Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Pemberontak
Matahari terbit dengan warna keemasan yang kontras dengan sisa-sisa kepulan asap hitam dari aula yang hangus. Bau kayu terbakar masih menyengat, namun atmosfir di dalam istana telah berubah total. Tidak ada lagi tawa meremehkan dari para pelayan atau tatapan sinis dari para menteri. Hanya ada keheningan yang dipenuhi rasa takut dan hormat saat Lin Yue berjalan melewati koridor menuju Paviliun Teratai.
Langkahnya kini ringan. Berat badannya yang sudah turun drastis—meski masih menyisakan otot-otot yang padat—membuatnya bergerak dengan keanggunan seorang pemangsa. Di belakangnya, Xiao Xiao berjalan dengan kepala tegak, memegang baki berisi surat-surat sitaan dari kediaman Selir Ning.
"Yang Mulia," panggil Xiao Xiao dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan. "Seluruh pelayan di istana dalam kini berebut ingin melayani di paviliun kita. Mereka bahkan rela bersujud berjam-jam di depan gerbang."
Lin Yue tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Kemarin mereka meludahiku, hari ini mereka bersujud. Kesetiaan yang dibeli dengan rasa takut adalah kesetiaan yang paling murah, Xiao Xiao. Tetaplah waspada."
Sesampainya di paviliun, Lin Yue tidak beristirahat. Ia duduk di meja kerjanya dan membuka gulungan surat tersebut. Di sana terdapat bukti-bukti bagaimana Selir Ning bekerja sama dengan beberapa pejabat korup untuk menggelapkan dana bantuan bagi Bangsa Tang yang kalah perang—dana yang seharusnya digunakan untuk membangun kembali kampung halaman Lin Yue.
"Jadi ini alasannya mereka ingin aku tetap gemuk dan bodoh," desis Lin Yue. "Agar aku tidak menyadari bahwa rakyatku sedang kelaparan sementara mereka berpesta di atas penderitaan bangsaku."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap terdengar. Han Shuo—yang kini secara resmi diakui sebagai Kaisar—masuk ke dalam ruangan. Ia tidak lagi mengenakan seragam pengawal bayangan, melainkan jubah kebesaran berwarna hitam dengan sulaman naga emas yang megah.
Lin Yue hendak berdiri untuk memberikan penghormatan, namun Han Shuo segera menahan bahunya.
"Jangan," ucap Han Shuo pendek. "Di depan orang lain, aku adalah Kaisar. Tapi di ruangan ini, aku tetaplah pria yang berhutang nyawa padamu, Lin Yue."
Han Shuo duduk di hadapan Lin Yue. Matanya yang tajam mengamati wajah Lin Yue yang kini terlihat lebih segar dan cantik dengan cara yang tangguh. "Long Wei telah dipindahkan ke paviliun pengasingan di ujung utara. Dia lumpuh total, hanya bisa melihat dan mendengar tanpa bisa bicara. Itu adalah hukuman yang lebih buruk dari kematian baginya."
"Dan Ibu Suri?" tanya Lin Yue.
"Dia akan diadili secara publik besok. Rakyat ingin melihat wajah wanita yang telah membohongi mereka selama dua dekade," jawab Han Shuo. Namun, ia kemudian terdiam sejenak, menatap tumpukan surat di meja Lin Yue. "Kau menemukan sesuatu?"
Lin Yue menyerahkan surat-surat itu. "Selir Ning bukan hanya seorang wanita yang haus perhatian. Dia adalah otak dari jaringan korupsi yang merampas hak-hak Bangsa Tang. Aku ingin kau memberiku otoritas penuh untuk menangani ini, Han Shuo."
Han Shuo mengambil surat-surat itu dan membacanya sekilas. Rahangnya mengeras. "Kau ingin membalas dendam untuk bangsamu?"
"Bukan hanya balas dendam," Lin Yue berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar tembok istana. "Aku ingin mengembalikan martabat Bangsa Tang. Aku ingin mereka tahu bahwa putri mereka tidak hanya bertahan hidup dalam kehinaan, tapi dia sekarang adalah wanita yang paling berkuasa di Daxuan."
Han Shuo berdiri di sampingnya. "Otoritas itu milikmu. Mulai hari ini, kau bukan hanya Permaisuri dalam gelar. Kau adalah penasihat utamaku. Segala urusan yang berkaitan dengan Bangsa Tang dan keadilan istana dalam berada di bawah kendalimu."
Malam itu, Lin Yue memulai langkah pertamanya. Ia memerintahkan penangkapan sepuluh pejabat korup yang namanya tercantum dalam surat Selir Ning. Penangkapan itu dilakukan secara brutal di tengah malam, menunjukkan bahwa "Permaisuri Petinju" tidak mengenal kata kompromi.
Satu per satu, orang-orang yang dulu pernah menghinanya diseret ke hadapannya.
"Yang Mulia! Ampuni hamba! Hamba hanya mengikuti perintah Selir Ning!" teriak salah satu menteri sambil menangis di kaki Lin Yue.
Lin Yue menyesap teh hijaunya, lalu meletakkan cawannya dengan perlahan. Ia bangkit, mendekati menteri itu, dan membungkuk sedikit hingga wajah mereka sejajar.
"Ingatkah kau dulu?" tanya Lin Yue dengan suara lembut yang mengerikan. "Kau sengaja menumpahkan kuah sup panas ke arahku saat perjamuan musim semi dan menyebutku 'babi yang rakus'. Kau tertawa paling keras saat itu."
Menteri itu gemetar hebat, wajahnya memucat. "H-hamba... hamba khilaf..."
"Khilaf adalah kata yang bagus untuk menutupi kebusukan," Lin Yue memberikan isyarat pada pengawal.
"Potong lidahnya. Karena lidah itulah yang telah menghina bangsaku dan menipu rakyat. Setelah itu, sita seluruh hartanya dan kirimkan ke perbatasan Tang sebagai bantuan pangan."
Jeritan menteri itu menggema di aula paviliun, namun Lin Yue tidak berkedip sedikit pun. Ia merasa beban di hatinya sedikit terangkat.
Di kehidupan sebelumnya, Tiara Mo bertarung di atas ring untuk gelar dan medali. Di kehidupan ini, Lin Yue bertarung di istana untuk keadilan dan kelangsungan hidup sebuah bangsa.
Han Shuo memperhatikan dari balik tirai, tidak mengintervensi. Ia tahu, untuk membangun kekaisaran yang kuat, ia butuh seseorang yang bisa melakukan hal-hal "kotor" dengan tangan besi, dan Lin Yue adalah pasangan yang sempurna untuk itu.
Namun, di tengah kemenangannya, sebuah bayangan baru muncul. Di perbatasan, sebuah gerakan pemberontak yang dipimpin oleh mantan jenderal setia Long Wei mulai berkumpul. Mereka tidak mengakui Han Shuo dan menganggap Lin Yue sebagai "penyihir Tang" yang telah menyihir kaisar baru.
Lin Yue mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Mereka ingin perang? Baiklah. Aku baru saja mulai memanaskan otot-ototku." Ia menyeringai.
***
Happy Reading ❤️
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih❤️
🧐