Pernikahan 2 anak kembar Raffa dan Kayla harus segera dilaksanakan, karena mereka sudah tidak sabar meminang putri dari sahabat mereka.
Raffa dan Kayla tidak ingin putri dari sahabatnya itu jatuh ke tangan pria yang lain.
Apakah mereka dapat membuat kedua putra kembarnya bahagia dengan pernikahan yang telah mereka rencanakan?
lanjut baca kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Auw," pekik Kania.
Raja pun berdiri lalu dia melangkah keluar dari kamar.
Kania terdiam sambil menatap punggung sang suami yang kini menghilang di balik pintu.
Tanpa disadarinya, buliran bening kini mulai membasahi pipi Kania, dia merasa sedih dengan perilaku Raja padanya.
Pagi ini sudah banyak rentetan drama yang terjadi pada sepasang suami istri itu.
Raja kini melangkah keluar dari villa, perutnya yang terasa sangat lapar tidak bisa ditahannya lagi, akhirnya dia pun berjalan kaki menyusuri pantai sambil mencari makanan yang bisa mengisi perutnya yang kosong.
Dia sengaja tidak makan di villa karena tidak mau pelayan tahu bagaimana hubungan pernikahan mereka yang sesungguhnya.
Pernikahan yang terpaksa mereka jalani membuat Raja bingung harus membawa ke mana bahtera rumah tangga tersebut.
Apalagi hatinya masih terisi oleh sosok Kanaya yang kini menjadi istri saudara kembarnya.
Di tempat lain, Raju berdiam diri di kamar karena dia bingung harus bagaimana bersikap pada istrinya.
Raju memilih sibuk dengan tabletnya sambil memeriksa beberapa pekerjaan yang ditinggalkannya.
Meskipun Raffa sudah menghandle semua pekerjaan Raja dan Raju di perusahaan, tapi dia tetap mengecek pekerjaan tersebut melalui asisten pribadinya, Faiz.
Faiz merupakan teman dekat Raju, dia sengaja mengajak Faiz yang berasal dari desa ikut bekerja dengannya agar Faiz dapat membantu ekonomi keluarganya.
"Naya, suamimu di mana?" tanya Gita pada putrinya.
Gita heran melihat putrinya sedang asyik menonton tv di ruang keluarga sendirian.
"Mhm, Raju di kamar, Bu," jawab Kanaya.
"Apa? Raju? Hush, Ibu sudah ingatkan kamu jangan panggil nama saja pada suamimu, tidak sopan," ujar Gita menasehati putrinya.
"Eh,kita, Bu. Ba-bang Raju," lirih Kanaya.
Kanaya tidak terlalu suka dengan sikap Raju yang selalu dingin dan datar terhadap dirinya.
Hal itu membuat Kanaya semakin yakin untuk memperjuangkan cintanya pada Raja, lagian Kanaya yakin cinta Raja sangat besar padanya sehingga Kanaya tidak menghiraukan sikap dingin Raju padanya.
"Lho, kamu kenapa di sini?" tanya Gita lagi.
"Aku nonton, Bu. Ibu enggak lihat aku sedang nonton," jawab Kanaya.
"Naya, kamu tahu kan, kamu sekarang bukanlah seorang gadis. Sebagai seorang istri kamu harus melayani dan mendampingi suamimu dengan baik." Gita menasehati putrinya.
"Sayang, Ibu tahu. Pernikahan yang kalian jalani saat ini adalah pernikahan yang kami rencanakan, di awal kalian mungkin tidak saling mengenal apalagi mencintai, tapi apa salahnya kamu mengenali suamimu terlebih dahulu. Setelah itu kamu akan bisa mencintainya. Bagaimana kamu bisa mencintainya kalau kamu tidak mengenalinya," ujar Gita panjang lebar menasehati putrinya.
"Iya, Bu," lirih Kanaya.
"Iya, iya. Apanya yang iya? Dari kemarin ibu perhatikan, Raju di kamar terus sedangkan kamu di luar kamar nonton atau duduk di taman. Kalau kamu mau mengenali suami kamu, ya kalian harus sering bersama," ujar Gita.
2 hari Raju tinggal di rumahnya, Gita melihat menantunya itu selalu berkurung di dalam kamar, sedangkan putrinya berkeliaran di luar kamar tidak tahu melakukan apa.
