"Kumohon, menikahlah denganku," ucap Kiara Jasmin dengan putus asa.
"Bukannya kamu itu pacar Fero -keponakanku?" jawab Kaisar sambil menatap tajam.
"Tidak, kami sudah putus!" jawab Kiara- cepat.
Ya, kami putus setelah aku tau dia selingkuh dengan adik tiriku, dan kau adalah caraku membalas dendam padanya.
Kaisar Julian, tidak hanya tampan, tapi dia sangat dingin dan sangat kaya. Bahkan dia adalah sumber dana bagi Fero yang pemalas tapi suka berfoya-foya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kiara mendekati Kaisar yang merupakan CEO di tempatnya bekerja, menawarkan kontrak hubungan palsu.
Namun hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak, entah sejak kapan makin terasa nyata seperti bukan sekedar sandiwara. Dan Kaisar, paman sang mantan -yang dingin itu ternyata menyimpan api yang lebih berbahaya dari yang pernah Kiara bayangkan. Kini jarak antara kebohongan dan kenyataan semakin samar.
Apakah balas dendam terus berlanjut atau...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara muak.
"Ayah," Kiara muncul di kamar ayahnya dengan senyum lebar, sambil membawa sebungkus makanan. "Aku bawakan ikan bakar!"
Senyum Ayah Kiara mengembang, "Wahh... ada apa nih? tumben beli ikan bakar?"
"Aku sedang merayakan sesuatu, Yah. Aku sudah resmi punya pacar. Dan jika semuanya lancar aku akan menikah dengannya. Makanya Ayah harus cepat sehat, makan yang banyak. Oke?" ucap Kiara ceria, sambil mengambil piring dan menyiapkan ikan yang di belinya di atas piring tadi. "Oh iya, aku mau ambil nasi dulu," Kiara bergegas ke dapur dan membuka magic com, namun tak ada apapun di sana. Magic com itu kosong.
Kiara berdecak kesal, "dasar orang-orang keterlaluan! bisa-bisanya nggak masak malah pergi nggak tau ke mana!" kesalnya. Kiara pun mengambil panci dan mengisinya dengan beberapa gelas beras, mencucinya sebentar lalu memasaknya di magic com.
Setelah itu, Kiara kembali ke kamar sang ayah.
"Orang-orang pada ke mana sih, Yah?" tanya Kiara dengan kesal sambil duduk di tepi ranjang Ayahnya dan mulai memijat kaki sang ayah.
"Tadi mereka pergi dengan Fero, katanya mau makan di luar," ucap Ayah dengan wajah datar. Dia benar-benar sudah tak perduli dengan sikap istri dan anak tirinya.
"Keterlaluan! pergi begitu saja! nggak masak nasi! masa Ayah nggak di masakin dulu, gitu?'' kesal Kiara.
"Sudahlah, biar saja. Mengurusi mereka malah bikin kita gila. Ayah sekarang sudah cuek saja dan nggak perduli. Oh ya, ceritakan tentang pacarmu, Ayah ingin mendengarnya,'' ucap Ayah dengan penuh semangat.
Kiara tersenyum senang, karena Ayahnya tak terlihat sedih lagi. Keputusannya untuk meminta menikah dengan Kaisar sepertinya memang pilihan yang tepat. Kiara rela melakukan apapun asalkan bisa melihat ayahnya tersenyum seperti sekarang. Walaupun itu harus melayani suaminya tiga kali sehari sewaktu week end, ahh! kenapa Kiara terus mengingat perjanjian gila itu.
"Baiklah, sambil menunggu nasi matang, aku akan bercerita. Tapi Ayah jangan kaget ya, soalnya pacarku yang sekarang super guanteng! kaya artis!"
"Masa sih?" Ayah terkekh dan tak percaya pada ucapan putrinya.
"Ih! kok ayah nggak percaya! nih, aku kasih lihat fotonya," Kiara merogoh ponsel yang ada di saku celananya dan menunjukkan foto Kaisar padanya.
Ayah kembali tersenyum, "apa buktinya kalian pacaran? ini juga seperti kamu sedang mencuri fotonya, ini foto candid, kan?" seloroh Ayah.
Kiara tersenyum malu. Memang foto ini dia ambil diam-diam sewaktu di ruangan Kaisar tadi sore. Saat sedang membicarakan masalah syarat tambahan dalam pernikahan mereka. Tentu saja, Kiara tak berani minta foto bersama secara terang-terangan, dia malu.
"Ehm.. memang, karena.. karena dia itu nggak pernah mau di foto. Makanya aku foto dia diam-diam," Kiara berusaha mencari alasan yang masuk akal agar Ayahnya percaya. "Ayah tenang saja, masa nggak percaya sama anak sendiri!" lanjut Kiara dengan berpura-pura kesal.
Ayah Kiara kembali terkekeh, "iya, Iya, Ayah percaya,'' ucapnya berusaha menenangkan putrinya yang sudah siap tantrum.
"Namanya Kaisar Julian, umurnya 35 tahun,'' ucap Kiara sambil memandangi wajah tampan Kaisar yang menghiasi layar ponselnya. Kaisar benar-benar menawan, walaupun di foto secara diam-diam. Coba jika Kiara yang di foto diam-diam pasti ada aja kelihatan jeleknya.
