"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
Rania berdiri terpaku di halaman kontrakan. Awan menua, warna jingganya mulai memudar. Ia tak tahu harus berbuat apa, hatinya berat seolah menanggung beban tak terlihat.
Pintu kontrakan terbuka, dan putri kecilnya yang dua tahun sebentar lagi, melangkah keluar dengan langkah kecil dan wajah berseri, wangi dan bersih sehabis mandi. "Mama uyang," gumam gadis kecil itu, belum lancar mengucapkan kata.
Rania menunduk, pelan ia mengulurkan tangannya, meraih kepala mungil yang dihiasi rambut hitam lembut itu. Ia mencium putrinya dalam-dalam, lama, seolah ingin memohon maaf pada anak kecil itu—atas segala yang belum bisa ia perbaiki.
Suara notifikasi kembali masuk di ponsel Rania membuatnya refleks menoleh. Ia ragu membuka layar, tapi rasa ingin tahu lebih dulu mengalahkan egonya. Lagi-lagi: Radit.
[Baca kontrak itu dan ingat lagi, kenapa aku menemuimu hari ini.]
Tangannya bergetar. Ingatan tentang kontrak itu kembali seperti hantaman ombak.
Ia mengusap wajahnya.
Sial. Seharusnya ia menolak untuk meneken file itu sejak dulu.
Tapi sekarang... Radit mengingatkannya kembali.
Beberapa menit ia hanya duduk diam. Menatap layar, menatap kosong. Sampai sebuah pesan kembali masuk.
Radit:
[Hari ini tepat tiga bulan sejak kamu tekan file itu. Ada yang harus dibicarakan. Aku tunggu jam delapan. Tempat biasa.]
Rania menutup ponselnya.
Dada sesak. Tapi matanya tidak berkaca. Ia sudah melewati banyak badai. Tapi kenapa... saat ini hatinya tak tenang?
----
Kurang dari pukul delapan, Aira sudah tertidur. Sepi. Dan malam itu, Rania merasa... dirinya kembali terikat pada simpul yang dulu ia buat sendiri.
Tanpa sadar, ia mulai berdandan. Ringan saja. Tak ada niat tampil lebih. Tapi langkah-langkah kecilnya menuju lemari, mencari sesuatu yang rapi—itu sudah menjawab semuanya.
Ia akan datang.
---
Malam itu, langit masih memeluk awan mendung ketika Rania melangkah pelan ke sebuah lounge hotel yang dulu sering ia hindari. Dengan blazer putih dan jeans sederhana, rambut diikat seadanya, Rania tak berusaha tampil mencolok—tapi tetap saja, ada aura tak biasa dari dirinya hari itu.
Dan ketika ia masuk ke dalam ruangan, Radit menoleh.
Hening. Dunia seolah berhenti di detik itu.
Matanya langsung terpaku. Rania, yang kini berdiri di hadapannya, tampak jauh lebih cantik dari yang pernah ia bayangkan.
Radit tersenyum miring. “wah. Kamu gak pernah ingkar janji ternyata?”
Rania menarik kursi di depannya, duduk tanpa berkata-kata.
“Cuma sepuluh menit. Setelah itu, aku pergi.”
“Tujuh menit pun cukup... kalau kamu duduk di sini,” ujar Radit menepuk pahanya sendiri.
Rania mendesah. “Jangan mulai, Radit. Aku kesini karena kita harus bicara.”
Radit hanya menatap, lama. “Ran... kamu sadar nggak, kamu makin cantik sekarang?”
“Itu pujian atau jebakan?” jawab Rania, ketus.
“Itu pernyataan... dari pria yang udah tahan tiga bulan lamanya.”
Rania mencibir, tapi rona di pipinya sulit disembunyikan.
Radit menyandarkan siku ke meja, tubuhnya condong ke depan, suaranya menurun—nyaris seperti bisikan.
“Kalau kamu masih ingat kontrak itu... ada satu klausul kecil yang belum pernah kita bicarakan.”
“Ya. Aku tau!" Rania refleks menjawab. “Aku tahu isi kontraknya. Klausul paling menjijikkan itu...”
Radit menyandarkan punggung ke kursi, tidak membantah. “Tapi kamu tetap menandatangani.”
"Karena aku terdesak.”
Radit mengangguk pelan.
“Aku cuma kirim ulang, supaya kamu ingat kita sudah terikat. Tiga bulan lalu, bukan kemarin sore.”
Rania menarik napas. Ia tahu persis kenapa pria itu mengirim ulang file kontrak yang sama, padahal mereka berdua tahu isinya tak berubah.
“Kalau kamu mau mainkan bagianmu, mainkan dengan rapi,” gumam Rania dingin. “Tapi jangan harap aku akan berubah jadi manis hanya karena satu kejadian.”
“Aku nggak minta kamu jadi manis. Aku cuma minta kamu jalanin bagianmu.”
Rania menatapnya sebentar, lalu berdiri.
