Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
[Hancur lebur sampai ke akarnya.]
[Melenceng sampai ke langit tujuh.]
[Pertama, Naningsih, si pemeran pendukung, sudah melenceng.]
[Lalu Ratna Menur, heroine pertama, juga ikut melenceng.]
[Sedangkan Nyai Ratih, heroine kedua, mungkin dia belum... mungkin.]
[Dan sekarang, Nyai Geni Tirta, wanita ketiga, juga ikut-ikutan melenceng.]
[Sialan, gila itu, Nyai Geni mau menjadikanku budak dan menyuruhku kerja bakti buat dia seumur hidup.]
[Apa dia pikir aku ini barang murahan yang gampang didapat?]
[Tapi kalau dia mau sujud dan menyanyi memujaku, mungkin aku pertimbangkan buat jadi tukang cuci kakiku.]
"Baiklah, tukang cuci kaki, ya? Nyai akan ingat itu!"
Di dalam dimensi cincin pusaka, Nyai Geni Tirta bersandar pada dipan batu yang dingin untuk memulihkan kekuatannya. Sepasang pupil emasnya menatap tajam ke arah buku harian gaib itu tanpa berkedip. Meskipun wajahnya terlihat imut, matanya memancarkan kilatan dingin yang mematikan.
[Tapi dia itu kecil dan tepos banget, rasanya kayak melempar papan triplek pas aku buang dia ke lubang tadi.]
[Jadi, dipikir-pikir lagi, meskipun dia nyanyi memujaku, aku tetap tidak mau dia cuci kakiku.]
[Geli.]
"Hehehe, bagus, sangat bagus." Nyai Geni Tirta tersenyum manis, sementara aura membunuh meluap dari tubuhnya hingga memenuhi seluruh ruang dimensi. Tangannya secara tidak sadar mengelus dadanya. Di sana—memang rata.
[Sial, sebenarnya alur balas dendam Langgeng Sakti jadi miring gara-gara wanita gila itu.]
[Entah syaraf mana yang putus, sampai-sampai dia meledakkan markas Wisesa.]
[Kalau memang berani, kenapa tidak langsung ke Wilayah Siluman Selatan saja dan ledakkan markas besar Tentara Siluman Pasir?]
[Dasar pengganggu.]
[Kalau bukan karena aku yang cerdik dan kuat, Langgeng Sakti pasti sudah mampus.]
[Sekarang hasilnya sudah lumayan, setidaknya sama dengan naskah aslinya.]
[Duh, kenapa mereka semua berubah drastis begini?]
[Dalam puluhan reinkarnasi sebelumnya, mereka tidak pernah sekacau ini. Aku jadi was-was, jangan-jangan istriku, Han Yuqing, yang bakal datang beberapa hari lagi, juga ikut melenceng.]
[Capek banget. Tidur dulu ah buat isi tenaga.]
Jaka Utama menutup buku hariannya.
[Ding! Selamat, penulisan buku harian berhasil.]
[Wibawa +2]
[Pesona Wajah +2]
"Lho? Sekarang jadi +2? Aku penasaran angka maksimalnya berapa."
Biasanya cuma nambah +1. Jaka mulai berpikir, kalau nilainya mentok, apa dia bakal jadi pria tertampan di nusantara? Apa semua pendekar wanita bakal mengejarnya?
Apalagi nanti akan muncul belasan heroine lainnya:
Gadis Suci dari Padepokan Langit, Permaisuri Arwana dari Kerajaan Laut, Putri Naga dari Samudra Selatan, sampai Peri Bulan dari Puncak Merapi.
Kalau semuanya naksir aku, plotnya bakal melenceng sampai ke luar angkasa! Ngeri juga kalau dipikirkan, mending tidur saja.
Jaka pun mencari gua kecil yang aman untuk bersembunyi dan beristirahat guna memulihkan luka akibat serangan Nyai Geni kemarin.
Pagi harinya, di Kapal Udara Pribadi Jaka Utama.
