Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abu Kebenaran
Cahaya putih itu bukan kematian, melainkan kekosongan yang menyakitkan. Ketika penglihatan Elena mulai kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah rasa logam di lidahnya dan dering tinggi yang menusuk gendang telinga. Elena mencoba menggerakkan tangan, namun pergelangan tangannya tertahan oleh borgol baja dingin yang mengunci posisinya di sebuah kursi besi. Ruangan itu tidak lagi megah; bukan lagi ruang arsip kementerian yang dipenuhi server berkedip, melainkan sebuah ruang beton sempit dengan satu lampu pijar yang berayun pelan di langit-langit.
Ingatan terakhir Elena adalah ledakan dan sosok pria yang menyerupai ayahnya. Otak Elena bekerja keras, mencoba membedakan antara halusinasi akibat gas pelumpuh atau kenyataan yang mengerikan. Pintu besi berat di depannya berderit terbuka, memantulkan suara langkah kaki yang bergema di dinding beton.
Bukan sosok pria tadi yang masuk, melainkan Isabella Valenti. Isabella tidak lagi mengenakan gaun merah darahnya; kini ia memakai setelan hitam yang kaku, wajahnya tampak tenang namun kemenangan terpancar dari sorot matanya yang dingin. Di belakang Isabella, berdiri dua pria bersenjata lengkap dengan seragam tanpa lencana.
"Selamat datang kembali ke dunia nyata, Elena," suara Isabella terdengar jernih, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun. "Ledakan itu hanya drama kecil untuk konsumsi publik. Di luar sana, kau sudah dinyatakan tewas sebagai teroris. Dunia percaya bahwa putri Moretti akhirnya hancur bersama dendamnya sendiri."
Elena meludah ke arah lantai, matanya menatap Isabella dengan kebencian yang murni. "Di mana pria itu? Pria yang berwajah seperti ayahku?"
Isabella tertawa kecil, suara tawa yang hampa. "Teknologi masker silikon dan modulasi suara bisa melakukan keajaiban, Elena. Itu adalah hadiah perpisahan dariku untuk menghancurkan pertahanan mentalmu sebelum sistem pengaman gedung meledak. Ayahmu sudah membusuk di tanah Verona sepuluh tahun lalu. Jangan biarkan harapan palsu membuatmu menjadi bodoh."
Hati Elena mencelos. Rasa sakit karena dipermainkan dengan memori ayahnya jauh lebih perih daripada borgol di tangannya. Namun, Elena segera teringat pada pesan di ponselnya sebelum kegelapan melanda.
"Dan Matteo?" suara Elena bergetar, meski ia mencoba menahannya. "Pesan itu... apakah itu juga bagian dari permainanmu?"
Isabella berjalan mendekat, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Elena. Aroma parfum mawar yang tajam menusuk hidung Elena. "Pesan itu bukan dariku, tapi dari sistem arsip yang baru saja kau buka. Matteo Valenti memang pelindungmu, Elena. Tapi dia melindungimu karena rasa bersalah, bukan cinta. Sepuluh tahun lalu, Matteo adalah penembak jitu muda yang dikirim oleh ayahku untuk memastikan ayahmu tidak pernah keluar dari mobilnya malam itu. Kenapa kau pikir dia selalu tahu di mana kau berada? Karena dia adalah orang yang menghancurkan duniamu."
Dunia Elena seolah runtuh untuk kedua kalinya. Bayangan Matteo yang menatapnya dengan penuh kasih di taman Mestre, genggaman tangannya di bawah air laguna, semuanya kini terasa seperti racun yang mengalir di pembuluh darah Elena.
"Kau berbohong," desis Elena, namun logika di kepalanya mulai menghubungkan titik-titik yang selama ini ia abaikan. Matteo yang selalu tahu celah keamanan, Matteo yang begitu mahir dengan senjata jarak jauh, dan Matteo yang memiliki rahasia yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan tentang malam itu.
