Tak kunjung garis dua, Inara terpaksa merelakan sang Suami untuk menikah lagi. Selain usia pernikahan yang sudah lima tahun, ibu mertuanya juga tak henti mendesak. Beliau menginginkan seorang pewaris.
Bahtera pun berlayar dengan dua ratu di dalamnya. Entah mengapa, Inara tak ingin keluar dari kapal terlepas dari segala kesakitan yang dirasakan. Hanya sebuah keyakinan yang menjadi penopang dan balasan akhirat yang mungkin bisa menjadi harapan.
Inara percaya, semua akan indah pada waktunya, entah di dunia atau di akhirat kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Oktafiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Pulang?
Jangan membenci sesuatu yang Allah pilihkan untukmu. Sebab setiap musibah pasti dibalas, setiap sakit akan diganjar, setiap hilang akan diganti, setiap sabar pasti dihargai. Kebaikan tidak datang kecuali setelah kamu berprasangka baik. (Syaikh Abdul Aziz bin Baz)
Nara sudah mencoba untuk lupa dengan ucapan Bu Azni tentang dirinya yang mungkin akan tersisih setelah Nadya melahirkan. Apakah benar hal tersebut akan terjadi?
Walau Nara berusaha berani, tetap saja dalam lubuk hatinya ketakutan. Harusnya, Nara tidak perlu khawatir akan masa depan karena hal itu masih menjadi rahasia Tuhan.
Nara menghela napas kasar. Dia akan coba berpikir positif dan tidak membuat tubuhnya stres lagi. Dia harus tetap waras demi kebahagiaan diri sendiri.
Lamunan Nara tersentak kala merasakan sebuah tangan yang melewati pinggang kemudian melingkar di depan perutnya, diikuti sebuah dagu yang bertumpu pada bahu Nara.
"Maafkan Mas ya, Ra. Walau kita sudah pindah rumah, tetap saja Mama jadi boomerang pada hubungan kita. Mas mohon, kamu jangan menyerah. Karena Mas sama tersiksanya harus membagi peran," gumam Arjuna pelan.
Nara memutar kepala sedikit untuk menemukan wajah suaminya yang berada dalam jarak sangat dekat. Mata Arjuna tampak terpejam. Nara menghela napas pelan. Tidak ada kalimat yang keluar dari Nara tidak tahu harus berkomentar apa.
"Ra?" panggil Arjuna lagi karena tak menemukan jawaban atas permohonannya.
Bukannya menjawab, Nara justru melepaskan belitan tangan Arjuna dan berjalan ke arah ranjang. Batinnya begitu lelah hingga fisiknya ikut merasakan. Tanpa berkata-kata, Nara segera menyelimuti seluruh tubuh dan berbaring miring membelakangi suaminya.
"Ra? Kenapa tidak menjawab pertanyaan, Mas," tuntut Arjuna lagi yang kini sudah berbaring di sebelah Nara.
"Jangan berisik, Mas. Aku mengantuk," jawab Nara kemudian segera memejamkan mata. Dia ingin batinnya beristirahat walau sejenak. Karena masih ada hari esok yang harus Nara hadapi.
...----------------...
"Mas? Aku pergi dulu. Pagi ini ada rapat editor di kantor. Aku juga sarapan di sana saja," pamit Nara ketika suaminya itu sedang mengenakan pakaian.
Nara telah bersiap menyambar tas selempang miliknya ketika suara Arjuna kembali terdengar. "Biar Mas yang antar," ucap Arjuna tidak se ramah biasanya.
Sejak semalam, keduanya memang tak lagi saling bicara. Bahkan, Nara memilih bangun lebih dulu untuk melaksanakan sholat subuh, mengabaikan keberadaan Arjuna yang bisa menjadi imam.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Mending Mas jaga Nadya, takut calon anak Mas kenapa-napa," jawab Nara masih meninggikan ego.
Gerakan Arjuna terhenti dan menatap Nara frustasi. Dia bergerak cepat untuk mengunci pintu sebelum Nara benar-benar pergi. Lalu, dia membuang kuncinya ke sembarang arah hingga membuat Nara menatap kesal suaminya.
