‘’Hei, Mbak! Ini lelaki yang kamu inginkan, bukan? Eh, suamiku maksudnya! Secara kan dia masih suamiku. Ambillah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Ardila Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV Deno
Membuat aku terkesiap mendengar ucapan kekasihku itu. Mumpung belum terlalu tinggi aku memanjat, aku bergegas untuk turun dengan hati-hati dan mengejar wanita yang berpakaian selutut itu, menampakkan kulit putihnya nan mulus.
‘’Sayang! Tunggu!’’ aku bergegas menahan lengannya, dia juga berusa untuk menepis tanganku dengan kasar.
Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menahan tangannya, hingga dapat aku untu memeluknya dengan erat, membuat dia terpaku. Dan tentunya tak bisa lari dariku, inilah senjata terampuh bagiku untuk meluluhkan wanita yang kucintai.
‘’Kamu nggak boleh bicara kayak gitu lagi ya. Aku nggak mau kehilangan kamu, Sayang,’’ kataku dengan lirih dan memeluknya dengan begitu erat. Dapat kurasakan debaran jantung kekasihku itu.
‘’A—aku tahu udah bikin kamu sakit hati dan marah. Tapi, aku janji nggak bakalan lagi mengulangi kesalahanku,’’ imbuhku kemudian, sembari mengelus kepalanya.
Dia terdengar menghela napas berat dan melepaskan pelukan dariku,’’Aku ma’afin kamu. Tapi kalo sekali lagi kamu ulangi. Aku nggak bakalan ma’afin kamu lagi!’’ tegasnya.
‘’Makasih, Sayang. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi,’’ kataku yang bergegas memegangi jemarinya lalu mengecup tangan mulusnya.
‘’Aku sebenarnya sakit hati sama kamu, Mas. Seharusnya kamu lebih mementingkan aku yang lagi hamil anakmu, bukan malah ke sini,’’ sungutnya kemudian.
‘’Iya, aku minta ma’af, Sayang,’’ lirihku.
‘’Ma’af ma’af terus,’’ keluh wanita yang berhasil merebut hatiku itu.
‘’Iya, aku akui aku salah, Sayang,’’ kataku mengalah.
Ya, jika aku tak mengalah maka tak kan pernah selesai, apalagi sejak Chika mengandung dia mudah posesive dan begitu aneh sikapnya menurutku. Nanti malah terjadi perang dunia keempat.
‘’Kamu pasti laper kan? Yuk kita sarapan!’’ ajakku kemudian.
‘’Tapi aku maunya di warung nasi Minang tempat biasa kita makan. Udah seminggu kita enggak di sana makannya kan?’’ katanya dengan nada manja.
Ya, sudah seminggu kami tak lagi makan di sana. Karena kekasihku itu ingin berganti selera katanya. Dengan berat hati aku menurutinya, kalau tidak, dia bisa ngambekan lagi padaku.
‘’Iya, Sayang. Aku juga rindu sarapan di sana.’’
‘’Aduhh! Udah pukul 08.00 nih, Sayang. Gimana nih?’’ wanita berambut panjang terurai itu memandangi benda yang melingkar di tangannya.
‘’Astaga! Nggak ada waktu lagi buat kita sarapan,’’ keluhku sembari memegangi kening.
‘’Gini aja, Mas. Kita beli aja roti atau cemilan buat sarapan sementara di kantor, gimana menurut kamu? Biar aku nanti yang beliin,’’ usul kekasihku itu.
‘’Oke, aku setuju. Ayuk kita berangkat!’’ ajakku. Dia tampak mengangguk dan bergegas melangkah ke mobil kesayangannya.
‘’Sayang, biar aku yang nyetir ya?’’ Dia menoleh dan mengangguk.
Aku pun langsung bergegas tancap gas menuju kantor. Mobil milik kekasihku membelah jalan raya, sesekali aku memperhatikan wanita di sampingku yang menurutku dia lebih cantik hari ini. Entah kenapa, aku pun tak tahu. Namun, di sisi lain hatiku tak enak hari ini. Entah kenapa.
Beberapa menit kemudian, kami telah tiba di depan kantor dan aku segera memparkirkan mobil milik kekasihku itu.
Aku dan Chika bergegas turun. Seperti biasa jika sudah berada di tempat bekerja maka kami akan bersikap seperti biasa-biasa saja. Kami langsung melangkah memasuki kantor. Jam segini kantor terlihat begitu sepi, ada apa ini? Hanya ada beberapa karyawan yang tampak dan mereka pun tak menyapaku. Tatapannya begitu aneh dan tajam padaku.
‘’Eh, kenapa kalian menatap saya begitu?’’ ketusku.
‘’E—enggak kok, Pak. Biasa aja,’’ sahutnya terbata dan memalingkan pandangan. Membuat aku menggelengkan kepala dibuatnya, sedangkan kekasihku itu sudah bergegas memasuki ruangannya.
‘’Jam segini kenapa masih sedikit yang datang? Kamu tahu Alin, kenapa mereka belum datang jam segini? Seenaknya aja, dikiranya perusahaan ini milik Bapaknya.’’ Aku memandangi benda yang melingkar di tanganku.
‘’Sa—saya nggak tahu, Pak,’’ katanya dengan terbata dan beralih menatap teman sebelahnya, Rindi. Dari ekspresinya ada sesuatu yang tengah disembunyikannya. Tapi aku tak tahu, entah apa. Aku menghela napas gusar.
