NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 DI ANTARA TAWA DAN KESADARAN

Playground itu dipenuhi warna. Suara tawa anak-anak bercampur dengan musik ceria yang mengalun lembut di sudut ruangan. Queen sedang asyik bermain di kolam bola, sementara Sari berdiri tak jauh darinya matanya waspada, senyumnya tak pernah lepas setiap kali Queen menoleh ke arahnya.

Di kejauhan, Ammar berdiri diam. Ia baru saja tiba.

Namun langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan di hadapannya.

Queen tertawa lepas, wajah kecil itu berseri-seri, pipinya memerah karena terlalu gembira. Sari berjongkok di tepi kolam bola, menepuk tangan kecil, memberi semangat, tertawa bersama bukan tawa dibuat-buat, melainkan tawa yang tulus.

Ammar tak sadar dirinya tersenyum. Ada rasa hangat yang mengalir perlahan di dadanya. Sudah lama sekali ia tidak melihat Queen tertawa seperti itu. Dan entah mengapa… kehadiran Sari di sisi anaknya terasa begitu pas. Terlalu pas. Sejenak, pikirannya melayang.

Bayangan yang tak seharusnya muncul tiba-tiba terlintas sebuah gambaran sederhana, hangat, utuh. Seolah-olah perempuan itu adalah istrinya. Seolah-olah inilah keluarga kecil yang ia impikan selama ini.

Senyum Ammar membeku. Ia menggeleng pelan, menarik napas dalam-dalam.

“Apa yang sedang aku pikirkan…” gumamnya heran, hampir kesal pada dirinya sendiri. Ia menegakkan bahu, mengingatkan diri tentang kenyataan.

Tentang Sabrina.

Tentang batas.

Tentang tanggung jawab.

Namun sebelum pikirannya kembali rapi, sebuah suara nyaring memanggilnya.

“Papah!”

Ammar menoleh.

Queen berdiri di tengah kolam bola, melambaikan tangan kecilnya dengan penuh semangat.

“Papah!” teriaknya lagi. “Sini! Main sama Queen!”

Wajah kecil itu bersinar begitu melihatnya.

Sari juga menoleh. Sekejap, mata mereka bertemu.

Sari terkejut, lalu segera menunduk sopan. Namun senyum kecil tak bisa ia sembunyikan.

“Papah sudah datang, Kak Sari!” seru Queen riang. “Kakak benar! Papah pasti datang!”

Ammar melangkah mendekat. Ia berlutut di depan

Queen, membuka kedua tangannya. “Papah janji, kan?” katanya lembut.

Queen langsung memeluk leher Ammar. “Queen senang!”

Ammar mengangkat Queen dengan mudah, memutar tubuh kecil itu hingga tawa Queen pecah kembali. Ia kemudian melipat lengan kemejanya sebuah kebiasaan kecil sebelum melakukan sesuatu yang santai lalu menurunkan Queen kembali ke lantai.

“Ayo,” katanya. “Papah ikut main.”

Queen bertepuk tangan kecil. “Yeay!”

Sari berdiri sedikit kaku di samping mereka.

“Terima kasih sudah menemani Queen,” ucap Ammar singkat, namun nadanya tulus.

Sari mengangguk. “Sudah tugas saya, Tuan.”

Namun kali ini, Ammar tidak membantah. Mereka bertiga mulai bermain. Ammar membantu Queen menaiki perosotan tinggi, berdiri di bawah untuk menangkap tubuh kecil itu. Queen meluncur sambil tertawa keras, lalu langsung berlari kembali ke tangga.

“Lagi, Papah! Lagi!”

Ammar tertawa kecil. “Pelan-pelan.”

Sari berdiri di sisi lain, memastikan Queen tidak terjatuh. Sesekali ia mengingatkan, sesekali ikut tertawa.

Ammar memperhatikan. Gerak Sari lembut. Perhatiannya penuh. Tidak berlebihan, tidak acuh.

Queen benar-benar terlihat nyaman bersamanya.

