya.

“Ya, ntar aku sampein salam kamu, deh. Dari Ashanti gitu ya,” ujar Lusi membuat Ashanti mesem-mesem dengan perasaan penuh harap.

“Ssttt... Ehh, ada cowok ganteng banget itu, liat deh arah jam tiga.” Nikita mencolek Lusi dan Ashanti berbarengan. Keduanya spontan menoleh pada arah yang ditunjuk Nikita.

Deg... !

Jantung Lusi mencelos serasa mau lompat keluar dari tempatnya demi melihat sosok pria muda yang sedang berdiri beberapa meter di samping kanannya. Lusi mengamatinya lebih seksama lagi untuk meyakini penglihatannya

Benar. itu Dio. Sahabat lamanya yang setahun lalu pergi meninggalkannya tanpa kabar.

Ya Tuhan, aku kangen sekali sama Dio. Bathin lusi.

Bola matanya seketika mulai menghangat. Dia mengingat-ingat semua kebaikan Dio pada dirinya yang sudah menjadi sahabatnya sejak bersekolah di SMA yang sama.

Pria itu yang selalu membelanya ketika ada teman yang membullynya. Atau ketika Lusi menangis karena perlakuan kejam ibu tiri dan adik tirinya, pria itulah yang selalu setia mendengar segala curahan hatinya.

Nikita dan Ashanti memperhatikan raut wajah Lusi yang tiba-tiba berubah saat melihat sosok Dio yang masih berdiri terpaku di tempatnya.

Nikita mencolek punggung tangan Lusi. Lusi pun tersentak kaget.

Dan ... Praaang....!

Gelas berisi susu coklat di tepi mejanya jatuh ke lantai karena tergeser oleh tangan Lusi.

Para mahasiswa yang tengah ramai dikantin itupun sontak menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan Dio.

Degh... !

Pandangannya berbenturan dengan bola mata Lusi yang juga tengah menatap Ke arahnya.

Dio melangkah menghampiri Lusi tanpa berkedip. Dio hampir tak percaya siapa yang berdiri di hadapannya kini.

Lusi, gadis pujaan hatinya.

“Lusi...?” panggilnya lirih.

Lusi menatap Dio dengan ruang hati penuh kerinduan. Begitupun Dio, rautnya seketika semringah melihat Lusi yang makin cantik dan anggun di pandangannya.

Dio mengulurkan tangannya pada Lusi. Gadis itu pun membalas menjabat tangan Dio yang masih terpana menatap wajahnya.

“Apa kabar?” tanya Dio lembut.

“Baik, Dio. Kamu kapan balik dari Amerika?” suara Lusi pun lirih menahan rindu pada sahabatnya itu.

“Minggu lalu, Lusi.”

“Ehem... Ehem... Kayak nya kita cuma jadi obat nyamuk aja nih, Shan.” Nikita memotong pembicaraan kedua sahabat yang baru saja bertemu itu. Keduanya pun spontan menoleh pada Nikita.

“Oh iya, maaf. Dio, kenalin ini Ashanti dan Nikita.“ Lusi memperkenalkan kedua teman cantiknya itu.

Nikita yang terpesona dengan ketampanan Dio antusias menyodorkan tangannya lebih dulu untuk berkenalan. Dio pun menyambutnya sambil tersenyum ramah.

“Anak baru ya? Kayaknya asing gitu wajahnya di kampus ini," tanya Nikita dengan mengerlingkan sebelah matanya.

“Rencananya aku mau daftar kuliah disini. Mau ambil jurusan tehnik sipil,“ jawab Dio santun.

“Wahh, keren.... “ Sambut Nikita senang.

Lusi dan Dio tersenyum melihat tingkah Nikita yang begitu senangnya bisa berkenalan dengan Dio.

“Lusi, aku mau bicara sama kamu. Ada waktu? Sebentar aja,” pinta Dio kemudian.

Lusi hanya mengangguk.

“Maaf ya, boleh pinjam Lusi sebentar?” Dio meminta ijin pada kedua teman Lusi itu. 

Nikita memanyunkan bibirnya karena belum puas bicara dengan cowok itu. Ashanti hanya mengangguk dan mengangkat jempol tanda mempersilahkan.

Lusi dan Dio berjalan keluar dari kantin dan menuju area taman belakang kampus. Suasananya tidak terlalu ramai karena dekat dengan ruang dosen.

Mereka menduduki sebuah bangku kayu panjang yang berada di samping pintu masuk taman.

Dio masih terus menatap wajah Lusi dengan tatapan rindu. Jantungnya berdebar kencang menahan kerinduan yang membuncah setelah sekian lama tak jumpa dengan gadis yang dia cintai dalam diam itu.

