Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Ngambek
Pria itu semakin kesal saja. Ia bergegas ke lemari pakaian. Ternyata sebagian isinya sudah kosong. "Lana! Kalau ini caramu ngambek, aku ...." Terpikirkan kenapa Lana marah. Apa karena ia tidur dengan Lynda? Ada sedikit rasa bersalah, tapi tetap saja, ia tak terima!
"Bagaimana caranya menghubungi Lana, ya Allah ... kamu ke mana Lana? Kamu 'kan sedang sakit." Fian sedikit khawatir. Ia gelisah. Teringat Lana tak punya orang tua kecuali Tala. Namun, ia tak punya nomor telepon Tala. Satu-satunya cara adalah mendatangi kost-kostan Tala. "Mudah-mudahan Lana ada di sana." Segera ia bergegas pergi.
Di kost-kostan, Fian coba mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban. Fian makin bingung saja. Apa mungkin Lana tak ke sana? Lalu, ke mana perginya istrinya itu sekarang?
Selagi berpikir begitu, ternyata Tala pulang dan terkejut melihat kakak iparnya berdiri di depan kost-kostannya. "Kak Fian?"
"Ke mana kakakmu?" Fian tampak berharap.
"Kak Lana? Tadi dia WA katanya liburan ke Bali. Jadi dia gak pergi dengan kakak?" Tala balik bertanya karena heran.
"Liburan ke Ba-li? A-aku gak tau itu." Fian tampak geram sambil mengangkat kedua kepalan tangannya.
Tala tampak bingung. "Lho, jadi Kak Fian gak tau?"
"Dia ...." Fian berpikir sebentar sembari memejamkan mata. "Apa aku harus mengatakannya? Tapi sebenarnya aku tak tahu apa yang terjadi. Hh ...." "Dia ngambek."
"Apa? Tapi ...." Tala berpikir sebentar sebelum melihat lagi ke arah Fian. "Ngambek?"
"Iya ... dia ngambek dan gak mau ngangkat telepon. Apa kamu bisa meneleponnya?"
Tala mengeluarkan ponsel dan coba menghubungi kakaknya tapi tak bisa. Ia pun menutup ponselnya. "Mungkin dia masih di pesawat."
"Begitu ya." Fian menggigit kuku.
"Atau tanya saja hotelnya di mana. Kakak nyusul ke sana."
Fian berpikir sejenak. "Tapi bagaimana menanyakannya, sedang meneleponnya saja dia tak menjawab."
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata dari kantor. Ia mengangkatnya. "Ada apa lagi ini? Aku sedang ...." Seketika bola matanya melebar ketika mendengar sesuatu. "Oh, ok." Fian menatap Tala dan tersenyum lebar. Ia mematikan ponselnya. "Ternyata Lana pinjam uang kantor agar tidak pakai uangku. Sekretarisku bilang, hotelnya telah di-booking atas nama Lana jadi aku tahu di hotel mana dia menginap. Ok, aku ke sana sekarang!" ucapnya sambil bergerak pergi.
"Semangat, Kak!" sahut Tala sambil mengangkat kepalan tangannya.
"Iya, makasih!"
***
Seorang pegawai bungalow membukakan pintu dan masuk membawa koper Lana. "Ini, Bu kamarnya."
"Terima kasih." Lana memberikan tip pada pria itu.
"Nanti kalau ibu butuh apa-apa tinggal telepon."
"Iya, ok." Lana menutup pintu lalu mendatangi ranjang. Ia duduk di tepian sambil melihat sekeliling. Dari jendela yang cukup besar, terlihat pemandangan pantai yang indah. Ia menghela napas lega sambil memegang perutnya yang masih rata.
Tadi di pesawat perutnya sempat kram saat ia tengah memikirkan nasibnya. Apa yang akan dilakukannya setelah ini? Belum apa-apa ia sudah berutang pada perusahaan suaminya, padahal ia belum tahu bagaimana membayarnya. Dirinya tak punya pekerjaan. Padahal ia masih punya uang yang diberikan Hawari tapi ia ragu-ragu memakainya karena uang itu diperuntukkan untuk kuliah Tala, tapi mungkin pulang ia akan menggunakannya daripada meminjam lagi dari perusahaan suaminya.
Entah kenapa ia begitu takut memakai uang itu, karena takut biaya kuliah Tala kurang. Saat itu ia tidak bisa berpikir jernih padahal uang itu lebih dari cukup untuk Tala yang berada di semester terakhir kuliahnya. Bahkan sisanya mungkin bisa buat modal usaha, tapi usaha apa?
Lana bergeser naik ke pembaringan karena tubuh dan pikirannya letih. Memikirkan pernikahan yang akan berakhir dan kehamilan ini kembali membuat perutnya kembali kram. Akhirnya ia memilih tidur daripada memikirkan apa pun.