"Hiks... hiks..."
"Huwaaaa... Jaka jahat..."
Ratna Menur sudah menangis seharian semalam sampai matanya sembab. Dia menyesal setengah mati mencari Jaka Utama ke sini. Dia tidak menyangka asisten pribadi Jaka bisa sekaku dan sekejam ini.
"Mbak Ningsih, tolong lepaskan aku, aku mau pulang, hiks."
Ratna meronta, tapi tingkat kesaktian Naningsih jauh di atasnya. Ratna tidak berkutik.
"Kamu baru boleh pulang besok," jawab Naningsih datar. Dia memejamkan mata, menahan serangan Racun Tirta yang mulai bergejolak di tubuhnya.
"Ka-kamu jahat banget memfitnah orang!" Ratna merona merah karena jengkel. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan karena bosan. "Mbak kan asisten Mas Jaka, kenapa tidak cari dia saja?"
Naningsih menjelaskan tanpa membuka mata. "Neng mungkin pernah dengar soal Lima Raga Agung. Saya punya Raga Tirta Murni dan sudah membangkitkan kekuatan elemen air."
Ratna Menur tentu tahu. Ayahnya sering bercerita soal lima fisik utama: Raga Tirta Murni, Raga Sukma Sejati, Garis Keturunan Leluhur Siluman, Raga Dewa Bulan, dan Reinkarnasi Dewa Pendekar. Siapa pun yang memilikinya pasti akan jadi pendekar hebat.
"Tapi karena kekuatan air ini, Racun Tirta juga tumbuh di tubuh saya. Kalau kambuh dan tidak diredakan, saya bisa hilang kendali dan jadi gila," lanjut Naningsih.
"Kenapa Mbak tidak melakukan 'Kultivasi Ganda' (hubungan intim) saja dengan Mas Jaka buat meredakannya?" tanya Ratna bingung. Dia tidak menyangka Naningsih masih menjaga kesuciannya.
Ratna tiba-tiba teringat kata-kata Jaka di pesta ulang tahun: 'Aku mencintaimu sejak kecil...' 'Jarak terjauh adalah aku berdiri di depanmu tapi kamu tidak tahu aku mencintaimu...' Wajah Ratna memerah, jantungnya berdebar. Apa benar Jaka cuma cinta padaku sampai asistennya pun tidak disentuh?
Naningsih menjelaskan pahit. "Tidak mungkin. Kalau saya serahkan kesucian saya padanya, saya akan bergantung padanya seumur hidup. Kalau dia tidak ada saat racun ini kambuh, akibatnya bisa lebih fatal. Kecuali saya bisa tembus ke tingkat Dewa Pendekar, saya akan terjebak selamanya."
Ratna Menur terdiam. Dia ingat isi buku harian Jaka soal Naningsih yang ingin melihat Padepokan Tanpa Beban hancur lalu membunuh Jaka. Ternyata Naningsih bukan sekadar asisten biasa, dia punya dendam pribadi.
Pantas saja dia menahan diri daripada mencari Jaka, pikir Ratna. Entah kenapa, ada rasa lega di hati Ratna saat tahu Jaka dan Naningsih tidak punya hubungan spesial.
"Sudah mulai datang..." gumam Naningsih. Serangan racunnya kembali bereaksi.
(Naningsih yang mulai lemas akhirnya jatuh menindih Ratna Menur dan menggunakan Ratna sebagai "bantal peluk" karena rasa geli yang menyiksa seluruh tubuhnya membuatnya tak sanggup bergerak.)
Di dalam gua.
Jaka Utama terbangun saat matahari sudah di atas kepala. "Duh, gara-gara loli gila itu badanku jadi pegal semua."
"Syukurlah sisa Musim Berburu ini aku tidak perlu berurusan dengannya lagi. Mending tulis diary hari ini dulu biar dapat hadiah baru!"
Jaka memanggil buku harian gaibnya dan mulai menggoreskan tulisan.