NovelToon NovelToon
Ayah Dari Anakku 2

Ayah Dari Anakku 2

Status: tamat
Genre:CEO / Single Mom / Nikah Kontrak / Obsesi / Identitas Tersembunyi / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:370.3k
Nilai: 5
Nama Author: elara-murako

"Kamu jadilah ayah dari anakku," ucap Dinia pada stafnya Taran.

🍁🍁🍁

Dinia Kenan, Direktur dari DW Fashion menolak untuk menikah. Hingga dia tanpa sengaja menemukan bayi lelaki yang terbuang. Dinia putuskan membesarkan bayi lelaki itu yang dia beri nama Ditrian.

Dinia mengakui kalau Ditrian adalah anak kandungnya karena tak ingin terpisah dengan anak itu. Hingga waktu berlalu, orang-orang mulai curiga dengan status Dinia yang seorang wanita lajang.

Saingan bisnisnya pun memanfaatkan masalah itu sebagai skandal untuk menghancurkan bisnis Dinia. Untuk menjawab rasa penasaran itu, Dinia meminta salah satu staf kepercayaannya menjadi ayah dari anaknya, Ditrian. Pria bernama Taran yang masa lalunya menjadi misteri.

Meski demi itu semua, Dinia harus pura-pura menikah dengan Taran. Terlebih Taran sangat menyayangi Ditrian seperti anak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elara-murako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Wedjangan orang tua

"Tidid!" seru Ditrian di halaman rumah kakeknya. Dia melajukan mobil seperti orang yang tengah patah hati. Bahkan beberapa staf hampir tertabrak. Untung efek kenanya hanya lebam kecil. Sedikit lebih besar saja mobilnya Ditrian, mungkin staf-staf itu sudah memenuhi ruangan di rumah sakit.

"Tuan muda! Salah, maksudku Ditrian!" panggil Taran.

Seumur hidup dalam karirnya sebagai staf khusus yang menanganu bagian gelap pebisnis, baru kali ini Taran merasa jantungnya seperti tidak akan kembali lagi berdetak. Semua akibat melihat Ditrian menyupiri mobil listrik.

"Ijak lem!" Ditrian menginjak dengan sekuat tenaga. Mobil itu berhenti, hanya satu senti di depan pagar tinggi rumah itu.

Taran duduk lemas, lalu terkapar. Rasanya seluruh nyawa hilang. Ditrian turun dari mobil dengan wajah bangga. Dia sukses melakukan akrobat. Melihat Taran tertidur di rumput, baru Ditrian panik.

"Papa Bestie! Gak mati! Napas agi, plis!" pintanya. Dia tepuk-tepuk pipi Taran hingga pria itu merasa kesakitan. Taran terbangun. "Napa matina gak jadi? Ian sayang ini tangisna. Bulum celese."

"Kamu mau Papa mati beneran?" Taran protes.

"Nanti idup agi." Ide Ditrian memang luar biasa.

"Mana ada orang mati hidup lagi?" Taran gendong Ditrian. Dia minta staf lain memasukkan mobil itu ke garasi.

"Napa bawa pegi. Ian mau kali agi."

"Tidak! Itu bahaya. Lebih baik Anda main mandi bola saja." Taran terus membawa anak itu masuk. Di rumah keluarga Dira Kenan memang ada tempat main anak untuk cucu-cucu bila datang berkunjung.

"Ada apa ini?" Dinia mendengar tangis Ditrian.

"Dia hampir menabrak pagar rumah," adu Taran.

"Kamu ini kenapa? Mobilnya Mama berikan saja sama anaknya teman Mama. Tadi sudah janji mau hati-hati."

Ditrian menatap Taran. "Puna Papa gak acik. Nyesel. Adu aja."

"Kalau gitu, Papa mau mundur." Taran kini mengancam.

Ditrian memeluk Taran. "Jangan. Ia canda aja. Papa mau, tapi gak biang Mama." Ditrian dekatkan bibirnya ke telinga Taran. "Mama celewetan," bisiknya takut.

"Mama masih bisa dengar. Sekarang mandi dulu." Dinia meminta Ditrian pada Taran.

