NovelToon NovelToon
Gadis SMA Milik Casanova

Gadis SMA Milik Casanova

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Tamat
Popularitas:869.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Puput

Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.

Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.

Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

"Dion, lo mau kemana?" tanya Silvi setelah dia selesai berganti pakaian. Dia menghampiri Dion yang sudah bersiap untuk pergi.

"Gue mau balik dulu." kata Dion sambil tersenyum.

"Jadi ini semua rencana lo?"

Dion hanya tersenyum lalu mengusap puncak kepala Silvi sesaat. "Gue ikut bahagia jika melihat lo bahagia. Kita masih bisa bersahabat kan."

Silvi hanya menganggukkan kepala dan tersenyum menatap Dion dengan mata berbinarnya.

"Pak Dika, titip Silvi. Jaga dia baik-baik."

Andika menganggukkan kepalanya. "Iya, itu pasti."

"Gue duluan ya." Dion membalikkan badannya dan melambaikan tangannya pada Silvi dan Andika.

Silvi masih menatap punggung Dion yang kian menjauh. Genggaman tangan Andika di tangannya menyadarkannya dari lamunan.

Silvi beralih menatap Andika yang ada di sampingnya. Dadanya berdebar lagi. Dia tidak mengira, dia sekarang kembali dengan Andika. Seseorang yang pernah dia benci, tapi justru rasa cinta dan rindu bersatu mengalahkan rasa benci.

"Kita makan dulu di kafe sebelah ya. Kebetulan mobil aku parkir di sana karena tempat parkir di sini penuh."

Silvi hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan menuju sebuah kafe yang berada di dekat tempat kompetisi itu. Tautan tangan Andika masih dengan erat menggenggam tangan Silvi. Sampai mereka masuk ke dalam kafe dan duduk di kursi yang kosong, barulah Andika melepas tautan tangannya.

Andika kini memesan makanan dan minuman.

Silvi masih merasa canggung. Setelah apa yang dilaluinya dulu, kemudian sekarang dia dipertemukan lagi dengan sebuah perasaan. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia katakan?

"Kenapa?" tanya Andika yang melihat Silvi sedari tadi hanya terdiam.

Silvi menggelengkan kepalanya. "Aku kalah kompetisi lagi." Sebenarnya bukan itu yang ada dipikiran Silvi, melainkan cara menetralkan detak jantungnya yang masih berdetak tak karuan.

Andika hanya tersenyum. "Nanti kalau ada kompetisi kamu bisa ikut lagi. Maaf, dua kali ikut kompetisi semua kalah gara-gara aku."

"Iya, tidak apa-apa. Memang belum waktunya untuk menang."

"Bagaimana kuliah kamu? Sekarang sudah semester dua?" tanya Andika sambil menunggu pesanannya datang.

"Iya, sudah semester dua."

Beberapa saat kemudian makanan dan minuman mereka datang. Seketika Silvi meminum es nya. Selain haus, es itu sebagai pengalihan dari pandangan Andika.

"Sil, besok orang tua aku akan melamar ke rumah kamu dan menemui Ayah kamu. Kalau bisa seminggu lagi kita menikah ya?"

"Secepat itu?"

Andika menganggukkan kepalanya. Dia kembali menggenggam tangan Silvi. "Karena aku gak mau kehilangan kamu lagi."

"Gak ada alasan yang lain kan?" tanya Silvi. Tentu saja ada alasan lain selain itu.

"Iya, ada. Karena aku sangat merindukan kamu. Malam-malam aku sepi dan hampa tanpa kamu."

"Tapi, hmm, Pak Dika sudah tidak menjalin hubungan dengan wanita lain kan?" Silvi harus memastikan tentang hal itu. Dia tidak mau Andika membagi cintanya untuk wanita lain.

Andika menggelengkan kepalanya. "Aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan wanita lain selain kamu."

Silvi tersipu malu saat Andika tiba-tiba mencium tangannya.

Kemudian Andika melepas tangannya agar Silvi mulai menyantap makanannya.

"Pak Dika ternyata bisa dance juga ya." Silvi melanjutkan obrolannya agar tidak merasa canggung lagi.

Andika tersenyum kecil sambil memegang garpu spagethi nya. "Dulu waktu kuliah, aku sering ikut dance juga."

Silvi hanya mengangguk pelan. Lalu dia mulai makan.

"Hmm, Sil, mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan Pak."

Silvi hanya terdiam. Lalu panggilan apa yang cocok untuk Andika. Kakak, Abang, atau Mas? "Terus panggil apa?"

