Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar yang Terkunci, Tangisan yang Memecah Hati
[Perlahan, Uti dan Umi menjelaskan fakta tentang pernikahan Gus Arya dan Bijel. Setelah semua laki-laki mengurus masalah di luar dan masalahnya selesai, mereka masuk ke dalam dan menuju ruang keluarga. Sampai di ruang keluarga, mereka melihat Bijel dalam posisi tiduran di paha Uminya, tatapannya kosong dengan air mata yang terus mengalir tanpa suara ataupun isakan.]
Umi Nida: (dengan nada khawatir) "Bijel, Nak, Umi mohon, jangan seperti ini. Bicaralah sesuatu."
Nyai: (dengan nada lembut) "Bijel, Uti tahu kamu pasti sangat terluka. Tapi, jangan pendam semuanya sendiri."
[Mereka tahu Bijel membutuhkan waktu. Abi mencoba perlahan-lahan mendekati Bijel dan mengajaknya berbicara, tapi air mata Bijel semakin mengalir deras tanpa suara apapun, tatapannya kosong. Saat disentuh oleh Abinya dan para kakaknya, ia menolak. Hingga akhirnya, Gus Arya duduk di hadapannya dan mencoba mengajaknya berbicara. Bijel memalingkan mukanya ke arah lain dan tidak mau melihat wajah Arya sama sekali.]
Abi Rasya: (dengan nada lembut) "Bijel, Nak, Abi mohon, jangan seperti ini. Abi tahu kamu pasti marah dan kecewa. Tapi, bicaralah sesuatu. Jangan pendam semuanya sendiri."
Bijel: (tetap diam, air matanya terus mengalir)
Gus Arka: (dengan nada khawatir) "Dik, kami semua sayang sama kamu. Jangan menyiksa diri sendiri seperti ini."
Bijel: (tetap diam, menolak sentuhan dari kakaknya)
Gus Arya: (dengan nada penuh penyesalan) "Bijel, maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku mohon, bicaralah denganku. Jangan diam seperti ini."
Bijel: (memalingkan wajahnya, tidak mau melihat Gus Arya)
[Bijel lalu bangun dan berjalan menuju kamarnya. Ia mengunci kamarnya dan tidak membiarkan siapapun masuk. Dari luar, mereka mendengar suara tangisan Bijel yang hancur, rapuh, dan juga suara barang yang pecah akibat sengaja dipecahkan. Suara yang berasal dari kamar Bijel semakin lama semakin keras.]
[Mereka khawatir takut bijel nekat.]
(Di Luar Kamar Bijel)
Umi Nida: (dengan nada panik) "Ya Allah, Bijel! Jangan lakukan hal yang aneh-aneh, Nak!"
Abi Rasya: "Bijel, buka pintunya! Kami mohon!"
Gus Arka: "Bijel, jangan menyakiti dirimu sendiri!"
Gus Arya: (dengan nada putus asa) "Bijel, aku mohon, bicaralah denganku! Biarkan aku menjelaskan semuanya!"
[Mereka semua merasa sangat khawatir dan takut jika Bijel nekat melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri. Mereka terus menerus memanggil nama Bijel dan memohon agar Bijel membuka pintu kamarnya.]
[Di dalam kamar, Bijel terus menangis dan melampiaskan amarahnya dengan memecahkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Ia merasa sangat marah, kecewa, dan terluka karena sudah dibohongi oleh orang-orang yang paling ia sayangi. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan kemana ia harus pergi. Ia merasa sangat sendirian dan tidak berdaya.]
[Tiba-tiba, Bijel melihat sebuah foto dirinya bersama dengan keluarganya di atas meja. Ia mengambil foto tersebut dan menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. Ia teringat akan semua kenangan indah yang pernah ia alami bersama dengan keluarganya. Ia teringat akan kasih sayang dan perhatian yang selalu ia dapatkan dari mereka.]
[Bijel mulai merasa ragu dengan keputusannya untuk menyakiti dirinya sendiri. Ia tidak ingin membuat keluarganya sedih dan khawatir. Ia tahu bahwa keluarganya pasti sangat menyesal karena sudah membohonginya. Ia tahu bahwa mereka melakukan semua itu karena mereka menyayanginya.]