“Kamu makin cantik, Lusi,” puji Dio, suaranya lembut seperti biasa ciri khasnya.

Lusi tersenyum tersipu dan sejenak menundukan wajahnya.

“Kamu juga makin dewasa keliatannya,” balas Lusi malu-malu.

“Hhmm, Lusi. dua hari lalu aku ke rumah mu. Ketemu Priska.“

Lusi tersentak dan menoleh ke arah Dio. Dia sudah bisa menebak pertanyaan apa yang akan terlontar dari mulut Dio. Karena dia yakin adik tirinya itu pasti sudah cerita macam- macam tentang dirinya.

“Kata Priska, kamu sudah nikah. Apa betul?”

Ya, pertanyaan itulah yang akan keluar dari mulut Dio. Lusi sudah tahu itu.

Lusi terdiam sejenak, menunduk memikirkan kalimat yang tepat untuk disampaikan pada sahabatnya itu.

“Betul, Dio,” jawab Lusi dengan suara pelan.

Air muka Dio seketika berubah saat mendengar jawaban jujur dari mulut Lusi. Padahal dia ingin Lusi menjawab dengan jawaban sebaliknya. Tentu saja ada rasa kecewa dan terluka terbersit di hatinya.

“Apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu?” Pertanyaan yang membuat dadanya sesak namun harus dia tanyakan.

Lusi mengangguk pelan seraya menatap wajah teduh Dio. Awan mendung sudah tampak menyelimuti kedua manik pria itu. Dan Lusi tak sanggup melihatnya.

Dia benar-benar tak mau melihat sahabatnya ini terluka. Bagaimanapun Lusi tahu perasaan Dio yang sebenarnya seperti apa padanya.

“Kalo begitu, selamat ya Lusi. Kalo kamu bahagia aku juga ikut bahagia,” ucap Dio seraya membelai punggung tangan Lusi dengan lembut.

Tanpa disadari, sebulir air mata Lusi meluncur di pipinya. Dio melihat itu.

“Dio, maafkan aku ya, untuk saat ini aku belum bisa cerita banyak sama kamu. Suatu saat nanti kamu pasti akan tau yang sebenarnya,” ucap Lusi lirih.

“Aku selalu punya banyak waktu kok untuk kamu, aku siap mendengarkan kapan pun kamu siap untuk cerita.”

Lusi tersenyum manis, “Kamu memang sahabatku yang terbaik, Dio.”

Dio ikut tersenyum manis. Di remasnya tangan Lusi lembut. Dio rindu suasana seperti ini bersama Lusi. Dimana Lusi selalu datang padanya ketika senang atau pun sedih.

Tapi ada satu hal yang mengganjal di hatinya sampai saat ini, kenapa Lusi tak pernah bisa mencintainya seperti dia mencintai Lusi. Dan justru mendapati kenyataan bahwa kini Lusi sudah dimiliki pria lain.

Please Like, vote, rate 5, kritik dan saran nya Di kolom komentar yah, dear...

1
Sudi Budoyo
sy suka
Mmh Astri
novel toon ia the best
Mmh Astri
👍👍👍🥰🥰🥰💪🙏
Atiqah Adnan
best
Ridwan Sutarso
klise, seperti biasa, jualan kesedihan ... bikin yang agak beda
Tutik Rahayu
tuh kan ga tegas lg si lusi,
tokohnya ga ada yg tegas slalu menggantung
reynard aja yg tegas
Tutik Rahayu
pak dirman yablak jg ya.... ngapain bilang kmr pisah , bodoh
🌺sahaja🌺
thooor malah penasaran sama kisah Maesaroh & johan😁😁😁😁😁
🌺sahaja🌺
SUAMI : JOHAN
ISTRI : MAESAROH
jauh amat thooor, suami gaul abis istri kampungan banget😅😅😅😅😅😅
🌺sahaja🌺
mengap2 deh loe,kayak ikan gak dapet air😅😅😅😅
🌺sahaja🌺
kayaknya cuma mbak ira pemeran figuran yg comel😁😁😁
🌺sahaja🌺
ikutan deg degan
Pipit Sopiah
susah milihnya Thor ganteng semua🤦‍♀️
Pipit Sopiah
baru nyadar kamu marry
Pipit Sopiah
Mak Lampir ga tau malu,, bercokol di rumah Ferdian terus, urat malunya udah putus kaliiiii
Pipit Sopiah
lanjut lagi bacanya
Pipit Sopiah
lanjut lagi bacanya walau nyicil
Mayyuzira
Alhamdulillah selamat.aku yg deg deg an
Pipit Sopiah
lanjut lagi bacanya di sela sela lelahnya pulang kerja
Pipit Sopiah
Alhamdulillah jalan dari Allah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!