"Umur kalian terpaut jauh. Kamu yakin? ayah takut dia cuma mainin perasaan kamu," ucap Ayah dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Justru karena umurnya sepuluh tahun lebih tua, dia sangat penyayang (Kiara teringat ciuman lembut kaisar). Dia juga sangat perhatian (Kiara teringat saat Kaisar memujinya dan mengatakan dia bangga pada Kiara). Pokoknya, sempurna!" ucap Kiara sambil menangkupkan kedua tangannya dan nyengir sendiri persis kuda.
"Ingat Kiara, dia lelaki dewasa. gaya berpacarannya pasti juga dewasa. Fero yang seumuran denganmu saja sudah berani berbuat maksiat tanpa malu-malu lagi! apalagi pria dewasa seperti Kaisar,'' ingat sang Ayah.
Kiara menatap ayahnya, "maaf kan aku, Yah. Ayah jadi mengalami ini semua! seharusnya dulu aku tidak menerima Fero sebagai pacarku! jika akhirnya dia malah cuma membuat telinga dan mata kita terkontaminasi!"
"Bukan salahmu, Kia. Selama ini Ayah diam saja, karena Mona bukan anak ayah. Jadi ayah tak peduli. Lain cerita kalau itu kamu, Kia! Ayah pasti akan menghajar kalian meskipun Ayah harus merangkak untuk turun dari ranjang ini!" ucap Ayah dengan wajah serius.
Kiara tersenyum mendengar ucapan Ayahnya, dia pun mendekat dan memeluk sang ayah, "Kiara janji, Kiara akan menjaga diri baik-baik untuk suami Kiara kelak. jadi Ayah harus sehat sampai Ayah punya cucu dari Kia, ya!'' ucap Kiara. Ya, jika itu demi Ayahnya, Kiara rela memiliki anak dari Kaisar walaupun dia tahu mereka akan bercerai setelah satu tahun menikah.
"Maka kamu harus cepat menikah, Kia. Ayah takut tak sempat..." ucapan Ayah terpotong, tampaknya dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya itu.
"Ayah jangan bicara sembarangan! Ayah pasti sehat terus sampai aku punya lima anak!'' ucap Kiara dan sukses membuat sang ayah tergelak.
"Oh iya, nasinya pasti sudah matang, sebentar Kiara ambil dulu, ya." Kiara segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Saat sampai di dapur, dia tak kuasa menahan air matanya. Ucapan Ayahnya benar-benar membuat Kiara sedih. Tak bisa dia bayangkan jika Ayahnya benar-benar telah pergi, akan bagaimana nasib Kiara kelak? bisakah dia meneruskan hidupnya seorang diri?
"Ayaahh..." rengek Kiara lirih sambil terus menangis. Setelah puas menangis, Kiara bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar jejak air matanya hilang. Setelah itu dia berusaha mengembangkan senyum lebar sambil kembali berjalan menuju kamar Ayahnya dengan membawa sepiring nasi yang masih mengepul karena baru matang.
Saat Kiara sedang menyuapi Ayahnya makan, Mona, Fero dan Karina datang. Mereka bertiga duduk santai di ruang TV sambil mengobrol dengan kencang tak perduli jika ada Ayah Kiara yang sakit dan butuh ketenangan.
"Dasar benalu nggak tau malu!" geram Kiara yang benar-benar sudah merasa muak.
"Nggak apa-apa, tenang saja. Ayah punya ini," Ayah Kiara menunjukkan sepasang headset yang selalu di pakainya saat tak ingin mendengarkan suara berisik yang di timbulkan oleh istri dan anak tirinya.
Kiara tergelak. lalu setelah Ayahnya selesai makan, Kiara bergegas keluar dari kamar sambil membawa alat makan yang di gunakannya barusan. Kiara pun melewati tiga orang yang asyik mengobrol itu tanpa menyapa sedikitpun, seolah-olah tak ada siapapun di sana.
"Dasar perempuan nggak punya sopan santun! ada orang tapi nyelonong aja! beda banget sama Mona! begini-begini, Mona punya sopan santun!" ucap Karina sambil melirik sinis pada Kiara.
Kiara hanya terkekeh mendengar ucapan Karina. Sopan santun? yang benar saja! Namun Kiara malas meladeni ibu tirinya itu, dia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat secepatnya.
Setelah mencuci piringnya, Kiara bergegas menuju kamarnya yang ada di loteng, masih tak perduli pada tiga orang yang masih asyik mengobrol di ruang TV.
"Lihat saja nanti, saat aku jadi supervisor! aku akan mengajari Kiara sopan santun tante, tenang saja!" ucap Fero dengan sedikit keras agar Kiara mendengarnya.
Kiara kembali terkekeh, "Cih! supervisor! yang benar saja! aku malah bakal jadi istri CEO! kita lihat saja nanti, siapa yang akan di ajari sopan santun! aku atau kamu! hahahaha!" ucap Kiara dari dalam kamarnya. Dia benar-benar sudah tak sabar untuk segera menikah dengan Kaisar, dan tiga kali sehari di waktu weekend. "Kyaaa!" pekik Kiara malu sendiri sambil membenamkan wajahnya di bantal.
🤭
Km kira ini gaun buat pengantin baru yg mau unboxing 🤣