Mereka bersama hanya waktu makan saja, itupun terlihat jelas Kanaya terpaksa melayani suaminya.
"Iya, Bu." Kanaya menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Kanaya kembali fokus dengan menonton film drama Korea yang ada di TV.
"Naya, kalau iya itu langsung dikerjakan," ujar Gita mengingatkan putrinya.
"Maksud ibu apa?" tanya Kanaya bingung.
"Ya ampun, Naya. kalau kamu memang paham apa yang Ibu katakan padamu tadi, ya sekarang kamu temani suami kamu di dalam kamar," ujar Gita geram pada putrinya.
Gita melihat gelagat cuek dari Sang Putri kepada menantunya.
Kanaya masih diam dia enggan untuk masuk ke dalam kamar karena dia tahu apa yang akan terjadi di antara mereka berdua.
"Sana masuk kamar, tani suamimu yang sedang bekerja," titah Gita kepada putrinya.
kita memaksa Kanaya untuk berdiri dan mendorongnya menuju kamar.
Mau tak mau Kanaya terpaksa masuk ke dalam kamar.
"Ya ampun anak ini bagaimana dia bisa jatuh cinta pada suaminya Kalau menghindar terus," Naruto Gita setelah melihat putrinya masuk ke dalam kamar.
Gita pun melangkah menuju taman belakang melanjutkan pekerjaannya.
Kanaya melihat Raju duduk di sofa masih asik dengan tablet yang ada di tangannya sama persis seperti waktu dia meninggalkan pria itu dari kamar.
Raju sama sekali tidak merespon kehadirannya di dalam kamar itu, pria tampan yang sudah menjadi suami Kanaya itu masih saja asyik dengan tabletnya, entah apa yang kini dia lakukan dengan benda pipih miliknya itu.
Kanaya langsung berbaring ke atas tempat tidur, Kanaya mengambil headset miliknya lalu dia pun menyalakan androidnya.
Mau tak mau Kanaya melanjutkan menonton drama Korea nya melalui ponselnya.
Mereka bagaikan dua orang yang sama sekali tidak mengenal di dalam satu ruangan.
Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Raju telah membuat batas bagi dirinya dan sang istri, dengan memilih untuk tetap berada di sofa sepanjang hari dan sepanjang malam sehingga tidak ada interaksi apa pun di antara mereka.
Kanaya yang berharap dengan ucapan dan janji Raja, membuat dirinya nyaman dengan sikap Raju. Kanaya tidak perlu menjadi istri yang berdosa bagi Raju karena Raju terlebih dahulu mendirikan pembatas di antara mereka berdua.
Saat waktu dzuhur masuk, Raju bangkit dari sofa, dia melangkah menuju kamar mandi, dia berwudhu dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Saat Raju melintas di samping tempat tidur. Raju melihat Kanaya yang tertidur dengan pulas dalam keadaan ponsel yang masih menyala di tangannya, serta headset yang masih terpasang di telinganya.
Melihat hal itu, Raju merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang dilihatnya, Raju mendekati Kanaya.
Setelah itu, perlahan Raju melepaskan headset yang terpasang di telinga Kanaya.
Raju meletakkan ponsel dan headset milik Kanaya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.
Saat ini Raju sengaja tidak membangunkan istrinya, karena Raju yakin Kanaya baru saja tertidur.
Dia akan membangunkan istrinya setelah dia melaksanakan shalat nantinya.
Raju pun berwudhu, setelah itu dia pun menunaikan ibadah shalat dzuhur, seperti biasa Raju tidak meninggalkan shalat sunat ba'diah dan qobliyah.
Dia pun shalat dengan khusyuk, tanpa disadarinya Kanaya pun terbangun dari tidurnya.
Gadis itu membuka matanya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.
Dia mendapati Raju tengah shalat, Kanaya mengambil ponselnya lalu melihat jam yang tertera di sana.
"Sudah pukul13.03. Ya ampun aku ketiduran, dzuhur sudah masuk," lirih Kanaya.
Dia pun bangkit dari tidurnya, dia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Saat dia baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah, dia teringat akan satu hal.
"Astaghfirullah," lirih Kanaya.
Bersambung...
udh nunggu lama ini