Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: UJIAN DNA
Udara di dalam laboratorium bawah tanah Meera terasa dingin dan steril, berbau tajam seperti ozon dan alkohol pembersih.
Di luar, suara klakson Mumbai yang hiruk-pikuk terdengar samar, seperti dengungan lebah yang jauh, namun di dalam ruangan ini, setiap detak jarum jam terdengar seperti dentuman palu.
Alana berdiri di depan meja operasi dari baja tahan karat, menatap botol perak Formula Teratai yang kini diletakkan di bawah lampu operasi yang menyilaukan.
Cairan di dalam botol itu tampak lebih tenang daripada biasanya, namun Alana tahu bahwa di tingkat molekuler, cairan itu adalah badai yang sedang menunggu untuk dilepaskan.
Penemuan bahwa Victor—mentor yang sangat ia percayai—telah mengkhianatinya demi kesembuhan kanker melalui prototipe formula ini, telah mengubah segalanya.
Alana menyadari satu hal yang krusial: jika ia ingin mengalahkan Victor dan menghancurkan Ouroboros, ia tidak bisa hanya menjadi "inang" yang pasif bagi formula tersebut.
Ia harus menyempurnakannya di dalam darahnya sendiri.
"Alana, kau yakin dengan ini?" suara Arlan terdengar berat dari ambang pintu. Ia berdiri di sana dengan lengan masih di dalam penyangga, matanya penuh kekhawatiran yang jarang ia perlihatkan.
"Meera bilang prosedur ini belum pernah diuji. Jika DNA-mu menolak sinkronisasi total, kau akan mengalami kegagalan organ masif dalam hitungan menit."
Alana menoleh, memberikan senyuman tipis yang pahit. "Victor memiliki versi yang tidak stabil, Arlan. Itu kelemahannya. Tapi dia memiliki waktu bertahun-tahun untuk mempelajari cara mengendalikannya. Jika kita pergi ke Paris sekarang tanpa persiapan, dia akan merasakanku sebelum aku sempat mendekatinya. Formula ini memiliki frekuensi resonansi. Aku harus 'membungkam' frekuensi itu agar aku menjadi hantu yang sesungguhnya."
Lukas, yang duduk di sudut laboratorium dengan laptop miliknya, mengangguk dengan wajah serius.
"Mummy benar, Paman Arlan. Berdasarkan analisis dataku, Victor menggunakan sinyal biometrik untuk melacak sisa-sisa Teratai di dunia. Jika Mummy melakukan sinkronisasi DNA tahap tiga, Mummy akan memiliki kendali penuh atas emisi panas tubuh dan frekuensi seluler. Mummy akan menjadi 'tak terlihat' oleh sensor biometrik mereka."
Luna memegang tangan Alana, matanya yang besar berkaca-kaca. "Apakah itu akan sakit, Mummy?"
Alana berlutut dan mencium kening putrinya. "Hanya sebentar, Luna. Seperti gigitan semut yang sedikit lebih besar. Setelah ini, kita akan pergi melihat menara Eiffel, janji."
Setelah anak-anak dibawa keluar oleh Meera ke ruang observasi yang aman, Alana membaringkan dirinya di atas meja operasi. Arlan berdiri di sisi meja, memegang tangannya dengan erat. "Aku akan memantau tanda vitalmu. Jika grafik jantungmu turun di bawah empat puluh, aku akan menyuntikkan penetralnya, terlepas dari kau setuju atau tidak."
"Lakukan saja, Arlan," bisik Alana.
Alana mulai memasang kateter intravena ke lengannya sendiri. Ia menghubungkan botol perak itu ke sebuah mesin pompa mikro yang dikalibrasi oleh Lukas.
Prosedur ini disebut "Ujian DNA"—sebuah proses di mana kode genetik asli dari formula akan dipaksa menyatu dengan nukleus sel Alana melalui kejutan listrik mikro dan filtrasi darah.
"Mulai," perintah Alana.
Detik pertama, cairan perak itu masuk ke pembuluh darahnya. Alana merasakannya seperti aliran es yang membekukan lengannya.
Namun, begitu cairan itu mencapai jantung, sensasinya berubah menjadi api yang meledak. Seluruh tubuh Alana menegang, punggungnya melengkung di atas meja operasi. Matanya terbuka lebar, dan untuk pertama kalinya, pupil matanya tidak lagi berwarna hitam, melainkan berpendar perak terang yang menyilaukan.
"Suhu tubuh meningkat! Empat puluh satu derajat!" Arlan berteriak, matanya tertuju pada monitor. "Alana, lawan! Jangan biarkan formula itu mengambil alih sistem saraf pusatmu!"
Di dalam pikiran Alana, ia tidak lagi berada di Mumbai. Ia seolah ditarik ke dalam labirin mikroskopis rantai DNA yang bercahaya.
Ia melihat memori-memori kakeknya yang terkode di dalam cairan itu—gambaran laboratorium lama, rumus-rumus yang bertebaran, dan wajah Aura kecil yang sedang tertawa.
Namun di sela-sela itu, ada kegelapan: wajah Alfred Mahendra yang sedang tertawa dingin di balik bayangan.
