Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wulan yang bucin pak Safrudin yang pusing
Semua orang dalam ruangan di bar terkejut saat petugas kepolisian datang dengan tiba-tiba.
"Angkat tangan, kalian kami tahan!" teriak petugas polisi dan semua orang pun langsung ketakutan dan bersimpuh di lantai dengan tangan di atas.
"Ampun pak kami salah apa pak?!" tanya teman Abi yang sudah ketakutan dan ngompol di tempat.
"jangan banyak tanya ikut kami ke Kantor!" ucap polisi itu pada mereka dengan tegas.
Semua langsung di borgol tangan dengan paksa, sedang Abi masih bersikap tenang dan percaya diri.
"Siapa yang berani menangkapku, apa kalian tidak tahu siapa aku ini hah!, aku ini adalah menantu orang kaya di wilayah ini!" ucap Abi yang sudah setengah mabuk.
Namun para polisi itu pun masih tetap memborgol paksa Abi, dan menggeledah semua tempat itu, ternyata selain mabuk minuman mereka pun menggunakan obat terlarang.
Semua di gelandang ke kantor polisi dengan paksa dan di masukkan ke dalam sel.
"tunggu pak polisi, apa salah kami, kenapa kami di tangkap ini tidak adil!" teriak Abi berontak.
"Kalian di tuduh menggunakan obat terlarang dan kamu Abi kamu di tuduh menyelundupkan bahan bangunan untuk proyek pak Safrudin!" ucap polisi itu pada Abi, sontak Abi pun langsung limbung ke lantai.
"Tidak....ini tidak mungkin, mereka tidak mungkin gagal!" Abi menggelengkan kepalanya mencoba untuk merasa semua masih baik-baik saja.
"Tunggu pak polisi ijin kan saya menelepon pengacara saya!" pinta Abi pada petugas polisi yang menangkapnya.
"Baik, silahkan kalian bebas memakai pengacara untuk pembelaan!" jawab petugas polisi pada mereka dan kemudian mereka pun menghubungi keluarga masing-masing termasuk Abi yang segera menghubungi pengacaranya waktu itu.
Setelah beberapa lama kemudian pak Rama pun datang.
"Mas Abi apa yang terjadi?" tanya pak Rama saat sudah di hadapkan dengan Abi.
"Tolong keluarkan saya dari sini apa pun caranya berapa pun biayanya, saya tidak mau di tahan!" pinta Abi memohon.
"Mohon mas Abi jelaskan pada saya dengan detail semua yang terjadi supaya saya dapat mencari solusinya" pinta pak Rama pada Abi.
"Tadi kami sedang minum-minum di bar lalu petugas datang, saya tidak tahu apa masalahnya, mereka tiba-tiba menangkap kami" ucap Abi yang masih menutupi masalah penyelundupan barang di proyek.
"Sebentar mas, saya akan tanyakan dulu kejelasan penangkapan mas Abi dan yang lainnya'' ucap pak Rama pada Abi.
Kemudian Pak Rama pun menemui petugas kepolisian yang bertugas dan mencari tau informasi yang sebenar-benarnya.
''Maaf pak polisi, sebenarnya kesalahan apa yang telah di lakukan klien saya?'' tanya pak Rama dengan sopan.
''Saudara Abi terlibat kasus penyelundupan bahan bangunan di proyek milik Pak Safrudin dan kami sudah menangkap anak buah yang di suruhnya, mereka semua sudah mengaku dan bukti sudah lengkap makanya kami menangkap saudara Abi, sedang di bar mereka terlibat pemakaian barang terlarang, melalui tes urin saudara Abi memang tidak memakai barang haram tersebut namun beliau di tangkap karena kasus penyelundupan bahan bangunan tersebut'' jelas pihak kepolisian pada pak Rama.
''Baik pak terima kasih atas informasinya kalau begitu ijin kan saya kembali bertemu dengan klien saya untuk membicarakan lebih lanjut soal ini'' pinta pak Rama dan mereka pun kembali mengantar pak Rama bertemu Abi.
''Bagaimana pak Rama, apa yang mereka katakan?!'' tanya Abi dengan tidak sabar.
''Mas Abi mohon bersabar, mereka menangkap mas Abi karena kasus penyelundupan bahan bangunan di proyek pak Safrudin mertua Anda, dan semua bukti sudah mengarah kepada Anda'' jawab Pak Rama memberitahu.
''A...apa, jadi bagaimana ini pak Rama, apakah pak Rama bisa mengeluarkan saya dari sini?'' tanya Abi penuh harap, namun pak Rama hanya menghela nafas sembari berpikir.
''Kasus Anda ini lumayan berat, kalau tidak salah hukumannya selain denda juga penjara lebih dari 5 tahun bahkan bisa sampai 10 tahun'' ucap pak Rama yang membuat Abi keder dan ketakutan.
