Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah Yang Menghancurkan Nama
Flashback on:
Hari itu masih jelas di ingatan Zafira.
Langit sore tampak mendung ketika ia melangkah masuk ke ruang tamu rumah orang tuanya.
Suasana rumah terasa tidak biasa sunyi, tegang, dan penuh tatapan yang membuat dadanya sesak.
Ibunya duduk di sofa dengan wajah pucat, sementara ayahnya berdiri di dekat jendela, kedua tangannya terkepal.
“Zafira, duduk,” suara ayahnya terdengar berat.
Zafira menuruti, jantungnya berdegup tidak karuan. Belum sempat ia bertanya, pintu kembali terbuka.
Seorang perempuan melangkah masuk dengan langkah percaya diri Raisa Paramitha. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang sejak awal membuat Zafira merasa tidak nyaman.
“Aku hanya ingin menyampaikan kebenaran,” ucap
Raisa ringan, seolah kata-katanya tidak akan menghancurkan siapa pun.
“Kebenaran apa?” tanya ibu Zafira dengan suara bergetar.
Raisa melirik Zafira sekilas, lalu berkata dengan nada yang sengaja dibuat iba,
“Tentang kondisi Zafira. Bukankah dia sedang hamil?”
Dunia Zafira seakan runtuh dalam satu kalimat.
“Apa?” Zafira berdiri mendadak. “Itu tidak benar! Aku tidak hamil!”
Raisa menghela napas palsu.
“Zafira, aku tidak bermaksud mempermalukanmu. Tapi aku melihat sendiri hasil tes itu dan waktunya terlalu singkat untuk disebut kebetulan.”
“Itu bohong!” suara Zafira bergetar. “Kau memfitnahku!”
Ayah Zafira menoleh tajam. “Raisa, dari mana kau mendapatkan tuduhan sekejam ini?”
“Aku hanya tidak ingin keluarga ini hidup dalam kebohongan,” jawab Raisa tenang. “Apalagi jika nama besar keluarga Pranata ikut tercoreng.”
Nama itu Pranata membuat ruangan semakin mencekam.
Zafira menatap orang tuanya, matanya basah.
“Ayah, Ibu, percayalah padaku. Aku tidak pernah melakukan hal yang mereka tuduhkan.”
Namun keraguan telah terlanjur tumbuh.
Bisik-bisik mulai terdengar, tatapan tetangga berubah, dan kabar itu menyebar lebih cepat daripada pembelaan apa pun yang bisa Zafira ucapkan.
Malam itu, Zafira menangis sendirian di kamarnya. Fitnah itu bukan hanya merusak namanya, tapi juga menyeretnya ke dalam keputusan yang tidak pernah ia inginkan pernikahan yang dipaksakan, demi menutup aib yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan.
Flashback off:
Zafira menutup matanya perlahan, dadanya terasa sesak. Tuduhan itu masih menghantuinya hingga kini, meski ia sudah menjadi istri Atharv Pranata. Fitnah itu bukan hanya luka masa lalu—ia adalah awal dari segalanya.
Zafira menghela napas panjang, membuka matanya perlahan. Ruang tamu kembali terlihat jelas di hadapannya, dengan cahaya sore yang semakin meredup dan suara jam dinding yang berdetak pelan.
Tangannya mengepal di pangkuan, berusaha menenangkan getaran yang masih tersisa akibat ingatan pahit itu.
“Aku tidak pernah menyangka hidupku akan berubah karena satu fitnah,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia menunduk, menatap lantai marmer yang dingin, merasakan kembali perasaan terpojok dan tak berdaya seperti hari itu.
Ia mengusap sudut matanya, memaksa diri untuk kembali tegar.
Masa lalu memang tak bisa dihapus, tapi Zafira tahu satu hal ia tak boleh terus terperangkap di sana. Kini ia berada di rumah Pranata, menjalani pernikahan yang tidak ia pilih, namun ia bertekad untuk mempertahankan kebenaran, meski harus menunggu waktu yang tepat agar semuanya terungkap.
***
Malam pun turun perlahan, menyelimuti rumah itu dalam keheningan yang lebih pekat. Lampu-lampu kristal di ruang tamu menyala redup ketika pintu utama terbuka. Atharv melangkah masuk, jas kerjanya masih melekat rapi di tubuhnya, wajahnya tampak lelah setelah seharian berada di kantor.
