NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11

Pagi setelah badai di Uluwatu menyisakan udara yang segar dan aroma tanah basah yang menenangkan. Kirana terbangun di sofa dengan selimut yang masih melilit tubuhnya, namun Arka sudah tidak ada di sana. Yang tertinggal hanyalah secangkir teh jahe yang masih hangat di atas meja dan sebuah catatan kecil di sampingnya.

"Aku sudah di lokasi proyek. Ada beberapa material yang harus diperiksa setelah badai semalam. Istirahatlah sebentar lagi, kau butuh tenaga untuk peninjauan sore nanti. 'A' "

Kirana menyentuh kertas itu, merasakan jemarinya sedikit bergetar. Ia menatap cermin di ruang tamu. Wajahnya tidak lagi sekaku biasanya. Ada rona yang sulit ia jelaskan. Apakah aku benar-benar akan melakukan ini lagi? tanyanya pada pantulan dirinya. Logikanya berteriak bahwa ini adalah jebakan, namun hatinya yang haus akan kasih sayang mulai mencari pembenaran atas setiap tindakan Arka.

~

Sore harinya, pembangunan hotel di tebing itu mencapai tonggak sejarah penting, pemasangan atap tertinggi. Arka mengundang seluruh pekerja untuk makan bersama sebagai bentuk syukur. Ia tidak duduk di meja khusus, ia duduk lesehan bersama para tukang, tertawa, dan menyantap nasi bungkus dengan lahap.

Kirana memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat Arka merogoh sakunya dan memberikan sejumlah uang kepada salah satu pekerja yang baru saja mendapat kabar bahwa anaknya sakit di kampung.

"Pak Arka itu orang baik, Bu Kirana," bisik Pak Wayan, mandor proyek, yang berdiri di samping Kirana. "Dia tidak hanya memberi uang, tapi dia tahu nama semua anak kami. Dia sering bilang kalau hotel ini bukan milik Mahendra atau Nirmala, tapi milik kita semua yang meneteskan keringat di sini."

Kirana terenyuh. Penampilan Arka yang dermawan ini terasa sangat organik, sangat jauh dari citra pria manja yang ia kenal dulu.

Setelah acara selesai, Arka menghampiri Kirana. Wajahnya kotor oleh debu proyek, tapi matanya bersinar terang. "Kita berhasil, Kirana. Struktur utama sudah selesai. Dalam tiga bulan, hotel ini akan menjadi yang terbaik di Bali."

"Ini kerja kerasmu, Arka," ucap Kirana tulus. "Aku harus mengakui, kau manajer lapangan yang handal."

Arka tersenyum, bukan senyum sombong, melainkan senyum penuh kelegaan. "Maukah kau berjalan bersamaku ke pantai bawah tebing? Air sedang surut. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Mereka menuruni ratusan anak tangga darurat menuju pantai tersembunyi di bawah tebing Uluwatu. Pasir putihnya masih perawan, hanya meninggalkan jejak kaki mereka berdua. Matahari mulai turun, mewarnai langit dengan gradasi ungu dan emas yang magis.

Arka berhenti di depan sebuah batu karang besar. Ia berbalik menatap Kirana. Angin laut memainkan rambut bob Kirana, membuatnya tampak sangat cantik di mata Arka.

"Kirana," Arka memulai, suaranya berat namun lembut. "Di tempat ini, tiga bulan lalu, aku berdiri sendirian meratapi kehancuranku. Aku merasa dunia telah berakhir karena kesalahanku sendiri."

Ia mengambil napas panjang. "Banyak orang bilang aku menunjukkan sisi lembut ini hanya untuk mendapatkan kembali hartaku. Tapi mereka salah. Harta bisa dicari, Mahendra Group bisa dibangun ulang. Tapi kepercayaanmu... itu adalah hal tersulit yang pernah aku perjuangkan."

Arka kemudian berlutut di atas pasir yang basah. Ia tidak mengeluarkan perhiasan mewah. Ia hanya mengambil segenggam pasir dan membiarkannya tertiup angin.

"Aku bersumpah di atas tanah Bali ini, di hadapan laut yang menyaksikan setiap air matamu. Aku bukan lagi pria yang bertaruh demi mobil sport. Aku adalah pria yang ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk memastikan kau tidak pernah menangis lagi karena pengkhianatan."

Kirana merasa dunianya seolah berhenti. "Arka, bangkitlah..."

"Tidak, sebelum kau memberiku satu kepastian," Arka menatapnya dalam. "Aku tahu Nirmala Capital sedang mempertimbangkan untuk melakukan merger penuh dengan Mahendra Group untuk menyelamatkan sisa aset ayahku. Aku tidak peduli dengan merger itu. Aku hanya ingin tahu... apakah ada tempat bagiku di masa depanmu? Bukan sebagai rekan bisnis, tapi sebagai pendampingmu?"

Kirana terdiam cukup lama. Deburan ombak seolah menjadi detak jantungnya yang tak beraturan. Bayangan pengkhianatan masa lalu perlahan memudar, tertutup oleh dedikasi Arka selama di Bali.

"Aku butuh waktu, Arka," jawab Kirana pelan, namun ia mengulurkan tangannya, membantu Arka berdiri. "Tapi... aku tidak lagi membencimu seperti dulu."

