cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU PRESIDENT MAHMOED ABBAS
BAB 10
TAMU NEGARA DI PAGI YANG TENANG**
KEDUTAAN BESAR PALESTINA – JAKARTA
Pagi di kawasan diplomatik Jakarta terasa berbeda.
Tidak ada sirene.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada darah di aspal.
Hanya angin pagi yang lembut dan barisan bendera Palestina yang berkibar tenang di halaman Kedutaan Besar Palestina di Jakarta.
Alphard hitam berhenti perlahan di gerbang.
Petugas keamanan diplomatik memberi hormat singkat.
“Silakan masuk. Presiden sudah menunggu.”
Laura menelan ludah.
Tangannya refleks menyentuh tas kecil di dadanya.
Flash disc itu ada di sana.
Dr. Sandi berdiri di sampingnya. Wajahnya masih pucat, tapi matanya tenang.
“Kita sampai,” katanya pelan.
Bima turun lebih dulu, menatap sekitar dengan naluri tempur yang belum sepenuhnya padam.
“Area aman,” lapornya.
“Keamanan kedutaan berlapis.”
“Belum tentu cukup,” gumam Andri.
Eren menyeringai tipis.
“Untuk saat ini… kita nikmati dulu pagi yang normal.”
Laura melangkah masuk.
Dan untuk pertama kalinya sejak Gaza—
ia merasa… damai.
RUANG TAMU KEDUTAAN
Ruangan itu hangat.
Dindingnya dihiasi foto-foto sejarah Palestina. Aroma teh mint dan roti hangat memenuhi udara.
Seorang pria tua berdiri menyambut.
Wajahnya tenang. Tatapannya lembut, tapi penuh wibawa.
Mahmoud Abbas.
Di sampingnya, sang istri tersenyum ramah, sementara dua anaknya berdiri tak jauh—tatapan mereka penuh rasa ingin tahu.
“Laura Islamiyah,” kata Abbas dengan suara rendah dan hangat.
“Akhirnya kita bertemu.”
Laura terdiam sejenak.
Lalu ia menunduk hormat.
“Merupakan kehormatan besar, Yang Mulia.”
Abbas tersenyum.
“Kau tidak perlu formal di sini. Kau keluarga.”
Kalimat itu membuat dada Laura menghangat.
Seorang pria bertubuh tegap melangkah maju.
Seragam sipil. Wajah keras, mata tajam.
Mohamed Ghoul.
Menteri Pertahanan Palestina.
“Kami berhutang nyawa padamu,” katanya langsung.
“Dan pada orang-orang yang melindungimu.”
Bima mengangguk singkat.
“Kami hanya menjalankan tugas kemanusiaan.”
Ghoul menatapnya lama.
“Justru karena itu… kalian berbahaya bagi musuh kami.”
Meja panjang dipenuhi hidangan sederhana: roti, hummus, zaitun, telur hangat, teh dan kopi.
Tidak ada kesan pertemuan rahasia bernilai jutaan dolar.
Hanya manusia-manusia yang duduk sebagai keluarga.
Abbas menuangkan teh untuk Laura sendiri.
“Kau tampak lebih kurus dari terakhir kulihat di laporan,” katanya lembut.
Laura tersenyum kecil.
“Perjalanan panjang, Yang Mulia.”
Sandi ikut tersenyum.
“Dia keras kepala,” katanya jujur.
Laura melirik tajam.
“Dokter.”
Abbas tertawa kecil.
“Keras kepala adalah syarat bertahan hidup bagi bangsa kami.”
Istri Abbas menatap Sandi dengan lembut.
“Kau dokter?”
“Iya, Bu.”
“Terima kasih sudah menjaga anak kami,” katanya tulus.
Sandi terdiam sejenak, lalu mengangguk hormat.
“Itu kewajiban saya… dan kehormatan.”
Mohamed Ghoul meletakkan cangkirnya.
“Sekarang,” katanya pelan,
“kita bicara soal alasan semua ini.”
PENYERAHAN FLASH DISC
Ruangan kecil di belakang dibuka.
Tanpa jendela. Tanpa kamera.
Hanya beberapa orang.
Laura berdiri di tengah.
Tangannya gemetar saat membuka tas kecil itu.