Hari ini mereka berdua sengaja berkunjung layaknya anak dan menantu serta cucu. Wartawa tentu melaporkan itu ke seantero Livetown. Belakang berita di televisi heboh dengan Taran. Meski mereka masih menyembunyikan dokumen pernikahan.

Penjualan DW Fashion meroket. Dinia tahu, pelanggan baru itu datang hanya untuk mendengar rumor dan ingin melihat langsung suami Dinia yang katanya tampan.

Benar saja, saat tak sengaja Taran lewat, mereka cekikikan. Bahkan di kalangan sosialita, banyak yang ingin punya simpanan seperti Taran hingga meminta pada 'momy' mencarikan spek yang mirip.

"Besok, kamu ikut Papa main golf. Kamu udah bisa kan? Jangan sampai bikin malu lemparin tongkat golf ke orang lain," saran Dinia.

"Bukannya itu Anda?" timpal Taran.

Dinia mendengkus. "Kamu rupanya sudah pandai berperilaku layaknya suami menyebalkan."

"Bukannya Anda yang bilang, jangan terlalu sopan karena itu kentara," balas Taran.

"Beantem agi. Kalian main tiju cana. Ian wasitin. Tijunya pake cangeyo!" Ditrian membentuk tanda hati dengan jempol dan telunjuk.

"Sarangheyo?"

"Iya itu. Mama, ental Ian ada dedek, ya?" Harapan Ditrian sudah setinggi langit. Apa daya, hati ibu dan ayahnya belum sampai.

"Mana mungkin. Semuanya tidak sejauh itu," tolak Dinia.

"Bayi ucu, Ma!" Ditrian bersikeras.

"Anda juga lucu. Bukannya Anda masih bayi?" Taran menimpali.

"Ian cowok dewasa," Ditrian berkilah.

Seorang pelayan yang mengenakan pakaian serba hitam datang menemui. "Nona, Tuan Dira meminta Anda ke ruang keluarga bersama Tuan Ditrian dan Tuan Taran," pinta wanita itu.

Dinia menurunkan Ditrian. Pasangan palsu itu menuntun putra mereka ke ruang keluarga. Di sana Dira dan Bia sudah duduk sambil minum segelas teh.

"Duduk kalian berdua," pinta Dira.

"Ian dili aja? Kacian Ian tega kali," keluh anak itu.

"Ya ampun, kakek minta maaf. Silakan duduk Tuan Muda Ditrian," balas Dira.

Dengan wajah penuh kebanggaan, Ditrian duduk di atas sofa. Dia mengambil bantal sofa dan memeluk benda itu. "Akek, Ian ada dedek entalan," ucap anak itu.

"Ya Tuhan, tidak begitu Ditrian." Dinia kembali menunjukkan keberatannya.

"Ditrian ke Nenek sini," pinta Bia. Ditrian turun dari sofa dan pindah ke pangkuan neneknya. "Mama dan Papa perlu waktu untuk bersahabat dulu," ucap Bia.

"Oh ya. Papa Bestie dulu cetapna Mama," balas Ditrian.

"Ian kalau ingin berteman dengan orang lain tidak sebentar tentu."

"Takut culik-culik. Manucia kalang ini banak kotolna."

"Kamu banyak sekali mendengar bahasa yang menganggumkan dari Mama, ya?"

"Mama umpat tulus. Ian cuka. Enak biangna."

"Tentu. Tapi Ditrian perlu tahu. Beberapa kata mengagumkan itu perlu disembunyikan."

Ditrian heran. Dia menatap neneknya. "Napa?"

"Karena bisa membuat hati seseorang sakit. Ketika sakit, mereka ingin menjauh dari yang mengatakan."

Ditrian membuka mulutnya lebar. "Ian jauhin. Temen ilang cumua."

"Benar. Kalau kamu sendiri, tidak ada yang bantu kalau jatuh masuk ke parit."

Kali ini Ditrian menunjuk ibunya. "Mama tu! Biang jelek tulus. Ental gak dengel Mama, Ian."