"Tanya saja padanya jika kau melihatnya lagi," ucap Isabella sambil berdiri tegak. "Tapi itu tidak akan terjadi. Matteo sedang berada di sel isolasi di sayap utara. Dia akan dieksekusi pagi ini sebagai pengkhianat keluarga Valenti. Dan kau... kau akan tetap di sini sampai aku mendapatkan kode otentikasi terakhir untuk aset Moretti di Swiss yang belum sempat kau hapus di Poveglia."
Isabella memberi isyarat kepada penjaganya dan melangkah keluar, meninggalkan Elena dalam kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya.
Elena duduk diam, air mata kemarahan mengalir di pipinya. Namun, di tengah keputusasaan itu, Elena merasakan sesuatu yang keras di balik lipatan jaket taktisnya yang tidak disita sepenuhnya—sebuah pisau kecil yang disembunyikan Matteo di dalam jahitan tersembunyi saat mereka berada di Mestre.
“Gunakan ini hanya jika kau benar-benar terdesak, Bellissima,” suara Matteo terngiang di telinga Elena.
Apakah itu tanda cinta, atau cara Matteo memastikan Elena tetap hidup agar ia tidak perlu menanggung beban dosa yang lebih besar? Elena tidak tahu. Namun satu hal yang pasti: Elena Moretti tidak akan mati di ruang beton ini.
Dengan gerakan yang menyakitkan, Elena mulai menggesekkan pergelangan tangannya, mencoba meraih pisau kecil itu. Rasa sakit karena gesekan baja borgol tidak ia pedulikan. Elena harus keluar. Elena harus melihat mata Matteo secara langsung dan menanyakan kebenaran itu, sebelum maut menjemput mereka berdua di Roma.
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari langit-langit ruangan. Debu jatuh menimpa kepala Elena. Sebuah lubang ventilasi terbuka, dan sebuah tali turun dengan cepat. Seseorang dengan penutup wajah hitam meluncur turun dan mendarat dengan ringan di depan Elena.
Orang itu membuka penutup wajahnya. Bukan Matteo, bukan pula Luca.
Itu adalah Marco. Wajah pria tua itu tampak penuh dengan luka bakar baru, namun matanya tetap tajam. "Kita tidak punya banyak waktu, Elena. Seluruh gedung ini akan segera dikosongkan karena protokol keamanan Isabella."
"Marco? Bagaimana kau bisa masuk?" Elena bertanya sambil Marco dengan cepat membuka borgolnya menggunakan kunci master.
"Aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu, Nak. Ayahmu memberikan satu janji padaku sepuluh tahun lalu: untuk menjagamu sampai akhir, apa pun risikonya," Marco membantu Elena berdiri.
"Marco... apakah Matteo yang membunuh ayahku?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Elena.
Marco terdiam sejenak, tangannya berhenti bergerak di atas borgol terakhir. Marco menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kebenaran memiliki banyak lapisan, Elena. Di dunia ini, tidak ada yang sepenuhnya putih atau hitam. Tapi Matteo mempertaruhkan nyawanya untuk membawaku ke sini sebelum dia ditangkap. Dia tahu kau akan membencinya setelah melihat data itu."
Elena menarik tangannya yang sudah bebas, menggosok bekas borgol yang memerah. "Di mana dia?"
"Di sel isolasi bawah. Tapi kita harus pergi sekarang, Elena. Pasukan Black Wing sudah bergerak."
"Tidak," Elena mengambil pistol dari pinggang Marco. "Aku tidak akan pergi tanpa jawaban. Dan aku tidak akan pergi tanpa melihat Isabella jatuh."
Elena melangkah keluar dari sel, amarahnya kini telah berubah menjadi energi yang dingin dan terarah. Elena tidak peduli lagi jika Matteo adalah pembunuh ayahnya atau bukan; saat ini, musuh bersama mereka adalah wanita yang sedang duduk di singgasana kementerian.