Ia mengeluarkan flash disc hitam—kecil, tak mencolok.
“Ini,” katanya, suaranya bergetar namun tegas,
“Hasil penemuan Riset Formula vaksin virus corona, data transaksi senjata, pembantaian sipil, dan daftar pemburu internasional.”
Abbas berdiri.
Ia tidak langsung mengambilnya.
“Apakah kau tahu nilainya di pasar gelap?” tanyanya.
Laura mengangguk.
“Sepuluh juta dolar Amerika.”
“Dan kau tetap membawanya ke sini.”
Laura menatapnya lurus.
“Karena tidak semua hal bisa dibeli.”
Abbas mengambil flash disc itu dengan kedua tangan.
Hening.
Beberapa detik terasa seperti menit.
“Dengan ini,” kata Abbas akhirnya,
“kami tidak hanya menyelamatkan Palestina.”
“Tapi membuka wajah dunia.”
Ghoul menambahkan dingin,
“Dan menandai nama-nama yang akan diburu balik.”
Bima menghela napas pelan.
“Berarti… permainan baru dimulai.”
Ghoul menatapnya.
“Benar.”
SARAPAN YANG BERLANJUT JADI CERITA
President Abbas mengangkat tangan ringan.
“Flash disc itu aman,” katanya tenang.
“Sekarang… mari kita makan seperti manusia biasa.”
Semua tertawa kecil.
Ketegangan yang sejak tadi menempel perlahan luruh.
Pelayan kedutaan menambah hidangan. Roti masih hangat, aroma kopi makin kuat. Kursi ditarik lebih santai, jas dilepas, senjata tetap di tempat—tapi pikiran mulai longgar.
Bima duduk agak menyamping, tetap waspada.
Andri sudah mengambil zaitun kedua. Dimas dan agung tampak asik menikmati sarapan mereka.
Eren menuang kopi hitam tanpa gula.
“Sudah berapa kali kalian hampir mati?” tanya President Abbas tiba-tiba, nada suaranya ringan tapi matanya penuh rasa ingin tahu.
Bima tersenyum tipis.
“Kalau dihitung… kami berhenti menghitung, Yang Mulia.”
President Abbas terkekeh.
“Jawaban tentara,” katanya.
“Selalu jujur tapi tidak pernah lengkap.”
Laura ikut tersenyum.
“Yang Mulia,” katanya sambil menyesap teh,
“kami dikejar dari Gaza, Malaysia, batam sampai Jakarta.”
President Abbas mengangguk pelan.
“Aku membaca laporannya. Tapi cerita langsung… selalu berbeda.”
Laura menarik napas.
“Mereka datang bukan seperti tentara,” lanjutnya.
“Tapi seperti pemburu. Tanpa seragam. Tanpa bendera.”
Jenderal Ghoul menyela dingin,
“Kontraktor internasional.”
“Dan preman lokal,” tambah Andri sambil mengangkat alis.
“Kombinasi yang merepotkan.”
President Abbas menoleh ke Dr. Sandi.
“Dan kau,” katanya lembut,
“seorang dokter… berada di tengah semua kerusuhan peperangan itu.”
Sandi tersenyum kaku.
“Awalnya saya pikir tugas saya hanya menjahit luka. Mengobati orang yg sakit. Memerban luka memar pasien dllnya tapi. "
Laura menoleh padanya, matanya berbinar.
“Dia merendah,” katanya cepat.
“Yang Mulia… Dr. Sandi menyelamatkan kami lebih dari sekali.”
President Abbas memiringkan kepala.
“Oh?”
Laura duduk sedikit lebih tegak, seperti anak yang sedang bercerita pada orang tua.
“Kolonel Sukatahu,” katanya.
“Pemimpin mereka. Dan Letnan Benjamin—petarung terbaik mereka.”
Ruangan sedikit hening.
Jenderal Ghoul menyipitkan mata.
“Aku tahu nama-nama itu.”
“Mereka menyerang kami di Jakarta,” lanjut Laura.
“Brutal. Terorganisir. Dan mereka hampir menang.”
Sandi menunduk pelan.
Laura tersenyum tipis ke arahnya.
“Lalu dokter ini,” katanya sambil menunjuk Sandi,
“berdiri di depan kami.”
