Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.25 Om Bos
"Om bos!" seru Chilla melihat Aksa berdiri di samping mobilnya.
Bocah itu berlari menyambut bos dari mamanya tersebut. "Om bos, apa kabar?" sapa Chilla. "Terima kasih ya, Om, buat hadiahnya waktu itu. Chilla seneng banget," cerocos Chilla.
Sementara masih di dalam ruang tamunya Alle justru menatap heran. Untuk apa bosnya ini datang pagi-pagi. Tidak mungkin kan dia mencari Alle karena tidak datang untuk memasak. Seingatnya ia sudah ijin pada sang bos.
"Chilla suka?" tanya Aksa yang langsung mensejajarkan tinggi badannya dengan putri dari sekretarisnya.
Chilla mengangguk mantap.
"Chilla mau lagi?"
"Ehm ...." Chilla nampak berpikir.
"Kalau mau, ayo kita beli mainan lagi," sela Aksa cepat sebelum anak itu menjawab.
"Tidak bisa, Om."
"Kenapa?"
"Hari ini Chilla dan mama akan pergi ke kebun binantang. Kita mau lihat gajah," jawab Chilla.
"O ... ya, kalian mau pergi naik apa?"
"Kata mama kita mau naik taksi."
"Kalau naik mobil Om mau, nggak? gratis lho."
"Bener, Om?" Mata chilla berbinar.
"Hemm." Aksa mengangguk.
Dari dalam, Alle yang mengawasi interaksi antara Aksa dan anaknya membuka mata juga mulutnya lebar-lebar. Apa-apaan. Ia akan pergi berdua saja dengan Chilla tidak boleh ada orang ketiga di antara mereka.
"Mama ...." Chilla berlari masuk. Memberitahukan Alle tentang apa yang Aksa ucapakan. "Ayo Ma, kalau naik mobil Om bos kita nggak bayar. Gratis. Kan enak duitnya nanti bisa buat jajan," celoteh Chilla dengan polosnya.
"Sayang, kita nggak boleh ngerepotin orang. Mama masih punya uang kok buat kita naik taksi dan jajan, jadi nggak usah merepotkan ora_____"
"Aku tidak merasa direpotkan. Justru aku senang bisa mengantar anak baik seperti Chilla," potong Aksa yang mendadak nimbrung dalam percakapan ibu dan anak itu.
Alle menatap bosnya sedikit jengkel. Bisa tidak sih bosnya ini tidak ikut campur urusannya dengan Chilla. "Maaf, Pak. Bukankah hari ini Pak Aksa sibuk?"
Aksa mengernyit. "Tidak, siapa bilang," elak Aksa.
"Tapi hari minggu ini, Bapak ada janji bermain golf dengan Pak Herdiyan, kan?"
"Sudah aku batalkan," jawab Aksa enteng. "Ok semua sudah siap kan, gimana kalau kita langsung berangkat saja, nanti keburu siang," ajak Aksa dengan pandangan yang terarah pada Chilla.
Anak kecil itu bersorak kegirangan. "Ayo, Ma." Chilla menarik tangan Alle.
Tak bisa menolak. Alle pasrah diseret anaknya ke mobil Aksa. "Eh, tunggu, bekal kita belum dibawa," ujar Alle teringat barang-barang yang sebelumnya ia siapkan.
"Masuk saja, biar aku ambil." Aksa menawarkan diri. Sigap pria itu mengambil tas yang ada di ruang tamu. Ia juga mengunci pintu rumah sekretarisnya itu.
"Chilla, siap?" tanya Aksa setelah ia duduk di bangku kemudi.
"Siap, Om." Chilla mengacungkan dua jempolnya pada Aksa.
"Kita berangkat!" seru Aksa menirukan keceriaan Chilla.
Mobil pun melaju meninggalkan komplek perumahan bersubsidi tersebut. Di saat yang sama, Fadil baru saja turun dari mobilnya. Ia tak sempat bertemu putrinya tapi ia bisa melihat dengan siapa mantan istri dan putrinya itu pergi.
Segera Fadil merogoh ponsel dalam saku celananya. Menghubungi seseorang yang ia percaya. "Ikuti mobil CEO Bumi Sentosa Damai, dia baru keluar dari perumahan mantan istriku."
"Siap, bos," jawab orang di seberang sana. Ini bukan pertama kalinya orang kepercayaan Fadil itu mendapatkan tugas seperti ini jadi dia sudah hapal benar bagaimana harus bertindak.