Zafira yang duduk di sofa segera menoleh. Untuk sesaat, pandangan mereka bertemu—canggung, singkat, namun sarat dengan banyak hal yang tak terucap. Atharv meletakkan tas kerjanya di meja, melonggarkan dasinya, lalu melirik Zafira.
“Kau belum tidur?” tanyanya datar.
Zafira menggeleng pelan. “Aku menunggumu.”
Atharv terdiam sejenak, seolah tidak menyangka jawaban itu. Ia mengangguk singkat.
“Aku pulang terlambat. Jika kau lelah, seharusnya kau istirahat.”
Zafira menunduk, lalu mengangkat wajahnya kembali. “Aku ingin bicara. Hanya sebentar.”
Atharv menatapnya lebih lama kali ini, lalu menarik napas dan berkata,
“Baik. Ada apa?”
Keheningan kembali mengisi ruangan, menandai awal percakapan yang tak akan mudah—di antara dua orang yang terikat oleh ikrar yang dipaksakan, dan bayang-bayang fitnah yang belum juga sirna.
Zafira meremas ujung gaunnya, berusaha mengumpulkan keberanian.
“Tentang kabar yang beredar tentang aku,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku ingin kau tahu langsung dariku, bukan dari siapa pun.”
Atharv menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Zafira tanpa memotong. “Lanjutkan.”
“Aku tidak hamil,” kata Zafira akhirnya, suaranya sedikit bergetar. “Apa yang mereka katakan itu fitnah. Aku tidak tahu mengapa namaku diseret sejauh itu, tapi aku tidak bersalah.”
Sejenak, Atharv terdiam. Wajahnya tetap sulit ditebak, namun rahangnya mengeras.
“Ibu sudah menceritakan hal itu padaku,” katanya pelan. “Dan aku percaya padamu.”
Zafira mengangkat kepala dengan cepat. “Kau percaya?”
Atharv mengangguk singkat.
“Jika aku tidak percaya, kau tidak akan berada di rumah ini dengan posisi terhormat.” Ia menatap Zafira lebih dalam. “Namun rumor itu berbahaya. Kita harus berhati-hati.”
Zafira menarik napas lega, meski dadanya masih terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian menghadapi fitnah itu. Meski Atharv tetap dingin dan menjaga jarak, kepercayaannya malam itu menjadi pijakan kecil bagi Zafira untuk bertahan.
Zafira terdiam sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan tatapan yang penuh keberanian sekaligus kelelahan. Kata-kata itu sudah lama mengendap di dadanya, dan malam ini ia tak sanggup lagi menahannya.
“Jadi jika kamu percaya padaku,” ucapnya perlahan, suaranya nyaris bergetar, “apa kita bisa mengakhiri pernikahan ini?”
Udara di antara mereka seolah membeku.
Atharv menegakkan tubuhnya, sorot matanya langsung berubah tajam. Rahangnya mengeras, napasnya terdengar lebih berat.
“Apa katamu?” tanyanya rendah, jelas menahan amarah.
Zafira menelan ludah, namun tidak menarik ucapannya.
“Aku tidak ingin terikat oleh pernikahan yang lahir dari fitnah. Jika tuduhan itu tidak benar, maka tidak ada alasan lagi untuk menahanku di sini.”
Atharv berdiri mendadak. Suara kursi yang bergeser memecah keheningan.
“Kau pikir pernikahan ini permainan?” suaranya naik, untuk pertama kalinya menunjukkan emosi yang selama ini ia sembunyikan. “Nama keluargaku, reputasimu, semua sudah terikat. Kau ingin mengakhirinya begitu saja?”
“Aku hanya ingin keadilan,” jawab Zafira lirih, matanya berkaca-kaca.
Atharv menatapnya lama, marah dan kecewa bercampur jadi satu.
“Kau terlalu naif, Zafira. Ada hal-hal yang tidak bisa dibatalkan hanya karena kebenaran akhirnya muncul.”
Keheningan kembali jatuh, kali ini lebih berat. Kata-kata Zafira telah melukai sesuatu dalam diri Atharv—bukan hanya harga dirinya, tapi juga keteguhan keputusan yang selama ini ia pertahankan.