NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kenapa harus malu

Pagi harinya, Sebelum menuju rumah sakit, ia memutuskan untuk mampir sebentar ke bengkelnya.

Kang Rian, kepala mekanik sekaligus orang kepercayaannya, langsung menghampiri Rangga dengan membawa beberapa lembar kuitansi.

"Ini ada beberapa part yang datang dari Jakarta, mau dicek sekarang?" tanya Kang Rian.

Rangga menggeleng pelan. "Enggak sekarang kang, Gue ke sini cuma mau bilang kalau seharian ini gue bakal pergi. Urusan bengkel gue serahin ke kang Rian dulu ya."

Kang Rian mengernyitkan dahi, merasa heran karena biasanya Rangga adalah orang pertama yang akan mengecek kiriman barang.

"Tumben? Ke mana?"

"Ada urusan bentar... urusan pribadi," jawab Rangga.

"Oh, ya sudah. Aman kalau itu mah. Serahkan saja ke saya," balas Kang Rian sambil mengacungkan jempolnya.

Setelah memastikan bengkel dalam kondisi terkendali, Rangga segera memacu mobilnya. Ia berhenti di sebuah toko buah untuk membeli satu keranjang buah-buahan segar. Tak lupa, ia mampir ke tempat bubur ayam langganannya yang terkenal. Ia membeli dua porsi besar, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Nenek Tari.

Dengan dua kantong plastik di tangan dan keranjang buah di lengan lainnya, Rangga melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Rangga menuju Kamar 304, tempat Ayu dirawat.

Rangga mengetuk pintu dengan pelan sebelum melangkah masuk. Di dalam, ia melihat Ayu yang wajahnya masih sangat pucat sedang duduk bersandar di tempat tidur rumah sakit. Nenek Tari tampak sedang memegang mangkuk bubur rumah sakit, berusaha membujuk cucunya yang terus memalingkan wajah.

Ayu yang melihat kedatangan Rangga langsung terbelalak kaget. Ia mencoba memperbaiki posisi duduknya meskipun kepalanya masih terasa sangat berat.

"Mas Rangga? Kenapa... kenapa dia ada di sini, Nek?" tanya Ayu dengan suara serak, beralih menatap Nenek Tari dengan penuh tanda tanya.

Nenek Tari menghela napas, lalu menjelaskan dengan tenang. "Den Rangga yang menolong kamu semalam, Yu. Dia yang bawa kamu ke sini, yang mengurus semua sampai kamu ditangani dokter. Den Rangga juga yang tadi malam menunggu sampai Nenek datang."

Ayu tertegun. Ia menunduk, tidak berani menatap Rangga yang kini hanya diam membisu sambil meletakkan keranjang buah dan bungkusan sarapan di atas nakas dengan gerakan tenang.

"Dia kenapa, Nek?" tanya Rangga pelan sambil melirik ke arah mangkuk yang masih penuh.

"Ini dari tadi nggak mau makan, Den. Makannya cuma satu suap, katanya nggak selera," keluh Nenek Tari cemas.

"Kan nggak enak, Nek. Hambar banget rasanya," sahut Ayu pelan, membela diri.

Rangga menarik sebuah kursi dan duduk di samping tempat tidur. Ia mengambil bungkusan yang ia bawa tadi.

"Nenek sarapan dulu, ini saya ada beli bubur ayam langganan di depan. Biar Ayu saya yang suapi"

"Eh, nggak usah Mas... aku bisa sendiri," tolak Ayu cepat, merasa tidak enak hati sekaligus malu.

Nenek Tari melihat kesempatan ini agar cucunya mau makan. "Sudah, jangan membantah. Nenek mau ke kamar mandi dulu sebentar buat cuci muka, sekalian nanti Nenek sarapan bubur dari Den Rangga. Tolong ya, Den."

Begitu Nenek Tari masuk ke kamar mandi, suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat canggung. Hanya terdengar bunyi detak jam dinding dan suara samar aktivitas di koridor.

Rangga meraih mangkuk bubur hambar milik rumah sakit itu. Ia meniupnya perlahan, lalu menyodorkan sendok ke depan bibir Ayu.

"Buka mulutnya," ucap Rangga dengan nada yang datar.

Ayu menatap sendok itu, lalu menatap mata Rangga. Karena merasa tidak punya pilihan lain di bawah tatapan tajam pria itu, Ayu akhirnya membuka mulutnya. Namun, baru satu suapan masuk, wajahnya langsung berubah. Ia memejamkan mata, menelan dengan susah payah, dan ekspresinya menunjukkan ia sangat mual.

"Udah... mau muntah, Mas. Benaran hambar banget," bisik Ayu sambil menutup mulutnya dengan tangan.

Rangga menghela napas, lalu meletakkan mangkuk rumah sakit itu kembali ke meja. Ia kemudian membuka bungkusan bubur ayam yang ia beli tadi. Aroma kaldu gurih dan cakwe hangat langsung memenuhi ruangan, jauh lebih menggugah selera dibanding makanan rumah sakit.

"Ya sudah, kalau itu nggak masuk, coba yang ini. Saya sengaja beli yang teksturnya lembut tapi rasanya ada," ujar Rangga sambil menyendok bubur ayam yang baru.

Ayu akhirnya menyerah pada rasa lapar dan aroma gurih bubur yang dibawa Rangga. Perlahan namun pasti, ia berhasil menghabiskan setengah dari porsi bubur ayam tersebut.

Setelah sendok terakhir, Ayu menatap Rangga yang masih duduk setia di sampingnya. Ia merasa tidak enak melihat Rangga yang sejak tadi sibuk mengurusnya.

"Mas sudah sarapan?" tanya Ayu pelan. "Mas Rangga jangan cuma pedulikan orang lain saja. Ingat diri sendiri juga. Mas kelihatan capek."

Rangga hanya melirik sekilas ke arah Ayu, lalu menarik mangkuk bubur yang tadi dimakan Ayu ke hadapannya.

"Ini juga mau makan," jawab Rangga singkat.

Tanpa ragu sedikit pun, Rangga mengambil sendok bekas Ayu dan mulai memakan sisa bubur di mangkuk yang sama. Ia makan dengan tenang, seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat wajar dilakukan.

Ayu terbelalak kaget. Jantungnya berdegup kencang melihat pemandangan itu. "Mas... itu kan bekas aku," bisiknya dengan suara tertahan.

Rangga tidak berhenti. Ia menelan suapan pertamanya lalu menatap Ayu datar. "Dulu kita juga sering begini, kan? Kenapa sekarang harus kaget?"

Ayu terdiam, lidahnya kelu. Ia ingin mengucapkan sesuatu tapi bibirnya seolah terkunci.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!