Sandi menghela napas.
“Laura…”
“Biarkan aku bercerita,” potong Laura lembut tapi tegas.
Ia menatap President Abbas.
“Dengan tangan kosong,” lanjutnya,
“dia menghantam Benjamin sampai pingsan. Organ dalamnya rusak.livernya membengkak dan harus Dibawa ke RS. Internasional jakarta. ”
President Abbas mengangkat alis.
Jendrak Ghoul bersandar ke kursi.
“Itu pukulan Tenaga dalam khas pencak silat Indonesia ,” gumamnya.
“Dan Kolonel Sukatahu?” tanya Abbas.
Laura tersenyum kecil, nyaris geli.
“Lebih parah,” katanya.
“Babak belur sampai Jatuh pingsan tak sanggup berdiri lagi ketika terkena pukulan tenaga dalam dr. Sandi yg di pelajArinya di padepokan pencak silat merpati putih cirebon dari SMP sampai kuliahnya kedoktetannya selesai. Lalu ia harus di bawa Dibawa ke RS juga karena mengalami pendarahan dalam yg hebat .”
Ruangan hening… lalu—
President Abbas tertawa pelan.
Tawa hangat. Bukan mengejek.
“Dokter,” katanya sambil menatap Sandi,
“aku pernah bertemu banyak jenderal.”
“Tapi jarang ada dokter yang membuat mereka masuk IGD dengan luka dalam yg hebat seperti itu .”
Semua tertawa.
Sandi menggaruk pelipisnya, malu.
“Itu bukan sesuatu yang saya banggakan, Yang Mulia.”
“Justru itu,” kata President Abbas lembut.
“Karena kau melakukannya bukan untuk menang… tapi untuk melindungi.”
Laura menatap Sandi lama.
Matanya berkata lebih dari kata-kata.
OBROLAN PARA PEREMPUAN
Di sisi lain meja, Dr. Hadijah duduk bersama istri President Abbas.
Suasananya lebih tenang.
Lebih personal.
“Anak-anak kami tumbuh dalam ketakutan,” kata istri President Abbas pelan.
“Kadang kami bertanya… sampai kapan.”
Dr. Hadijah mengangguk penuh empati.
“Saya melihat luka yang sama di Gaza,” katanya.
“Bukan hanya di tubuh… tapi di jiwa.”
Istri President Abbas menatap Laura dari jauh.
“Dia kuat,” katanya.
“Tapi matanya… menyimpan terlalu banyak.”
Hadijah tersenyum lembut.
“Karena dia bertahan,” ujarnya.
“Dan orang yang bertahan… selalu membawa cerita.”
“Kau tahu,” lanjut dr. Hadijah,
“aku melihatnya menjaga dokter itu semalaman.”
Istri President Abbas tersenyum.
“Cinta di tengah perang,” katanya lirih.
“Itu anugerah… sekaligus ujian.”
Dr. Hadijah mengangguk.
“Dan mereka sedang diuji.”
KEMBALI KE MEJA UTAMA
Eren menyandarkan tubuh.
“Kalau dipikir-pikir,” katanya santai,
“harga sepuluh juta dolar itu murah.”
Bima menoleh.
“Murah?”
“Iya,” jawab Eren.
“Kalau dibandingkan dengan berapa banyak orang yang rela mati karenanya.”
President Abbas mengangguk pelan.
“Benar,” katanya.
“Dan karena itu… kita harus berhati-hati mulai sekarang.”
Laura meletakkan cangkirnya.
“Setelah ini… apa yang akan terjadi?” tanyanya.
President Abbas menatapnya penuh keyakinan.
“Dunia akan bergerak,” jawabnya.
“Tidak cepat. Tidak bersih.”
“Tapi bergerak.”
Jenderal Ghoul menambahkan,
“Dan sementara itu… kau tetap target.”
Laura mengangguk.
“Aku tahu.”
Sandi menggenggam tangannya di bawah meja.
President Abbas memperhatikan itu—lalu tersenyum tipis.
“Tenanglah,” katanya.
“Kau tidak sendirian lagi, Laura.”
Di luar, matahari pagi mulai naik sempurna.
Jakarta berdenyut seperti biasa.