"Dia kalau sama Mama pasti dengar. Lain denganku, kalau belum debat dulu tidak akan menurut." Dinia menyimpan kedua telapak tangan di pangkuan.

"Kamu hanya perlu diskusi dengannya, bukan memerintah," saran Bia.

"Herannya anakmu diasuh dengan benar, tetap saja buat masalah." Dira ikut mengeluarkan suara.

"Karena dia juga anakmu. Gen itu sesuai yang tidak bisa diubah kecuali mutasi," balas Bia.

Ditrian menyentuh lutut. "Kalang Ian  baik. Gak kasal agi."

"Tentu, harusnya begitu. Ditrian sudah ganteng, baik kalau bicara. Sungguh kebanggaan banyak orang." Bia memberikan pujian. Ditrian menunduk malu. "Sekarang main dulu, ya? Nenek ingin bicara sesama wanita dewasa dengan Mama."

"Kakek, Papa uga main?"

"Tidak. Tetap di sini. Ditrian sudah delapan belas tahun?" Bia bertanya kembali.

"Ian kalang tujuh."

"Kamu korupsi umur. Baru juga tiga," ralat Dinia.

"Napa lama nabah, ya? Apa bili dulu?"

"Pokoknya karena belum delapan belas, Ditrian harus main di ruang main anak dulu. Nanti Nenek panggil lagi kalau sudah waktunya. Bisa?" pinta Bia.

"Oke!" Ditrian lari ke ruang main diikut salah satu pengasuh.

Dira menarik napas lega. "Taran, sebenarnya kami sangat terbantu dengan masa lalu kamu. Namun, di sisi lain kami juga takut. Yang tidak diketahui bukannya tidak ada. Bisa saja malah bersembunyi," ucap Dira.

"Maksud Anda, Tuan?" Taran tidak paham dengan apa yang mertuanya maksud.

"Orang tua kandungmu, pasti ada di luar sana. Mereka belum tentu pula tidak tahu di mana kamu berada," ungkap Dira.

Taran menunduk. Dia kini sadar apa bahayanya. "Mereka bisa saja menjatuhkan aku?"

"Mereka sudah sangat tidak bertanggung jawab dengan membuangmu. Tidak mungkin mereka tidak melakukan hal yang sana dengan memanfaatkan kepopuleran kamu."

"Ini pernah terjadi padaku, Taran. Pada akhirnya ibuku sendiri mempermalukan aku di depan banyak orang. Semua hanya demi keuntungan pribadi." Bia melanjutkan penjelasan suaminya.

"Apa saya perlu mencari mereka?" Taran kembali bertanya.

"Tentu. Karena kamu anaknya. Ini bukan tentang kami. Keluarga Kenan selalu punya cara melindungi diri. Namun, kamu punya hak sebagai anak. Kalaupun bukan saat dengan Dinia, ke depannya bukan berarti mereka tidak akan begitu, saat kamu dengan orang lain."

"Memang ada yang mau sama dia?" ledek Dinia.

Dira terbatuk. "Kalau kamu ingin melakukan hal ini. Lakukan dengan benar Dinia! Kalau hanya setengah-setengah, lebih baik kamu mundur! Perlihatkan rasa hormat kamu pada Taran! Jika terus begitu, semua sama saja bohong!" omel Dira.

Dinia mengangguk lemas. Tidak dia sangka akan dimaki ayahnya sendiri.

"Maaf, Taran. Kita bestie sekarang." Dinia mengulurkan tangan.

"Baik, Nona." Taran berdiri lalu membungkuk seperti SOP seorang staf biasanya.

Dinia turunkan tangan dengan wajah kesal. "Aku sama dia emang tidak pernah satu frekuensi. Aku ke kanan, dia ke kiri."

Bia tertawa kecil. "Aku dan Papamu juga. Pasangan itu tidak pernah ada yang sama, tapi sepasang. Kamu tidak bisa pakai sepatu kanan semua, kan?"

Dinia mengangguk. "Mama benar. Tapi, aku sama dia bukan pasangan."

