"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Pagi setelah badai besar di Uluwatu menyisakan udara yang sangat segar, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa garam laut yang menenangkan. Kirana terbangun di atas sofa dengan selimut tebal yang masih melilit tubuhnya dengan hangat.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menciptakan garis-garis emas di lantai kayu vilanya. Namun, Arka sudah tidak ada di sana.
Yang tertinggal hanyalah sebuah nampan kecil berisi secangkir teh jahe yang masih mengepulkan uap hangat di atas meja kopi, dan sebuah catatan kecil yang ditulis dengan tulisan tangan Arka yang tegas di sampingnya.
"Aku sudah berada di lokasi proyek sejak subuh. Ada beberapa material pondasi yang harus kupastikan keamanannya setelah badai semalam. Istirahatlah sebentar lagi, kau butuh tenaga ekstra untuk peninjauan besar sore nanti. Minumlah tehnya selagi hangat. - A"
Kirana menyentuh kertas itu dengan ujung jarinya, merasakan getaran halus di jemarinya yang sulit ia kendalikan. Ia bangkit dan menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang tamu. Wajahnya tidak lagi terlihat sekaku biasanya, garis-garis ketegangan di dahinya tampak melunak. Ada rona kemerahan yang sulit ia jelaskan muncul di pipinya.
Apakah aku benar-benar akan membiarkan diriku terjatuh ke lubang yang sama lagi? tanyanya pada bayangannya sendiri.
Logikanya berteriak keras bahwa ini adalah jebakan yang lebih canggih, namun hatinya yang selama ini kesepian dan haus akan kasih sayang mulai mencari-cari pembenaran atas setiap tindakan dedikasi yang ditunjukkan Arka selama di Bali.
~
Sore harinya, pembangunan hotel di tebing itu mencapai sebuah tonggak sejarah yang sangat penting, pemasangan rangka atap di titik tertinggi bangunan. Sebagai bentuk rasa syukur, Arka mengundang seluruh pekerja bangunan untuk makan bersama di area terbuka proyek.
Suasana sangat cair. Arka tidak duduk di kursi khusus atau menjauhkan diri, ia justru duduk lesehan di atas hamparan terpal bersama para tukang kayu dan buruh kasar, tertawa lepas, dan menyantap nasi bungkus dengan tangan kosong layaknya mereka.
Kirana memperhatikan pemandangan itu dari kejauhan, dari balkon lantai dua yang belum selesai. Ia melihat Arka merogoh saku celananya yang kotor oleh semen dan memberikan sejumlah uang yang cukup banyak kepada salah satu pekerja yang tampak murung. Belakangan ia tahu pekerja itu baru saja mendapat kabar bahwa anaknya sakit keras di kampung halaman.
"Pak Arka itu orang yang sangat berbeda sekarang, Bu Kirana," bisik Pak Wayan, mandor proyek yang berdiri di samping Kirana sambil memegang gulungan cetak biru. "Dia tidak hanya sekadar memberi uang, tapi dia tahu nama setiap anak dari kami semua di sini. Dia sering bercerita kalau hotel ini bukan milik keluarga Mahendra atau Nirmala Capital, tapi milik kita semua yang meneteskan keringat dan darah di sini."
Kirana terenyuh. Penampilan Arka yang tampak dermawan dan rendah hati ini terasa sangat organik, sangat jauh dari citra pria manja dan sombong yang ia permalukan di pesta Jakarta dulu. Mungkinkah penderitaan benar-benar bisa mencuci jiwa seseorang? batinnya.
Setelah acara syukuran selesai, Arka menghampiri Kirana. Wajahnya kotor oleh debu proyek, keringat membasahi kaos polonya yang murah, tapi matanya bersinar terang dengan energi yang positif. "Kita berhasil, Kirana. Struktur utama sudah selesai seratus persen. Dalam tiga bulan ke depan, tempat ini akan menjadi hotel terbaik dan terindah di seluruh Bali."
"Ini semua berkat kerja kerasmu, Arka," ucap Kirana dengan tulus, tanpa ada nada sinis yang biasanya ia selipkan. "Aku harus mengakui secara profesional, kau adalah manajer lapangan yang sangat handal."
Arka tersenyum lebar, sebuah senyuman yang tidak lagi mengandung kesombongan, melainkan penuh dengan kelegaan yang murni. "Maukah kau berjalan bersamaku sebentar ke pantai di bawah tebing? Air laut sedang surut maksimal. Aku ingin menunjukkan sesuatu yang spesial padamu sebelum matahari benar-benar hilang."
Mereka berdua menuruni ratusan anak tangga kayu darurat yang curam menuju pantai tersembunyi yang terletak tepat di bawah kaki tebing Uluwatu. Pasir putihnya masih tampak murni, hanya meninggalkan jejak kaki mereka berdua.
Matahari mulai turun ke garis cakrawala, mewarnai langit dengan gradasi ungu, oranye, dan emas yang tampak magis, seolah-olah dunia sedang memberikan restu.