Untuk sesaat—
tidak ada perang.
Tidak ada pemburu.
Hanya manusia-manusia yang makan, tertawa, dan berbagi luka lama.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
mereka benar-benar beristirahat.
HALAMAN DALAM KEDUTAAN – SIANG MENDEKAT
Sarapan berakhir tanpa aba-aba resmi.
Bukan karena protokol,
tapi karena semua merasa… cukup.
President Abbas berdiri lebih dulu.
“Udara pagi Jakarta ramah,” katanya sambil tersenyum.
“Mari berjalan sebentar. Duduk terlalu lama membuat kepala penuh.”
Rombongan pun bergerak keluar menuju halaman dalam kedutaan.
Taman kecil itu tertata rapi. Pohon palem pendek, bunga bugenvil merah muda, dan jalan setapak batu alam yang bersih. Tidak luas, tapi cukup untuk bernapas.
Laura melangkah pelan, menikmati setiap detik.
“Aku lupa rasanya berjalan tanpa menoleh ke belakang,” katanya lirih.
Dr. Sandi berjalan di sampingnya.
“Kalau kau menoleh,” jawabnya lembut,
“aku masih di sini.”
Laura tersenyum kecil.
Beberapa meter di depan, Bima dan Andri otomatis membentuk jarak aman.
Dimas dan Agung bercanda pelan, tertawa kecil—langka bagi mereka.
Eren sibuk mengambil foto taman dengan ponsel.
“Buat bukti,” katanya.
“Kalau kami pernah libur.”
FOTO BERSAMA
Di depan bendera Palestina dan Indonesia yang berdiri berdampingan, President Abbas berhenti.
“Kita foto,” katanya sederhana.
Semua spontan tersenyum.
Bima berdiri tegap.
Ghoul tetap kaku, tapi matanya lebih lunak dari biasanya.
Laura berdiri di tengah, diapit Dr. Sandi dan President Abbas.
Klik.
Klik.
“Yang ini,” kata Abbas sambil menunjuk Laura dan Sandi,
“kalian berdua berdiri lebih dekat.”
Laura refleks menoleh ke Sandi.
Sandi mengangguk kecil.
Mereka berdiri berdampingan. Tidak berpegangan tangan. Tidak berlebihan.
Tapi cukup jelas.
Klik.
Anisa Putri—yang sejak tadi memperhatikan—tersenyum lebar.
“Kelihatan cocok,” katanya polos.
Laura tersipu.
Sandi terkekeh kecil.
Di sudut taman, Dr. Hadijah duduk di bangku kayu bersama istri President Abbas.
Anisa Putri ikut duduk di samping mereka.
Laura dan Sandi mendekat.
Dr. Hadijah menatap mereka bergantian.
“Kalian terlihat lebih tenang,” katanya.
“Itu bagus.”
Laura menghela napas.
“Karena kami berhenti berpura-pura kuat,” jawabnya jujur.
Anisa Putri mencondongkan badan.
“Kalian pacaran?” tanyanya polos tanpa basa-basi.
Laura terkejut.
Sandi hampir tersedak udara.
Dr. Hadijah tertawa kecil.
“Anisa…”
“Aku cuma tanya,” sahut Anisa santai.
Laura menatap Sandi sejenak.
Lalu berkata pelan, tapi jelas,
“Kami… memilih bersama.”
Sandi mengangguk.
“Bukan karena aman,” tambahnya.
“Tapi karena jujur.”
Istri President Abbas tersenyum hangat.
“Cinta di tengah bahaya,” katanya,
“tidak tumbuh dari kenyamanan… tapi dari keberanian.”
Dr. Hadijah menatap Sandi.
“Kau sadar risikonya?” tanyanya pelan.
Sandi mengangguk.
“Sangat,” jawabnya.
“Tapi saya juga tahu… tanpa dia, saya akan kehilangan arah.”
Laura menunduk sebentar.
Lalu berkata lirih,
“Aku tidak minta dilindungi selamanya.”
Sandi menoleh.
“Aku cuma ingin… ditemani.”
Sandi tersenyum, tulus.
“Dan aku tidak ingin jadi pahlawan,” katanya.
“Aku hanya ingin jadi orang yang pulang bersamamu.”