"Kau tidak akan memilikiku, Alfred," Alana berteriak dalam batinnya.
Ia menggunakan seluruh kemauan mentalnya untuk "menjinakkan" badai perak di dalam darahnya.
Ia memerintahkan sel-selnya untuk tidak melawan, melainkan menyerap. Proses ini menyakitkan secara fisik, seolah-olah setiap tulang di tubuhnya sedang dipatahkan dan disusun kembali. Keringat bercampur dengan cairan perak tipis mulai merembes dari pori-pori kulitnya.
"Detak jantung seratus delapan puluh! Dia akan mengalami serangan jantung!" Meera berseru dari ruang kontrol. "Arlan, hentikan sekarang!"
Arlan meraih suntikan penetral, namun tangannya berhenti tepat di atas lengan Alana. Ia melihat wajah Alana. Meski menderita, ada ketenangan yang luar biasa di sana. Alana tidak sedang menyerah; ia sedang menang.
Tiba-tiba, pendaran perak di mata Alana meredup dan berubah menjadi warna abu-abu baja yang sangat jernih. Suhu tubuhnya turun drastis ke titik normal dalam hitungan detik.
Napasnya yang tadinya memburu menjadi sangat tenang, hampir tidak terdengar.
Monitor tanda vital mengeluarkan bunyi bip panjang yang stabil.
Alana perlahan membuka matanya. Ia duduk di meja operasi, bergerak dengan keanggunan yang tidak manusiawi. Ia merasa lebih ringan, lebih kuat, dan yang paling penting, ia bisa merasakan setiap molekul udara di sekelilingnya.
Ia menatap tangannya; luka-luka bekas pertempuran di pulau kini benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas jaringan parut sedikit pun.
"Alana?" Arlan memanggil dengan ragu.
Alana menoleh dan menatap Arlan. "Aku bisa mendengarmu, Arlan. Aku bisa mendengar detak jantungmu... itu berdetak sangat cepat karena kau takut."
Arlan mengembuskan napas lega dan memeluknya. "Kau membuatku hampir mati ketakutan."
"Prosedurnya berhasil," Alana bangkit, kakinya menapak lantai dengan mantap. "Lukas, periksa sensor biometrikmu. Apakah kau bisa menemukanku?"
Lukas mengetik dengan cepat di laptopnya.
"Luar biasa! Di layarku, Mummy dianggap sebagai 'benda mati' atau udara kosong. Sistem pengenalan biometrik Ouroboros tidak akan bisa melacakmu meskipun kau berdiri tepat di depan kamera mereka."
Meera masuk ke ruangan dengan wajah takjub. "Anda baru saja melakukan apa yang dianggap mustahil oleh para ilmuwan Ouroboros selama tiga puluh tahun, Nyonya. Anda adalah 'Teratai yang Sempurna'."
Alana mengambil jubah hitam panjang dan mengenakannya. Ia menatap dirinya di cermin. Ia tampak sama, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam tatapannya—sebuah kedalaman yang mematikan.
"Sekarang kita punya senjata," kata Alana. "Arlan, apakah jalur ke Paris sudah siap?"
"Jalur pengungsi ilegal melalui Turki sudah diatur," jawab Arlan, kembali ke mode strategisnya. "Kita akan menggunakan identitas sebagai tenaga medis relawan. Alfred dan Victor akan mengira kita masih berada di dasar laut, atau setidaknya masih terjebak di India."
"Bagus," sahut Alana. "Victor merindukan muridnya. Dan aku memiliki hadiah spesial untuknya—sebuah penyembuhan yang akan mengakhiri penderitaannya selamanya."
Malam itu, mereka meninggalkan laboratorium bawah tanah Meera. Mereka bergerak menuju bandara kecil di pinggiran Mumbai untuk menaiki pesawat kargo pribadi yang diatur oleh jaringan bawah tanah.
Alana menatap langit malam, membayangkan pertemuan dengan Victor di Paris.
Selama bertahun-tahun, Victor adalah tempatnya mengadu saat ia merasa kehilangan arah di pengasingan.
Victor yang mengajarinya bahwa ilmu medis adalah tentang menyelamatkan nyawa. Betapa ironisnya bahwa pelajaran terakhir yang akan Alana berikan kepada mentornya adalah bagaimana ilmu medis bisa menjadi senjata pemusnah yang paling efektif.
"Mummy," panggil Lukas saat mereka masuk ke dalam pesawat kargo. "Aku sudah berhasil menyusup ke jadwal Victor. Dia akan menghadiri simposium medis di L'Hôpital de la Pitié-Salpêtrière tiga hari lagi.
Dia akan berbicara tentang 'Keajaiban Regenerasi'."
Alana menyeringai dingin, sebuah ekspresi yang tampak sangat menyeramkan di bawah cahaya remang pesawat. "Keajaiban itu akan berubah menjadi mimpi buruk di depan audiensnya sendiri. Ayo, kita punya utang yang harus ditagih."
Pesawat kargo itu lepas landas, meninggalkan debu Mumbai menuju dinginnya musim gugur di Paris.