"Kamu kenapa sih, Mas? Aku bisa terlambat," kesal Nara frustasi.
"Kamu yang kenapa? Sejak semalam kamu mengabaikan aku. Dan kamu masih bertanya aku kenapa?" Arjuna justru balik bertanya.
Nara memejamkan mata untuk memadamkan gemuruh di dadanya. "Aku lelah, Mas," lirih Nara menjawab.
"Aku lelah selalu dibanding-bandingkan oleh Mama. Aku juga manusia yang tidak bisa selalu memaklumi manusia lainnya. Bisakah Mas antar aku pulang ke Ayah saja?"
Hal itu sontak membuat Arjuna menatap tajam Nara. Dia berusaha meredam apa yang sebentar lagi meluap. "Apakah itu benar-benar yang kamu inginkan?" tanya Arjuna menatap lekat Nara.
Harusnya Nara menjawab iya dengan mudah. Namun pada kenyataannya, lidah Nara justru terasa kelu dengan tenggorokan yang tercekat. Hingga kata itu hanya berakhir dalam pikiran tanpa lancang keluar.
"Nanti sore juga, Mas akan antar kamu," putus Arjuna dengan mata yang berkilat penuh amarah.
Harusnya, Nara tidak perlu merasakan dadanya sesak seperti ini. Harusnya Nara bahagia karena dia bisa berjumpa dengan sang Ayah setiap hari. Namun, mengapa perasaanya kali ini terluka?
Ditatap nya mata milik Arjuna yang masih berkilat marah. Apakah Nara sudah keterlaluan? Namun, untuk meminta maaf rasanya Nara tidak mau. Egonya masih berkuasa hingga Nara memutuskan untuk keluar dari kamar lebih dulu.
Setibanya di garasi, bukannya melajukan
motor matiknya, Nara justru terpaku dan menangisi apa yang baru saja terjadi. Rasanya terlalu sesak hingga membuat Nara tak kuasa membendung air mata terlalu lama.
Nara pikir, tidak ada lagi yang peduli padanya di rumah itu. Nyatanya, Arjuna menyusul setelah mengenakan kemeja kerjanya. Dia langsung memeluk Nara yang duduk di atas jok motor dengan erat.
Saat itu juga, tangis Nara pecah. Dia sampai tidak tahu bagaimana caranya untuk mendeskripsikan perasaanya saat ini. Marah, kesal, terluka, dan kecewa secara bersamaan.
"Maafkan Mas, Ra. Maaf," gumam Arjuna penuh sesal.
Nara tidak menjawab dan tangisnya semakin sesenggukan. Rasanya, tangis itu sudah lama terbendung dan puncaknya hari ini. Nara susah tak sanggup lagi menampung terlalu banyak air mata.
Nadya yang sejak tadi melihat keduanya seperti sedang perang dingin, memilih untuk melihat dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun, apa yang dilihatnya sekarang sudah sangat menjelaskan jika Arjuna dan Nara adalah dua insan yang saling mencintai.
Keduanya sama-sama terluka karena kehadiran dirinya. Nadya perlahan mundur dan menghapus air matanya. Dia mengusap perutnya yang masih rata, dimana benih Arjuna tertanam di sana.
"Mama salah jika menganggap mudah untuk membuat Papa kamu mencintai Mama. Nyatanya, hal itu tidak akan pernah terjadi," Nadya bergumam lirih.
Kepalanya sudah pening sejak bangun tadi pagi akibat memikirkan ucapan Arjuna juga Nara ketika bersitegang dengan Bu Azni. Ucapan suaminya kemarin sudah memperjelas semuanya. Arjuna tidak pernah mencintai Nadya.
"Lalu, malam-malam yang indah itu apakah tidak ada artinya? Atau jangan-jangan Mas Arjuna justru mengingat Mbak Nara ketika sedang melakukannya bersamaku?" Nadya menutup mulutnya untuk meredam isakan tangisnya.