NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Di Perpustakaan

Sepanjang makan malam, Baskoro terus-menerus memberikan perhatian yang "berlebihan" kepada Laila dengan dalih perhatian seorang ayah mertua. Ia meminta pelayan mengambilkan bagian daging terbaik untuk Laila, memuji kecantikan Laila di bawah lampu kristal, bahkan sesekali menyentuh tangan Laila saat meminta garam. Agil melihat itu semua sebagai bentuk kasih sayang ayahnya yang sudah menerima Laila sepenuhnya. Namun bagi Laila, setiap sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menyakitkan.

​Setelah makan malam, Agil dan Laila kembali ke kamar. Agil tampak lebih diam dari biasanya. Ia mulai memperhatikan detail-detail kecil. Ia melihat Laila segera masuk ke kamar mandi dan terdengar suara air yang mengalir sangat lama.

​Saat Laila keluar, ia sudah mengenakan piyama panjang yang menutup seluruh tubuhnya hingga ke pergelangan tangan. Saat Laila duduk di meja rias untuk menyisir rambut, Agil mendekat dari belakang. Ia tidak memeluk, ia hanya berdiri menatap pantulan Laila di cermin.

​"Laila... ada satu hal yang mengganjal di pikiranku," ucap Agil pelan.

​"Apa itu, Mas?"

​"Kemarin, saat aku menelepon sopir pribadi Papa untuk menanyakan keberadaan mobil karena aku ingin mengirim paket untukmu, sopir itu bilang dia sedang libur. Dia bilang Papa mengemudikan mobilnya sendiri ke Puncak tanpa pengawal." Agil berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke cermin. "Sejak kapan Papa suka menyetir sendiri untuk jarak sejauh itu? Dan kenapa kalian harus pergi hanya berdua?"

​Jantung Laila seolah berhenti berdetak. Kenaifan Agil mulai terkikis oleh logika.

​"Papa... Papa bilang dia ingin suasana pribadi untuk mendiskusikan masalah ayahku di desa, Mas. Dia tidak mau ada orang lain yang dengar," Laila mencoba mencari alasan tercepat.

​"Tentang Ayahmu? Bukannya Papa bilang masalah itu sudah selesai?" Agil membalikkan tubuh Laila agar menghadapnya. "Laila, jujurlah padaku. Ada apa sebenarnya antara kamu dan Papa?"

​Laila ingin sekali tumpah ruah. Ia ingin menunjukkan bekas memar, yang ia sembunyikan di balik pakaiannya. Ia ingin berteriak bahwa ayahnya adalah iblis. Namun, di saat yang sama, ia melihat sebuah foto di atas meja kerja Agil, foto Agil dan Baskoro yang sedang berjabat tangan dengan bangga. Ia tahu, jika ia jujur, Agil akan hancur. Karier yang baru dibangunnya akan musnah, dan Baskoro pasti akan membalas dendam dengan cara yang lebih kejam kepada keluarganya di desa.

​"Tidak ada apa-apa, Mas. Papa hanya sangat baik padaku karena dia mencintaimu. Dia ingin memastikan aku bahagia, agar kamu bisa fokus bekerja," Laila berbohong lagi, dan kali ini air matanya jatuh.

​Agil menghapus air mata istrinya. Ia ingin percaya, namun benih kecurigaan sudah tertanam. "Maafkan aku jika aku terlalu curiga. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, Laila. Aku merasa sejak kita pindah ke sini, kamu semakin jauh."

​Agil memeluk Laila erat-erat. Laila membalas pelukan itu, namun matanya menatap ke arah pintu kamar yang tertutup. Ia tahu, di balik pintu itu, atau di ruangan seberang, Baskoro mungkin sedang mendengarkan.

​Malam itu, saat Agil akhirnya tertidur, Laila terjaga. Ia mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan baru yang masuk dari nomor tak dikenal yang ia tahu itu adalah Baskoro.

​"Jangan biarkan suamimu terlalu banyak bertanya, Laila. Atau dia akan kehilangan jabatan direkturnya besok pagi. Temui aku di perpustakaan besok jam 10, saat dia berangkat kantor. Aku punya hadiah lain untukmu."

​Laila meremas ponselnya. Ia menyadari bahwa kepulangan Agil tidak membawa keselamatan, melainkan babak baru dari penderitaannya yang lebih dalam. Ia kini menjadi jembatan antara ambisi suaminya dan nafsu mertuanya. Sebuah posisi yang perlahan-lahan mulai mengubah rasa cintanya pada Agil, menjadi rasa kasihan yang getir, dan rasa takutnya pada Baskoro menjadi benih kebencian yang mematikan.