''Tidak...saya tidak mau di penjara pak Rama, tolong bantu saya berapa pun biayanya saya pasti akan bayar asal saya bisa bebas!'' rengek Abi.
''Mas Abi, saya juga tidak bisa menjamin, namun saya masih bisa meringankan hukuman mas Abi saja supaya tidak terlalu lama di penjara'' jawab pak Rama dengan senyum samar di bibirnya.
''Lalukan...lakukan apa saja asal saya tidak di penjara pak Rama saya mohon!'' rengek Abi lagi.
''Baiklah saya akan usahakan semaksimal mungkin, oh iya apakah saya boleh mengabari keluarga Anda, siapa tahu mereka bisa membantu kasus Anda ini, apa lagi kalau masih bisa di selesaikan secara kekeluargaan maka Anda tidak perlu di penjara terlalu lama'' jelas pak Rama pada Abi.
''Boleh...boleh banget pak Rama tolong kabari istri saya minta dia temui saya di sini'' jawab Abi yang menyetujui ide Pak Rama.
''Baiklah kalau begitu saya akan segera pergi ke rumah Anda guna memberitahukan masalah ini pada istri dan mertua Anda'' ucap pak Rama yang hendak undur diri.
''Tunggu pak Rama, sebaiknya pak Rama kasih tahu istri saya dulu saja supaya dia bisa membujuk mertua saya nantinya'' ucap Abi pada pak Rama dan pak Rama pun mengerti akan maksud Abi.
''Baik, saya mengerti'' jawab pak Rama yang kemudian langsung pergi meninggalkan Abi di dalam sel.
Sepeninggal pak Rama Abi pun berpikir keras, dia memikirkan cara dan kata-kata apa yang akan dia ucapkan pada Wulan nanti supaya Wulan bisa luluh padanya dan bisa membujuk pak Safrudin untuk membebaskan dia dari penjara.
Setelah dari kantor kepolisian pak Rama pun langsung pergi ke kediaman pak Safrudin menggunakan mobil pribadinya, sepanjang jalan pak Rama merasa senang karena kali ini dia bagai mendapat umpan yang lezat.
Tak berapa lama kemudian pak Rama pun sampai di kediaman pak Safrudin dan beliau segera menemui Wulan.
''Tunggu sebentar ya pak saya akan panggilkan Nona Wulannya'' ucap Art yang ada di kediaman pak Safrudin.
''Baik'' jawab pak Rama dengan patuh dan menunggu di ruang tamu.
''Kamu siapa?'' tiba-tiba saja dari arah depan muncul pak Safrudin.
''Ah selamat malam pak saya Rama pengacara mas Abi'' ucap pak Rama yang langsung menyapa pak Safrudin.
''Ada perlu apa kamu kesini?'' tanya pak Safrudin dengan nada tegas dan tenang.
''Jadi begini pak, saya ingin berjumpa dengan nona Wulan atas permintaan klien saya yaitu mas Abi'' jawab pak Rama dengan sopan.
''Untuk apa'' ucap pak Safrudin sembari duduk bersedekap.
''Pa'' sapa Wulan yang baru saja datang, pak Rama pun menoleh dan tersenyum pada Wulan.
''Anda siapa?'' tanya Wulan yang melihat ada orang lain yang datang.
''Perkenalkan nona Wulan saya Rama pengacara mas Abi, beliau saat ini sedang di tahan di kantor polisi dan beliau meminta bertemu dengan Anda'' ucap Pak Rama memberitahu.
''Apa....kenapa bisa suami saya di kantor polisi pak, apa yang suami saya lakukan?!'' tanya Wulan yang langsung terkejut mendengar kabar tersebut.
''Apa lagi...suami kamu di tangkap karena dia menyabotase truk bahan bangunan untuk proyek kita dan anak buahnya sudah tertangkap dan juga sudah mengaku'' sahut pak Safrudin yang sudah tau kebenarannya dari pak Handoko dan juga Jaka yang di utusnya untuk menangani Abi.
''Apa pa...kenapa papa tega sekali membiarkan mereka menangkap mas Abi?!'' ucap Wulan yang tak terima suaminya di tangkap polisi.
''Wulan...Abi di tangkap karena bersalah!'' bantah pak Safrudin.
''Wulan enggak terima ya pa, ayo pak Rama antar saya menemui mas Abi!'' ajak Wulan pada pak Rama dan mereka pun langsung pergi begitu saja dengan tergesa-gesa.
''Astagah Wulan- wulan kenapa kamu bodoh sekali sih, Ya Tuhan kapan anak itu akan sadar kalau suaminya itu licik dan bukan orang yang baik!'' keluh pak Safrudin sembari tepuk jidat.
cinta boleh wi gobloogg jangan