Saat mereka menyusuri koridor bawah tanah yang gelap, Elena melihat monitor pengawas di dinding. Di sana, ia melihat Matteo. Pria itu dirantai di sebuah kursi, wajahnya hancur akibat siksaan, namun ia tetap bungkam. Di depan Matteo, Sergio Donati sedang memegang sebuah jarum suntik yang berisi cairan bening.
"Matteo..." bisik Elena.
Tiba-tiba, suara dari pengeras suara gedung kembali terdengar. Kali ini bukan suara Isabella, melainkan suara rekaman pembicaraan sepuluh tahun lalu yang entah bagaimana terputar di seluruh sistem audio kementerian.
"Target sudah dalam bidikan, Tuan Valenti. Haruskah saya menekan pelatuknya?" suara itu sangat mirip dengan suara Matteo saat masih remaja.
"Lakukan, Matteo. Ini adalah demi masa depan keluarga kita," sahut suara Pietro Valenti.
Elena berhenti melangkah. Kakinya terasa lemas. Rekaman itu adalah bukti terakhir yang ia butuhkan. Namun, ada satu suara lagi di akhir rekaman itu yang membuat Elena membeku.
"Maafkan aku, Moretti. Ini bukan tentang bisnis... ini tentang bertahan hidup."
Itu adalah suara ayah Elena sendiri.
Maksud dari semua ini menjadi semakin kabur. Mengapa ayahnya meminta maaf? Mengapa Matteo terdengar ragu? Elena menyadari bahwa ia baru saja membuka kotak Pandora yang jauh lebih besar dari sekadar korupsi menteri. Ada konspirasi antara dua ayah yang saling mencintai namun dipaksa saling menghancurkan demi melindungi anak-anak mereka.
Elena menatap Marco. "Kau tahu tentang ini, Marco?"
Marco menundukkan kepala. "Malam itu, ayahmu tahu dia akan mati. Dia yang mengatur agar Matteo yang menjadi penembaknya, karena dia tahu Matteo tidak akan pernah benar-benar menembak untuk membunuh. Ayahmu memalsukan kematiannya sendiri malam itu dengan bantuan Matteo, agar dia bisa menghilang dan melindungimu dari bayang-bayang. Tapi ada yang salah... Matteo terpaksa menembak tangki bensin untuk menciptakan ledakan sebagai pengalihan, dan ayahmu benar-benar terjebak di dalamnya."
Elena jatuh terduduk. Jadi, Matteo bukan pembunuh yang kejam. Matteo adalah orang yang mencoba membantu ayahnya memalsukan kematian, namun rencana itu berakhir dengan tragedi yang nyata. Matteo menanggung beban itu sendirian selama sepuluh tahun, membiarkan Elena membencinya agar Elena tetap memiliki alasan untuk berjuang.
"Aku harus menyelamatkannya," Elena berdiri kembali, matanya kini dipenuhi dengan tekad yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Aku harus menyelamatkan Matteo."
Namun, tepat saat Elena berbelok di koridor menuju sel Matteo, ia melihat Isabella sudah berdiri di sana dengan granat di tangannya, siap untuk meledakkan seluruh blok sel isolasi.
"Selamat tinggal, Elena Moretti. Dan selamat tinggal pada pengkhianat kecilku, Matteo," Isabella menarik pin granat itu dengan senyum kemenangan.
Elena menerjang maju, tidak peduli pada maut yang hanya berjarak beberapa meter di depannya. Apakah Elena akan sampai tepat waktu? Ataukah rahasia besar ini akan terkubur selamanya bersama ledakan di bawah gedung kementerian Roma?
Bab berikutnya akan menjadi puncak dari segalanya. Akankah Elena mampu menghentikan Isabella? Dan apa yang akan terjadi ketika Elena dan Matteo akhirnya bertatap mata setelah kebenaran terungkap?