Entah berapa lama tertidur, terdengar ketukan pintu. Lana tersentak kaget. Jam berapa ini?Kembali terdengar ketukan.
"Ya?"
"Room service!" terdengar teriakan dari luar.
"Apa bisa nanti saja!?"
"Aku harus merapikan kamar mandi, Bu!"
Lana menghela napas pelan. Ia pun turun dari ranjang. Ketika pintu dibuka ia terkejut. Ada Fian dengan tangan terbentang di ambang pintu, tersenyum ke arahnya.
Pegawai bungalow yang bersamanya segera pergi setelah pintu dibuka. "Permisi."
Lana merengut dan mencoba menutup pintu tapi Fian menahannya.
"Hei, kenapa liburan sendirian? Aku juga mau ikut." Pria itu berhasil masuk.
Lana Berbalik menuju ranjang. "Kan aku udah kasih surat, kamu gak liat?" Ia memutar tubuhnya ke belakang.
"Liat."
Lana balik menatap suaminya. "Terus? Kenapa menyusul ke sini?"
"Kamu marah karena aku tidur dengan Lynda ya." Tebak Fian dengan senyum terjaga. Ia berusaha terlihat lebih ramah walau dirinya sedikit ketar-ketir, takut Lana bertambah marah.
"Mas, aku mau cerai. Tugasku udah selesai." Walaupun sedih, Lana berusaha tegar.
"Tugas apa?" Tampak jelas pria itu pura-pura lupa.
"Mas, bukankah aku menikah agar Mas bisa sembuh? Sekarang Mas sudah sembuh, 'kan?"
"Terus cerai?"
"Iya," ucap Lana setengah merengek.
"Apa sudah satu tahun?"
Lana mengerut dahi. "Pokoknya tugasku sudah selesai! Aku minta cerai!" sahutnya mulai kesal.
"Ya, gak bisa," ujar Fian santai. "Kan belum satu tahun."
"Ngak mau! Pokoknya cerai!"
"Kalau kita cerai sekarang, apa kamu sanggup mengembalikan uang satu milyar itu padaku ... mmh?" Kebiasaan mengancamnya membuat Fian terlanjur bicara begitu.
Lana tak mau kalah. Ia sudah kepalang tanggung telah bertekad untuk bercerai dari Fian. Ia sudah tidak takut lagi kalau harus bertengkar dengan sang suami. "Ya udah. Aku akan cari kerja dan aku akan lunasi semua utang-utangku. Bahkan kalau harus bekerja 100 tahun sekalipun!"
Fian malah meraih bahu Lana dan mendekapnya. "Kalau aku tidak mau cerai bagaimana?" Pria itu bergelayut manja sambil tersenyum. Ia bergeming dengan kemarahan istrinya.
Lana menghempas tangan suaminya dengan kasar. "Gak mau tau, pokoknya harus cerai! Aku sudah tidak mau lagi hidup bersamamu!"
Fian kaget, tapi ia tetap gigih. "Kan dosa, istri minta cerai. Apalagi tanpa masalah yang jelas." Ia bicara dengan lembut, seakan kemarahan istrinya hanya gertakan semata.
Lana mengangkat kepalan kedua tangannya karena gemas. "Pokoknya aku mau cerai, titik!"
"Lana ...." Fian malah tersenyum menahan tawa karena gaya istrinya yang seperti anak kecil ketika sedang marah dan ia baru mengetahuinya sekarang. "Pernikahan kita 'kan baik-baik saja. Kenapa harus cerai?" rayunya lagi dengan wajah tak bersalah.
"Karena aku tidak sanggup lagi untuk hidup berbagi! Apalagi menyakiti wanita lain. Aku ingin cerai!" Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Lana makin dongkol saja karena suaminya tak kunjung mengerti.
Fian pun tampak iba melihat mata bening itu tiba-tiba berair. "Lana, bukankah ketika menikah denganku dulu, kamu sudah tahu aku sudah punya istri?"
"Itu karena aku takut kehilangan pekerjaanku, tapi sekarang aku tak sanggup meneruskan!" Air mata wanita itu jatuh. Ia tak lagi bisa menahan.
"Lana ...," ucap Fian bertahan dengan tatapan lembut. Ia berusaha untuk membujuknya.
"Aku bilang cerai, ya cerai! Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku aahh ...!" Lana menjerit memegangi perutnya yang sakit.
Fian kaget. "Lana ...? Lana ...?" Bola mata pria itu melebar.
Lana sudah membungkuk menahan nyeri. Dengan cepat Fian menggendongnya di kedua tangan. Terlihat mata wanita itu masih menyipit karena menahan sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp