NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah Radit

Mama mengetuk pintu kamar Radit pelan, memecah keheningan yang baru saja terjadi.

“Radit, makan dulu,” katanya. “Kamu belum makan dari siang, kan?”

Radit menoleh sekilas. Perutnya memang kosong, tapi pikirannya terlalu penuh untuk sekadar memikirkan makanan.

Radit terpaksa melangkah keluar. Di sudut ruang keluarga, Reyhan terlihat berdiri dekat jendela, ponsel menempel di telinganya.

“Iya… aku kangen juga,” ucap Reyhan sambil tersenyum kecil.

“Jangan manja gitu dong… nanti aku nyusulin kamu.”

Radit mengambil sendok, tangannya berhenti di udara.

Reyhan tertawa pelan. Tawa yang berbeda.

“Udah makan belum?” lanjut Reyhan. “Jangan bandel. Aku gak suka kalau kamu telat makan.”

Ada jeda. Reyhan memalingkan wajah, seolah sengaja menjauh dari pandangan Radit.

“Iya… sayang.”

Kata itu jatuh ringan dari bibir Reyhan, tapi menghantam telinga Radit dengan keras.

Mama sempat melirik ke arah Reyhan, alisnya sedikit terangkat, namun ia tidak berkomentar apa pun.

“Makan yang banyak,” katanya. “Kamu keliatan capek.”

Radit mengangguk singkat. Ia mulai makan, meski rasanya hambar.

Sejak Reyhan kembali ke sini, semuanya berubah. Ritme hidupnya yang rapi mulai berantakan. Tekanan Papa. Tatapan Mama yang penuh tanda tanya. Dan sekarang… ini.

Reyhan menutup telepon beberapa saat kemudian, lalu berjalan santai ke meja makan. Ia duduk berhadapan dengan Radit, ekspresinya ringan, nyaris ceria.

“Wah, makan malam keluarga,” katanya sambil tersenyum. “Jarang-jarang.”

Radit tidak menanggapi. Ia hanya melanjutkan makan, pandangannya lurus ke piring.

Reyhan menyandarkan punggung ke kursi. “Ngapain tegang gitu?”

Radit akhirnya mengangkat kepala. “Siapa?”

“Hm?” Reyhan pura-pura tidak paham.

“Yang kamu telepon,” ulang Radit, datar.

Reyhan tersenyum tipis. “Teman.”

Radit mendengus kecil. “Teman tapi panggilannya ‘sayang’.”

Reyhan tertawa pelan. “Kamu kayak gak tau aku aja.”

Mama menatap mereka bergantian. “Reyhan, kalau memang dekat sama seseorang, Mama senang,” katanya hati-hati. “Tapi jaga sikap kamu.”

“Iya, Ma,” jawab Reyhan ringan, lalu melirik Radit. “Aku cuma jujur aja. Aku juga punya hubungan spesial.”

Radit kembali menunduk. Dadanya terasa makin sempit.

Ia tahu Reyhan.

Dari dulu, Reyhan tidak pernah ingin kalah, meski dari kakaknya sendiri.

Dan sekarang?

Radit sudah bisa menebak ke mana arah semua ini.

"Oh iya Ma... Tau gak, pacarku ini cantik banget. Mama harus ketemu sih" lanjutnya keluar dari obrolan.

Papa menimpali, "Reyhan. Kamu gak usah aneh aneh dulu. Kamu ingat kan, kenapa Papa sampai nyuruh kamu ke luar negeri?"

"Iya... Pa" jawan Reyhan pasrah.

Radit tidak tau apa yang terjadi selama ia tak ada. Ia juga baru pulang masalahnya, baru satu tahun ini tinggal lagi di Indonesia.

Bingung. Tapi ia memilih diam. Pikirannya sudah terlalu kacau, bukan waktu yang pas untuk bertanya soal adiknya.

"Ngomong ngomong, Papa udah kasih tau Radit kenapa aku disuruh nyusul dia dua tahun lalu?"

Radit menggeleng, lagi-lagi Papanya kembali angkat bicara.

"Nggak penting. Sekarang yang harus kalian tau adalah satu hal. Fokus ke masa depan!"

Papa menegakkan punggungnya, telapak tangannya menekan meja makan pelan—cukup untuk membuat sendok Mama berhenti bergerak.

“Fokus ke masa depan,” ulang Papa, lebih tegas. “Kalian berdua sudah dewasa. Papa tidak mau lagi dengar drama yang tidak penting.”

Reyhan menyeringai kecil, lalu menyuap makanannya seolah topik itu tidak lebih penting dari lauk di depannya.

Radit tetap diam. Rahangnya mengeras.

Mama memecah suasana. “Makan dulu. Jangan dibawa panas ke meja makan.”

