Kecubung Biru hanya bisa menatap getir. Akan Bumi Menoreh yang membara.
Diantara pertikaian ayah dan pamannya, Pulung Jiwo dan Ronggo Pekik.
Juga mesti membantu perjuangan Diponegoro dalam melawan Kumpeni.
Perang ini mesti mengabaikan segala kepentingannya, asmara yang membara dan kesehariannya yang sunyi, untuk dilewatkan bersama kepingan dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka lagi
Beberapa lama tinggal di Keraton ini dan menikmati segala fasilitasnya ternyata Paman Pulung Jiwo tak bisa menerima, dia terus teringat Pada Kanjeng Pangeran Diponegoro yang kini berada di pengasingan. Kebersamaannya dahulu. Dan masa-masa sulit yang dilalui.
Bagaimanapun kebersamaan itu membuat terus terngiang. Ingin mengulang kembali. Namun, semua kelihatannya tak mungkin. Segalanya kini tinggal sebuah kenangan. Yang kan terlewat begitu saja seiring perjalanan waktu yang menghilang diantara kepingan-kepingan ketidakberdayaan.
Makanya dia menghadap Njeng Patih. Barangkali saja
Setelah ini hatinya bertambah lega.
Buat dia juga anaknya.
Kali ini mungkin dia lebih menatap masa depan dan nasib anaknya
Namun kalau keinginannya terwujud, maka dia akan lebih nyaman lagi.
“Maaf tuan patih,” ujar Paman Pulung Jiwo berusaha bersikap sebaik mungkin.
“Kenapa?”
“Saya merasa tak layak tinggal disini lebih baik saya keluar dan mau hidup sebagaimana rakyat biasa,” katanya pelan-pelan.
Patih tertegun. Dia berpikir keras.
Dia khawatir kalau nanti di luar bakalan merepotkan pasukannya lagi.
Maka dia berucap, ”Kamu tak perlu keluar. Tapi kamu boleh tinggal di luar Keraton. Tinggal saja di daerahnya. Disana nanti kamu masih menjadi prajurit yang hanya menjaga daerah sekitarmu saja.”
“Baiklah, terima kasih Kanjeng Patih.”
Dan saat itu juga kami keluar.
Kami menuju ke luar daerah di tepi Sungai Progo.
Daerah dimana dulu sering kita tinggali bersama laskar Diponegoro.
Aku mengikutinya dengan status masih prajurit keraton tapi bertugas di desa itu di daerah dukuh yang sunyi terpencil dan dekat pegunungan.
Kami lalu mengelola tanah persawahan dan ladang dan sesekali membantu dukuh dalam mengamankan daerah tersebut.
Tugas kami sebagai prajurit tak banyak karena dukuh itu sudah aman kami lebih banyak di ladang menggarap tanah tersebut yang diberi oleh pedukuhan buat kami kelola sebagai tanah bengkok sementara.
Sekian lamanya kami didesa dan bersama para petani mengerjakan sawah.
Sesekali Paman menghadap kraton menemui Patih Danurejo
Pemberontakan memang selesai. Tapi dendam masih berkecamuk.
Istana masih panas.
Kami mendengar kabar kalau Patih Danurejo tewas karena di hukum. Hal ini jelas bukan oleh laskar Diponegoro yang selama ini dimusuhinya karena perlawanan dianggap padam. Namun dampak dari kemelut itu nampak aroma dendam masih terasa bahkan Sultan sendiri tewas di kamarnya Karena dibunuh oleh permaisurinya sendiri.
Permaisuri bukan anak Diponegoro, bukan keturunannya, bukan siapa-siapa. Tapi dia masih merasa satu trah. Jadi aroma perang masih menggelayut di hati mereka.
Kapten Hermanus harus tewas di tepi sungai Progo di daerah Nanggulan bersama anjingnya dan dimakamkan bersama akibat rasa setia pada tuannya itu.
Dan Andreas Viktor yang begitu banyak kemenangan dimana-mana. Harus tewas kala bertugas Di Bali. Di Jawa dia sering menang. Di Sumatera juga demikian. Makanya secara grafik sangat cepat naik pangkatnya. Hingga jabatannya begitu tinggi sampai dia menguasai daerah Sumatera dan sekitarnya.
Ah....
“Mampus kamu. Lebih baik kubunuh kamu dengan pedangku ini. Haha...”
“Kamu...”
Tiba-tiba Paman Ronggo Pekik datang dan menusuk paman Pulung Jiwo tepat di dada sebelah kiri hingga terluka parah.
Paman Pulung Jiwo yang tengah asyik berladang tak menyadari akan datangnya bahaya.
“Aku juga keluar dari keraton dan tinggal di desa dekat dukuh ini. Yang akhirnya aku menemukanmu disini manusia lemah.”
sejauh mana mengerti detilnya Thor 🤗🤗🙏🙏 ada yang ingin saya ketahui
Kutunggu kedatangan kalian
Terima kasih