NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulihnya Sang Ratu

​Singapura bersinar terang di bawah lampu-lampu neon yang memantul di teluk Marina Bay, namun bagi Laila, kemewahan ini hanyalah topeng dari dunia hitam yang lebih kejam. Ia berdiri di balkon sebuah apartemen kelas atas di kawasan Orchard, mengenakan gaun sutra hitam yang elegan namun mematikan. Matanya tak lagi memancarkan ketakutan; yang tersisa hanyalah tatapan dingin seorang wanita yang telah kehilangan segalanya.

​"Kau tampak berbeda, Laila," suara seorang wanita paruh baya terdengar dari dalam ruangan. Itu Sarah, jurnalis investigasi yang dulu pernah dibantu oleh Agil.

​Laila tidak menoleh. "Laila yang dulu sudah mati di rawa Sumatra, Sarah. Sekarang, katakan padaku, di mana aku bisa menemukan 'The Watcher'?"

​Sarah meletakkan tabletnya. "The Watcher bukan orang sembarangan. Dia adalah mantan kepala keamanan siber Konsorsium yang membelot. Namanya adalah Chen. Dia tinggal di sebuah bunker di bawah kasino Marina Bay. Tapi untuk menemuinya, kau harus memiliki 'tiket' masuk."

​Laila merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah liontin tua yang ia temukan di saku jaket Agil sebelum mereka terpisah. Di dalamnya terdapat mikrochip kecil yang berisi kunci enkripsi biometrik yang hanya bisa diaktifkan oleh suara Laila.

​"Aku adalah tiketnya," ucap Laila tenang.

​Masuk ke Sarang Serigala

​Malam itu, Laila memasuki kasino termewah di Singapura. Ia bergerak dengan keanggunan seorang ratu, namun kewaspadaannya setajam mata elang. Mengikuti instruksi Sarah, ia masuk ke ruang VIP dan meletakkan mikrochip itu di atas meja judi tinggi.

​Seorang pria Asia dengan kacamata perak—Chen—menatap chip itu, lalu menatap Laila.

​"Kau istri Agil Baskoro," ucap Chen. Suaranya datar namun berwibawa. "Agil pernah menyelamatkan hidupku di London sepuluh tahun lalu. Dia bilang suatu hari istrinya mungkin akan datang membawa chip ini."

​"Agil diculik oleh Thorne," Laila langsung pada intinya. "Thorne mengklaim Agil memiliki kode pemicu di alam bawah sadarnya. Aku butuh bantuanmu untuk menemukannya."

​Chen menghela napas panjang. Ia memberi isyarat agar Laila mengikutinya ke sebuah lift rahasia di balik dinding dekoratif. Mereka turun puluhan lantai hingga sampai di sebuah pusat kendali teknologi yang sangat canggih.

​"Apa yang dikatakan Thorne itu benar," kata Chen sambil menyalakan layar monitor raksasa. "Baskoro Senior bukan sekadar pengusaha. Dia adalah arsitek 'Proyek Icarus'. Dia menanamkan sandi utama Konsorsium ke dalam memori prosedural anaknya. Agil bukan manusia bagi mereka, dia adalah brankas berjalan."

​Visi di Tengah Kegelapan

​Chen mulai memindai jaringan satelit Konsorsium. Setelah beberapa jam yang mencekam, sebuah titik merah berkedip di sebuah kapal kargo yang sedang menuju perairan internasional dekat Filipina.

​"Itu kapal 'The Aegis'. Laboratorium terapung milik Thorne," Chen menunjuk layar. "Mereka sedang melakukan ekstraksi memori. Jika mereka berhasil memicu kode itu, ingatan Agil akan terhapus sepenuhnya. Dia akan menjadi cangkang kosong yang hanya berisi data."

​Laila mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Bagaimana cara kita menghentikannya?"

​"Kita tidak bisa menyerang secara frontal. Kapal itu memiliki sistem pertahanan militer. Tapi..." Chen menatap Laila, "kau memiliki kunci emosionalnya. Hipnosis yang ditanamkan Baskoro memiliki satu 'pintu belakang'. Sebuah kata kunci yang didasarkan pada cinta, bukan ketakutan. Hanya kau yang bisa membangunkan jiwanya sebelum ekstraksi itu selesai."

​Transformasi Laila

​Selama tiga hari berikutnya, Laila dilatih oleh tim Chen. Ia belajar cara menggunakan senjata api, cara menyelinap di bawah radar radar, dan yang terpenting, cara menjaga ketenangan di bawah tekanan ekstrim. Sarah membantunya mengubah identitas secara total. Rambut Laila dipotong pendek, dan ia kini dikenal sebagai 'Madame Noir', seorang perantara aset gelap dari Eropa.