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang canggung. Hanya suara alat makan yang beradu pelan.

Reyhan tiba-tiba bersuara lagi, nadanya santai tapi jelas disengaja.

“Pa, Ma… kalau Radit memang serius sama Soraya, kenapa Soraya masih di luar negeri sekarang?”

Sendok Radit berhenti.

Papa menoleh ke Radit. “Itu yang lagi Papa pikirin.”

Radit mengangkat kepala perlahan. “Aku gak bisa nyuruh dia berhenti kerja. Dia punya karir. Dan kalau aku memutus haknya, dia bakal benci ke aku sepenuhnya.”

“Benci?” Reyhan meneguk air, lalu tertawa kecil. “Padahal Papa bisa kasih apapun yang dia mau. Kalau beneran mau jadi mantunya.”

Tatapan Radit mengeras. “Reyhan.”

“Apa?” Reyhan mengangkat alis. “Aku cuma ngeluarin fakta.”

Mama menatap Reyhan dengan peringatan di matanya. “Rey... Jangan provokatif.”

Reyhan mengangkat kedua tangan. “Aku serius kok. Soalnya… kalau Radit masih begitu, ya wajar kan kalau Papa berharap ke anak lain.”

Udara seakan menipis.

Radit berdiri perlahan. Kursinya bergeser, menimbulkan suara yang cukup keras.

“Aku sudah bilang, aku akan ambil keputusan.”

Papa mengangguk singkat. “Baik. Papa udah kasih Radit waktu.”

Radit menoleh pada Mamanya, “Aku sudah kenyang.”

Mama tampak ingin menahan, tapi akhirnya hanya mengangguk. “Istirahatlah.”

Radit berjalan menuju kamar tanpa menoleh lagi.

---

Di kamar, Radit menutup pintu lebih keras dari niatnya. Ia bersandar sebentar.

Ia tahu betul adiknya itu. Reyhan tidak pernah bergerak tanpa tujuan. Telepon romantis tadi bukan kebetulan. Kalimat-kalimatnya di meja makan bukan sekadar bercanda.

Itu peringatan.

Radit duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan.

Jika Reyhan benar-benar melangkah lebih dulu…

Berarti semua rencananya akan kacau.

Hubungan kontrak dengan Rania akan sia sia.

Lalu ia berbaring telentang, menatap langit-langit gelap.

Kalau Rania menyembunyikan sesuatu, maka bukan Rania yang salah.

Itu tugasnya untuk paham, bukan memaksa.

Besok pagi, pikirnya.

Aku akan jemput dia.

Rencana itu terasa sederhana tapi hangat. Ia membayangkan Rania dengan rambut sedikit berantakan, masih mengenakan pakaian tidur, wajah bingung saat membuka pintu dan mendapati dirinya berdiri di sana—membawa sarapan, membawa alasan untuk tersenyum.

Mungkin Rania akan mengomel.

Tapi setidaknya… ia akan melihat langsung, bukan menebak-nebak dari pesan singkat.

Dengan pikiran itu, Radit akhirnya terlelap.

---

Udara pagi masih dingin ketika Radit turun ke lantai bawah. Rumah masih sunyi. Mama baru selesai dari dapur, Papa sudah duduk di kursi pijat.

“Mau berangkat pagi?” tanya Mama.

“Iya, Ma. Ada kerjaan yang harus diberesin,” jawab Radit tenang.

Mama menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Hati-hati di jalan.”

Radit mencium tangan mereka, lalu melangkah keluar.

Ia tidak menoleh ke arah kamar Reyhan. Sepertinya adiknya itu masih tidur.

Di perjalanan, Radit berhenti sebentar membeli sarapan. Ia memilih menu yang Rania suka. Ditambah beberapa camilan kecil—favorit Aira.

Hatinya ringan.

Untuk sesaat.

Sampai mobilnya berhenti di depan rumah itu.

Radit membeku.

Mobil yang terparkir di sana bukan mobil asing.

Ia mengenalnya terlalu dekat.

Mobil Reyhan.

Darah di telinganya berdengung. Dadanya mendadak sesak, tapi Radit memaksa napasnya tetap teratur.

Mungkin cuma kebetulan, katanya pada diri sendiri.

Mungkin Reyhan cuma lewat.

Namun, seketika langkahnya terhenti.

Dari balik pagar, Radit melihat Reyhan berjongkok di depan Aira. Tangan itu kini membelai rambut anak kecil itu dengan lembut. Aira tertawa kecil, terlihat begitu nyaman.

Lalu Rania muncul.

Radit menahan napas.

Reyhan berdiri, meraih Rania, memeluknya singkat tapi akrab. Terlalu akrab. Seperti sesuatu yang sudah biasa. Seperti pemandangan yang tidak perlu dijelaskan.