Anisa Putri menepuk tangan kecil.
“Ini romantis,” katanya puas.
“Lebih baik dari drama.”
Semua tertawa.
Angin siang bertiup pelan.
Tidak ada helikopter.
Tidak ada radio berderak.
Tidak ada senjata terangkat.
Hanya langkah kaki di taman diplomatik,
suara tawa kecil,
dan manusia-manusia yang sementara diberi jeda oleh takdir.
Dr. Hadijah berdiri.
“Gunakan waktu tenang ini,” katanya lembut.
“Karena badai… selalu datang setelahnya.”
Bima melirik jam tangannya, lalu menatap Laura dan Sandi.
“Kita masih aman,” katanya.
“Tapi jangan lama-lama.”
Laura mengangguk.
Sandi menggenggam tangannya—kali ini tanpa sembunyi.
Untuk sesaat,
dunia menunggu.
Dan mereka…
hidup.
MALAM HARI – AULA KEDUTAAN BESAR PALESTINA, JAKARTA
Malam turun pelan di kawasan diplomatik.
Lampu-lampu taman kedutaan menyala temaram, memantulkan cahaya hangat di lantai marmer aula utama. Tidak ada suasana tegang. Tidak ada bisik-bisik rahasia.
Hanya kehormatan.
Meja makan malam tertata rapi. Hidangan khas Palestina dan Indonesia tersaji berdampingan—nasi hangat, daging panggang, sup lentil, dan hidangan sederhana yang dimasak dengan penuh rasa hormat.
Laura duduk di antara Dr. Sandi dan Dr. Hadijah.
Wajahnya jauh lebih tenang dibanding pagi tadi.
“Rasanya seperti mimpi,” bisiknya pelan.
Sandi tersenyum.
“Kalau ini mimpi… jangan bangunkan dulu.”
Di ujung aula, President Mahmoud Abbas berdiri.
Semua percakapan perlahan mereda.
Ia mengangkat tangan.
PENGANUGERAHAN KEHORMATAN
“Malam ini,” kata Abbas dengan suara tenang dan berwibawa,
“Palestina tidak berbicara tentang perang.”
“Tapi tentang terima kasih.”
Ia memberi isyarat.
Seorang staf membawa kotak-kotak kecil berlapis beludru hijau.
“Di hadapan perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia,” lanjut Abbas,
“dan sebagai simbol persahabatan dua bangsa…”
“Saya menganugerahkan Medali Kehormatan Negara Palestina kepada orang-orang yang telah mempertaruhkan nyawa… bukan demi uang, tapi demi kemanusiaan.”
Satu per satu, nama dipanggil.
“Sertu Bima.”
Bima melangkah maju. Tegap. Hormat sempurna.
Medali disematkan di dadanya.
“Terima kasih, Yang Mulia,” katanya singkat namun penuh makna.
“Sersan Andri.”
“Sersan Eren.”
“Sersan Agung.”
“Sersan Dimas.”
Kelima prajurit berdiri sejajar.
Wajah-wajah keras itu kini menyimpan kebanggaan yang tak disembunyikan.
Lalu—
“Dan,” Abbas berhenti sejenak,
“seorang dokter… yang memilih tetap menjadi manusia saat dunia menjadi kejam.”
“Dr. Sandi Kurniawan.”
Ruangan hening.
Sandi maju perlahan.
Saat medali disematkan, Abbas menatapnya lama.
“Palestina tidak akan melupakan jasamu,” katanya lembut.
Sandi menunduk hormat.
“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya,” jawabnya pelan.
Laura menahan air mata.
SAKSI DARI INDONESIA
Duta Besar Indonesia untuk Palestina berdiri dan bertepuk tangan lebih dulu.
“Ini kebanggaan kami,” katanya lantang.
“Prajurit dan dokter Indonesia yang menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas negara.”
Tepuk tangan memenuhi aula.
Hangat. Lama.
Bukan karena protokol—
tapi karena hati.
VIRAL TANPA DIRIHKAN
Usai acara, suasana kembali cair.
Eren sudah sibuk dengan ponselnya.
“Foto ini bagus,” katanya sambil tertawa.
“Filter alami. Cahaya diplomatik.”
