Raihan dan Syakilla menikah karena perjodohan. Demi mewujudkan amanah orang tua Syakilla yang menitipkan anaknya kepada orang tua Raihan. Padahal saat itu Raihan sudah memiliki kekasih yang bernama Syila.
Raihan tak pernah menjalankan tugasnya sebagai seorang suami yang baik, Raihan kerap membuat Syakilla menangis dengan menyakit hatinya.
Bagaimana kisah rumah tangga mereka dengan adanya orang ketiga di tengah-tengah mereka? Jalan apa yang Syakilla tempuh? Bertahan dengan suami yang tak pernah mencintainya ataukah lebih memilih berpisah dan mencari kebahagiaan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Boy
Killa sudah berada di rumah sakit, kali ini dia tak pergi sendirian. Bunda Bunga ikut menemani Killa untuk memeriksakan kandungannya. Mereka kini sedang menunggu saatnya Killa di panggil untuk periksa.
"Pasien selanjutnya, Nyonya Syakilla," panggil sang perawat.
Killa dan Bunda Bunga beranjak bangkit dari tempat duduknya untuk masuk ke dalam ruangan periksa. Kini mereka sudah berhadapan dengan Dimas. Dimas terlihat ramah menyambut Killa.
"Ma, kenalkan! Dokter Dimas ini kakaknya sahabat aku. Dok, kenalkan ini Bunda Bunga. Bunda angkat aku." Mereka berjabat tangan, saling berkenalan. Inilah pertama kalinya Killa mengajak Bunda Bunga memeriksakan kandungannya.
Awalnya Killa sempat merasa bingung dengan status Bunda Bunga. Dia sempat ingin memperkenalkan Bunda Bunga sebagai mantan mertuanya, tapi rasanya tak enak untuk di dengar. Karena di ruangan itu ada perawat juga.
"Gimana La? Ada yang kamu keluhkan enggak?" tanya Dimas.
Dimas berusaha untuk bersikap santai bicara dengan Killa, meskipun saat ini jantung Dimas berpacu lebih cepat. Setelah dia memiliki perasaan kepada Killa, Dimas menjadi sedikit kikuk saat berhadapan dengan Killa.
"Alhamdulillah sudah enggak ada Kak, aku juga sudah tak mengalami lagi drama mual atau apapun. Hanya saja suka merasa kencang di bagian perut," jelas Killa.
"Oh gitu? Ya sudah, ayo kita coba periksa dulu! Killa berbaring dulu ya di ranjang!" titah Dimas.
Dimas merasa gemetar saat mengangkat gamis yang Killa kenakan ke atas, tak seperti dulu sebelum memiliki perasaan. Tangan Dimas tampak menggerakkan transducer yang ditempelkan di perut Killa. Killa dan Bunda Bunga tampak serius menatap layar monitor.
"Wah, selamat ya La. Anak kamu baby boy ini. Ada monasnya," jelas Dimas.
"Pasti Ayah senang banget ini, La. Kalau tahu saat ini kamu mengandung anak laki-laki. Dulu, saat tahu kamu hamil saja dia sudah senang, apalagi tahu kalau kamu sedang hamil anak laki-laki. Pasti dia tambah senang," ujar Bunda Bunga.
Dimas hanya memperhatikan Killa dan Bunda Bunga berbicara, dia jadi tahu kalau wanita yang bersama Killa adalah mantan ibu mertuanya. Ada perasaan iba di benak Dimas, saat mengingat begitu beratnya beban Killa harus merasakan hamil tanpa seorang suami.
"Padahal Killa wanita yang cantik, tutur katanya juga lembut, sederhana. Suaminya dulu bodoh banget ya membuang dia begitu saja? Mama dan papa kira-kira setuju enggak ya kalau aku menikah dengan Killa? Killa mau enggak ya menikah sama aku?" Dimas bermonolog.
Dimas tampak bengong menatap Killa. Hingga sang perawat mencoba menyadarkannya dari lamunannya. Wajah Dimas terlihat memerah, dia merasa malu.
"Mengapa Kak Dimas menatap aku seperti itu ya?" Killa bertanya-tanya pada hatinya.
"Apa laki-laki itu tertarik pada Killa? Jika hal itu terjadi, tak ada harapan bagi Raihan untuk kembali lagi sama Killa. Kalau Killa menikah dengannya, apa dia mau menerima cucu aku dengan baik?"
Serentetan pertanyaan muncul di pikiran Bunda Bunga. Ada perasaan tak rela yang Bunda Bunga rasakan. Dia masih berharap anaknya kembali kepada Killa dan hidup bahagia. Hanya Killa yang dia inginkan menjadi menantunya, terlebih Killa sudah memberikan dia cucu.
Setelah Dokter Dimas menuliskan resep, Killa pamit pulang. Saat ini usia kandungan Killa enak bulan. Tiga bulan lagi Killa akan melahirkan. Dia berniat segera pindah dan menjual rumah itu. Mengubur masa lalunya dengan Raihan, dan membuka lembaran baru.