Arka berhenti di depan sebuah batu karang raksasa yang menonjol ke laut. Ia berbalik dan menatap Kirana dalam-dalam. Angin laut yang kencang memainkan helai-helai rambut bob Kirana, membuatnya tampak sangat rapuh sekaligus kuat di mata Arka.
"Kirana," Arka memulai pembicaraan, suaranya berat dan penuh emosi. "Di tempat ini, tepat tiga bulan yang lalu setelah kau menghancurkanku di Jakarta, aku pernah berdiri sendirian di tengah malam, meratapi kehancuran hidupku. Aku merasa duniaku telah berakhir karena kebodohan dan keserakahanku sendiri."
Ia mengambil napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya. "Banyak orang, mungkin termasuk kau, mengira aku menunjukkan sisi lembut ini hanya untuk mendapatkan kembali harta dan posisiku di Mahendra Group. Tapi mereka salah besar. Harta bisa dicari kembali dengan cara lain, Mahendra Group bisa dibangun ulang dari nol. Tapi kepercayaanmu... itu adalah hal tersulit dan paling berharga yang pernah aku perjuangkan sepanjang hidupku."
Arka kemudian melakukan sesuatu yang tidak pernah Kirana bayangkan, ia berlutut di atas pasir putih yang basah oleh sisa ombak. Ia tidak mengeluarkan kotak perhiasan mewah dari merek ternama. Ia hanya mengambil segenggam pasir pantai dan membiarkannya tertiup angin pelan-pelan.
"Aku bersumpah di atas tanah Bali ini, di hadapan laut luas yang telah menyaksikan setiap tetes air mata dan rasa sakitmu. Aku bukan lagi pria pengecut yang bertaruh demi mobil sport. Aku adalah pria yang ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk memastikan bahwa kau, Kirana, tidak akan pernah lagi menangis karena sebuah pengkhianatan."
Kirana merasa dunianya seolah berhenti berputar. Oksigen di sekitarnya terasa menipis.
"Arka, tolong... bangkitlah. Jangan lakukan ini."
"Tidak, sebelum kau memberiku satu kepastian," Arka menatapnya dengan intensitas yang meluluhkan. "Aku tahu Nirmala Capital sedang mempertimbangkan untuk melakukan merger penuh dengan Mahendra Group minggu depan untuk menyelamatkan sisa aset ayahku. Aku bersumpah, aku tidak peduli dengan merger atau uang itu. Aku hanya ingin tahu satu hal... apakah masih ada tempat bagiku di masa depanmu? Bukan sebagai rekan bisnis, tapi sebagai pria yang mendampingimu?"
Kirana terdiam sangat lama. Suara deburan ombak di sekeliling mereka seolah menjadi irama detak jantungnya yang tidak beraturan. Bayangan rasa sakit di masa lalu perlahan-lahan mulai memudar, tertutup oleh dedikasi, keringat, dan ketulusan yang Arka tunjukkan selama berminggu-minggu di Bali.
"Aku butuh waktu untuk benar-benar yakin, Arka," jawab Kirana dengan suara pelan yang bergetar, namun ia mengulurkan tangannya, membantu Arka untuk berdiri kembali. "Tapi... aku harus jujur, aku tidak lagi membencimu seperti dulu."
Arka tidak membuang waktu. Ia menarik Kirana ke dalam pelukannya yang erat dan hangat. Di bawah langit senja Bali yang dramatis, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang baru saja menemukan kembali jalan pulang setelah tersesat di tengah badai.
Arka mencium kening Kirana dengan sangat lama, seolah sedang menyerap seluruh keraguan dan luka yang masih tersisa di hati wanita itu.
~
Malam harinya, suasana di lokasi proyek telah sunyi. Kirana yang merasa sangat bahagia dan sedikit bersalah karena telah terlalu keras pada Arka, memutuskan untuk membawakannya kopi hitam dan beberapa camilan ke kantor darurat di bedeng proyek. Arka memang sering bekerja lembur untuk memeriksa laporan logistik.
Saat Kirana hampir sampai di depan pintu bedeng yang sedikit terbuka, ia mendengar suara Arka sedang berbicara dengan seseorang melalui panggilan video. Langkah Kirana terhenti. Ia tidak bermaksud menguping, namun suara yang terdengar dari dalam adalah suara yang sangat ia kenal - Surya Mahendra.
"Bagaimana progres penaklukannya, Arka? Aku dengar dari laporan intelijen lobi-mu sangat sukses. Kau sudah berhasil membuat dia setuju untuk menandatangani draf merger itu minggu depan?" suara Surya terdengar penuh kemenangan yang sinis.
Kirana terpaku di tempatnya. Nampan di tangannya bergetar.
Arka terdengar menghela napas panjang di dalam sana. "Dia akan menandatangani merger itu sesuai rencana, Ayah. Tapi aku minta satu hal padamu. Setelah merger ini selesai dan seluruh dana cadangan Nirmala Capital masuk ke rekening induk Mahendra Group, jangan hancurkan dia sepenuhnya. Biarkan dia tetap memegang posisi kecil di manajemen agar dia tidak curiga."