"Saat ini kalian pasangan di depan orang lain. Tidak ada penyanyi yang tidak menjadi orang lain di depan penggemarnya. Karena itu aku tadi bilang, jangan setengah-setengah " Dira kembali angkat bicara.

Setelah wedjangan itu, Dinia dan keluarga barunya pamit. Kini Taran harus berjalan di depan Dinia sambil menggendong Ditrian. Tentu aneh bagi Dinia yang selalu menjadi center.

Bahkan mereka duduk di jok mobil yang sama. "Taran, kamu masa gak pernah sekali pun pacaran?"

"Saya sudah jelaskan sebelumnya, kan?" Taran bosan dengan pertanyaan yang sama.

"Kalau gini, gimana caranya kita bisa romantis?" Dinia memijiti kening.

"Anda suka baca itu, kan?" tanya Taran.

"Apa?"

"Buku yang membuat Anda senyum-senyum sendiri. Saya baca blurbnya. Mungkin kita bisa praktekan," saran Taran.

"Iya juga. Aku bakalan tandai bagian romantis di novel. Kamu nanti lakukan, ya?"

Taran mengangguk dengan terpaksa meski tidak tahu kenapa dia merasa geli. Seumur-umur Taran hanya membaca buku ilmiah dan menonton kisah rumah tangga berisi pelakor. Bagaimana bisa dia tahu caranya jadi budak cinta.

"Nona, bisa tidak Anda ceritakan saja. Saya rasa lebih berat membacanya daripada praktek," pinta Taran.

"Kamu ini ribet!"

🍁🍁🍁

1
Salsabila Hanifa
Berarti disini dustin belum menikah ya... Soalnya cucu 4 ernesto dari daren sama dira😁😁
Dyah Oktina
😁😁😁😁😁😁😁..iya itu pengalaman orang tua..anak yg harus dapat pelajaran dari itu..
Dyah Oktina
iya...maksutnya gemana nih thor?????
Dyah Oktina
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kok jd anjing laut sih nak...
Dyah Oktina
sok....iya...ian...gemes ih...jd pingin culik kamu kla ada d dunia nyata...tp.d.mana ya..???🤣🤣🤣
Dyah Oktina
dasar ian....🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Dyah Oktina
udah ngak usah d bangunin...biar aja mereka membuat adik buat ian...🤭😁😁
Dyah Oktina
ahhhhhhhhh co...cuwiiitttttt gitu dong..jd sama2 tahu isi.hatinya...😍😍😍
Dyah Oktina
aduh...rasanya buluk ya...🤭🤭😁😁😁
Dyah Oktina
aduh kacian...nangis ya perut ian...😁😁😁🤣🤣
Dyah Oktina
ya ampun pablo...percaya diri kali kau.. 🤦🏻‍♀️jangan sakit hati kla nnt d buat malu...😁
Dyah Oktina
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣segitu gantengnya kah taran...sampai ada yg kejungkel sofa...😁😁😁
Dyah Oktina
cieeeeeee dah mulai cemburu ya...tanda cinta.. ❤️
Dyah Oktina
saling terbuka aja & membuka hati...siapa tahu jodoh...jd ngak usah cari kemana..lanjut pernikahan kalian dgn benar..😍
Dyah Oktina
sancez apa itu trik atau kamu berkianat?
Dyah Oktina
ya ampuun..ditrian...kamu sayang mama...tp omongannya pedes bener...dasar anak mama...lagian udah kasih barang d ambil lagi..😁😁😁🤣🤣🤣🤣
Dyah Oktina
ya ampun....berarti taran adiknya pablo...ditrian ponakan mu berarti taran anak dari pablo...wah pantes cepet deket..masih sedarah..🤭
Dyah Oktina
apa hubungannya dgn sen motor emak2 thor.... 🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Dyah Oktina
ya ampun dinia..kasihan taran....salah mulu ya... d marah mulu...pdhal dia yg minta/ngomong dia juga yg sewot kla d kerjakan..🤭😁😁
Dyah Oktina
itu mah sama aja atuh kakak davin
. d luar galak d dalamnya keras... wah... takut ngajak debatnya juga..🤭😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!