"Kita makan dulu yuk, La! Sekalian kita main ke Mall," ajak sang mantan mertua. Killa menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju sebuah Mall yang letaknya tak jauh dari rumah yang Killa tempati saat ini.
"La, bulan depan 'kan usia kandungan kamu tujuh bulan. Bagaimana kalau acara tujuh bulanannya di rumah bunda saja. Nanti biar bunda yang akan mempersiapkan semuanya, kamu tinggal duduk manis saja," ujar Bunda Bunga.
"Makasih ya Bun. Bunda sama Ayah begitu perhatian sama aku. Bagaimana baiknya saja Bun, Killa ikut saja. Yang penting tidak merepotkan Bunda," sahut Killa.
Killa membicarakan kembali tentang rencananya menjual rumah dan mobil yang kini menjadi miliknya. Dia mengatakan keinginannya untuk membuka lembaran baru, dan keinginan dia untuk hidup tenang.
"Nanti malam coba Bunda bicarakan sama ayah dulu ya. Kamu sabar dulu ya," ujar Bunda Bunga dan menganggukkan kepalanya.
"La ..., " ucapan Bunda Bunga terhenti. Dia tampak ragu-ragu menanyakan hal ini kepada Killa. Dia takut kalau nantinya Killa akan tersinggung.
Killa tampak bingung. Karena Bunda Bunga tak melanjutkan ucapannya. Killa tampak penasaran menunggu Bunda Bunga melanjutkan ucapannya. Namun sayangnya, Bunda Bunga justru malah diam.
"Ada apa, Bun? Katakan saja, apa yang ingin Bunda bicarakan kepada aku," ujar Killa.
"Em, gimana ya? Tapi kamu jangan tersinggung ya. Bunda hanya sekadar ingin tahu saja," ucap Bunda Bunga dan Killa mengiyakan.
Akhirnya Bunda Bunga mengungkapkan apa yang sempat mengganjal di hatinya. Bunda Bunga menanyakan, apakah Killa menyukai Dokter Dimas. Bunda Bunga mengatakan kecurigaannya, kalau Dokter Dimas memiliki perasaan kepada Killa. Tentu saja Killa tersentak kaget. Meskipun dia pun sempat bertanya-tanya.
"Maksud Bunda apa ya? Tentu saja tidak Bun, dia hanya sekadar dokter aku dan kakak dari sahabat aku. Tidak lebih," jelas Killa. Killa menepis perasaan curiganya kepada Dimas. Padahal, dia pun merasa curiga kepada Dimas. Saat tadi Dimas menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.
"Oh, Bunda kira kamu memiliki perasaan yang sama dengan Dokter Dimas. Kalau dia benar suka sama kamu, gimana? Apa Killa akan menerima Dokter Dimas di hidup Killa? Menjadikan Dokter Dimas sebagai ayah tiri anak dalam kandungan kamu," serentetan pertanyaan terlontar dari bibir Bunda Bunga.
"Maaf Bun, Killa belum bisa menjawab hal ini. Aku masih ingin fokus dengan kehamilan aku dulu, lagipula secara hukum aku belum resmi bercerai. Setelah anak ini lahir, barulah kami resmi bercerai. Aku juga masih ingin menikmati hidup sendiri," jelas Killa.
"Iya La, Bunda paham. Pastinya tak akan mudah bagi kamu melewati semuanya, yang harus merasakan hamil seorang diri, dan bahkan dengan teganya Raihan menceraikan kamu disaat kamu sedang hamil anaknya," ujar Bunda Bunga.
Obrolan mereka harus terhenti, karena mereka kini sudah sampai di sebuah Mall. Killa dan Bunda Bunga langsung turun, memasuki Mall.
"Killa mau makan apa?" tanya Bunda Bunga.
Killa tampak berpikir, makanan apa yang saat ini sedang dia inginkan. Hingga akhirnya, pilihannya jatuh pada steak. Sudah sangat lama dia tak makan steak. Bunda Bunga tentu saja menuruti keinginan Killa. Dia merasa miris, disaat wanita hamil membutuhkan seorang suami yang peduli dengan kehamilannya, Killa justru harus kehilangan momen itu.
Abaikan perasaan Raihan...biar dia merasakan akibat perbuatannya selama ini terhadap killa...
hayyuk thor..lanjut...
okay...lanjut thor....
begitu juga perasaan killa saat kau menolaknya dulu.. impas yaaa..
ga sabar mau lihat dimas menikah sama killa..
menjemput bahagia tdk harus kembali bersama mantan...apalagi mantan yg suka selingkuh dan celap celup.. menjijikkan...
puas aku thor...jngn kasih Raihan balikan sama killa thor...
thor..bikin raihan menderita sampai pembaca puas ya...please../Pray/
selingkuh itu sprti penyakit yg ga ada obat..
dasar lelaki bejat ga tau malu...
biar makin panas tuh si mantan...jngn ada kata balikqn sama mqntan ya thor...ga rela killa mendeeita lagi dan lagi...biar killa bahagia sama dimas aja...