Andri mengintip layar.
“Jangan edit berlebihan.”
Agung mengangguk serius.
“Biar kelihatan asli.”
Klik.
Upload.
Facebook.
Instagram.
YouTube.
TikTok.
Dalam hitungan jam—
Komentar mengalir.
🇮🇩🤝🇵🇸
“Bangga!”
“Indonesia hadir!”
“Prajurit kemanusiaan!”
Video pendek Dr. Sandi menerima medali ditonton ratusan ribu kali.
Laura melihat layar ponsel, lalu menggeleng kecil.
“Kita cuma ingin tenang,” katanya.
Sandi tersenyum.
“Kadang… kebaikan memang tidak bisa sembunyi.”
TELEPON DARI CIREBON
Ponsel Bima bergetar.
Nama yang muncul membuatnya refleks berdiri tegak.
“Siap, Komandan.”
Suara dari seberang terdengar jelas.
“Bima,” kata sang Komandan Arhanud 14 Cirebon,
“saya lihat beritanya.”
Bima menelan ludah.
“Satuan kita bangga,” lanjut suara itu.
“Kau dan anak-anak menunjukkan jati diri prajurit.”
Bima tersenyum lebar, jarang sekali.
“Terima kasih, Komandan. Ini kerja tim.”
“Pulang nanti,” kata sang Komandan,
“ada kopi yang menunggu.”
“Siap,” jawab Bima mantap.
Telepon ditutup.
Andri menepuk bahunya.
“Cirebon bangga, Bim.”
OBROLAN MASA DEPAN
Malam semakin larut.
Mereka duduk melingkar di teras kedutaan.
Tidak ada agenda.
Tidak ada strategi.
Hanya obrolan.
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Laura pada Sandi.
Sandi berpikir sejenak.
“Kembali jadi dokter,” jawabnya.
“Mengobati tanpa dikejar.”
Laura tersenyum.
“Dan aku,” katanya pelan,
“ingin hidup… tanpa lari.”
Dr. Hadijah menatap mereka penuh harap.
“Itu rencana yang indah,” katanya.
“Dan layak diperjuangkan.”
Bima menatap langit Jakarta.
“Kita tidak tahu besok bagaimana,” katanya.
“Tapi malam ini… kita menang.”
Eren mengangkat cangkir.
“Untuk malam ini.”
Semua ikut mengangkat.
Malam berlalu tanpa dentuman.
Tanpa sirene.
Tanpa darah.
Hanya manusia-manusia yang merencanakan masa depan—
perlahan,
jujur,
dan penuh harapan.
SARAPAN PAGI TERAKHIR
KEDUTAAN BESAR PALESTINA – JAKARTA
Pagi itu Jakarta kembali ramah.
Cahaya matahari masuk pelan melalui jendela besar ruang makan kedutaan. Aroma roti hangat dan teh mint memenuhi ruangan, mengulang suasana hangat pagi sebelumnya—namun dengan rasa yang lebih dalam.
Ini adalah pagi perpisahan.
President Mahmoud Abbas duduk bersama istri dan anak-anaknya. Wajah mereka tenang, menyimpan kehangatan sekaligus haru. Di seberang meja, Laura dan tim duduk rapi—tanpa seragam tempur, hanya manusia yang menikmati waktu.
“Kalian membuat Jakarta terasa seperti rumah kedua,” kata President Mahmoud Abbas sambil tersenyum.
Laura membalas lembut.
“Kami yang merasa terhormat, Yang Mulia.”
Dr. Sandi menuangkan teh untuk President Mahmoud Abbas, kebiasaan kecil yang membuat suasana semakin cair.
“Kau tampak lebih segar hari ini, Dokter,” kata President Mahmoud Abbas.
“Mungkin karena akhirnya bisa tidur tanpa mimpi buruk,” jawab Sandi jujur.
President Mahmoud Abbas tertawa kecil.
OBROLAN TANPA PROTOKOL
Anak-anak President Mahmoud Abbas berbincang ringan dengan Laura tentang Jakarta—tentang makanan, hujan, dan bagaimana kota besar bisa tetap terasa manusiawi.
Di sisi lain meja, Sertu Bima dan tim berbincang santai dengan pejabat kedutaan.