Layaknya… suami dan istri.

Radit tidak sadar tangannya mengepal begitu keras sampai kantong plastik di tangannya berkeresek pelan.

Ia ingin maju dan memanggil nama Rania.

Ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi kakinya tidak bergerak.

Radit mundur satu langkah, lalu satu lagi, menyembunyikan diri di balik mobil. Matanya tak lepas dari mereka sampai Reyhan akhirnya menggandeng Aira masuk ke dalam rumah, disusul Rania yang menutup pintu.

Pemandangan itu menghilang.

Dan bersama itu, sesuatu di dada Radit runtuh perlahan.

Ia berbalik.

Masuk ke mobil.

Mesin menyala.

Sarapan yang tadi terasa hangat kini dingin di kursi sebelahnya.

Radit menyetir tanpa tujuan jelas selama beberapa detik, lalu akhirnya melaju menjauh dari rumah itu—dari semua bayangan pagi yang sempat ia susun rapi semalam.

Kacau.

Pagi itu Radit memilih untuk masuk kantor lebih awal.

Wajahnya dingin. Langkahnya cepat dan tegas, seolah semua emosi yang tadi pagi tak sempat meledak kini dipaksa masuk ke dalam tubuhnya sendiri.

Begitu ia tiba di lantai utama, satu kalimat langsung keluar dari mulutnya.

“Semua foto kampanye lama diturunkan. Sekarang!”

Beberapa staf yang sedang menyalakan komputer saling pandang.

“Pak… maksudnya yang mana?” tanya salah satu desainer, ragu.

“Semua,” ulang Radit tanpa menoleh. “Poster, banner, layar promosi. Wajah Rania ditarik hari ini juga.”

Ruangan langsung riuh kecil. Ada yang berhenti mengetik. Ada yang refleks berdiri.

“Tapi, Pak… itu wajah utama kampanye sosial kita,” sahut staf lain. “Brief-nya kan masih berjalan—”

Radit berbalik. Tatapannya tajam.

“Ganti hari ini. Kita meeting sepuluh menit lagi. Saya mau alternatif pengganti.”

Tidak ada yang berani membantah lagi.

Radit masuk ke ruang rapat, menutup pintu agak keras. Tangannya bertumpu di meja, napasnya berat.

Ia tahu ini tidak profesional dan berlebihan.

Tapi kecewanya lebih dulu menguasai logika.

Sempat terlintas di kepalanya untuk memecat Rania hari itu juga. Tanpa tanya.

Namun ada sesuatu yang menahannya.

Ia ingin tahu sampai mana Rania akan bertahan.

Ingin tahu apakah semua yang ia lihat pagi tadi memang nyata… atau hanya potongan yang belum utuh.

Meeting berlangsung singkat, dingin, dan penuh tekanan.

“Rania sudah tidak cocok untuk wajah kampanye ini,” kata Radit datar, menatap slide kosong.

“Kita cari figur baru. Hari ini.”

Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

---

Ketika Rania tiba di kantor, suasananya langsung terasa aneh.

Ia baru melangkah beberapa meter ketika matanya menangkap dinding kaca yang biasanya penuh dengan fotonya kini terlihat kosong.

Banner besar di lobby?

Diganti layout abu-abu polos.

Layar promosi di koridor?

Slide lain. Bukan wajahnya.

Beberapa rekan kerja menatapnya. Ada yang bingung. Ada yang canggung. Ada pula yang pura-pura sibuk.

Rania berhenti berjalan.

“Ini… kenapa?” tanyanya pelan pada salah satu staf.

Staf itu menggeleng cepat. “Kami juga baru tahu pagi ini, Ran. Pak Radit yang minta.”

Nama itu membuat dada Rania menghangat sekaligus dingin.

Ia melangkah lebih cepat, menuju ruang Radit. Kepalanya penuh tanda tanya. Jantungnya berdetak tidak beraturan.

Namun tepat saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu—

“Apa yang terjadi?”

Suara itu datang dari belakang.

Rania menoleh.

Reyhan berdiri beberapa langkah darinya, tangan di saku celana, ekspresinya serius—tidak seperti biasanya.

“Kamu bisa lihat sendiri, kan?” Rania menegaskan. “Semua fotoku diturunin. Tanpa pemberitahuan.”

Reyhan menatap sekeliling, lalu kembali ke wajah Rania. Alisnya berkerut.

“Radit yang lakukan semua ini?”

Rania mengangguk pelan.

Reyhan menghela napas pendek. “Dari dulu dia emang egois.”

“Egois gimana?” Rania menatapnya, berharap jawaban.

“Egois, kalau sesuatu nggak sesuai rencananya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!