Surya tertawa dingin, sebuah tawa yang menusuk tulang. "Kau mulai menjadi lembek dan tidak berguna, Arka! Ingat, wanita itu sudah mempermalukan nama besar kita di depan seluruh Jakarta! Dia harus membayar setiap sen kerugian kita dengan kehancuran total. Begitu dana itu cair di tangan kita, kita akan langsung mendepaknya dengan tuduhan penggelapan dana proyek yang sudah aku siapkan bukti-bukti palsunya secara rapi. Dia akan masuk penjara, dan kita akan memiliki Nirmala Capital seutuhnya sebagai ganti rugi."
Arka terdiam cukup lama. "Ayah... dia mencintaiku lagi. Dia benar-benar mempercayaiku sekarang."
Kalimat itu diucapkan Arka dengan nada yang terdengar seperti seorang pemburu yang sedang melaporkan keberhasilannya menjerat mangsa yang sulit.
"Justru itu senjatanya, bodoh! Cinta adalah alat manipulasi paling efektif di dunia ini. Bukankah kau sendiri yang mengajariku hal itu dulu saat taruhan pertama?" Surya mematikan sambungan telepon dengan suara klik yang tajam.
Kirana yang berdiri di luar merasa seolah-olah ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Seluruh kehangatan yang ia rasakan di pantai tadi seketika membeku menjadi es yang paling tajam. Ia merasa seperti orang bodoh paling besar di dunia. Air mata kemarahan mulai menggenang, namun ia menolaknya.
Tiba-tiba, tanpa sengaja Kirana menyenggol tumpukan kayu di dekat pintu, menimbulkan suara jatuh yang cukup keras. Arka segera berdiri dan keluar dari bedeng dengan wajah cemas.
"Kirana? Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Arka, suaranya gemetar saat melihat Kirana berdiri di kegelapan dengan nampan di tangan.
Kirana menatap Arka.
Tidak ada lagi cinta di matanya. Hanya ada kehampaan yang mengerikan, sebuah tatapan yang jauh lebih dingin daripada malam saat ia membatalkan pertunangan dulu. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Arka merinding.
"Baru saja sampai, Arka. Aku hanya ingin membawakanmu kopi agar kau bisa tetap fokus bekerja... pada rencana besarmu," ujar Kirana dengan nada bicara yang sangat datar.
"Kau... kau mendengar sesuatu tadi?" Arka melangkah maju, mencoba menyentuh lengan Kirana dengan tangan gemetar.
Kirana mundur satu langkah dengan sangat anggun, menghindari sentuhan itu seolah-olah tangan Arka adalah api yang menjijikkan. "Tidak. Aku tidak mendengar apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pening karena angin laut tadi. Aku akan kembali ke vila sekarang."
Kirana meletakkan nampan itu di atas meja kayu di luar bedeng dengan tangan yang sangat stabil, lalu ia berbalik dan berjalan cepat menembus kegelapan malam tanpa menoleh sedikit pun.
Arka berdiri mematung di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak tahu apakah Kirana benar-benar tidak mendengar, atau apakah ia baru saja melahirkan kembali monster dendam yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Di dalam mobil jip menuju vilanya, Kirana mencengkeram kemudi hingga kuku-kukunya hampir menusuk telapak tangannya. "Bodoh... kau benar-benar wanita bodoh, Kirana," bisiknya dengan suara yang penuh kebencian pada dirinya sendiri.
Seluruh rasa sayang yang sempat tumbuh di hatinya kini telah mati, terkubur di bawah lapisan beton kebencian yang baru. Profesionalisme yang tadi sempat goyah kini mengeras menjadi baja. Ia mengeluarkan ponsel rahasia terenkripsinya dan menghubungi Reza di Jakarta.
"Reza, batalkan semua rencana merger lunak yang kita diskusikan. Segera aktifkan Protokol Black Widow," suara Kirana terdengar setajam silet yang baru diasah.
Reza di seberang sana tertegun. "Black Widow? Kirana, itu berarti penghancuran total tanpa sisa. Kau yakin?"
"Aku sangat yakin. Aku ingin Mahendra Group tidak hanya bangkrut, tapi aku ingin nama mereka dihapus selamanya dari peta bisnis Indonesia. Dan satu lagi, Reza... siapkan semua dokumen untuk menjebak Arka Mahendra secara pribadi dalam kasus pencucian uang dan penipuan investasi di proyek Bali ini. Pastikan dia tidak punya jalan keluar."
Kirana menutup teleponnya. Ia menatap jalanan gelap di depannya dengan mata yang berkilat penuh dendam. Kali ini, ia menyadari bahwa iblis tidak pernah benar-benar bertobat, mereka hanya belajar cara tersenyum yang lebih manis dan cara berlutut yang lebih meyakinkan. Dan ia, Kirana, akan menjadi malaikat maut bagi setiap senyuman palsu itu.
...----------------...
Next Episode....