“Dan kamu jangan salah langkah. Aku di sini bukan buat diperintah. Aku cuma jalani yang tertulis, tanpa bonus rasa, tanpa tambahan drama.”
Radit menahan senyumnya. “Sip. Kita main sesuai aturan.”
----
Di kamar hotel, suara pintu tertutup menjadi batas antara masa lalu dan sekarang.
Cahaya temaram, hanya lampu meja yang menyala. Radit melepas jasnya lebih dulu, menggantungnya rapi. Ia tidak langsung menyentuh Rania. Ia duduk di ujung ranjang, menunggu.
"Jadi, boleh aku mulai?" tanya Radit, sedikit ragu.
Rania terdiam, bingung harus menjawab apa.
Radit maju beberapa langkah, mulai memeluk pinggang Rania lebih erat, menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapan yang tak lagi menyimpan ragu. Bibir mereka bertemu, lebih dalam, lebih berani. Bukan sekadar ciuman pengobat rindu. Tapi ciuman yang sarat dengan kontradiksi.
Rania menggigit pelan bibir bawahnya saat Radit menelusuri garis rahangnya dengan ciuman panas. Tangannya bergerak pelan ke belakang leher pria itu, seolah mencari pegangan, sebelum jemarinya meremas ringan rambut Radit yang kini tenggelam di lekuk lehernya.
“Aku benci kamu,” bisik Rania, napasnya terputus-putus.
Radit tersenyum kecil, masih mengecup kulitnya. “Benci kamu... tapi kamu tetap datang.”
Bibir Radit turun ke tulang selangka Rania, satu per satu kancing blazernya terbuka, disusul lapisan tipis kaus di dalamnya. Gerakannya tidak terburu-buru, tapi pasti—seolah ia sudah hafal setiap inci tubuh di hadapannya.
Rania memejam, tubuhnya sudah tak bisa menyangkal. Sentuhan itu familiar, tapi kali ini berbeda. Ada rasa bersalah, tapi juga kelepasan yang selama ini terkekang terlalu lama.
“Radit…” bisiknya lagi, separuh bergetar, separuh menyerah.
Radit mendorong tubuh Rania perlahan ke tempat tidur, membaringkannya dengan lembut namun penuh penguasaan. Ia mencium leher, dada, lalu turun ke perut wanita itu, membuat Rania menggeliat tak berdaya.
"Ini bagian dari perjanjian," ucap Radit, matanya menatap tajam dari bawah.
“Jangan kasar..."
Radit menolehnya, tersenyum. Lalu menaikkan tubuhnya, menyelaraskan diri dengan posisi Rania. Matanya menatap dalam. “Aku akan memberimu kenikmatan. Tenanglah."
Rania menghela napas, lalu menarik wajah Radit agar kembali ke dekatnya. Ciuman kembali membara, tangan mereka saling menjelajah tanpa ragu. Tubuh demi tubuh terbuka, satu persatu pakaian tersingkir. Di kamar yang senyap itu, hanya desah dan suara napas yang tersisa.
Tubuh mereka menyatu.
Gerakannya tidak tergesa, tapi cukup untuk dua orang yang tidak terikat status.
Rania melengkung dalam pelukan pria itu, tubuhnya terbuka. Kulit mereka bersentuhan penuh, dada bertemu dada—panasnya terasa seperti api yang mengendap lama lalu meledak di satu malam yang terasa panjang.
Radit memeluk erat, mendorong dengan ketegasan namun bukan kekasaran. Ia menyusup lebih dalam. Napas mereka saling menyambar, tak ada ruang tersisa untuk logika. Hanya desakan sesuatu yang dipendam terlalu lama.
“Ran...” bisik Radit di telinga Rania, suara seraknya menggetarkan. “Kamu ngerasa ini juga kan... kamu ngerasa ini lebih dari penjanjian...”
Rania menutup mata. Tubuhnya seolah diaduk dari dalam, tiap gerakan Radit seolah tahu di mana titik lemahnya.
Tangan Rania mencakar pelan punggung Radit saat ia semakin dalam, gerakannya melambat tapi lebih kuat, tajam, dan dalam—seolah tak ingin hanya menyentuh tubuhnya, tapi menembus jiwanya.
Ia tak bisa bicara. Hanya bisa mencengkeram lengan Radit dan membiarkan gelombang itu menelan akalnya.
Desahan Rania tercampur dengan suara tempat tidur yang berderit halus, menciptakan simfoni yang hanya mereka berdua mengerti artinya.
Ketika mereka akhirnya berhenti, tubuh mereka masih saling melekat. Keringat menyatu, kulit menempel, tapi tak ada yang bicara.
Radit mengusap rambut Rania yang menempel di pelipisnya. “Kamu memang terbaik, Ran.”
Rania mengangguk pelan, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.
“Aku puas malam ini... tapi aku juga gak bisa ngelepasin kamu gitu aja,” lanjut Radit, suaranya nyaris patah.