Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Hari ini Dian benar-benar merasa bahagia. Meski hatinya masih perih karena mengetahui pengkhianatan suaminya, semua rasa itu ia telan dalam-dalam. Demi Naya, ia rela melakukan apa pun. Sejak tadi di luar hingga kembali ke rumah, Naya begitu lengket dengan Andi. Wajar saja—anak itu sudah lama tidak bertemu ayahnya. Tawa Naya pecah berkali-kali saat bermain bersama Andi, dan pemandangan itu membuat hati Dian hangat sekaligus nyeri.
Tak lama kemudian, Arif pulang bersama Nuri. Begitu melihat mereka, Naya langsung berlari kecil dengan wajah sumringah.
“Om Aif! Om Aif!” teriaknya riang.
Arif tersenyum lebar, lalu berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya.
“Eehh, ini siapa sih? Si cantik om,” ujarnya gemas.
Nuri yang awalnya bersikap dingin saat melihat Dian, perlahan berubah ketika berhadapan dengan Naya. Senyum tipis muncul di wajahnya, matanya berbinar melihat tingkah polos keponakannya.
Dian memperhatikan semuanya dari kejauhan. Ia tak berkata apa-apa, hanya tersenyum pelan. Dalam hatinya, ia berbisik: selama Naya bahagia, ia akan bertahan—setidaknya untuk saat ini.
Awalnya Naya tampak takut pada Nuri. Ia bersembunyi di dada Arif, memeluk erat seolah mencari perlindungan. Arif tersenyum, lalu menunduk sejajar dengan wajah Naya.
“Ini tante, Naya,” ujarnya lembut.
Nuri yang sejak tadi memperhatikan, spontan ikut tersenyum. Rasa gemas langsung muncul melihat pipi Naya yang chubby dan matanya yang polos. Ia mendekat perlahan, tak memaksa. Setelah beberapa detik ragu, Naya akhirnya mau berpindah, membiarkan Nuri menggendongnya. Nuri nyaris tertawa kecil karena senangnya.
Pov Nuri
Entah kenapa, hatiku langsung luluh pada Naya. Padahal, perasaanku pada Dian belum sepenuhnya baik. Selama ini, yang kudengar tentangnya hanya cerita-cerita dari ibu—bahwa Dian pemalas, tak pandai mengurus suami, tak becus mengurus anak, bahkan katanya tak bisa merawat diri. Semua itu yang membuat Andi berpaling pada Tasya, begitu kata ibu.
Tapi saat melihat Naya secara langsung, aku justru terdiam. Anak ini sehat, berisi, bersih, dan jelas terawat dengan baik. Tidak mungkin anak seperti ini diasuh oleh ibu yang malas.
Pandangan mataku kemudian beralih pada Dian. Ia berdiri tak jauh dari kami. Hijabnya rapi, wajahnya bersih dan tenang. Memang tubuhnya sedikit berisi, tapi sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang diabaikan atau tak terurus. Justru ada aura lembut dan anggun yang sulit dijelaskan.
Dalam hati, aku menepis perlahan semua penilaian yang selama ini kutelan mentah-mentah. Mungkin… tidak semua yang ibu katakan tentang Dian itu benar.
Tentu saja Nuri merasa gengsi. Sejak awal pertemuan, sikapnya pada Dian terlanjur dingin dan ketus. Kini, setelah melihat sendiri, ada rasa tak enak di hati yang tak bisa ia ungkapkan begitu saja. Alih-alih menatap Dian, Nuri memilih mengalihkan perhatiannya pada Naya.
Ia terus bermain dengan gadis kecil itu, suaranya berubah jauh lebih lembut.
“Naya suka makan apa?” tanya Nuri sambil tersenyum.
“Ayam goleng… ayam goleng,” jawab Naya dengan logat polos yang menggemaskan.
“Oke, tante beliin ya,” ucap Nuri cepat, seolah ingin menebus sesuatu. Ia meraih ponsel di atas meja, lalu memesan makanan sesuai permintaan Naya, sekalian untuk makan malam mereka semua.
Naya hanya mengangguk kecil, matanya berbinar.
Dari kejauhan, Dian memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Ada rasa haru bercampur lelah di dadanya—setidaknya, untuk saat ini, Naya diterima dengan hangat. Dan bagi Dian, itu sudah lebih dari cukup.
Mereka makan malam bersama, termasuk Naya yang duduk di antara mereka. Dian memperhatikan, sejak tadi Nuri seolah tak ingin beranjak jauh dari Naya—menyuapi, mengelap mulut kecil itu, bahkan memastikan minumnya tak tumpah.
Bu Minah yang melihat kedekatan itu langsung mengernyit.
“Nuri, itu Naya ada ibunya. Ngapain kamu repot-repot nyuapin segala,” ujarnya dengan nada kesal.
Nuri menoleh cepat, wajahnya datar namun suaranya tegas.
“Suka-suka aku lah, Bu. Ibu aja sebagai neneknya enggak bisa begini,” balasnya tanpa ragu.
Dian yang mendengar hanya bisa tertawa kecil dalam hati. Untuk pertama kalinya, ada orang yang berani menyela sikap mertuanya—dan bukan dirinya.
Andi buru-buru mencoba menenangkan suasana.
“Udah, udah… lagi makan, jangan ribut,” katanya menengahi.
Namun Nuri langsung menyahut, matanya masih tertuju pada ibunya.
“Tuh, ibu yang mulai, Bang.”