"Mas Dika."

Silvi hanya menundukkan pandangannya. Untuk menyebut panggilan itu rasanya dia sangat malu.

"Kalau gak mau, gak papa. Lain kali saja."

Silvi hanya tersenyum kaku, bukan tidak mau hanya saja belum terbiasa. Mereka sama-sama diam saat menghabiskan makannya.

Tiba-tiba saja tangan Andika terulur dan mengusap ujung bibir Silvi. "Ada pasta."

Lagi-lagi detak jantung Silvi kembali berdebar. Apakah setelah ini Andika akan benar-benar perhatian padanya? Tidak lagi berucap ataupun berperilaku kasar seperti dulu lagi.

Setelah menghabiskan makanan dan minumannya, mereka berdua keluar dari kafe lalu masuk ke dalam mobil Andika. Beberapa saat kemudian mobil Andika sudah melaju menuju rumah Silvi.

Tak banyak percakapan di antara mereka. Mereka masih sama-sama canggung.

Setelah Andika menghentikan mobilnya di depan rumah Silvi. Andika membantu Silvi melepas seatbelt nya. Kedua mata itu kini saling berpandangan.

Jiwa dan raga yang sama-sama merindu itu tanpa sadar saling mendekat. Wajah itu kini menyatu, secara alami tanpa ada paksaan seperti dulu.

Silvi menerima sentuhan Andika dengan terbuka bahkan dia membalas setiap pagutan itu sampai napas mereka berdua terasa sesak.

Silvi mengalungkan tangannya di leher Andika seolah tidak mau jika Andika melepas ciuman itu.

Sebelum hawa panas semakin menjalar ke seluruh tubuhnya, Andika melepas ciumannya. Dia usap lembut bibir Silvi yang basah. "Kita tunggu setelah kita menikah nanti. Kita ulangi semuanya dengan penuh cinta tanpa paksaan."

Silvi tersenyum malu. Mengapa juga dia bisa terbuai dengan sentuhan Andika. Ya, malu-malu mau.

Setelah itu mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.

Andika kini bertemu dengan Pak Adi. Kali ini dia bersikap sangat sopan, seperti seorang menantu pada mertuanya. Dia bersalaman dan mencium punggung tangan Pak Adi.

"Pak Dika."

"Pak Adi mulai sekarang jangan panggil saya, Pak."

"Baik, baik, sini duduk dulu."

Mereka akhirnya duduk berjajar di ruang tamu.

"Pak Adi, besok kedua orang tua saya akan datang untuk melamar Silvi." kata Andika menyampaikan niat baiknya.

Seketika senyum Pak Adi merekah. Dia merengkuh tubuh putrinya. "Iya, jika Silvi setuju dengan pernikahan ini, saya pasti akan merestuinya." Kemudian Pak Adi mengusap puncak kepala Silvi. "Semoga kamu selalu bahagia ya, nak."

"Amin, Ayah."

💕💕💕

.

Like dan komen ya..

.

Mampir ke karya author yang baru yuk. Genre horor ya, tapi gak horor banget. Kisah cintanya anak sekolah.

.

1
Luzi Refra
Luar biasa
Lyly
Kecewa
Lyly
Buruk
Adila Ahmad
b
Riska Afzal
menyesal sudah
Ddek Aish
mampir thor
+39 🔕
HUAAAAAA 🥺 tenk yu tomat kaka otor 🌚🌚🌚
+39 🔕
jelas tidak! 🌚🌚🌚
Miyagi Mitsui
kesian silvy
Thywi Puspitasari
Luar biasa
Atma Inatun Nikhma
terima kasih....
ditgg karya selanjutnyaaaa
Atma Inatun Nikhma
Luar biasa
Ellasama
setelah liat visual ny Dion lebih baik Silvi sama Dion aja🤭
Siti patma
baru x liat author bingung dgn karyanya sendiri☺☺☺☺☺
andi_wathy
semua ceritanya bagus ..
andi_wathy
aku Uda baca semua novel Kevin fams tapi kok blm ada ceritanya anaknya Rendra Uda ketemu blm anaknya?
andi_wathy: ditunggu /Smile/
total 2 replies
kalea rizuky
klo mau balikan waduh bahaya jijik sumpah
Ibelmizzel
kasian silvi
Mamah Kekey
ending yang bagus
Mamah Kekey
selamat atas kelahiran bayi cantik nya Silvi dan Andika
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!