Arka menarik Kirana ke dalam pelukannya. Di bawah langit senja Bali, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang baru saja menemukan kembali jalan pulang. Arka mencium kening Kirana dengan sangat lama, seolah sedang menyerap seluruh keraguan yang tersisa di hati wanita itu.

~

Malam harinya, di dalam kantor darurat di lokasi proyek, Arka sedang sendirian. Ia menatap layar laptopnya yang menampilkan draf perjanjian merger antara Nirmala Capital dan Mahendra Group.

Sebuah panggilan video masuk. Wajah Surya Mahendra muncul di layar dengan ekspresi tidak sabar.

"Bagaimana progresnya, Arka? Aku dengar kau sudah berhasil membuat dia setuju untuk menandatangani merger itu minggu depan?"

Arka mengusap wajahnya yang lelah. "Dia akan menandatanganinya, Ayah. Tapi aku minta satu hal. Setelah merger ini selesai dan dana Nirmala masuk ke rekening induk kita, jangan hancurkan dia sepenuhnya. Biarkan dia tetap memegang posisi di manajemen."

Surya tertawa dingin di seberang sana. "Kau mulai lembek, Arka! Ingat, wanita itu sudah mempermalukan keluarga kita di depan seluruh Jakarta. Dia harus membayar setiap sen kerugian kita dengan kehancurannya. Setelah dana itu cair, kita akan mendepaknya dengan tuduhan penggelapan dana yang sudah aku siapkan buktinya. Dia akan masuk penjara, dan kita akan memiliki Nirmala Capital seutuhnya."

Arka terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat ke arah pintu bedeng, takut Kirana ada di sana.

"Ayah, dia mencintaiku lagi. Dia mempercayaiku," bisik Arka, suaranya terdengar seperti orang yang sedang mencekik dirinya sendiri.

"Justru itu senjatanya, bodoh! Cinta adalah alat manipulasi terbaik. Kau sendiri yang mengatakannya dulu, bukan?" Surya mematikan sambungan telepon dengan kasar.

Arka menyandarkan kepalanya di meja. Ia melihat kalung safir yang ia simpan di laci, yang rencananya akan ia berikan kembali secara resmi malam ini. Ada pertarungan hebat di dalam batinnya. Di satu sisi, ia adalah seorang Mahendra yang haus akan kekuasaan dan takut pada ayahnya. Di sisi lain, ia menyadari bahwa selama bekerja di Bali, ia benar-benar telah jatuh cinta pada ketangguhan dan kejujuran Kirana.

Tiba-tiba, Arka mendengar suara benda jatuh di luar bedeng. Ia segera berdiri dan keluar.

Ia melihat Kirana berdiri di dekat tumpukan kayu, wajahnya pucat pasi. Ia membawa nampan berisi kopi dan camilan untuk Arka.

"Kirana? Sejak kapan kau di sana?" tanya Arka dengan suara gemetar.

Kirana menatap Arka dengan tatapan yang sangat sulit dibaca. Kosong, namun menyimpan badai. "Baru saja. Aku... aku baru sampai."

"Kau mendengar sesuatu?" Arka melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Kirana.

Kirana mundur selangkah, menghindari sentuhan itu. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengingatkan Arka pada Kirana di malam pesta pengkhianatan dulu. "Tidak, aku tidak mendengar apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pening karena angin laut tadi. Aku akan kembali ke vila."

Kirana meletakkan nampan itu di atas meja kayu dengan tangan yang gemetar hebat, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju kegelapan malam.

Arka berdiri mematung. Ia tidak tahu apakah Kirana benar-benar tidak mendengar, atau apakah ia baru saja menyaksikan kelahiran kembali monster dendam yang lebih mengerikan dari sebelumnya.

Di dalam kegelapan perjalanannya menuju vila, Kirana mencengkeram dadanya. Ia tidak mendengar detail pembicaraan dengan Surya, tapi ia mendengar kalimat terakhir Arka. "Ayah, dia mencintaiku lagi. Dia mempercayaiku."

Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sama seperti saat Arka membicarakan taruhan dulu. Di mata Kirana, Arka sedang melaporkan progres 'mangsanya' kepada sang atasan.

"Bodoh... bodoh... bodoh..." Kirana memaki dirinya sendiri sambil terus berjalan di bawah cahaya bulan yang dingin. "Kau hampir saja menyerahkan lehermu lagi untuk kedua kalinya."

Rasa hangat di hatinya seketika membeku menjadi es yang paling tajam. Profesionalisme yang tadi goyah kini mengeras menjadi beton. Kirana mengeluarkan ponsel rahasianya dan menghubungi Reza.

"Reza, batalkan semua rencana merger lembut. Aktifkan protokol Black Widow. Aku ingin Mahendra Group tidak hanya bangkrut, aku ingin mereka terhapus dari peta bisnis selamanya. Dan Reza... siapkan dokumen untuk menjebak Arka secara pribadi dalam kasus pencucian uang proyek Bali."

Suara Kirana terdengar setajam silet. Tidak ada lagi sisa cinta di sana. Yang ada hanyalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa iblis tidak pernah benar-benar bertobat, mereka hanya belajar cara tersenyum yang lebih manis.

...----------------...

Next Episode.....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!