Untuk perjalanan tidak memakan waktu lama karena Alle sengaja memilih tempat yang masih di dalam kota saja. Setelah membeli tiket, mereka bertiga masuk dengan Chilla yang menggandeng tangan Aksa. Sementara Alle berjalan di belakang mereka.
Alle sendiri bingung, bagaimana bisa Chilla langsung seakrab itu dengan atasannya. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali. Itu pun dalam waktu yang tak lama. Tapi kalau melihat kedekatan mereka saat ini pasti tidak ada yang menyangka jika mereka belum lama kenal. Seperti di mobil tadi, tak henti-hentinya Aksa dan Chilla mengisi perjalanan dengan suara mereka yang berisik. Bersahut-sahutan dalam bernyanyi atau sekadar main tebak-tebakan yang sangat receh.
"Ma, ayo buruan, nanti kita tinggal, lho. Iya nggak, Om?" Chilla berseru pada Alle yang berjalan agak jauh dari mereka.
"Iya, nanti kita tinggal biar Mama Chilla digigit harimau," jawab Aksa dengan menggoda.
Alle menanggapinya dengan menaikkan satu sudut bibirnya ke atas. Semakin jengkel saja ia dengan pria satu ini. Kini bosnya itu yang menguasai Chilla, bahkan tak memberinya kesempatan untuk berdua dengan putrinya. Dengan langkah kesal Alle menyusul mereka.
Lagi-lagi, mereka berjalan lebih cepat untuk melihat aneka satwa di sana.
"Om, lihat, Om! itu ada buaya," seru Chilla sangat senang.
"Itu bukan buaya Chilla, itu namanya kudanil," jawab Aksa meluruskan.
"Kuda? Kuda kok berendam di air, terus mulutnya juga gede banget. Mana giginya gede-gede juga," celoteh Chilla.
"Bukan kuda, Chilla ... tapi kudanil." Aksa kembali meluruskan perkataan Chilla.
"Iya, kuda ... kudanil ... kuda, sama, kan?"
"Jelas beda dong, kuda itu yang biasa narik delman kalau ini kudanil, nggak bisa narik delman."
Chilla pun meletakkan jarinya di dagu, bersikap seolah sedang berpikir keras. "Oh ... iya ... ya, beda."
Aksa tersenyum melihat tingkah bocah kecil itu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk semakin mengeksplore seluruh kebun binatang.
Chilla selalu berseru kegirangan ketika melihat hewan yang ia ketahui namanya.
"Om, itu gajah. Gede banget, ya, Om," teriak Chilla.
"Itu jerapah, Om. Lihat, Om!" Chilla sampai menarik-narik tangan Aksa, dan masih banyak lagi aksi-aksi lucu Chilla lainnya.
Di jam makan siang, Alle yang sedari tadi hanya jadi penonton kedekatan anaknya dengan bosnya itu akhirnya membuka suara untuk mengajak mereka beristirahat sekaligus makan siang. Mereka memilih makan di sebuah rumah makan yang tersedia di area kebun binatang.
"Chilla capek, nggak?" tanya Aksa yang masih menunggu pesanan makanannya datang.
"Enggak, Chilla belum capek," jawab Chilla semangat.
"Kalau habis ini kita berenang mau, nggak?"
"Berenang?"
"Hemm." Aksa mengangguk.
"Mau ... mau ...."
"Pak ...." Alle menyela. "Jangan macem-macem deh, Pak. Saya cuma janji ngajak Chilla ke sini bukan ke tempat lain," protes Alle.
"Kan kamu udah nepatin janji kamu. Sekarang giliran aku yang ngajak Chilla bersenang-senang. Bener kan, Chilla?"
"Om, serius? kita berenang?"
"Yeay ... berenang." Chilla kegirangan melihat Aksa mengangguk.
"Pak, Anda jangan _____" Seketika Alle terdiam tak melanjutkan protesnya ketika tangan Aksa secara tiba-tiba menggenggam tangannya yang berada di pangkuannya. Telunjuk pria itu ia letakkan di depan bibirnya sendiri sebagai tanda agar Alle tak lagi banyak bicara.
Cara itu benar-benar ampuh membuat Alle membisu. Sebab kini tatapan mata Alle berada pada tangan Aksa yang menggenggam tangannya erat. Aksa juga membawa tangan Alle dan meletakkannya di pangkuan pria itu.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.