‘’Ya sudah! Tolong hubungi karyawan lainnya yang belum datang. Saya minta tolong sama kamu, Rindi!’’ tegasku kemudian.
‘’Ba—baik, Pak.’’
‘’Aneh-aneh aja,’’ gumamku dalam hati.
Aku melangkah menuju ruangan, ada berkas-berkas yang harus aku tanda tangani hari ini. Seketika perutku terasa keroncongan dan berbunyi. Ya ampun! Aku belum sarapan sama sekali, karena buru-buru dan ingin bertemu dengan putriku. Ternyata malah tak jadi bertemu karena si bibi yang tak mau mengangkat panggilanku padahal dia tengah online dan kekasihku yang menghalangi jalanku untuk bertemu dengan putri kecilku itu. Ah, iya. Bukannya tadi kekasihku itu akan membelikan cemilan untukku? Ke mana dia? Bergegas kumerogoh saku-saku dan meraih ponselku.
‘’Chika, kamu saya beri izin sebentar untuk keluar. Tapi jangan lupa belikan titipan saya,’’ tulisku di aplikasi hijau.
Ya, jika di kantor aku tetap berusaha untuk menutupi semuanya dan bersikap seprofesional mungkin pada kekasihku itu, walaupun terkadang terasa berat olehku. Tetapi begitulah caraku untuk menutupi hubungan kami selama ini. Aku tak mau nanti jika pesanku dilihat oleh karyawan lain, makanya jika berkirim pesan pun aku akan tetap memanggil dengan panggilan namanya dan pakai ‘’saya’’.
Sedangkan kekasihku sendiri terkadang suka ceplos memanggilku dengan panggilan ‘’Mas’’, untung saja tak didengar oleh yang lainnya.
Aku yang tengah merapikan berkas dan mencari berkas yang harus ditanda tangani hari ini, seketika pintu diketuk di luar sana. Terdengar bisikan ramai di luar sana. Ada apa ini?
‘’Ya, masuk!’’
Mereka ramai memasuki ruanganku, membuat aku terheran dibuatnya. Ada apa ini?
‘’Permisi, Pak Deno! Ini surat mengundurkan diri saya dan teman-teman.’’
Astaga! Membuat aku terperanjat kaget dibuatnya. Apa maksudnya?
‘’Ke—kenapa kalian pada mengundurkan diri?’’ Aku menatap mereka semuanya.
‘’Ma’af, Pak. Kantor ini memang udah membantu ekonomi kami, tapi kami nggak bisa tetap di sini.’’
‘’Apa alasannya? Beritahu saya!’’
‘’Karena kelakuan Bapak.’’
‘’Tendi, ini kesalahpahaman aja kok. Berita viral itu hanya hoax!’’ ketusku yang berusaha tetap tenang, padahal amarahku sudah berada di ubun-ubun.
‘’Saya nggak ingin bekerja di kantor yang Direkturnya malah selingkuh.’’
‘’Seharusnya pimpinan itu jadi pemimpin yang baik dan jadi panutan yang baik. Biar bisa ditiru sama bawahannya. Ini apanya yang akan ditiru? Selingkuhannya itu?’’
Membuat napasku turun naik, mereka bergegas melangkah ke luar.
‘’Arrgghh!’’ Aku mengerang frustasi dan memporak-porandakan ruanganku dengan sekuat tenaga dan menumpahkan semua amarahku.
Seketika benda pipih itu berdering. Kulirik di layarnya. Pak Dayat?
‘’Selamat siang, Pak!’’
‘’Pak Deno, mulai hari ini dan seterusnya saya memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan perusahaan Bapak!’’
‘’Ta—tapi, kenapa, Pak? Beritahu saya alasannya atau hari ini juga kita boleh ketemu di tempat biasa.’’
‘’Nggak perlu, Pak. Saya harap Bapak mau menerima keputusan saya ini.’’
‘’Atau karena berita viral yang beredar itu?’’
‘’Hallo, Pak Dayat!’’
‘’Sialan! Ternyata udah dimatikan langsung olehnya.’’ Aku mengepalkan tangan.
‘’Arrgghh!’’
Semua karyawan mengundurkan diri dari perusahaanku dan ditambah pak Dayat memutuskan untuk tak bekerja sama lagi dengan perusahaanku. Hanya ada dua harapanku saat ini. Bekerja sama dengan perusahaan Lion dan perusahaan Sejahtera. Tapi, perusahaan pak Dayat adalah perusahaan besar dan ternama di kota ini. Jika aku tak lagi bekerja sama dengannya, maka akan rugi besar bagiku. Apa Fani akan mengundurkan diri juga? Hanya dia dan Chika yang kuandalkan sekarang ini.
Apa ini karena berita yang viral itu? Tapi berita itu sudah seminggu nan lalu, kenapa baru sekarang beredarnya? Ahh! Ini semua gara-gara wanita sok suci itu yang membuat perusahaanku jadi seperti ini. Dia yang memviralkan aku dan kekasihku. Dasar keparat! Aku tak akan tinggal diam dan lihat saja apa yang akan kulakukan pada wanita si sok suci itu.
sebaik ap mertu klo sdh pisah ia anak nya urusan x..