Suasana mendadak hening sejenak, hanya suara sendok dan piring yang tersisa. Di tengah ketegangan itu, Naya tetap makan dengan lahap, seolah tak menyadari badai kecil yang baru saja lewat.
Dian sibuk mencuci tumpukan piring di dapur ketika tiba-tiba terdengar suara Nuri dari belakang.
“Aku bantu ya, Mbak,” ucapnya singkat, terdengar cuek seperti biasanya.
Dian menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tulus.
“Makasih ya, Nur… sudah nerima anak Mbak,” jawabnya lembut.
Nuri hanya mengangguk kecil sambil ikut meraih lap, namun hatinya terasa hangat. Entah sejak kapan, melihat Naya membuatnya melupakan rasa kesal pada Dian—setidaknya untuk malam itu.
Setelah kembali ke kamar masing-masing, Dian menidurkan Naya lebih dulu. Ia sempat memainkan ponselnya sebentar hingga tak lama kemudian Andi masuk dan langsung merebahkan diri, membelakangi Dian tanpa sepatah kata.
Dian meletakkan ponsel itu, menarik napas pelan, lalu berkata lirih,
“Bang… terima kasih ya. Hari ini sudah bikin Naya dan aku bahagia. Maaf kalau aku belum jadi istri yang sempurna di mata abang.”
Kata-kata itu membuat Andi terhenyak. Dadanya terasa sesak, rasa bersalah yang selama ini ia tekan perlahan muncul ke permukaan. Untuk pertama kalinya malam itu, Andi terdiam lama—menyadari betapa sabarnya Dian, dan betapa banyak yang telah ia abaikan.
Dian pun memejamkan mata, tubuhnya benar-benar lelah setelah hari yang panjang. Tak lama kemudian, Andi membalikkan badan. Perlahan ia meraih Dian, memeluknya dari belakang tanpa berkata apa pun.
Pelukan itu terasa hangat—asing sekaligus familiar. Dian terdiam, tak bergerak, hanya membiarkan air matanya jatuh perlahan di bantal. Dalam pelukan itu, Andi pun ikut terlelap, sementara Dian terjaga beberapa saat, menyimpan harap yang rapuh dan luka yang belum sembuh sepenuhnya.
Di kamar Arif dan Nuri, lampu belum dimatikan. Keduanya masih terjaga, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Nuri membuka suara, membicarakan hal yang biasanya enggan ia urusi.
“Sayang… aku kok kasihan sama Mbak Dian,” ucap Nuri ragu. “Entah kenapa ya, tiap lihat dia tuh kepikiran terus. Apalagi soal Tasya… pacarnya abang kamu itu.”
Arif menoleh. Sejujurnya, ia memang tidak suka dengan sikap abangnya yang menduakan istri. Namun ia juga tak bisa berbuat banyak, sebab ibunya selalu beranggapan bahwa laki-laki wajar punya lebih dari satu perempuan.
“Terus kamu gimana?” tanya Arif pelan.
“Ih, kamu ini. Diajak ngomong serius malah gitu,” gerutu Nuri kesal.
Arif lalu menatap istrinya lebih dalam. “Kalau boleh jujur,” katanya akhirnya, “aku juga nggak membenarkan apa yang Bang Andi lakukan. Tapi kamu tahu sendiri kan, ibu selalu membela abang.”
Ia menghela napas sebentar sebelum melanjutkan, “Mbak Dian itu orangnya baik, Sayang. Baik banget malah. Makanya aku tuh sayang sekali sama Naya. Anak itu polos, nggak salah apa-apa.”
Nuri terdiam, hatinya terasa semakin berat setelah mendengar pengakuan suaminya.
Nuri menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara lebih lirih,
“Aku juga merasa… apa yang ibu bilang tentang Mbak Dian itu salah.”
Arif menoleh lagi, kini ekspresinya lebih serius. Nuri bangkit setengah duduk, bersandar di kepala ranjang.
“Selama ini ibu selalu bilang Mbak Dian malas, nggak becus ngurus rumah, nggak pantes buat Bang Andi,” lanjutnya. “Tapi setelah aku lihat sendiri hari ini… aku rasa ibu keliru.”
Arif terdiam, membiarkan istrinya bicara.
“Mbak Dian itu kelihatan capek, tapi tetap lembut sama Naya. Cara dia ngomong, cara dia ngurus anaknya, itu bukan perempuan sembarangan,” ujar Nuri jujur. “Kalau dia memang seburuk kata ibu, Naya nggak mungkin secerdas dan seceria itu.”
Arif mengangguk pelan. “Aku juga mikir begitu, Nur. Banyak hal yang ibu ceritakan ke kita… kayaknya cuma dari satu sisi.”
Nuri mengepalkan jari di atas selimut. “Kadang aku takut, Rif. Takut suatu hari nanti aku juga diperlakukan seperti Mbak Dian, kalau aku nggak sesuai sama maunya ibu.”
Ucapan itu membuat Arif menatap istrinya lama. Ia lalu meraih tangan Nuri dan menggenggamnya erat.
“Selama aku masih ada, aku nggak akan biarin itu kejadian,” ucapnya tegas. “Dan soal Mbak Dian… aku bakal berusaha adil, setidaknya di hadapan Naya.”
Nuri tersenyum tipis, meski matanya masih menyimpan kegelisahan.
“Semoga Bang Andi sadar sebelum semuanya terlambat,” gumamnya pelan.
Lampu kamar tetap menyala, sementara di luar, malam berjalan pelan—menyimpan banyak rahasia yang perlahan mulai terkuak.