“Kalau bukan karena keadaan,” kata Andri pelan,
“saya ingin mengajak anak-anak Palestina main bola di Cirebon.”
President Mahmoud Abbas mendengarnya dan tersenyum.
“Suatu hari,” kata President Mahmoud Abbas pelan.
“Insya Allah.”
PERMINTAAN JENDERAL GHOUL
Sarapan hampir selesai ketika Jenderal Mohamed Ghoul berdiri. Nada suaranya tenang namun penuh bobot.
“Sertu Bima,” katanya.
Bima refleks berdiri tegap.
“Tidak perlu formal,” kata Jenderal Ghoul sambil menggeleng.
“Duduk.”
Ia menatap satu per satu anggota tim.
“Kalian telah melihat wajah kejam penjajahan,” lanjutnya.
“Dan kalian bertahan.”
Ia menarik napas panjang.
“Sebagai prajurit Palestina… dan sebagai manusia… aku meminta bantuan.”
Ruangan hening, tapi hangat.
“Bukan sebagai tentara asing,” lanjut Jenderal Ghoul,
“melainkan sebagai sahabat.”
“Kami ingin kalian membantu melatih pertahanan, disiplin, dan cara bertahan… agar rakyat kami tidak terus menjadi korban.”
Sertu Bima menatap rekan-rekannya, lalu ke arah President Mahmoud Abbas.
“Kami prajurit,” jawab Bima pelan namun tegas.
“Tugas kami melindungi yang lemah.”
“Kami akan membantu sebatas kemampuan kami… sesuai nilai kemanusiaan.”
Jenderal Ghoul menunduk hormat.
PERMINTAAN KHUSUS DARI PRESIDENT
President Mahmoud Abbas kemudian menoleh kepada Dr. Sandi.
“Dokter,” kata President Mahmoud Abbas pelan,
“ada satu permintaan pribadi dariku.”
Sandi mendongak.
“Silakan, Yang Mulia.”
President Mahmoud Abbas menyandarkan tubuhnya dengan tenang.
“Ilmu yang kau miliki,” lanjut President Mahmoud Abbas,
“tenaga dalam dari perguruan Merpati Putih… bukan sekadar bela diri.”
“Itu disiplin, pengendalian diri, dan kekuatan jiwa.”
Sandi terdiam.
“Aku ingin,” kata President Mahmoud Abbas dengan suara lembut namun tegas,
“jika kau bersedia… mengajarkan ilmu itu kepada prajurit Palestina.”
“Bukan untuk menyerang,” tambah President Mahmoud Abbas,
“tetapi untuk bertahan dan melindungi kehidupan.”
Sandi menunduk lama.
Laura menggenggam tangannya.
Dr. Hadijah mengangguk memberi dukungan.
Akhirnya Sandi mengangkat kepala.
“Ilmu itu saya pelajari untuk melindungi, bukan menyakiti,” katanya pelan.
“Jika tujuannya kemanusiaan… saya bersedia.”
President Mahmoud Abbas tersenyum hangat.
“Maka kau bukan hanya dokter bagi Palestina,” kata President Mahmoud Abbas,
“tetapi juga guru.”
PERPISAHAN
Di halaman kedutaan, sebelum keberangkatan ke bandara, mereka berdiri berhadapan.
President Mahmoud Abbas memeluk Laura singkat.
“Jaga dirimu,” kata President Mahmoud Abbas.
Ia menjabat tangan Sertu Bima dan tim satu per satu.
“Kalian selalu memiliki rumah di Palestina,” kata President Mahmoud Abbas.
Kepada Dr. Sandi, President Mahmoud Abbas berkata pelan,
“Orang-orang seperti kalian membuat dunia tetap layak diperjuangkan.”
Iring-iringan kendaraan bergerak perlahan.
Bendera Palestina berkibar.
Laura menatap hingga mobil menghilang.
“Perjalanan baru saja dimulai,” katanya.
Bima mengangguk.
“Iya.”
“Tapi hari ini,” kata Eren sambil tersenyum,
“kita masih bisa bernapas tenang.”
Pagi itu berlalu tanpa dentuman.
Hanya janji, persahabatan, dan harapan—
yang tidak bisa dijajah siapa pun.