​"Laila, ini bukan lagi soal menyelamatkan suami," Sarah memperingatkan. "Kau sedang menyatakan perang pada organisasi yang menguasai setengah dunia."

​"Aku tidak peduli pada dunia mereka," jawab Laila sambil mengokang pistolnya. "Aku hanya ingin dunia suamiku kembali."

​Operasi Penyelamatan: Badai di Laut Tengah

​Di atas kapal 'The Aegis', Agil terikat di sebuah kursi logam dengan berbagai kabel elektroda terpasang di kepalanya. Thorne berdiri di depannya, membacakan deretan angka dalam bahasa Jerman dengan nada monoton.

​"Aktivierung... Null... Eins... Neun..." Thorne terus mengulang pemicunya.

​Tubuh Agil bergetar hebat. Matanya putih sepenuhnya. Di dalam kepalanya, ia sedang bertarung melawan labirin memori yang mencoba menghancurkan kesadarannya.

​Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi. "Tuan, sebuah kapal cepat mendekati kita! Mereka tidak menggunakan identitas!"

​Thorne tersenyum sinis. "Wraith, habisi mereka."

​Namun, serangan itu bukan dari depan. Dari kegelapan laut, sebuah tim penyelam yang dipimpin oleh Laila muncul dari buritan kapal. Dengan gerakan yang efisien, Laila melumpuhkan penjaga pertama menggunakan belati taktisnya. Ia bergerak seperti bayangan, didorong oleh amarah yang telah mengkristal menjadi kekuatan murni.

​Laila berhasil mencapai dek medis. Ia mendobrak pintu tepat saat Thorne bersiap memberikan kejutan listrik terakhir pada otak Agil.

​"Berhenti, Thorne!" teriak Laila.

​Thorne berbalik, terkejut melihat wanita yang ia anggap lemah kini berdiri dengan senapan serbu di tangannya. "Laila? Kau... bagaimana mungkin kau sampai di sini?"

​"Aku adalah takdir yang kau ciptakan sendiri, Thorne," Laila menembak kaki salah satu teknisi yang mencoba menekan tombol darurat. "Lepaskan Agil."

​Perang Frekuensi

​Thorne tertawa, sebuah tawa yang penuh kegilaan. "Kau terlambat! Kodenya sudah aktif! Dia bukan suamimu lagi!"

​Thorne meneriakkan kata pemicu terakhir: "IKARUS!"

​Agil menjerit kesakitan, tubuhnya menegang dan mulutnya mulai mengeluarkan busa. Data mulai mengalir ke server Thorne.

​Laila menjatuhkan senjatanya. Ia berlari ke arah Agil, mengabaikan Thorne yang menodongkan pistol ke arahnya. Ia memeluk kepala Agil, menempelkan dahinya ke dahi suaminya yang bersimbah keringat dingin.

​"Agil... dengar suaraku," bisik Laila. "Bukan angka-angka itu. Ingat malam saat kita pertama kali melihat bintang di kebun teh. Ingat janji kita untuk mati sebagai manusia."

​"Singkirkan dia!" teriak Thorne pada pengawalnya.

​Namun Laila terus berbisik, sebuah mantra cinta yang lebih kuat dari hipnosis mana pun. "Mawar merah di jendela tua... Itu adalah rumah kita, Agil. Kembali padaku."

​Mata Agil tiba-tiba berubah warna kembali menjadi cokelat gelap. Ia menatap Laila, dan untuk sesaat, ada pengenalan di sana.

​"Laila..." suara Agil parau.

​Tepat saat itu, kapal berguncang hebat. Gito—yang ternyata selamat dari sungai Sumatra—muncul dari helikopter Chen dan meledakkan menara komunikasi kapal.

​"Semuanya meledak!" teriak Gito melalui interkom.

​Konfrontasi akhir dimulai. Laila harus menarik Agil keluar dari kursi maut itu sementara Thorne bersiap melepaskan tembakan terakhirnya.

Asap hitam pekat menyelimuti dek medis, membuat jarak pandang hanya tersisa beberapa meter. Laila masih memeluk kepala Agil, sementara suaminya itu masih berjuang antara realita dan kode-kode digital yang menghancurkan otaknya.

​"Mas, bangun! Kita harus pergi!" teriak Laila di tengah deru alarm kapal yang memekakkan telinga.

​Agil terengah-engah, matanya mulai fokus. "Laila... kau di sini... tapi kepalaku... kepalaku seperti akan meledak."

1
ayu cantik
suka
Rhiy: Terima kasih Kak
total 1 replies
Yeni Nofiyanti
novel yang sangat bagus. cocok di filmkan💪😍
Rhiy: Makasih my reader, aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!