Pagi itu, suasana di meja sarapan terasa lebih kaku dari biasanya. Agil, yang biasanya cerewet menceritakan rencana bisnisnya, kini lebih banyak diam sembari mengaduk kopinya yang sudah dingin. Matanya sesekali melirik ke arah Laila yang duduk di hadapannya, mengenakan gaun rumah berlengan panjang dengan kerah tinggi. Syal sutra pemberian Agil kemarin tetap melilit lehernya, meski suhu pagi itu cukup hangat.

​"Aku berangkat sekarang, Pa," ucap Agil saat melihat Baskoro turun dari tangga dengan setelan golf yang santai.

​"Ah, Agil. Semangat untuk hari ini. Aku sudah menjadwalkan pertemuanmu dengan dewan komisaris jam sebelas nanti. Ini langkah besar untuk pengukuhan jabatanmu," Baskoro menepuk bahu Agil dengan penuh kasih kebapakan.

​Agil mengangguk, lalu beralih ke Laila. Ia mencium kening istrinya, sedikit lebih lama dari biasanya, seolah mencoba mencari jawaban dari aroma parfum Laila, yang kini terasa asing baginya. "Aku pergi dulu, Laila. Istirahatlah, jangan terlalu banyak pikiran."

​Begitu deru mesin mobil Agil menghilang di kejauhan, Baskoro meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi dentingan keramik yang tajam. Ia menoleh ke arah pelayan yang sedang membersihkan meja. "Tinggalkan kami. Jangan ada yang masuk ke perpustakaan selama satu jam ke depan."

​Laila membeku. Ia tahu waktu eksekusinya telah tiba.

​Perpustakaan keluarga Baskoro adalah ruangan yang paling megah sekaligus paling dingin di mansion itu. Ribuan buku berjajar rapi dalam rak kayu mahoni yang menjulang hingga ke langit-langit. Aroma kertas tua dan cerutu mahal memenuhi udara.

​Baskoro duduk di kursi kebesarannya, menatap Laila yang berdiri di tengah ruangan seperti seorang terdakwa.

​"Duduklah, Laila. Kau tampak seperti orang asing yang ketakutan," Baskoro menunjuk kursi di depannya.

​Laila duduk, tangannya bertautan di atas pangkuan. "Apa lagi yang Papa inginkan? Mas Agil sudah mulai curiga. Jika ini berlanjut, dia akan tahu segalanya."

​Baskoro tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Agil? Dia tidak akan tahu kecuali kau yang memberitahunya. Dan kau terlalu mencintainya untuk menghancurkan dunianya, bukan? Lagipula, kecurigaan Agil hanyalah bumbu dalam permainan ini. Aku ingin dia belajar bahwa di dunia ini, tidak ada yang benar-benar menjadi milik kita sepenuhnya sebelum kita memiliki kekuatan untuk menjaganya."

​Baskoro bangkit, berjalan mengitari meja dan berdiri tepat di belakang Laila. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursi Laila, menciptakan kesan seolah Laila sedang dipenjara oleh tubuhnya.

​"Aku punya tawaran baru untukmu," bisik Baskoro. "Aku akan mengirim Agil ke London selama tiga bulan untuk pelatihan eksekutif. Ini posisi yang sangat prestisius. Jika dia berhasil, dia akan kembali sebagai calon tunggal CEO PT Baskoro Group."

​Laila menoleh dengan cepat. "Tiga bulan? Kenapa sejauh itu?"

​"Karena aku ingin kau menemaniku di sini tanpa gangguan. Tanpa tatapan curiga dari suamimu yang naif itu," Baskoro mengelus pundak Laila, jarinya perlahan merayap ke arah leher. "Bayangkan, Laila. Tiga bulan pengabdianmu di sini, dan Agil akan mendapatkan takhta yang tidak akan pernah ia raih dalam tiga puluh tahun tanpaku. Bukankah itu kesepakatan yang adil?"

​"Ini bukan kesepakatan, ini pemerasan!" desis Laila dengan mata berkaca-kaca.

​"Sebut sesukamu. Tapi ingat, sertifikat tanah ayahmu masih ada di laci meja ini. Aku bisa saja membatalkan pelunasannya jika aku merasa kau mulai tidak kooperatif."

​Baskoro kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung berlian yang berkilau mewah. "Pakai ini. Aku ingin kau memakainya setiap kali kita makan malam berdua, saat Agil sudah di London nanti."

​Laila menatap kalung itu, dengan rasa muak. Baginya itu bukan perhiasan, melainkan rantai anjing yang sangat mahal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!