Mereka berpindah ke area ayunan. Ammar mendorong ayunan pelan, sementara Sari berdiri di samping, siap menangkap jika ayunan terlalu tinggi.

“Papah, lebih tinggi!” pinta Queen.

Ammar menggeleng. “Nanti jatuh.”

“Papah penakut,” goda Queen.

Sari tersenyum kecil. “Papah sayang, Non. Bukan penakut.”

Ammar melirik Sari sejenak. Ada nada alami dalam ucapan itu. Seolah-olah mereka… satu tim.

Pikiran itu kembali muncul.

Ammar langsung menepisnya. Mereka berpindah ke arena balok besar. Queen menyusun balok warna-warni, sementara Ammar membantu, dan Sari duduk di lantai, memberi ide.

“Ini rumah Queen,” kata Queen sambil menyusun balok tinggi. “Papah di sini. Kak Sari di sini.”

Ammar tersenyum. “Kalau mamah?” tanyanya pelan.

Queen terdiam sejenak. Lalu menaruh satu balok kecil agak jauh.

“Mamah di sini. Nanti datang.”

Ammar menelan ludah Ia menatap Sari, yang hanya tersenyum tipis, tidak menambahkan apa pun.

Di sekitar mereka, beberapa pengunjung mulai melirik.

Seorang ibu berbisik pada temannya, cukup keras untuk terdengar.

“Pantas anaknya cantik,” katanya sambil tersenyum.

“Ibu dan bapaknya saja cantik dan tampan.” Ucapan itu membuat langkah Sari terhenti.

Wajahnya memanas. Ammar juga mendengar.

Ia refleks menoleh ke arah Sari dan mendapati gadis itu tertunduk, jelas tidak nyaman. Dadanya bergetar.

Ia ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum sempat, Queen berseru, “Itu papah Queen!”

Ibu-ibu itu tersenyum semakin lebar. “Keluarganya kelihatan bahagia sekali,” kata yang lain.

Ammar menegakkan tubuh. Ia menatap Queen, lalu Sari.

Di dalam dirinya, ada konflik antara rasa hangat yang baru saja ia rasakan, dan kesadaran keras yang tak bisa dihindari.

Ini tidak benar.

Ini hanya ilusi.

Ia berdeham pelan, lalu berkata dengan nada tenang namun jelas, “Dia pengasuh Queen.”

Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk mengembalikan jarak.

Sari menghela napas kecil lega sekaligus perih.

Queen menatap Ammar bingung. “Kak Sari kan keluarga Queen?”

Ammar berjongkok di hadapan anaknya. “Kak Sari orang baik yang jaga Queen. Tapi keluarga Queen itu papah, mamah, dan Queen.”

Queen mengangguk, meski jelas belum sepenuhnya paham.

“Terus Kak Sari tetap main sama Queen, kan?” tanyanya khawatir.

Sari tersenyum lembut. “Tentu, Non.”

Ammar berdiri kembali. Ia memandang mereka berdua anaknya yang tersenyum, dan gadis desa yang dengan tulus menjaga.

Dalam hati, Ammar berjanji pada dirinya sendiri:

Ia tidak boleh membiarkan kekosongan di hatinya mengaburkan batas.

Ia tidak boleh menyeret Sari ke dalam konflik yang bukan miliknya. Namun satu hal juga tak bisa ia pungkiri

Hari itu… adalah hari paling hangat yang ia miliki sejak lama.

Dan saat Queen kembali tertawa di ayunan, Ammar berdiri di samping Sari, menjaga jarak yang sopan namun dalam diam, ia tahu. Perubahan telah dimulai.

Bukan cinta. Belum.

Melainkan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang memiliki, melainkan tentang menjaga dengan benar, dan pada tempatnya.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
Lintang Edgar: Dilingkup kehidupan orang-orang kaya yang diutamain adalah karier serta kejayaan. Makanya mereka menikah cuma formalitas saja. Sing penting setara duit, urusan hangat, matang, panas dan dingin itu belakangan. 🤣
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!